Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 20


__ADS_3

Alisha tidak bergerak dari tempatnya sejak setengah jam yang lalu. Wajahnya terlihat basah karena air mata, meski tanpa bersuara.


Sedikit tidak percaya. Mengingat lelaki pilihannya meninggalkan tanpa kesepakatan. Semuanya terasa hilang begitu saja seolah tiga tahun terakhir kebersamaan tidak pernah ada artinya.


Tentu ada sesal. Jika bisa waktu di ulang. Alisha tidak mau menjatuhkan hatinya pada lelaki sembarangan hanya untuk paras yang tampan.


Seharusnya dia mempercayai ucapan Almarhum Mamanya jika sekali tidak setia, maka lelaki itu akan sulit berubah.


Sifat itu sulit di rubah Nak.. Jika memang Tama seperti yang kamu katakan. Bukankah sebaiknya kamu akhiri hubungan itu sekarang..


Alisha menepis perasaan ragunya. Merasa terenyuh pada paras Tama saat keduanya menghabiskan waktu bersama.


Aku tidak percaya jika calon suamiku begitu tampan...


Alisha tidak sadar jika itu akan jadi bumerang seperti sekarang. Di tinggalkan sendiri dan benar-benar sendiri.


Rumahnya terasa hening, hingga sebuah mobil terparkir di bahu jalan. Menurunkan Monik dari sana.


Tanpa permisi Monik menerobos masuk. Mendapati Alisha yang tidak bergerak mematung meski wajahnya terlihat sangat basah. Maniknya melirik ke arah kamar yang terbuka lebar dengan satu sisi lemari yang terlihat kosong.


"Apa yang terjadi?" Monik duduk di samping Alisha. Tubuhnya memutar menghadap ke arahnya meski Alisha masih tidak bergeming." Hei Al, sadar!! Kau kenapa." Monik setengah mati ketakutan. Dia merasa khawatir pada keadaan sahabatnya.


"Aku berjanji tidak akan jatuh cinta lagi Mooooooon!!! Pegang janjiku itu!!" Tubuh Alisha ambruk tidak sadarkan diri.


Monik semakin panik hingga menghubungi Alan yang bahkan masih berada di jalan setelah mengantarkannya.


"Mas balik cepat! Alisha pingsan!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari berlalu...


.


.


.


.


.


.


.


.


Minggu berlalu...

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Tiga bulan kemudian....


.


.


.


.


.


.


.


Hari berat bisa di lalui atas bantuan Monik. Alisha memilih tinggal di sebuah kostan kecil dan mengontrakkan rumah peninggalan orang tuanya.


Tujuannya tidak lain ingin memulai hidup baru tanpa masa lalunya. Hal yang sama ketika dia memutuskan para kekasihnya dulu.


Meski putus, mari berteman baik.


Putus ya putus! Tidak ada pertemanan lagi.


Itu selalu Alisha lakukan pada seluruh mantan kekasihnya tanpa pandang bulu. Putus itu kata lain dari pergi, menghilang, menjauh tidak terlihat sebab Alisha selalu saja muak jika berhubungan dengan mantan.


"Apaan sih Al. Menyuruhku ke sini cepat-cepat." Alisha menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah balasan email untuk panggilan berkerja." Wahhh..." Monik tersenyum, ikut bahagia menatap Alisha yang rambutnya sudah lebih pendek. Itu membuatnya lebih fresh dan terlihat lebih tinggi meski memang tubuh Alisha hanya 160 CM." Hidup baru Suami baru." Wajah ceria Alisha berubah seketika.


"Tidak Mon tidak. Sudah ku katakan aku malas! Semua lelaki itu hanya bisa berbicara tanpa menepati."


"Tidak semuanya Al. Buktinya Mas Alan tidak begitu."


"Entahlah.. Aku malas membahas itu. Tapi Mon, ada yang aneh dari email ini." Monik membaca email itu lagi tapi tidak merasa ada yang aneh.


"Tidak ada. Apa yang aneh?"


"Aku melamar sebagai cleaning servis tapi kok tulisannya sekertaris ya?"


"Mungkin salah mengetik Al. Yang pasti nama kamu yang tercantum."


"Iya sih. Sebentar." Alisha beranjak dari tempat duduknya lalu mengeluarkan sebuah rok bawah lutut berwarna hitam dan baju blouse berwarna putih." Pakai celana atau ini saja. Aku tidak memiliki celana warna hitam." Eluhnya pada Monik.


"Sementara pakai itu dulu. Hanya interview kan. Nanti juga di beri seragam." Alisha mengangguk seraya tersenyum. Menggantung kembali baju di dalam lemari.


Semoga setelah ini hidupku menjadi lebih baik..


*********************


Tomi melepas kepergian Lilis dengan raut wajah kalut. Akhirnya dia resmi bercerai setelah Lilis menambahkan laporan tentang nafkah batin yang tidak pernah di dapatkan.


Setelah berusaha mempertahankan pernikahannya. Tomi menyerah dan menuruti apa yang di inginkan Lilis.

__ADS_1


Asal dia bisa membahagiakanmu.. Aku tidak masalah Ma.. Selamat tinggal..


Sementara Lilis tersenyum merekah seraya menepuk-nepuk tas yang ada di pangkuannya. Terdapat 200 juta di sana. Lilis menuntut harta gono-gini dan mendapatkan separuh lebih dari harga rumah yang merupakan milik Toni.


Keduanya turun di sebuah rumah yang berada di sebuah kompleks. Lilis berhasil mengikat hati Mama Rita sehingga Tama tidak sanggup berkutik ketika Mama Rita menyuruhnya menikah dengan Lilis.


Namun ada uang aneh. Sebab keduanya mulai di liputi rasa ragu.


"Bukankah seharusnya kita membeli rumah saja sayang." Ucap Tama tidak sanggup menolak, meski sesekali ingatan tentang Alisha melintas.


"Mengontrak saja Tam. Aku mudah bosan. Ku buatkan minum ya." Tama tersenyum menjawabnya. Lilis berjalan ke belakang untuk membuatkan Tama sirup dingin plus dengan obat kuat.


Hingga sekarang. Tama tidak mengerti jika Lilis kerapkali mencampurkan obat kuat dengan dosis tinggi pada minuman sehingga Tama menjadi lebih bergairah dan tahan lama.


Lilis tidak perduli dengan efek dari obat tersebut, asal Tama bisa memenuhi kebutuhan batinnya seperti sekarang.


"Aku tidak mengerti, kenapa aku selalu bersemangat ketika sedang bercinta bersamamu."


Hanya sebentar, baju keduanya berserakan di lantai.


Suara desahhan saling bersahutan terdengar meski sudah setengah jam yang lalu mereka melakukan perbuatan keji itu.


Aku merasa milik Tama semakin kecil saja...


Lilis memandangi wajah berkeringat Tama yang tengah bergerak. Hanya itu yang membuatnya bersemangat sebab milik Tama semakin tidak terasa menusuk.


Mungkin tanpa karet pengamanan berduri itu. Milik Tama semakin tidak terasa..


Kebimbangan yang di rasakan Lilis juga mulai di rasakan Tama. Meskipun rasa puas di dapatkan tapi melihat gaya hidup Lilis membuatnya ingin mundur saja.


Jika sudah tidak ada gaji mantan Suaminya? Apa uangku cukup untuk membayari belanjaannya yang menggila itu?


"Egh ahhhh." Lenguh Tama panjang bersamaan dengan suara ketukan pintu.


Cepat-cepat Lilis memakai dress-nya lagi. Tama menaikkan celana dan resletingnya setelah melepaskan karet pengaman.


"Siapa sih?" Gerutu Tama dengan wajah berkeringat.


"Aku tidak tahu. Cepat Tam." Lilis berjalan keluar untuk membuka pintu. Wajahnya terlihat aneh ketika melihat Pak RT dengan beberapa warga berdiri di balik pintu." Eh Pak RT." Sapa Lilis terbata.


"Saya mendapatkan laporan dari warga jika sering ada lelaki masuk ke rumah Mbak Lilis." Ucap ketua RT sopan meski beberapa warga memasang wajah geram.


"Dia Suami saya." Jawab Lilin lirih.


"Coba buku nikahnya mana. Jangan asal bicara ya Mbak. Meskipun di sini kompleks perumahan, tapi kalau masalah seperti itu harus ekstrak ketat. Geledah rumahnya." Lilis berusaha menghalau tapi para warga tidak bisa berhenti hanya karena teriakannya." Nah ini dia." Lilis bernafas lega sebab Tama sudah berpakaian rapi.


"Kami hanya mengobrol saja Pak."


"Terus ini apa?" Salah satu warga melihat pengaman yang terdapat cairan kental putih di dalamnya.


Ah bodoh sekali Tama!!! Tama sendiri tertunduk lesu dan tentu merasa malu.


Seharusnya Lilis bisa lebih lama menghalau mereka agar aku bisa membuang barang bukti itu...


"Wah Mbak. Jangan mengotori keasrian warga komplek sini!!"


"Ahhh terlalu lama. Nikahkan mereka jika mungkin mereka belum memiliki keluarga! Jika sudah!! Kita arak mereka keliling komplek!! Setuju tidak!!!"


Setuju!!!!


Seru semuanya serentak. Mengiring keduanya ke rumah Pak RT untuk memusyawarahkan semuanya.


~Bersambung


Mungkin ceritanya sudah bisa di tebak 😁😁


Tapi... Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2