Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 26


__ADS_3

Setelah membuang semua makanan, Lilis berjalan ke kamar untuk mengambil ponselnya. Matanya melirik ke Tama yang tengah berbaring seraya memesan delivery.


"Sudah kau habiskan semua?" Tanya Tama ketus.


"Apa maksudmu?"


"Makanan tadi."


"Ku buang." Tama mendengus, juga mengingat perkataan Alisha dulu.


Rasanya aku memang yang bersalah.. Masakan Alisha bahkan lebih enak daripada buatan Lilis! Tapi aku tidak pernah menghargainya sehingga dia selalu membuangnya..


Seolah tengah mendapatkan pembelajaran. Apa yang pernah di perbuat pada Alisha dulu kembali di suguhkan pada Tama dan membuat matanya terbuka lebar.


Sudah terlanjur... Aku bahkan tidak tahu Alisha ada di mana sekarang..


"Aku sudah pesan makanan untuk kita dan Mama." Ucap Lilis meletakkan ponselnya. Dia berjalan menghampiri Tama dan duduk tepat di sampingnya. Entah kenapa Tama menghindar dan lebih memilih duduk di sisi ranjang satunya." Kamu marah Tam?" Tanya Lilis bingung.


"Kau tidak sadar jika selama ini sudah menipuku?" Tanya Tama ketus.


"Menipu apa?" Tama tertawa renyah seraya menatap kesal ke arah Lilis.


"Bukankah setiap hari kau membawa masakan enak dan menyebut Alisha tidak becus memasak. Sekarang apa?!! Masakan mu bahkan lebih buruk darinya." Lilis terdiam dan tidak bergeming sejenak.


"Aku terpaksa, karena aku menginginkanmu." Tama tersenyum kecut.


"Bodohnya aku!!" Umpatnya beranjak keluar kamar.


"Tam tunggu." Lilis mengekor dan tidak sengaja berpapasan dengan Wina juga Damar, Suaminya.


Astaga... Tampan sekali.. Puji Lilis di dalam hati.


Wina menyeret paksa Damar untuk masuk karena tidak suka dengan tatapan Lilis.


"Siapa dia?" Tanya Damar yang memang jarang di rumah. Dia berkerja dari pagi sampai malam sehingga dia tidak tahu menahu tentang kekisruhan yang terjadi di rumah.


"Istri Kak Tama."


"Terus Mbak Alisha?" Tanya Damar menuntut penjelasan.


"Aku mau cerita tapi kamu tidak pernah ada waktu Mas. Mereka bercerai dan Kak Tama memilih wanita tua itu." Damar tersenyum simpul seraya mengangguk-angguk.


Ukurannya lebih besar daripada milik Wina.. Haha.. Lumayan juga meski tidak sesegar milik Alisha...


***********************


Eldar menghentikan langkah di sebuah apartemen nomer 30. Alisha yang tidak kuasa menolak, menerima kenyataan jika lelaki di hadapannya mulai mengikatkan rantai belenggu.


"Apa semua apartemen sesepi ini?" Gumam Alisha lirih.


"Aku sengaja membeli seluruh Apartemen yang ada di lantai ini."


"Itu terdengar semakin gila."


"Sudah ku katakan. Kau harus di tempatkan di kawasan minim lelaki sebab kau selalu terlibat masalah." Alisha mengangguk-angguk dan membenarkan itu." Silahkan masuk Babe." Eldar membuka pintu apartemen. Alisha meraih belanjaannya dan berdiri tepat di ambang pintu.


"Aku benar-benar lelah."

__ADS_1


"Hm selamat beristirahat. Kamarku di sebelah. Pin pintunya adalah tanggal lahirmu." Eldar mengusap puncak kepala Alisha kemudian menutup pintu agar Alisha bisa segera beristirahat.


"Ah Tuhan.." Eluh Alisha berjalan lemah menuju ranjang empuk dengan suasana ruangan yang begitu indah." Seumur hidup aku baru merasakan tinggal di tempat sebagus ini dan dingin." Tubuh nya terhempas di atas tempat tidur. Dia menendang-nendang kakinya sehingga sepatu heels nya terlepas begitu saja." Bagaimana aku bisa yakin jika dia tidak akan menyakitiku nantinya. Mas Tama dulu juga begitu meski tidak segila dia." Alisha menarik nafas panjang seraya menatap langit-langit kamar." Dia bisa melakukan apapun bahkan untuk membunuhku pun bisa. Ah!! Tidak tahu!! Aku hanya butuh seorang lelaki yang memperlakukan ku dengan baik. Eldar terlalu sempurna dan aku semakin takut padanya." Trauma akan kegagalan belum pergi dari hati Alisha.


Dia hanya ingin yakin jika nantinya Eldar tidak melakukan hal yang lebih buruk dari apa yang di lakukan Tama padanya. Alisha sudah terlalu banyak di kecewakan hingga dia kesulitan untuk menerima seseorang yang baru.


Baru saja tubuhnya berbaring, kantuk langsung menyerang. Perlahan mata Alisha meredup dan membuatnya langsung tertidur lelap. Sementara Eldar sendiri, duduk mematung, memperhatikan Alisha dari layar laptopnya.


Beruntungnya aku bisa melihat mu malam ini. Selamat malam Babe.


.


.


.


.


Tak!


Tak!


Tak!


Alisha menyipitkan matanya dan sedikit binggung dengan suasana ruangan yang di tiduri. Sementara Eldar terus saja memainkan telunjuknya hingga menimbulkan bunyi.


"Eldar!!!" Pekik Alisha merasa kaget melihat Eldar duduk tidak jauh dari tempatnya.


"Kau menolak hidup bersamaku tapi kau terlihat nyaman tidur di sini." Alisha bergegas bangun dan merapikan rambutnya yang berantakan dengan wajah panik.


"Aku tidak suka kau masuk sembarangan Mas!!" Tunjuknya kasar.


"Ya tapi, bukankah tidak sopan masuk tanpa izin."


"Menikah saja. Agar terlihat sopan." Canda Eldar seraya terkekeh sebab Alisha tengah menatapnya tajam." Hidupku menjadi berwarna karena mu." Cepat-cepat Alisha meraih lengan Eldar dan menariknya agar berdiri.


"Sebaiknya Mas El keluar dulu!! Aku mau mandi dan jangan terus menggombal." Alisha mengiring Eldar untuk keluar kamar. Tanpa basa-basi, dia membanting pintu apartemen setelah berhasil mendorong tubuh Eldar.


"Jika aku tidak menyukai nya, mungkin aku sudah melemparkan tubuhnya dari lantai lima." Gumam Eldar memutuskan untuk berdiri menunggu di tempatnya sekarang.


"Gawat sekali!!" Gumam Alisha menggeser sebuah meja untuk menghalangi pintu." Dia bisa masuk sembarangan karena tahu nomer pin-nya." Imbuh nya memasang wajah panik seraya duduk tanpa memikirkan lelaki yang tengah menunggunya di luar.


Tangannya meraih tas untuk mengambil ponsel yang ternyata mati. Itu kenapa sejak kemarin ponselnya terasa hening.


"Monik pasti merasa khawatir." Alisha berdiri dan mengambil sembarangan baju lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Cukup sebentar saja sebab Alisha bukan tipe wanita yang suka bersolek. Bergegas, dia keluar dengan wajah tanpa riasan sedikitpun karena kosmetiknya ada di rumah.


"Antar aku ke rumah untuk mengambil charger." Pinta Alisha menyadari baju Eldar yang terlihat santai." Tidak memakai jas?" Tanyanya pelan.


"Kita pergi." Eldar tidak menjawab dan langsung berjalan di ikuti oleh Alisha.


"Tidak berganti jas dulu."


"Tidak ada rapat penting jadi tidak perlu ke perusahaan."


"Terus perkerjaan ku bagaimana?"

__ADS_1


"Kamu sangat menguji kesabaran ku hehe. Apa kamu ingin aku memaksa mu menikah agar keinginan ku cepat terlaksana." Jawab Eldar memperlihatkan senyuman tidak biasa.


"Lalu kita akan melakukan apa jika tidak ke perusahaan?" Eldar menghentikan langkahnya begitupun Alisha.


"Apapun asal kita cepat menikah." Alisha mengerutkan keningnya seraya tersenyum aneh." Sudah ku katakan. Tidak ada gunanya menolak. Kita akan terus bersama sepanjang hari tanpa ikatan. Kau hanya sedang mengulur waktu sebab aku tidak akan berhenti hingga kau menerima itikat baikku ini." Alisha membuang muka. Perjanjian itu membuatnya terikat dan tidak bisa berlari.


"Aku tidak siap."


"Lalu kapan?"


"Aku tidak akan pernah siap!!" Jawab Alisha lantang.


"Kau suka sekali di paksa. Kita menikah besok!!!" Alisha melebarkan matanya mendengar itu.


"Aku bahkan belum mengenalmu dengan baik."


"Berkenalan setelah menikah agar aku bisa menunjukkan perasanku secara utuh." Eldar kembali berjalan di ikuti oleh Alisha.


"Kau tidak bisa memaksaku seperti ini."


Eldar tersenyum, lalu menarik tubuh Alisha dan menyeretnya ke dalam lift. Dia menghimpit tubuh itu tepat di samping tombol lift hingga lift terus saja berjalan tanpa berhenti.


"Menikah atau kita lakukan di sini." Tawar Eldar memainkan jarinya agar lift terus beroperasi.


"Lakukan apa maksudmu?" Tanya Alisha gugup.


"Kau tahu." Eldar menunduk dan mulai menyapu pipi Alisha dengan bibirnya.


"Egh.. Mas jangan.." Alisha menyilakan kedua tangannya di depan namun leher panjang Eldar masih bisa menjangkau leher miliknya.


Tangannya terlepas dari tombol lift dan mulai membelai tubuh Alisha hingga membuat pemiliknya mengelinjang.


"Ambil keputusan. Jika tidak. Pintu lift terbuka dan kita akan di tangkap karena berbuat messum di sini." Sambil menahan dessahan, Alisha berfikir cepat dan mengeluarkan keputusan yang tepat di waktu yang cepat.


"Iya aku mau." Himpitan terlepas bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


"Astaga Babe terimakasih." Dengan tubuh bergetar, Eldar mengiring Alisha keluar dari lift tersebut.


"Kau memaksaku! Tidak perlu berterimakasih."


"Hmm.." Eldar meraih ponselnya dan menghubungi Abraham.


"Ya Tuan.


"Aku ingin menikah besok.


"Tapi Tuan...


Eldar menutup panggilan tersebut tanpa memikirkan bagaimana cara Abraham menuruti kegilaannya.


❤️❤️❤️


Serius...


Fikiranku lagi mengambang..


Maaf jika jelek😭😭😭

__ADS_1


Semoga fell ku cepat kembali...


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2