Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 18


__ADS_3


Happy reading 🥰🥰🥰


"Hai Alisha. Lama tidak bertemu." Alisha melebarkan matanya mendengar suara yang cukup di kenalnya.


"Mbak Lilis? Gawat!!


Dia.. Wanita selingkuhan suami Alisha? Astaga!! Bodoh sekali jika suami Alisha lebih memilih wanita yang tubuhnya sudah mengendur..


Och! Tampan sekali lelaki ini? Bagaimana mungkin Alisha bisa mendapatkannya? Dia lebih gagah dari Tama..


Alisha akan berdiri namun jemari Eldar mencegahnya. Dia mulai lelah berpura-pura sehingga Eldar ingin tahu tentang apa yang akan di katakan wanita dengan senyum licik itu.


"Dia siapa Al?" Lilis duduk di samping Alisha yang tengah memasang wajah tegang.


"Kekasihnya." Alisha menoleh cepat. Sementara Eldar menatap tajam Lilis dengan raut wajah penuh kebencian.


"Apa yang kamu katakan." Sahut Alisha lirih. Ya Tuhan. Aku ingin pergi dari sini.


"Ku fikir kau wanita baik-baik. Ternyata kau bermain di belakang Tama seperti sekarang." Jawab Lilis penuh hinaan.


"Tidak. Ini tidak seperti yang kamu fikirkan Mbak." Alisha sangat bingung mengambil sikap. Sebab dia tidak tahu jika sebenarnya Eldar sudah mengetahui status aslinya.


"Ini memang sesuai tebakan mu. Untuk apa mempertahankan Suaminya yang busuk itu!!" Alisha melongok. Dia tentu merasa kaget dengan jawaban Eldar yang ternyatasudah tahu.


"Oh sudah tahu. Em kau semacam pembinor? Sayang sekali padahal wajahmu tampan." Astaga bagaimana rasanya bisa bercinta dengan lelaki gagah seperti dia..


Fikiran Lilis sangat tidak waras. Hatinya dengan mudah berpindah saat melihat kesempurnaan fisik yang di miliki Eldar.


"Tidak juga. Aku tidak merusak hubungan mereka. Aku sedang menunggu perpisahan terjadi di antara mereka." Sejak tadi Alisha tidak berpaling menatap Eldar. Dia tidak menyangka jika selama ini Eldar sudah tahu tentang masalah hidupnya namun mencoba untuk diam.


"Bukankah kita sama. Bagaimana jika kau denganku saja dan biarkan mereka kembali bersama." Eldar tersenyum tipis lalu mengambil es milik Alisha dan menyiramkannya pada wajah Lilis." Agh!!! Apa-apaan ini!!" Pekik Lilis langsung berdiri dan mengusap wajahnya yang basah.


"Kau harus di siram seperti itu agar kau sadar dengan ucapan mu!!!" Eldar selalu bertindak tanpa basa-basi sebab dia tahu akan kekuasaannya meski kekuasaan itu tidak di perlihatkan.


"Kau akan menyesal!! Wanita di samping mu tidak becus mengurus rumah tangganya dengan baik." Lilis tidak juga berhenti karena muka tebal yang di miliki. Dia masih ingin menarik simpatik Eldar.


"Kau merebut Mas Tama Mbak. Kenapa Mbak Lilis berkata itu."


"Harusnya kau berkaca Alisha!! Kenapa Tama lebih memilih ku daripada kamu!!"


"Sebab orang buruk akan berjodoh dengan orang buruk juga. Apa itu maksudmu?" Sahut Eldar mulai berdiri dan menghampiri Lilis.


Alisha ikut berdiri untuk mencegah jika mungkin Eldar melakukan kekerasan fisik. Tangannya meraih lengan Eldar untuk berjaga-jaga.


"Tidak. Jangan meladeninya." Pinta Alisha berbisik.


"Memang itu kenyataan. Dia tidak becus mengurus rumah tangganya!!"

__ADS_1


"Biar aku yang mengurusnya jika memang suaminya merasa keberatan." Bibir Lilis terbuka tertutup mendengar itu.


"Akan ku beritahu Tama soal ini!!"


"Tidak Mbak. Ini salah faham. Aku tidak memiliki..."


"Beritahu saja. Agar Suaminya cepat menceraikannya." Sahut Eldar membalas ancaman Eldar.


"Oke! Tunggu saja." Dengan raut wajah geram, Lilis melangkah pergi.


Alisha melepaskan pegangan tangannya. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan Eldar.


"Sejak kapan?" Tanyanya pelan dengan wajah tertunduk.


"Satu Minggu yang lalu." Alisha mengangguk seraya meraih tas kecilnya." Kau mau pergi?" Bibir Alisha tersungging, memberanikan diri untuk menatap Eldar.


"Semua akan semakin terasa buruk setelah ini. Bukankah seharusnya kau berkata jika kita berteman?" Protes Alisha sudah membayangkan bagaimana cacian yang akan di dapatkan nanti.


"Kamu masih membelanya? Apa kamu sadar jika semua ini ku lakukan hanya untuk membebaskan mu?"


"Aku tidak memintanya. Bukankah kau yang melakukannya sendiri? Aku ingin bebas secara terhormat. Bukan seperti ini." Eldar menarik nafas dalam-dalam. Ini terasa tidak adil sebab Alisha tidak bersikap seperti apa yang dia harapkan.


"Aku fikir kau akan berterimakasih padaku dan merasa kagum karena aku masih bersamamu meski kau memiliki seseorang di sana."


"Aku tidak ingin jadi tersangka."


"Kau tidak akan tahu, jadi sebaiknya kau tidak perlu ikut campur. Aku minta maaf. Tolong, jangan temui aku lagi." Dengan keterpaksaan Alisha mengucapkannya. Dia tidak ingin memperburuk keadaan karena hadirnya Eldar.


Eldar mengambil kunci motornya dan meninggalkan uang di atas meja lalu berjalan menghampiri Alisha yang masih berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi.


"Why Babe? Kau tidak menghargai perasaan ku?" Tanya Eldar merajuk. Alisha tidak bergeming seraya menahan perasaannya yang bergemuruh." Aku menyesal mengucapkannya. Kau tahu ini pertama kalinya untuk ku berhubungan dengan seseorang. Aku mohon, maafkan aku atas kelancangan ku tadi." Alisha melangkah menuju taksi pesanannya dan masuk tanpa satu katapun yang terlontar.


Eldar menatap terpaku ke arah taksi yang di tumpangi Alisha dengan tatapan lemah penuh penyesalan.


Apa aku terlalu terburu-buru dan bernaffsu? Aku hanya tidak ingin melihatnya bersedih tapi dia malah marah padaku...


Di taksi, Alisha segera melakukan panggilan dengan Monik sebab dia tidak memiliki kontak milik Mbak Sarah.


"Mon bilang pada Mbak Sarah. Aku tidak bisa berkerja padanya lagi.


"Kenapa begitu?


"Sudahlah. Aku tidak mau. Maaf ya.


Alisha mengakhiri panggilan begitu saja seraya memijat kepalanya yang pusing. Matanya berkaca-kaca dengan rasa sesak yang semakin memenuhi dadanya.


Pasti mereka akan menyalahkan aku.. Saat aku tidak melakukan kesalahan saja sudah terasa pedas. Apalagi jika aku berbuat salah..


Alisha tertunduk dengan raut wajah gelisah sementara Eldar melajukan motornya menuju kediamannya.

__ADS_1


"Aku sudah menyetorkan skripsi."


Tak!!


Buku laporan di letakkan kasar. Punggungnya di sandarkan pada sofa seraya menddesah lembut.


Kasihan sekali Tuanku...


"Tinggal menunggu persetujuan dan hukuman ku selesai." Eldar kembali berdiri tanpa membawa lagi buku laporan yang sudah selesai di tanda tangani seluruhnya.


"Tunggu Tuan."


"Apalagi?!! Jangan kau suruh aku bersekolah lagi!? Itu membuatku muak sialan!!!" Umpatnya tidak berarah karena rasa kecewa akibat sikap Alisha tadi.


"Ini sudah cukup Tuan. Tidak perlu pergi ke Asramah. Satu hari lagi, akan saya adakan pelantikan resmi untuk menyambut kedatangan Tuan."


"Hm.." Eldar melangkah masuk, menaiki tangga untuk menuju ke kamar kebanggaannya yang lama di tinggalkan. Aku tidak mengerti bagaimana jalan fikiran wanita. Padahal aku ingin membelanya tapi.. Aku kembali Mama...


Eldar menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Kamar miliknya adalah tempat favorit baginya meski sudah dua tahun ini dia di paksa untuk tinggal di Asramah, dengan hiruk-pikuk yang sangat membuatnya tidak nyaman.


Aku harus berbuat apa Tuhan.. Apa aku harus berdiam dan menunggu nya hingga bercerai atau aku tetap memperlihatkan rasa simpatik ku padanya.. Ah.. Sebaiknya aku menenangkan perasaan dulu agar bisa berfikir jernih...


*********************


Dengan langkah percaya diri, Elsa memasuki pekarangan rumah Mama Rita yang memiliki halaman luas. Terdapat banyak kamar kost-kost an di sampingnya hingga membuat Lilis semakin ingin memiliki Tama.


Wah wah.. Ternyata Mama Tama lumayan kaya juga...


Lilis tidak tahu jika kost-kostan itu peninggalan almarhum Ayah Tama yang tidak bisa di sentuh. Mama Rita bahkan tidak memperbolehkan anaknya menikmati uang hasil dari kos-kosan sedikitpun.


Mama Rita bilang, itu jatahnya. Entah pelit atau apa, tapi Mama Rita tidak pernah mengeluarkan uang, sekalipun kedua anaknya merasa kesulitan.


"Permisi..." Panggil Lilis mempersiapkan diri berakting untuk menjadi calon menantu idaman.


"Siapa ya?" Tanya Wina.


"Apa benar ini rumahnya Pratama?" Tanyanya penuh tipu daya. Senyum ramahnya terlihat di buat-buat dan berlebihan.


"Ini rumah Mamanya."


Ih apa bedanya sih!!!


"Tapi motor Tama ada di situ." Menunjuk ke motor Tama yang terparkir.


"Em iya. Tunggu ya aku panggilkan dulu. Silahkan masuk." Dengan ragu-ragu, Wina mempersilahkan Lilis duduk di ruang tamu.


Jika aku berhasil merebut Tama. Aku akan jadi anak juragan kost-kostan..


~Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2