
Braaaakkkkk!!!
"Kau sengaja menyentuhku!!!" Teriak Eldar geram.
Alisha melongok tidak percaya. Mendengar suara Eldar berubah kasar saat salah satu wanita cantik yang duduk di sampingnya berusaha menyentuh lengannya.
"Aku hanya.."
"Hanya apa?!! Murahan maksudmu?" Alisha berdiri dan segera menghampiri Eldar. Karena merasa panik, dia meraih lengan Eldar dan menggiringnya keluar.
Kenapa dia berubah seperti itu? Mengerikan sekali.. Fikir Alisha dalam hati hingga melupakan genggaman tangannya.
"Kamu ingin ku antarkan pulang, Babe?" Alisha tersadar dan cepat-cepat melepaskan tangan kecilnya dari lengan berotot itu.
"Tidak. Aku hanya tidak ingin kau membuat ricuh. Ke kenapa kau membentaknya seperti itu? Dia itu wanita."
"Aku tidak tahu jika dia wanita."
"Bagaimana mungkin." Tanya Alisha tidak mengerti.
"Memang tidak tahu. Aku tidak suka di sentuh sembarangan." Alisha tersenyum aneh. Suara Eldar terdengar begitu buruk tadi. Tapi sekarang, suara itu kembali normal.
"Em begitu. Oke aku harus pulang." Melihat tatapan Eldar sekarang membuat Alisha cepat-cepat mengambil helm lalu memakainya. Dia masih merasa asing dengan cara Eldar menyikapi sesuatu.
"Kau takut pada ku?" Tanya Eldar menebak.
"Tidak. Aku harus ke rumah temanku setelah ini. Terimakasih makan siangnya." Alisha mulai menghidupkan mesin motornya.
"Untuk makan malam." Eldar menyodorkan sebungkus makanan pada Alisha.
"Tidak perlu."
"Hm. Pasti." Segera saja Eldar meletakan bungkusan makanan tersebut pada gantungan motor." Jika tidak kau makan, aku akan ke rumahmu." Alisha tersenyum aneh.
"Bagaimana mungkin.."
"Tidak ada yang tidak mungkin untukku Alisha. Jika kau ingin membuktikan itu, buang saja makanan itu. Aku akan datang ke rumahmu."
Gleg!!
Rasanya seperti sebuah ancaman.. Tapi apa mungkin..
"Apa kamu paham penjelasan ku?" Alisha menoleh seraya mengangguk-angguk.
"Hm nanti ku makan."
"Hati-hati di jalan."
"Iya." Alisha tersenyum sejenak kemudian mulai melajukan motornya.
"Kau harus jadi milikku Alisha.." Perasaan Eldar yang kian menguat, membuatnya yakin jika ada maksud tersembunyi dari pertemuannya dengan Alisha.
.
.
.
Hati Alisha sedikit membaik setelah makan siangnya bersama Eldar. Meski Eldar menunjukkan sikap kasarnya tadi tapi nyatanya bibir Alisha lebih banyak tersungging hingga wajah pucat nya berangsur pulih.
Ya Tuhan.. Apa aku pantas merasakan ini.. Apa perbuatan ku ini bisa di sebut sebuah perselingkuhan?
Alisha memarkir motornya di depan rumah Monik. Tidak perlu mengetuk pintu, Monik yang sudah menunggu dari tadi langsung keluar menyambut kedatangan Alisha.
"Lama sekali Al? Kau kemana saja? Ini hampir jam 5."
"Iya Mon maaf." Alisha duduk di teras seraya melepaskan helmnya.
"Sebentar ya. Ku buatkan minum."
"Eh tidak perlu Mon. Aku masih kenyang."
"Serius?" Alisha mengangguk dan kembali memasang wajah kecewa." Apa lagi yang di lakukan Suami tidak waras mu itu?" Tanya Monik antusias.
"Kemarin dia tidak pulang." Alisha tersenyum seraya menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar." Sepulang kerja aku memergokinya berboncengan dengan wanita itu. Em aku mencoba minta bantuan Mama tapi dia malah menyalahkan aku. Katanya aku terlalu pencemburu." Mata Alisha mulai berkaca-kaca. Dia menunduk seraya menddesah lembut untuk mengendalikan perasaan sakitnya.
"Ah entahlah Al. Seharusnya orang tua itu bisa jadi penengah tapi mertuamu itu terlalu sayang dengan anaknya."
"Aku tidak masalah dengan itu Mon hiks.. Sudah seharusnya mereka dekat. Aku hanya meminta bantuan untuk menegur Mas Tama tapi Mama malah menyebutku tidak dewasa dan..." Tangis Alisha pecah. Teringat akan perkataan kasar mertuanya yang menyalahkannya.
Monik terdiam, menatap Alisha penuh iba. Tentu dia merasa ikut tersakiti dengan kehidupan yang menimpa sahabatnya.
"Kau juga tidak mau bercerai darinya Al. Aku jadi bingung harus bagaimana memberikan saran."
__ADS_1
"Aku tidak ingin saran sebab semua yang ku lakukan memang terasa salah di mata mereka. Aku juga mencoba menegurnya tadi pagi tapi dia malah menyebutku tidak suci." Monik menoleh cepat mendengarnya.
"Maksud dari tidak suci."
"Aku wanita tidak bersegel." Jawab Alisha lemah.
"Apa!! Hah!! Sialan sekali mulut keong racun itu!!!" Monik semakin emosi, dia tahu bagaimana kehidupan Alisha sejak kecil. Mereka bertetangga meski bukan tetangga dekat. Monik terpaksa harus pindah ke perumahan yang di tempatinya sekarang, karena perumahan itu adalah rumah pembelian Suaminya." Bagaimana bisa dia berkata itu Al?" Imbuh Monik penasaran.
"Dia tidak melihat darah di malam pertama kita padahal aku melihatnya meski memang sedikit." Monik yang sudah tahu seluk beluk sifat Alisha sangat percaya padanya. Sangat tidak mungkin jika Alisha melakukan perbuatan keji itu. Karena mereka selalu keluar bersama meskipun untuk urusan berpacaran.
"Itu sih karena senjata Tama yang terlalu kecil." Alisha mengusap air matanya dengan senyuman tipis." Astaga kau tersenyum." Monik terkekeh sehingga Alisha semakin tersenyum lebar." Nah ketahuan kan kalau milik si keong racun itu kecil." Memang Alisha tidak pernah puas saat bercinta tapi dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di sebut besar dan kecil. Dia hanya pernah melihat milik Tama saja.
"Memangnya ukurannya berbeda-beda Mon."
"Tentu saja. Jika terlalu besar pasti darahnya akan keluar banyak." Gelak tawa semakin terdengar dan Monik cukup senang mendengar itu. Aku ingin kamu bahagia dengan rumah tanggamu Al. Agar kamu bisa tersenyum seperti sekarang..
"Perutku sampai sakit Mon."
"Tidak perlu di ambil hati. Anggap saja suamimu orang gila yang hanya asal bicara untuk menutupi kebusukannya. Sangat di sarankan untuk meninggalkannya saja dan mengantikannya dengan yang lebih baik."
"Sarannya tidak di terima. Aku tidak akan melakukannya jika bukan Mas Tama yang meminta." Jawab Alisha cepat.
"Dia tidak akan pernah melakukan itu Al."
"Hm ya sudah. Aku yakin suatu saat dia akan berubah."
"Dia sudah berubah menjadi sangat buruk."
"Hm iya Mon. Em terimakasih ya. Aku harus pulang, ini sudah terlalu sore."
"Eh tunggu." Monik meraih lengan Alisha untuk mencegahnya berdiri.
"Apa lagi?"
"Kau belum cerita masalah Eldar." Wajah Alisha berubah merah ketika Monik menyebut nama itu.
"Tidak ada hal yang perlu di ceritakan." Alisha masih tahu diri dengan status pernikahannya. Sehingga dia tidak ingin bercerita tentang apa yang di lakukannya bersama Eldar hari ini.
"Tidak seru nih."
"Hidupku memang tidak seru. Aku pulang dulu ya. Sampai jumpa lain hari." Alisha mencium pipi Monik sejenak kemudian berjalan menuju motornya untuk pulang.
******************
"Apa ini berarti dia selingkuh!!" Tanya Eldar geram.
"Itu hanya tebakan awal Tuan. Tapi melihat bahasa tubuh keduanya, sepertinya sangat tidak mungkin jika hanya sekedar teman."
"Bagaimana mungkin Alisha menikah dengan lelaki buruk rupa ini." Eldar meremas foto itu dan membuangnya sembarangan.
"Jangan dulu gegabah dalam bertindak Tuan. Saya merasa Nona sengaja menyembunyikan itu dari Tuan."
"Tujuannya apa!! Dia bahkan menolak cintaku." Abraham tersenyum melihat sifat tidak sabar Tuannya yang di perlihatkan sekarang.
"Mungkin fikiran Nona sedang di lema sehingga dia masih bingung untuk mengambil langkah."
"Kenapa di lema? Jika sakit, bukankah seharusnya dia pergi saja." Rasa sayang yang mulai tumbuh membuat Eldar merasa ikut tersakiti dengan kenyataan yang ada.
"Hubungan pernikahan tidak semudah itu Tuan. Jadi saya harap Tuan bisa lebih bersabar untuk menunggu Nona bercerita sendiri. Jika Tuan terlalu memaksa, saya takut Nona malah pergi nantinya." Eldar terdiam, nafasnya terbuang kasar menatap tajam keluar jendela.
Eldar yang baru mengenal cinta. Merasa tidak sabar ingin cepat menyingkirkan Tama agar cintanya bisa terbalaskan. Tapi, dia tidak ingin di sebut egois. Dia tidak ingin Alisha menyebutnya mengerikan hingga membuatnya menjauhinya.
Kenapa aku harus merasakan percintaan serumit ini? Aku yakin tidak ada yang salah dengan mata dan hatiku. Aku masih melihatnya sebagai wanita yang paling sempurna bahkan detak jantungku mulai memanggil namanya. Eldar mengepalkan tangannya kuat dengan dessahan kasar yang berhembus beberapa kali.
"Lanjutkan pengintaian dan cari informasi lebih aktual lagi." Eldar berdiri dan melangkah pergi.
Masih banyak wanita lain. Kenapa Tuanku bersikukuh ingin melanjutkan perjuangannya? Ahh Tuan Alex benar-benar meninggalkan PR yang begitu rumit...
*************************
Baru saja Alisha akan menyendok makanannya, suara motor Tama terdengar. Dia bergegas berdiri untuk membuka pintu. Hatinya yang masih sakit, membuatnya langsung bergegas masuk lagi karena tidak inginnya bertatap muka.
Alisha melanjutkan makannya seraya menonton televisi. Tama masuk, dan menatap Alisha yang saat itu tengah memakai baju rumahan yang cukup ketat.
"Kamu tidak menawariku?" Sapa Tama duduk di samping Alisha yang tengah makan.
"Biasanya kamu sudah makan." Bukan makanan yang di lihat Tama. Tapi bentuk lekuk tubuh Alisha yang terlihat jelas hingga hasratnya langsung tersulut.
"Aku suka ketika kamu memakai baju ini, daripada daster rumahan yang longgar itu." Alisha tersenyum aneh dan menggeser tubuhnya saat Tama berusaha mendekat." Kenapa menjauh?" Tanya Tama dengan suara parau.
"Jangan lagi Mas. Sebaiknya kamu mandi lalu tidur." Alisha berdiri namun Tama dengan cepat menariknya untuk kembali duduk.
"Kenapa menghindar?"
__ADS_1
"Menurutmu kenapa Mas." Tanya Alisha masih dengan suara yang begitu lembut. Beberapa kali tangannya menyingkirkan kepala Tama yang akan berusaha mencium lengan terbukanya.
"Ayolah sayang. Kamu tahu kan jika aku hanya mencintaimu."
"Mas serius!! Aku tidak mau!!" Alisha berusaha berdiri tapi Tama malah mendekap tubuhnya dan mulai mencumbu leher Alisha dengan tangan yang mulai aktif membelai.
"Kamu berdosa jika tidak melayani aku. Atau kau mau aku melakukannya dengan wanita lain?" Alisha terdiam mematung, membiarkan Tama menyentuh tubuhnya. Dia tidak ingin Tama melakukan itu, meski Tama memang sudah melakukannya.
Ketidaktahuan Alisha membuatnya harus menurut. Meski rasa sakit yang di torehkan belum sembuh bahkan selalu bertambah setiap harinya.
Lagi! Alisha kembali bercinta tanpa rasa. Wajahnya bahkan tidak berekspresi meski dessahan terkadang lolos dari bibirnya.
Ah membosankan sekali!! Tidak seperti Lilis yang membuatku begitu bersemangat!!!
Pelepasan memang sudah di dapatkan. Tapi anehnya, Tama tidak tidur seperti kebiasaannya sebelumnya.
Kenapa Mas Tama tidak tertidur?
Alisha memungut bajunya dan memakainya. Dia menatap heran ke arah Tama yang tengah berjalan menuju kamar mandi.
Sejak awal pernikahan. Tama selalu terlelap setelah pelepasan di dapatkan. Meskipun Alisha tidak pernah merasa puas, sekalipun dia tidak pernah meminta Tama meminum obat untuk menambah durasi. Itu terjadi karena Alisha belum pernah merasakan klimmaks. Dia tidak mempermasalahkan itu karena memang belum tahu bagaimana rasanya.
Sementara di kamar mandi. Tama mengumpat sejadi-jadinya. Rasanya sangat tidak puas dengan percintaan yang di rasa membosankan.
"Benar-benar payah!! Bagaimana mungkin dia tidak berekspresi seperti itu!!" Eluhnya membasuh miliknya tanpa mandi." Tidak seperti Lilis yang membuatku bersemangat." Tiba-tiba saja dessahan Lilis terdengar membelai telinga. Hingga membuat milik Tama kembali meronta.
Aku harus mencari alasan untuk keluar sebentar.. Alisha tidak bisa memuaskan ku...
Tama keluar seraya melirik malas ke arah Alisha. Sambil memikirkan alasan, dia berpura-pura berganti baju santai dan menggantung seragamnya.
"Aku belum makan." Ucap Tama lirih.
"Aku tidak masak Mas."
"Bagaimana jika membeli nasi goreng seafood?" Tawar Tama dengan senyum sumringah.
"Mas ingin makan itu?"
"Mau bagaimana lagi. Jika kamu setuju, aku beli sekarang mumpung belum terlalu malam."
Aku ikut Mas.. Mulut Alisha bungkam ketika ucapan itu melintas. Dulu mereka sering melakukannya. Pergi berdua hanya untuk membeli satu bungkus nasi.
Itu sesuatu yang sederhana namun begitu indah untuk Alisha. Tapi Tama perlahan-lahan menghindari kebiasaan itu. Mengikisnya habis hingga tidak menyisakan apapun. Membuat Alisha enggan untuk berprotes meski ingin rasanya dia mengulang kebersamaan sederhana nan manis itu.
Rasa manjanya lenyap dan tergantikan dengan sosok wanita yang lebih banyak diam daripada berprotes. Semua itu di lakukan karena Alisha sudah lelah untuk berseteru. Lelah untuk saling menyalahkan yang tidak akan ada habisnya.
"Kalau Mas tidak lelah ya beli saja." Tanpa rasa curiga, Alisha mengucapkannya. Dia tidak pernah berfikir jika Tama akan tega melakukan sesuatu yang di luar batas.
"Hm iya. Aku beli dulu ya." Tama kembali mengambil kunci motornya, sementara Alisha menatapnya lemah.
Mas Tama tidak akan mengajakku.. Jangan terlalu banyak berharap Alisha...
Dengan langkah lemah, Alisha mengekor, melihat Tama dari ambang pintu. Hatinya terus saja berharap Tama mengatakan sesuatu yang selama ini di nantikan nya.
Kamu tidak ikut? Itu mustahil terjadi, sebab sudah sejak satu tahun lalu Tama tidak pernah mengucapkan penawaran itu.
Tama melajukan motornya tanpa perasaan hanya karena ingin memenuhi hasrat yang tidak tertahan. Motornya berhenti di depan gang rumahnya. Lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Lilis.
"Lis kamu di mana?
"Kenapa Tam.
"Em itu, anu Lis..
"Pengen ya Tam.
"Iya Lis tapi aku tidak bisa menginap.
"Hehe oke aku sudah tahu kok. Kita ketemu di hotel langsung ya.
"Baik Lis.
Tama tersenyum menang. Memacu motornya dengan kecepatan penuh menuju ke hotel. Sesuatu yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya seolah naffsunya sudah tidak bisa terbendung lagi.
Motor miliknya tiba di hotel, bersamaan dengan taksi Lilis yang juga baru sampai. Keduanya berjalan masuk dengan mesrah, saling menyentuh tanpa rasa malu. Hingga tanpa sadar, seseorang tengah memperhatikan kegiatan mereka dari jauh.
~Bersambung
Mirip ya😁😁
Kek Eun Wo
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰