
Happy reading 🥰🥰
Tama memarkir motornya tepat di depan hotel. Lilis segera turun sebab Tama harus mampir ke rumah Mamanya sebentar untuk menutupi kebohongannya.
"Jangan lama-lama ya Tam." Pinta Lilis dengan nada manja. Tangannya meraih jemari Tama dan meremasnya lembut.
"Jam enam aku ke sini."
"Seharusnya langsung saja. Aku sudah ingin itu." Tama tersenyum bangga mendengar Lilis tidak sabar ingin merasakan sentuhannya.
"Sabar ya. Daripada Mama curiga nanti." Rajuk Tama sudah di butakan hawa naffsu. Setelah perbuatan buruknya semalam. Tama menyadari jika Lilis memang terlihat lebih dewasa dari Alisha. Dari bentuk tubuh, riasan wajah, Lilis memang terlihat lebih menarik dan mengiurkan. Itu menurutnya.
"Iya. Cepatlah. Aku tunggu di kamar 12."
"Hm aku pergi sebentar ya." Tama tersenyum lalu melajukan motornya menuju kediaman rumah Mama Rita.
Sepanjang perjalanan, milik Tama terasa meronta. Niat buruk sudah memenuhi otaknya sehingga dia mulai membayangkan bagaimana serunya pencintaan nanti malam.
Jika tahu Lilis akan bercerai. Aku lebih memilih dia daripada Alisha.. Sepertinya dia lebih berpengalaman dan dewasa..
Tama melangkah masuk setelah memarkir motornya di pekarangan. Mama Rita langsung menyambut Tama tidak sabar. Dia ingin bertanya perihal sesuatu yang di katakan Alisha melalui telepon.
"Masak apa Ma?" Tanya Tama seraya mencium punggung tangan Mama Rita.
"Duduk dulu. Mama mau bicara." Tama langsung duduk santai seraya makan cemilan di hadapannya.
"Bicara apa sih?"
"Alisha bilang, kamu berboncengan dengan wanita lain tadi." Tama menghentikan kunyahannya lalu menelannya kasar.
Ah! Kenapa Alisha tahu?
"Meskipun Alisha tidak sempurna. Kamu jangan sampai main belakang seperti itu ya Tam. Mama tidak suka sampai kamu berbuat itu. Ingat! Kamu punya adik perempuan."
Sial!! Sial!! Kenapa seperti ini sih?
"Alisha saja yang cemburunya kelewatan Ma. Mama kan tahu aku tidak tegaan jadi terkadang aku memberikan tumpangan pada teman kantor." Tentu saja Tama dengan mudah menjawabnya. Kebohongan seperti sekarang kerapkali terlontar hanya untuk bisa memenuhi keinginannya pribadi." Ini saja aku mau menginap di rumah teman yang Ibunya meninggal dunia tapi Alisha tidak memberikan izin. Dia Ibu dari sahabatku Ma." Imbuh Tama tidak ingin jika acaranya dengan Lilis menjadi hancur berantakan.
"Maksudnya bagaimana Tam?"
"Niatnya aku tidak pulang hari ini karena Ibunya sahabatku meninggal dunia. Tapi Alisha tidak mengizinkan padahal hanya ada staf laki-laki saja di sana." Mama Rita tersenyum menatap Tama. Dengan mudah dia percaya ucapan anak kesayangannya itu." Bantu aku ya Ma. Bilang pada Alisha jika aku menginap di rumah Mama agar aku tidak malu dengan sahabatku itu." Imbuh Tama mengatakan kebohongan lagi dan lagi.
"Telepon dia, biar Mama yang bicara." Tama tersenyum tipis dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Alisha.
"Nih Ma." Mama Rita mengambil ponsel dari Tama.
"Mas.
"Ini Mama.
"Oh Mama. Mas Tama di sana?
"Iya. Dia tidak pulang hari ini. Mama ingin Tama menginap di sini.
Alisha tidak juga bergeming sehingga Mama Rita menarik kesimpulan jika Alisha merasa keberatan.
"Kamu tidak izinkan?!!
"Ya sudah Ma.
"Gitu dong. Jangan dikit-dikit cemburu terus. Mungkin itu sebabnya kamu belum di percaya memiliki anak. Sifat kamu itu masih tidak dewasa Al. Kamu harus rubah itu agar kamu bisa cepat hamil.
Lagi lagi, Alisha harus mendengarkan perkataan yang membuat hatinya sakit.
"Iya Ma.
__ADS_1
"Ya sudah.
Mama Rita memberikan ponselnya pada Tama setelah mengakhiri panggilannya.
"Terimakasih ya Ma. Aku jadi tidak sungkan pada sahabat Tama itu." Ucap Tama tersenyum menang.
"Iya. Kamu makan dulu, mandi baru berangkat."
"Baik Ma." Tama mencium pipi Mama Rita lalu bergegas masuk. Senyumnya mengembang karena kebohongannya tidak terbongkar. Apalagi bayangan soal percintaannya nanti melintas, membuat Tama ingin segera mandi dan mendatangi Lilis yang sudah menunggunya.
******************
Brraaaaakk!!!!
Dean berjingkat mendengar pintu kamar Eldar tertutup keras. Dia yang kebetulan sedang bercengkrama dengan penghuni Asramah lain, segera mendatangi kamar Eldar untuk memastikan tentang apa yang terjadi.
Apa wanita itu menolaknya lagi? Aku bahkan tidak tahu namanya...
Tanpa rasa ragu, Dean mengetuk pintu kamarnya. Eldar keluar dari sana dengan tatapan geram.
"Apa?!" Tanyanya ketus.
"Kau yang kenapa?" Tanya Dean balik seraya menerobos masuk.
"Siapa yang menyuruhmu masuk! Keluar!! Aku ingin sendiri." Dean tidak mendengarkan itu dan malah duduk di kursi belajar Eldar.
Dengan terpaksa Eldar menutup pintu kamarnya sebab dia tahu Dean tidak akan pergi sekalipun sudah di usir.
"Tidak semua hal bisa kau dapatkah dengan instan El. Apalagi ini menyangkut hati. Harus pelan-pelan dan nikmati prosesnya. Jangan terlalu memaksa, dia malah akan lari." Eldar duduk lemah seraya menarik nafasnya panjang.
"Aku tidak akan melakukannya lagi." Dean menoleh mendengar itu.
"Kau sudah menyerah?" Tanya Dean dengan tatapan tidak percaya.
"Aku tidak mengerti? bukankah mereka sudah putus?"
"Wanita itu milik orang lain!! Istri orang lain!!" Dean melongok, menatap Eldar tidak percaya dengan apa yang di dengar.
"Ka kau serius?" Tanya Dean terbata.
"Apa menurutmu aku sedang bercanda Dean!!"
"Kenapa dia masih seperti gadis?" Mata Eldar membulat. Menatap Dean tajam, seolah dia tidak rela ada mulut lain yang memuji kecantikan Alisha." Kenapa melihatku begitu?" Tanya Dean terbata.
"Aku tidak suka kau memujinya seperti itu!!"
"Dia memang..."
Takk!!!
Praaaankk!!!
Tanpa Aba-aba Eldar melemparkan hiasan keramik yang terletak di meja samping tempat tidur. Dean berjingkat karena terpekik dan langsung berdiri.
"Jika mengenai kepalaku bagaimana El?" Eldar tidak menjawab. Dia tertunduk, merasa bingung dengan perasaan yang di fikirnya salah." Ku rasa rumah tangganya sedang tidak baik." Eldar menoleh ke Dean yang duduk di tempatnya semula." Bukankah kemarin kita bertemu dia dengan keadaaan berantakan? Kau ingat kan jika temannya berkata jika kekasihnya memutuskannya. Apa maksudnya, suaminya memutuskannya atau dia memiliki suami dan juga pacar."
Aku yakin dia bukan wanita seperti itu.. Apa maksudnya suaminya memutuskannya?
"Sayang sekali. Padahal Tuan Eldar sedang mengincarnya." Baru sekali Dean melihat Eldar tertarik pada seseorang. Sehingga dia menyayangkan jika Eldar harus menghentikan perjuangannya sekarang.
"Rahasiakan ini dulu. Aku ingin mencari informasi soal seperti apa kehidupan rumah tangganya." Eldar masih merasa penasaran dengan apa yang salah dengan perasaannya.
Kenyataan tentang Alisha yang terkuak hari ini. Tidak menyurutkan rasa sukanya yang masih sangat menginginkan Alisha.
Entah apa maksudnya? Aku akan mencari tahu soal ini sendiri...
__ADS_1
******************
Sementara Alisha sendiri, tengah menonton televisi tanpa ekspresi. Kedua matanya terlihat sembab dengan mie ayam yang tidak tersentuh di atas meja.
Aku tidak pernah menghalangi Mas Tama untuk datang ke rumah Mama tapi kenapa akhirnya seperti ini? Apa benar Mas Tama menginap di rumah Mama atau...
"Hiks... Aku tidak mau dia menyentuh milikku." Isakan kembali terdengar, ketika bayangan Lilis berada di boncengan Tama melintas. Tentu saja Alisha sakit hati, sebab Tama sudah berjanji untuk menjauhi wanita yang di sebutnya tidak baik.
Sebelum rencana lamaran di gelar. Alisha bahkan terang-terangan bertanya dengan keputusan yang di ambil Tama karena memilihnya.
Apa kamu yakin denganku Mas? Jika memang kamu tidak ingin terikat karena rasa cemburuku, Mas Tama boleh menikahi gadis lain..
Sungguh Alisha tidak pernah menutupi keburukannya. Apapun yang menjadi kelemahan di beberkan terang-terangan. Dia tidak perduli jika nantinya Tama akan pergi.
Aku akan berubah untukmu.. Aku janji...
Jika Mas Tama ingin mundur, lakukan saja. Aku tidak ingin nantinya Mas Tama keberatan dengan sifat ku. Aku tidak mau itu terjadi setelah pernikahan kita. Sebab aku ingin menikah hanya satu kali dalam seumur hidup..
Aku berjanji tidak akan berdekatan dengan wanita manapun. Aku hanya mencintaimu Alisha...
Ucapan yang dulunya terasa manis kini berubah menjadi pahit dan begitu getir. Alisha menelan itu bulat-bulat meski rasanya mencekik lehernya. Dia masih sangat berharap jika Tama bisa berubah lebih baik memperlakukannya. Namun kenyataannya, hubungannya semakin terasa buruk setiap harinya.
Sesuai bayangan, kini Tama tengah asyik bercumbu dengan Lilis di atas ranjang. Baju Lilis bahkan sudah tergeletak di lantai sementara Tama tengah memanjakan Lilis dengan cumbuannya.
"Ah Tam, nikmat sekali." Lenguh Lilis membakar akal sehat Tama. Apalagi Lilis sengaja mencampurkan obat kuat pada minuman milik Tama sehingga senjata Tama mengeras lebih cepat.
"Aku tidak tahan Lis, biar ku masukkan." Tama memasukkan miliknya ke tempat yang terlarang. Sehingga membuat percintaan kali ini terasa lain dengan bumbu naffsu setan.
Apalagi Lilis memang lebih handal ketika di ranjang membuat Tama merasa di manjakan dengan gerakan dan dessahan yang Lilis suguhkan.
Sudah ku duga jika Lilis lebih menggairahkan daripada Alisha..
Bagaimana tidak bergairah, jika saat ini Tama di pengaruhi obat kuat dengan dosis tinggi. Pinggangnya tidak berhenti bergerak. Menatap nanar ke arah Lilis yang terlihat seksi dengan posisinya.
"Och! Lebih cepat Tam.."
"Iya Lis, ini sudah cepat." Tama terengah-engah, dengan gerakan pinggang yang tidak terkendali. Tidak perduli dengan keringat yang mengucur deras. Dia masih bergerak dan terus bergerak hingga pelepasan di dapatkan." Ah Lilis, enak sekali." Imbuh Tama masih terlihat mengejang menikmati cairan yang keluar memenuhi alat kontrasepsinya.
Uhh aku bergairah sekali karena wajah Tama begitu tampan..
"Bagaimana Tam? Enakan mana aku atau Alisha."
Memang milik Alisha lebih sempit tapi Lilis membuatku bersemangat untuk bergerak..
"Tam." Panggil Lilis manja.
"Tentu saja kamu Lis."
"Serius Tam?"
"Iya serius. Aku membersihkan ini dulu."
"Kita lakukan di kamar mandi yuk." Ajak Lilis.
"Apa enaknya melakukan itu di sana?"
"Sudahlah ayo Tam. Biar kamu tidak perlu memakai karet itu."
Dengan manja Lilis mengiring Tama masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan perbuatan yang tidak semestinya terjadi.
~Bersambung
🤮🤮🤮
Terimakasih dukungannya 🥰🥰
__ADS_1