Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 40


__ADS_3

Wajah Tama terlihat begitu kusut sore ini. Kenyataan tentang pernikahan Alisha membuat semangat hidupnya meluntur seketika.


Di tambah dengan pemandangan tidak sedap yang terjadi sekarang. Menambah beban dan memicu emosinya.


Bagaimana tidak? Terdengar jelas perdebatan antara Mama Rita dan Lilis yang entah kerena masalah apa.


"Lihat sendiri kelakuan Istrimu ini Tam! Dia baru bangun sejak tadi pagi dan sekarang mau pergi lagi!!" Wina terlihat memegang lengan Mama Rita berusaha meredam emosi.


"Kamu mau kemana Lis?" Tanya Tama kasar.


"Pergi lah! Belanja! Aku malas jika mendengarkan ocehan dari Mamamu!!" Tunjuk Lilis kasar. Tama menampis tangannya seraya menyeret Lilis dan memaksanya masuk.


"Duh Gusti. Apa ini karma." Eluh Mama Rita.


Aku juga merasa yakin jika itu parfum Lilis. Apa Mas Damar? Ah tidak mungkin. Mas Damar selalu memegang komitmennya jadi tidak mungkin dia bermain di belakangku bersama Lilis.


Tebakan yang benar, meski Wina tidak mampu untuk mengutarakan. Dia terlalu takut itu benar-benar terjadi. Wina sangat takut kehilangan karena rasa cinta yang terlalu besar untuk Damar, Suaminya.


Di dalam kamar, perdebatan besar terjadi. Tama menghempaskan tubuh Lilis kasar seraya menatapnya tajam. Dia tidak sanggup menerima, saat mendengar Lilis berkata kasar pada Mamanya.


"Apa pantas kau berkata sekasar itu pada orang tua Lis!!!"


"Dia terus saja mengomel! Aku pusing mendengarnya!!"


"Dia sekarang jadi orang tuamu juga!!"


"Cih! Tidak! Orang tuaku sudah di liang lahat!!! Biarkan aku pergi!!" Lilis akan bangun namun Tama kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kau tidak boleh keluar!! Bisakah kau berdiam di rumah!!"


"Tidak bisa!! Biarkan aku pergi!" Tama mendengus kemudian melangkah keluar dan mengunci pintu kamarnya agar Lilis tidak bisa keluar.


Braaaakkkkk Braaaakkkkk Braaaakkkkk


Tama menarik nafas panjang. Rasa kecewa, lelah dan emosi bercampur aduk menjadi satu membuat kepalanya terasa mendidih.


Mama pasti kecewa jika mendengar Alisha sudah menikah. Apa dengan lelaki kaya itu? Ya Tuhan kenapa aku semakin tidak rela dan menyesal sudah melepaskan dia..


Tama menghampiri Mama Rita dan Wina yang duduk di ruang televisi.


"Maaf Ma." Ucap Tama lirih.


"Dosa apa aku memiliki menantu tidak tahu adat seperti dia."


"Bukankah sebaiknya kamu mengontrak rumah sendiri Kak. Kasihan Mama." Wina berkata itu karena berharap Lilis bisa keluar dari rumah itu untuk membunuh kekhawatirannya tentang Damar.


"Ambilkan tas Mama Win." Wina beranjak untuk mengambil tas Mama nya yang ada di dalam kamar.

__ADS_1


"Ini Ma." Mama Rita mengambil amplop cukup tebal di dalamnya. Itu adalah uang kontrakan yang terkumpul.


"Pakai uang ini untuk mengontrak rumah. Mama tidak mau tinggal bersama wanita seperti itu. Cari kontrakan yang sedikit jauh dari sini." Tama tertunduk lesu. Mamanya tidak secara langsung telah mengusirnya.


"Tapi Ma.."


"Sudahlah Tam. Mama tidak tahan lagi. Sebaiknya kamu pergi dari tempat ini daripada Mama naik darah karena melihat kelakuannya." Mama Rita beranjak pergi meninggalkan Tama dan Wina yang masih mematung.


"Aku juga tidak suka dia ada di sini Mas. Sebaiknya cepat cari kontrakan daripada nanti sakit Mama kambuh lagi." Wina ikut beranjak pergi sementara Tama belum juga mengambil uang yang ada di atas meja.


Kenapa jadi berantakan seperti ini tapi daripada Mama sakit, lebih baik aku cepat mencari kontrakan biar Mama tidak harus melihat kelakuan Lilis setiap harinya..


❤️💙


Alisha duduk bersantai di depan teras kamarnya. Dari sana, dia bisa melihat jelas rumah-rumah sederhana yang ada di sekitar rumah besar milik Eldar.


"Mas pintar sekali memilih lokasi rumah." Gumamnya berdecak kagum. Rumah Eldar begitu tenang dan cukup jauh dari keramaian kota. Namun itu semua, tidak menyurutkan kemewahan yang ada di dalam rumah yang terlihat klasik.


"Rumah peninggalan Babe."


"Berarti Mas sejak kecil tinggal di sini?"


"Hm." Eldar mengangguk seraya menikmati kopi panasnya." Kamu suka." Imbuhnya bertanya.


"Suka Mas. Di sini tenang sekali, cocok di pakai untuk beristirahat. Em Mas, nanti makan malam di luar saja ya."


"Bukan lelah Mas. Aku ingin makan di luar. Karena aku merasa kasihan jika Mas Eldar harus makan masakanku.. Mas El mau?" Alisha memperlihatkan senyumannya.


"Kamu ingin makan apa?"


"Lihat nanti saja Mas. Em.. Mampir ke mini market sebentar tidak apa." Eldar tersenyum membalas tatapan Alisha.


"Kamu lupa perjanjiannya?"


"Mungkin saja Mas lelah?"


"Memangnya melakukan apa hingga lelah? Mau beli apa?"


"Aku tidak punya stok pembalut Mas."


"Hm kita beli sekarang saja agar tidak terlalu malam pulangnya." Eldar menyeruput sisa kopinya.


"Aku cuci ini dulu Mas." Alisha pergi membawa nampan. Eldar menutup pintu terasnya dan meraih kunci mobil juga dompet." Kamu kelihatan senang sekali." Tanya Eldar mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.


"Tentu saja Mas. Menyenangkan sekali bisa keluar berdua untuk membeli sesuatu yang sepeleh."


"Begitu saja sudah senang?" Eldar melirik ke wajah sumringah yang di tunjukkan Alisha.

__ADS_1


"Iya Mas. Mungkin berlebihan tapi aku senang sekali."


"Tidak berlebihan Babe. Ini malah terlalu gampang jika memang kamu menganggapnya sebuah kesenangan. Em bagaimana kehidupanmu saat sebelum menikah. Maksudku waktu remaja."


Alisha menceritakan bagaimana kehidupannya yang serba di batasi oleh sang Ayah. Membuat dia hanya bisa bergaul dengan Monik saja. Memang banyak yang ingin berteman, tapi Alisha selalu terbentur waktu juga batasan sehingga teman yang lain memilih untuk tidak akrab.


Lain cerita dengan Eldar. Kehidupan yang serba mewah membuat banyak orang ingin berteman dengannya. Namun, watak keras dan mulut kasar Eldar yang menjadikan orang sekitar enggan mendekat bahkan memilih menjauh.


"Terus kamu menuruti keinginan Ayahmu?" Tanya Eldar antusias.


"Iya Mas. Tidak ada alasan untuk menolak. Meskipun peraturannya memang terlalu ketat, tapi Ayah bisa sangat membuatku nyaman."


"Kamu beruntung Babe. Sejak kecil Ayahku tidak pernah peduli pada keluarga dan hanya memikirkan perusahaannya. Tapi, di akhir hayatnya, aku tahu jika tujuan Ayah melakukan itu hanya untuk keluarga. Aku sempat membenci dunia bisnis karena hal itu."


"Terus. Bagaimana kamu bisa sampai di titik sekarang Mas."


"Dia memasangkan belenggu pada leherku. Jika aku tidak kuliah dan menuruti wasiatnya. Hidupku akan menderita nantinya. Apa kita beli di sini saja." Eldar berhenti di sebuah depot nasi padang.


"Iya Mas, tidak apa."


"Hm." Eldar memarkir mobilnya lalu keduanya turun.


"Mas." Cegah Alisha menghentikan langkah Eldar. Dia menatap fokus ke depan sehingga Eldar ikut melihat obyek yang di lihat Alisha.


Secara kebetulan Tama berada di sana tengah membungkus makanan.


"Alisha." Gumam Tama menghampiri Alisha tanpa peduli pada Eldar. Dia ingin mencari tahu kebenaran pernikahannya.


"Kita cari tempat lain Mas." Ucap Alisha tidak ingin terjadi keributan.


"Aku ingin tahu apa yang akan dia katakan." Jawab Eldar menatap tajam ke arah Tama. Muka lelaki ini begitu tebal. Dia masih tidak merasa malu berjalan mendekati wanitaku seperti itu!!


"Aku tidak suka keributan Mas."


"Alisha.." Sapa Tama menunjukkan rasa tidak sukanya. Alisha tersenyum aneh dan mengangguk. Dia memperhatikan manik kedua lelaki yang saling berhadapan seolah tengah melakukan perang batin." Kata Monik kamu sudah menikah?" Tanya Tama tanpa basa-basi.


"Ya. Suaminya ada di hadapanmu sekarang."


"Oh jadi benar. Selamat ya. Kau bisa mendapatkan lelaki kaya sehingga tidak perlu bersusah-susah memikirkan keuangan." Alisha menegakkan pandangannya mendengar ucapan Tama yang masih terdengar menyebalkan.


Bersambung 🤭


Besok lanjut lagi ya..


Semoga sehat selalu🥰🥰


Terimakasih dukungannya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2