
"Kau.." Ucap Alisha berjalan mundur. Merasa tidak percaya dengan apa yang di lihat.
Lelaki berpakaian sederhana kemarin berubah begitu gagah dengan jasnya yang di kenakannya.
"Ke kenapa bisa." Aku bertemu dengannya lagi..
"Aku sengaja menerima lamaran perkerjaanmu tapi ada ketidaksengajaan saat menemukannya. Apa kabar Alisha."
"Aku risen sekarang juga." Alisha memutar tubuhnya bahkan sudah memegang kenop pintu.
"Risen dan bayar dengan uang sejumlah 5 milyar." Alisha mengurungkan niatnya untuk memutar kenop pintu saat teringat soal perjanjian itu.
"Kau sengaja membuat perjanjian itu." Tubuh Alisha memutar, menunjuk Eldar dengan kasar.
"Jika tidak ingin di paksa, terima cintaku dan kita menikah." Alisha tersenyum kecut meski masih terlihat cantik di mata Eldar. Dia sudah malas memulai suatu hubungan setelah kegagalan pernikahannya bersama Tama.
"Di perjanjian tidak tertulis." Jawab Alisha menyangkal.
"Itu karena aku tidak akan melakukannya atas paksaan, Babe."
"Lalu ini! Kau memaksaku."
"Hm memaksa agar terbiasa denganku."
"Pokoknya memaksa." Alisha mengendalikan rasa berdebarnya. Nasi sudah menjadi bubur. Tanda tangan sudah di bubuhkan dan sekarang mau tidak mau, dia harus memenuhi isi surat perjanjian itu." Apa langsung kerja?" Tanyanya lirih.
"Hm iya."
"Aku tidak tahu menahu soal menjadi sekertaris."
"Seperti yang tertera di perjanjian." Alisha bergidik dengan tatapan Eldar yang tetap sama seperti dulu." Duduk dulu." Pinta Eldar tanpa menyentuh. Dia tidak ingin di sebut mencari kesempatan.
"Hm.." Eldar berjalan mendahului Alisha menuju sofa dan di susul olehnya.
"Aku tahu kamu sudah berpisah dengannya."
"Apa menceritakannya masa lalu termasuk dalam perkerjaan?" Jawab Alisha ketus.
"Bukankah di situ tertulis, kamu harus menuruti semua perintahku."
"Aku tidak ingin membahasnya." Eldar mengangguk-angguk dengan tatapan yang sama.
"Kamu tinggal di mana?"
"Aku em mengontrak."
"Why?"
"Aku tidak mau berurusan dengan masa lalu."
"Iya itu bagus. Sebab aku akan jadi masa depanmu." Alisha melirik malas. Dia sangat bosan mendengar kata-kata itu dari semua mantan kekasihnya. Apalagi rumah tangganya hancur begitu saja. Membuat Alisha enggan untuk mengenal seseorang lagi.
"Aku yang akan membangun masa depanku sendiri." Jawab Alisha dengan suara lembut." Akan lebih baik berkerja secara profesional, daripada harus membahas hal membosankan seperti itu." Tarikan nafas berat berhembus.
Eldar salah menilai. Dia fikir setelah perpisahan itu, dia sanggup memiliki hati Alisha dengan cepat. Tapi nyatanya, Alisha berubah menjadi sosok yang lebih dingin dari biasanya.
"Aku tidak akan membuatmu merasa bosan saat bersamaku."
Ingat Alisha!! Itu hanya setumpuk gombalan yang akan runtuh ketika dia bosan padamu nanti. Jangan terpengaruh!! Fokus kerja!! Fokus kerja!!
Eldar kembali menghembuskan nafas berat, menyadari Alisha yang tidak merespon ucapannya.
__ADS_1
Aku tidak boleh terlalu memaksanya. Aku akan menunjukkan padanya jika aku benar-benar serius ingin membahagiakannya.
"Kamu bisa mencatat?" Tanya Eldar mengganti topik pembicaraan.
"Hm bisa." Eldar mengalah, daripada harus membuat Alisha terbebani. Dia menarik laci lalu mengeluarkan buku dari sana.
"Tugas pertama. Ikut denganku ke rapat dan tulis hasil rapat di catatan ini." Memberikan buku ke pangkuan Alisha.
"Iya siap."
"Hm ayo." Eldar berdiri lalu berjalan sementara Alisha mengikutinya dengan langkah melambat.
Tidak dapat di pungkiri jika getarannya masih ada, seperti saat tiga bulan lalu. Namun sekuat hati Alisha ingin menepis semuanya karena luka yang di sebabkan Tama baru saja sembuh.
"Apa kakiku yang terlalu panjang Alisha." Eldar menoleh ketika menyadari Alisha tertinggal begitu jauh.
"Tidak. Mungkin saya yang terlalu pendek." Eldar tersenyum, mendengar bahasa baku Alisha yang ingin menghormatinya.
Dia menunggu hingga Alisha tiba di sampingnya lalu berjalan perlahan untuk mengsejajar kan langkahnya.
***************************
Mama Rita tercoreng mukanya karena tingkah laku dari Lilis dan Tama yang ternyata sudah melakukan sesuatu yang salah. Keduanya di nikahkan secara paksa dan mendadak.
Tama yang sebenarnya memiliki rasa ragu, harus tetap menikah tanpa bisa menundanya lagi.
Tidak ada pesta pernikahan, sebab Mama Rita angkat tangan bahkan tidak mau hadir di prosesi akad nikah dadakan.
"Mama hanya bisa memberikan kalian satu petak kontrakan untuk kalian tinggali."
"Kenapa begitu Ma?" Protes Tama yang baru saja datang namun Mama Rita menyambutnya dengan tas dan koper besar.
"Kenapa katamu?!" Mata Mama Rita hampir keluar mengucapkannya." Mama malu Tam. Mama tidak menyangka jika kamu melakukan perbuatan keji itu hingga harus berurusan dengan masa." Imbuhnya setengah berbisik." Pokoknya, kalian tinggal di kontrakan nomer 30 yang ada di gang sebelah. Ini kuncinya." Mama Rita memberikan kunci pada Tama yang terpaksa harus Tama terima.
"Tidak. Sebaiknya kau cepat bawa Istrimu daripada darah Mama semakin naik nanti." Mama Rita berjalan masuk rumah meninggal Lilis dan Tama yang belum beranjak.
"Mamamu pelit sekali Tam."
"Sudahlah ayo. Tidak baik melawan orang tua." Tama membawa koper dan tas miliknya lalu pergi menuju kontrakan.
Mama Rita masih mengintip dari balik tirai dengan dessahan panjang. Tiba-tiba dia mengingat ucapan Alisha yang berkata jika Tama memiliki hubungan dengan Lilis.
Apa benar begitu? Ya Tuhan.. Aku tidak menyangka jika anakku melakukan hal sekeji itu..
********************
Alisha mencatat hasil rapat dengan wajah serius tanpa peduli dengan pandangan para staf yang merasa aneh dengan Eldar.
Mereka masih ingat jika Eldar tidak pernah membutuhkan sekertaris sebab semua jadwal sudah di handle oleh Abraham.
Namun kali ini. Dia memberikan jabatan sekertaris pada seseorang yang merupakan anak baru.
Satu jam lamanya rapat berlangsung. Eldar meninggalkan ruangan di ikuti oleh Alisha.
"Bagaimana hasil ringkasannya." Tanpa menjawab, Alisha memberikan hasil catatannya pada Eldar. Penulisannya sangat rapi.. "Kamu pernah berkerja di mana sebelumnya?" Tanya Eldar sekedar ingin tahu.
"Di tempat yang sama. Perusahaan di mana Mas Tama berkerja."
"Sebagai apa?"
"Mencatat barang keluar masuk." Eldar tersenyum dan mengangguk lalu meletakan bukunya di atas meja.
__ADS_1
"Temani aku makan siang."
"Sebenarnya apa tugas sekertaris?" Tanya Alisha ingin tahu.
"Aku sudah memiliki sekertaris. Orang tua yang duduk di sampingku adalah kaki tangan ku." Alisha menarik nafas panjang.
"Lalu untuk apa kau memperkerjakan aku."
"Untuk ku Babe." Jawab Eldar santai.
"Berapa lama kontrak perjanjian itu?"
"Sampai kamu mau menikah denganku." Jawaban yang terdengar manis namun Alisha tidak mau lagi menelannya.
"Aku tidak berselera melakukan itu."
"Bukan tidak. Tapi belum." Alisha sekuat hati mengendalikan perasaannya yang meledak-ledak.
"Katanya makan siang."
Dia terus saja menghindar..
"Hm ayo." Keduanya berjalan ke luar ruangan dan masuk lift." Sekalian kita beli seragam untukmu." Alisha menoleh dan sedikit mendongak.
"Memangnya ada?"
"Ada. Seragam yang sopan agar kamu tidak terlalu kelihatan cantik." Hati Alisha kembali di buat berkerja keras untuk menerima pujian dan rayuan yang Eldar lontarkan.
"Aku punya banyak baju di rumah."
"Terlalu ketat. Aku tidak suka dan tidak rela jika milikku di lihat lelaki lain."
"Ah Tuhan." Eluh Alisha memunculkan senyum yang membingkai pada wajah Eldar.
"Sekali milikku tetap milikku Babe."
"Statusku." Jawab Alisha lirih bertepatan dengan terbukanya lift.
"Aku ingin kamu dan tidak perduli dengan statusmu. Sekalipun jika kau masih bersamanya. Aku akan merebut mu darinya."
"Aku tidak selera membahas itu." Alisha melongok ketika Eldar membukakan pintu mobil untuknya." Hei. Kau tidak malu?" Protes Alisha tidak langsung masuk.
"Buat aku tidak merasa malu melakukannya." Dengan ragu, Alisha masuk ke dalam mobil berkilap itu. Di ikuti oleh Eldar yang kini tengah duduk di sampingnya.
Ya Tuhan.. Apa aku bisa menahan perasaan ini? Kenapa masih bergetar, padahal aku sudah tidak merasakan ini selama tiga bulan yang lalu..
Beberapa kali, Monik mengenalkan teman Alan pada Alisha di satu bulan terakhir. Namun Alisha menolaknya mentah-mentah. Selain hatinya tidak merespon, dia juga sedang berada di puncak kemalasan untuk mengawali sebuah hubungan.
Tapi rasanya sangat lain ketika kini dia di pertemukan lagi dengan Eldar. Lelaki yang cukup bisa memenuhi hatinya kala itu. Sekarang dia harus terpaksa selalu berdekatan karena urusan pekerjaan gila yang mengikat.
~Bersambung
Lagi butuh semangat untuk lanjut 😁
Maaf novel ku yang satunya terpaksa aku tamat kan..
Aku nggak bisa mengerjakan dua novel dalam satu waktu..
Sedikit pusing dan menyita waktu.
Jadi terpaksa novel yang berjudul Istri rahasia Hiatus dulu sampai novel yang ini Tamat..
__ADS_1
Maaf ya teman-teman..
Terimakasih dukungannya 🥰🥰