Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 11


__ADS_3

Tidak ada sesal terlihat pada raut wajah Eldar. Dia malah tersenyum tipis memandangi mulut si kepala Dosen yang tengah marah-marah tidak jelas. Hingga pintu ruangan terbuka dan Abraham keluar dari sana.


Abraham menddesah lembut, melihat Mahasiswa yang babak belur karena ulah Tuan nya.


"Skors saja!!" Sahut Eldar dengan kasar." Kau fikir aku takut!!" Imbuhnya geram.


"Eldar. Jaga bicaramu." Ucap Abrahan selalu memanggil Eldar dengan sebutan nama jika berada di area Kampus. Itu di lakukan untuk menyembunyikan identitas Eldar yang sesungguhnya agar Eldar tidak di perlakukan spesial oleh pihak kampus.


"Bukankah kau yang harusnya takut!!" Tatap Eldar geram pada wajah yang tertunduk di sampingnya." Kau melecehkan gadisku!! Dan itu termasuk kriminal." Imbuhnya mengancam.


"Semua bisa di selesaikan dengan cara damai Eldar." Eldar berdiri lalu mengebrak meja hingga si kepala Dosen berjingkat.


"Kau punya istri Pak." Tanya Eldar ketus.


"Punya."


"Jika istri mu di lecehkan dengan tatapan nakal oleh seseorang, katakan!! Apa yang akan kau lakukan!! Apa kau akan berdiam dan mengelus rambutnya seperti ini." Eldar bukan mengelus, melainkan menjambak rambut si mahasiswa tersebut.


"Eldar hentikan!!" Dean menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya melihat.


"Skors aku!!! Akan ku tuntut balik dia." Dengan kasar Eldar melepaskan jambakan tangannya dan melenggang keluar di ikuti oleh Dean.


"Jangan di skors Pak." Sahut si mahasiswa merasa bersalah karena apa yang di katakan Eldar benar adanya." Saya mencabut tuntutan saya. Permisi." Daripada harus berurusan dengan polisi. Si mahasiswa lebih memilih mundur saja.


"Saya mohon jangan di skors." Imbuh Abraham yang merupakan wali murid dari Eldar.


"Baik Pak saya maafkan sebab ini kali pertama Eldar membuat kericuhan tapi jika mengulanginya lagi. Skors harus saya terapkan agar dia merasa jera." Jawab si kepala Dosen.


Tidak ada yang bisa membuat Tuanku merasa jera. Padahal sudah akan lulus, tapi kenapa malah membuat masalah..


"Hm baik Pak. Terimakasih pengertiannya." Keduanya bersalaman lalu Abraham berjalan keluar dan mencari keberadaan Eldar yang masih menunggunya.


Eldar terpaksa menunggu, daripada Abraham harus mencarinya saat dia sedang bersama Alisha.


"Tidak perlu di jelaskan Tuan. Saya sudah tahu." Ucap Abraham lirih.


"Bagus jika kau tahu." Jawab Eldar ketus.


"Hanya tinggal sebentar Tuan. Saya mohon untuk menahannya sedikit."


"Mana bisa tahan jika dia menyentuh milikku!!" Abraham menddesah lembut. Menatap Tuannya yang baru saja merasakan jatuh cinta.


Sepertinya aku harus mengambil cara lain agar Tuan bisa menyelesaikan kuliahnya. Jika sedang jatuh cinta, dia mirip seperti almarhum Ayahnya dan langkah ini benar-benar harus ku ambil...


"Hm baik. Saya permisi Tuan." Abraham tersenyum sejenak kemudian pergi meninggalkan Eldar seolah dia sudah menerima hati Eldar yang sekeras baja.


************


Sejak tadi pagi, Nino membaca gelagat Lilis dan Tama yang di rasa semakin dekat. Keduanya kerapkali saling melempar senyum bahkan sempat sarapan bersama di kantin.


Nino yang juga mengenal Alisha, tentu merasa gusar melihat pemandangan di hadapannya. Apalagi dulu dia juga menaruh hati pada Alisha yang lebih memilih bersama Tama daripada dirinya yang berwajah biasa saja.


Ada yang tidak beres ini!!! Kenapa mereka semakin mesrah saja? Aku harus menegur Tama...


Setelah kepergian Lilis, Nino mendatangi meja Tama dan duduk tepat di sampingnya.

__ADS_1


"Tam." Tama melirik malas ke arah Nino yang hingga kini masih di anggapnya saingan. Sudah menjadi rahasia umum jika Nino dulunya begitu mengagumi Alisha, istrinya.


"Ada apa? Bukankah laporannya sudah ku berikan." Jawab Tama ketus.


"Ini bukan masalah perkerjaan. Tapi, ku lihat kau semakin dekat dengan Mbak Lilis. Awas loh Tam. Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar." Tama menggeser kursi kerjanya dan menatap tajam ke arah Nino.


"Bermain api apa maksudmu?! Aku dan Lilis hanya berteman!!" Nino menddesah lembut sebab dia juga tempat Alisha berkeluh kesah dulunya. Alisha kerapkali mengeluh tentang kedekatan antara Tama dan Lilis yang selalu saja melakukan sentuhan fisik.


"Kau tahu maksud ucapan ku Tam."


"Aku tidak tahu. Kembali ke meja mu! Jangan menggangguku."


"Bukankah Alisha tidak menyukai kau dekat dengan Mbak Lilis? Kenapa kau melakukannya dan ku lihat kalian semakin dekat." Jawab Nino sudah sangat tidak tahan ingin menegur karena rasa simpatiknya terhadap Alisha.


"Kau jangan sok tahu!!"


"Aku memang tahu! Alisha selalu mengeluhkan itu padaku dulu!!!"


"Itu dulu!!" Tama mencengkram erat kerah kemeja Nino seraya menatapnya tajam.


"Daripada harus menyakiti istrimu bukankah lebih baik kau menghindari Mbak Lilis." Nino menampis kasar tangan Tama yang ada di kerah bajunya seraya berdiri.


"Kau jangan sok tahu tentang istriku!! Aku tahu niat buruk mu itu No!! Kau sakit hati karena Alisha lebih memilih aku daripada kau!!" Umpat Tama merasa masih memiliki rasa cemburu ketika ada seorang lelaki memikirkan istrinya.


"Itu masa lalu! Dan aku sudah tidak memikirkan itu asal Alisha bahagia. Tapi ini!! Ku rasa Alisha sudah salah memilih mu dan semoga saja kau dapat karma dari ini semua!!" Tanpa menunggu balasan ucapannya, Nino pergi dari hadapan Tama dan duduk di mejanya sendiri.


Sialan!! Sok sekali dia!! Dan kenapa Alisha bercerita masalah itu dengan Nino!! Apa maksudnya!! Sepertinya, aku harus lebih berhati-hati..


*********************


Eldar mengulurkan tangannya ke arah Alisha dengan sebuah salep yang ada di tangannya. Alisha terdiam dan hanya melewati Eldar begitu saja padahal kantin terlihat ramai.


"Aku sudah baik-baik saja. Sebaiknya kau jangan menggangguku lagi." Ucap Alisha ketus.


"Biar ku pakaikan."


"Tidak!!" Tolak Alisha cepat." Kenapa sih?" Alisha menatap Eldar dengan heran.


"Apa maksud mu dengan kenapa?"


"Sikapmu. Aku hanya ingin berkerja dengan tenang." Eldar menddesah lembut, melihat ke arah Alisha yang berjalan masuk ke dapur kantin.


Apa yang salah dariku! Bukankah lebih baik dia menerimaku agar semua menjadi beres.


Meskipun mengeluh, Eldar tetap mengekor masuk ke dalam dapur dan berdiri di samping Alisha yang tengah mencuci piring tanpa merasa sungkan dengan Mbak Sarah.


"Mbak. Kenapa dia di perbolehkan masuk?" Alisha berharap Mbak Sarah bisa mengusir Eldar namun nyatanya, Mbak Sarah malah tersenyum saja.


"Kau tidak pantas marah lalu kenapa kau berpura-pura seolah sedang marah."


"Aku mohon. Aku ingin berkerja dengan tenang di sini." Ucap Alisha seraya mengelap kedua tangannya yang basah tanpa melihat ke Eldar yang sejak tadi menatapnya.


"Kau akan berkerja dengan tenang setelah ini. Aku jamin." Alisha menoleh, menatap tajam wajah tampan di hadapannya. Yang tiba-tiba membuat hatinya melemah.


Ada apa dengan lelaki ini? Umpat Alisha tidak jadi marah dan malah berpaling meski dengusan kesal terdengar berhembus.

__ADS_1


"Sudah?" Tanya Eldar dengan nada dingin. Alisha tidak bergeming sehingga Eldar meraih jemarinya untuk memberikan salep yang sudah di belinya." Terima ini. Aku akan pergi." Alisha menarik tangannya seraya menjauhkan tubuhnya.


Ada getaran hebat ketika Eldar menyentuh jemarinya. Padahal getaran itu tidak seharusnya ada karena Alisha masih memiliki Tama.


"Sudah ku terima. Pergilah." Eldar menddesah lembut, tidak juga mengalihkan pandangannya ke Alisha yang bahkan tertunduk.


"Hm aku juga ada kelas setelah ini. Jaga diri baik-baik. Aku akan ke sini lagi nanti."


"Langsung pulang saja. Tidak perlu ke sini." Jawab Alisha cepat.


"Aku tidak minta persetujuan darimu. Sampai jumpa babe." Eldar mengusap puncak kepala Alisha kemudian melangkah pergi.


Babe? Ahh apa ini!!! Wajah Alisha terasa hangat, seiring dengan detak jantung yang kian cepat.


"Sepertinya dia serius dengan mu Al." Ucap Mbak Sarah.


"Serius apa sih Mbak."


"Halah. Tidak perlu malu sama aku." Goda Mbak Sarah melirik ke wajah merah Alisha.


Jika aku masih sendiri mungkin ini wajar. Tapi aku... Alisha kembali meruntuki rumah tangganya yang sedang berantakan. Apa karena aku terlalu haus kasih sayang. Sehingga perhatian Eldar membuat perasaanku seperti sekarang. Ah Tuhan.. Jauhkan, ku mohon jauhkan.. Aku masih ingin menjaga pernikahanku. Aku yakin Mas Tama akan berubah suatu hari nanti. Tapi kapan? Alisha menarik nafas panjang, saat terlintas nama Lilis di benaknya. Apalagi mengingat tekstur kaku di resleting celana Tama tadi pagi, membuat fikirannya kembali kalut. Mungkin hanya noda jus..


Drrrrrtttt.... Drrrrrtttt... Drrrrrtttt...


Alisha terpekik saat terdengar suara getaran ponselnya di dalam tas. Dengan cepat dia mengambilnya dan melihat sebuah pesan yang dikirimkan Tama untuknya.


💌Hari ini aku mungkin tidak pulang. Mama menyuruhku menginap jadi mungkin aku pulang besok pagi.


Deg!!!


Mata Alisha melebar membaca pesan singkat tersebut. Hatinya semakin di selimuti kekhawatiran dan merasa tidak percaya jika Tama benar-benar akan menginap di rumah Mama Rita.


Apa benar? Jika aku telepon Mama pasti dia akan marah dan menyebutku tidak memperbolehkan Mas Tama ke sana.


Dengan tangan bergetar, Alisha membalas pesan tersebut.


💌Iya Mas.


Tidak. Tidak mungkin. Mas Tama tidak mungkin setega itu denganku.


"Apa yang terjadi Al?" Tanya Mbak Sarah membaca kebingungan dari wajah Alisha.


"Tidak ada Mbak." Alisha meletakkan ponselnya lagi dan mencoba berkerja dengan baik meski hatinya di liputi rasa curiga.


***************


Abraham menddesah, ketika mendengar laporan dari anak buahnya jika Alisha sudah menikah. Dia mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan pada Alisha dan malah berniat membuka lebar mata Eldar jika wanita yang di sukai nya adalah istri orang.


"Sangat di sayangkan, padahal Tuan sudah begitu tertarik padanya." Gumam Abraham seolah tengah berbicara sendiri." Apa kalian yakin?" Imbuh Abraham bertanya.


"Yakni Pak. Kami sudah tahu letak rumahnya dan bertanya pada tetangga sekitar."


"Ya sudah. Kalian boleh pergi." Eldar harus tahu ini, agar dia tidak terlalu kecewa nantinya..


~Bersambung

__ADS_1


Sudah ku putuskan untuk memakai visual ini


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2