Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 44


__ADS_3

Raut wajah Alisha terlihat kecewa ketika dia melihat baju yang di inginkan sudah tidak ada. Rasa kesal langsung menjalar hingga membuat dadanya terasa sesak seketika.


"Masih banyak model lain Nona." Tawar pegawai toko.


Alisha mendongak, mengeratkan genggaman tangannya menatap Eldar dengan mata berkaca-kaca.


"Why?" Tanya Eldar di buat bingung dengan sikap Alisha. Meskipun keduanya baru hidup bersama selama satu bulan tapi Eldar sangat hafal sifat Alisha yang tidak mungkin menangis hanya karena masalah baju." Kamu kenapa?" Tatapan tajam Eldar beralih pada pegawai di hadapannya. Dia berfikir jika mungkin si pegawai sudah berkata kasar pada Istrinya.


"Aku memikirkan itu terus menerus Mas. Tapi sekarang sudah tidak ada." Alisha menyembunyikan wajahnya pada pundak depan Eldar karena merasa malu dengan tangisannya.


"Apa yang sudah kau ucapkan!!!" Tanya Eldar menunjuk kasar ke arah si pegawai.


"Sa saya tidak berkata apa-apa Tuan. Saya hanya menjelaskan.."


"Dia tidak mungkin menangis jika tidak tersinggung dengan ucapan buruk mu!!!" Sahut Eldar membuat si pegawai juga hampir ingin menangis. Itu suara terburuk yang pernah di dengar apalagi dia tidak merasa melakukan kesalahan.


"Ada apa ini Tuan." Tanya pemilik toko.


"Dia membuat Istriku menangis!!"


"Ti tidak Bu. Saya hanya bilang jika baju yang di pajang kemarin sudah terjual." Pegawai yang mengenal Eldar dengan baik langsung menawarkan penyelesaian.


Pelanggan VIP memang banyak maunya..


"Masih banyak model lain Nona. Mari saya tunjukkan." Ucapnya ramah. Dia memberikan kode pada si pegawai untuk pergi saja.


"Aku akan merobohkan toko bajumu ini!!" Umpat Eldar masih tidak juga berhenti.


Sabar sabar.. Tanpa Pak Eldar aku tidak akan bisa membuka cabang untuk toko baju baruku.


"Memangnya baju mana yang anda pilih kemarin Nona." Si pemilik masih mencoba ramah dan ingin mencari penyelesaian.


"Aku tidak mau Mas. Kita pulang saja." Pinta Alisha lirih dia sempat melirik ke sebuah baju yang ada di dekatnya.


"Masih ada model lain katanya." Rajuk Eldar tidak ingin kembali lagi ke toko itu sehingga dia sedikit memaksa Alisha untuk menentukan pilihannya.


"Aku ingin minum es campur." Genggaman tangan kanannya terlepas untuk mengusap sudut matanya yang basah.


"Serius tidak jadi membeli?" Tanya Eldar memastikan.


"Aku hanya suka baju kemarin."


"Hm. Kita pergi."


"Maafkan saya." Alisha sempat mengucapkan kata maaf sebelum Eldar menggiringnya keluar.


"Jangan di ambil hati. Pak Eldar memang begitu orangnya." Ucap si pemilik toko saat menyadari wajah tidak baik pegawainya.

__ADS_1


"Padahal saya tidak berkata kasar Bu."


"Sejak remaja Pak Eldar memang begitu. Ingat ya, jika ke sini lagi jangan di ambil hati kalau berkata kasar. Dia investor terbesar untuk toko kita. Kembali berkerja."


"Baik Bu."


❤️


Alisha tengah menikmati es campur di sebuah kedai pinggir jalan. Memang tidak ada yang aneh karena kebetulan hari itu terasa panas.


Namun jumlah porsi yang di habiskan Alisha membuat Eldar menggelengkan kepalanya. Mangkok yang di nikmati Alisha adalah mangkok yang ke empat.


"Pak satu lagi ya."


"Tidak Pak." Cegah Eldar takut jika nantinya Alisha sakit." Itu sudah banyak sekali Babe. Es tidak baik untuk kesehatan. Aku takut kamu sakit." Imbuh Eldar mengatakan kekhawatirannya.


"Aku masih lapar Mas."


"Makan nasi Babe. Kenapa malah minum es sebanyak itu jika memang lapar."


"Itu terasa segaaaaaarrr sekali." Jawab Alisha melambangkan kepuasannya." Ayolah Mas. Aku tidak akan sakit. Bapaknya memakai gula asli. Iya kan Pak." Si penjual tersenyum aneh seraya mengangguk.


Meskipun gula asli tapi kalau minum sebanyak itu ya bisa sakit.


"Itu banyak sekali Babe. Tidak. Sudah cukup. Habiskan itu dan kita pulang."


"Makan nasi akan kenyang."


"Aku ingin makan buah bukan nasi."


"Kamu sedang berdiet? Jika iya. Es campur ini akan membuatmu gemuk." Rajuk Eldar agar Alisha berhenti memesannya lagi.


"Aku tidak pernah berdiet Mas. Aku ingin makan buah, rasanya segar sekali. Satu porsi lagi Mas terus pulang." Rengek Alisha menggoyang-goyang lengan Eldar.


"Oke janji." Eldar terpaksa menuruti karena merasa tidak tega melihat wajah memelas Alisha.


"Iya Mas. Pak satu porsi lagi ya. Kuahnya jangan terlalu banyak terus tambahi lagi buahnya." Eldar menoleh dan memperhatikan wajah sumringah Alisha ketika memesan.


"Berarti dua porsi di jadikan satu Non." Mata Eldar melebar mendengar itu.


"Iya Pak."


"Tidak Pak. Porsi normal saja." Sahut Eldar cepat." Janjimu Babe. Satu porsi dan tidak lebih." Imbuh Eldar mengingatkan.


"Oke. Porsi biasa saja Pak." Jawab Alisha lemah. Si pedagang tersenyum. Dia menambahkan potongan buah pada mangkuk milik Alisha.


"Silahkan Non." Ucapnya meletakkan satu mangkuk es campur lengkap dengan es batu serutan.

__ADS_1


"Terimakasih Pak."


"Sama-sama Non."


"Mas, aku ingin beli baju tadi." Tutur Alisha pelan.


"Bukankah tadi sudah kamu lihat jika barangnya tidak ada."


"Baju yang model lain." Eldar kembali menoleh seraya terkekeh.


"Ayolah Babe. Apa kamu sedang menggerjaiku hari ini." Tebak Eldar merasakan keanehan pada sikap Alisha.


"Aku ingin beli baju yang di pajang tadi." Alisha memasang wajah serius sehingga membuat Eldar menghentikan kekehannya.


"Kenapa tadi tidak bilang jadi kita tidak perlu bolak-balik Babe." Jarak kedai es campur terletak dekat dengan rumahnya. Sementara toko baju yang di datangi tadi terletak cukup jauh dan harus menempuh jarak setengah jam untuk bisa sampai.


"Mas mengeluh?"


"Tidak. Bukan begitu.."


"Katanya tidak apa jika ku repotkan. Kalau Mas tidak mau mengantar. Aku akan pinjam motor Pak Kirman untuk ke sana." Alisha mengatakan dengan nafas terbuang kasar seolah dia benar-benar merasa kesal." Sudah ku bilang. Belikan aku motor, agar tidak selalu merepotkanmu." Tatapan heran Eldar kian bertambah. Sekalipun Alisha tidak pernah meninggikan suaranya seperti sekarang.


Memang terkadang perdebatan manis terjadi. Tapi suara Alisha masih saja terlihat lembut di telinga Eldar. Tapi kali ini, suara Alisha seolah berubah buruk dan hampir mirip seperti suaranya.


Jika aku bertanya masalah suaranya. Pasti dia semakin akan marah padaku..


Alisha beranjak dari tempat duduknya karena tidak mendapatkan respon dari Eldar. Dia menganggap Eldar merasa keberatan dengan keinginannya.


"Berapa Pak."


"Seratus ribu Non." Alisha memberikan uang bersamaan dengan sadarnya Eldar dari lamunannya.


"Aku naik taksi saja Mas." Eldar merebut ponsel dari tangan Alisha dan mengantunginya.


"Supir pribadi mu siap mengantar Babe. Untuk apa pesan taksi."


"Itu ide bagus Mas. Perkerjakan supir pribadi untuk mengantarkan aku kemana-mana." Eldar tidak menjawab dan mengiring Alisha masuk ke dalam mobil." Ya Mas. Aku tahu kamu pasti lelah menuruti kemauanku." Celoteh Alisha menambah keanehan yang di rasakan Eldar.


"Aku tidak lelah Babe. Hanya aku yang boleh mengantarkan mu. Bukankah kita sudah berkomitmen. Jika aku sibuk, kamu harus sabar menunggu sampai perkerjaanku selesai."


"Mas yang tidak sabar!" Eldar tersenyum tipis.


"Apa yang terjadi denganmu Babe?"


Apa yang terjadi denganku? Alisha bingung menjawab pertanyaan Eldar.


❤️💙❤️💙

__ADS_1


__ADS_2