
Baru saja kelas di mulai, Eldar memincingkan matanya menatap ke arah luar. Terlihat Alisha yang baru saja melintas. Segera saja dia membereskan bukunya dan mengalungkan tasnya.
"Mau kemana?" Tanya Dean.
"Urus ini. Minta tanda tangan! Aku ada urusan." Eldar meletakan buku laporan di hadapan Dean lalu pergi untuk menyusul Alisha.
"Ah.. Kenapa lagi si kutub selatan itu." Eluh Dean kembali fokus pada penjelasan dosen.
Tidak perlu mempercepat langkah, sebab kaki panjang Eldar sudah mampu menyusul Alisha yang terlihat kembali terlibat masalah.
Kenapa gadis itu selalu saja terlibat masalah dan kenapa aku harus ikut campur!!!
Langkah Eldar terhenti, mencoba melawan otaknya yang menyuruhnya untuk berjalan ke arah Alisha.
Tidak!! Jangan!!!
Runtuknya dalam hati, seraya mempercepat langkahnya ketika seorang mahasiswa berusaha menganggu Alisha.
Dugh!!
Punggung indah Alisha kembali membentur dada Eldar. Seolah tengah mengetuk pintu hatinya, hingga getaran yang terjadi di dalam sungguh luar biasa.
Alisha sontak menoleh dan membulatkan matanya menatap Eldar.
"Kau!!" Pekiknya memundurkan tubuhnya namun dengan cepat Eldar menarik pundaknya agar berdiri di sampingnya." Kau mengikutiku." Tanya Alisha terbata, apalagi kedua pundaknya kini berada di tangan Eldar yang tengah menatap fokus pada sosok di hadapannya.
"Kau merebut mangsaku El." Ucap Gema, salah satu mahasiswa yang terkenal playboy.
"Mangsa mu bukankah para p*lacur?" Jawab Eldar tenang. Dia tidak memikirkan bagaimana tidak nyamannya seseorang yang saat ini di rangkul olehnya.
"Dia juga mirip..."
"Tutup mulutmu!!" Sahut Eldar menyela pembicaraan Gema." Dia milikku. Jika kau berani menyentuhnya. Akan ku patahkan tulang-tulang mu!!" Eldar mengiring Alisha pergi sementara gema masih menatap ke arah keduanya.
"Sejak kapan alien itu perduli pada seseorang." Gumamnya semakin merasa penasaran dengan sosok Alisha hingga mampu menggerakkan hati seorang Eldar.
"Lepaskan aku." Pinta Alisha berulang kali namun Eldar tidak menghiraukannya dan terus mengiringnya." Aku mau ke kantin untuk berkerja." Eldar menghentikan langkahnya. Menatap tajam Alisha seraya melepaskan rangkulannya.
Apa yang ku lakukan. Eldar kembali meruntuki perbuatannya yang di rasa aneh.
"Bukankah sudah ku katakan untuk merubah gaya berpakaian mu." Protes Eldar seharusnya tidak berhak berkata itu.
"Bukan urusanmu." Jawab Alisha terdengar lembut. Eldar menarik nafas panjang, menatap Alisha berkali-kali dan masih mencari apa yang spesial dari wanita di hadapannya." Aku ingin berkerja tapi kebetulan sekali bertemu dengan mu di sini. Em kenapa kau tidak menghubungiku?" Ucap Alisha tertunduk. Dia tidak berani menatap Eldar, tatapannya di rasa berlebihan. Apalagi mengingat kejadian kemarin membuat Alisha merasa malu, sungkan karena sudah menangis di hadapan Eldar.
"Hm lihatlah." Eldar mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Alisha." Apa benar itu nomermu?" Imbuhnya memastikan.
"Oh sepertinya salah. Seharusnya angka enam nya ada dua." Dengan cepat Eldar mengambil ponselnya lalu mengeditnya. Seolah tidak sabar, dia langsung melakukan panggilan dan kini nomernya benar-benar tersambung dengan ponsel milik Alisha.
"Bodoh!! Kenapa tidak teliti." Alisha menarik nafas panjang. Dia sungguh tidak suka seseorang berkata kasar padanya, seperti apa yang di lakukan Eldar.
"Hm apa motorku sudah selesai." Alisha tidak ingin banyak bicara sebab dia menganggap jika Eldar adalah lelaki asing.
"Nanti ku antarkan ke sana." Jawab Eldar tidak mengalihkan pandangannya. Dia bahkan tidak perduli dengan tatapan sekitar yang pasti akan merasa terheran-heran padanya.
"Biar aku ke sana sendiri, berikan alamatnya padaku." Alisha tertunduk sesekali melirik ke arah wajah Eldar yang terlihat tampan namun sorot matanya begitu tajam.
Eldar tidak bergeming, terus menatap hingga membuat Alisha merasa tidak nyaman lalu akan memutuskan pergi.
Grepp!!
Eldar meraih pergelangan tangannya, segera saja Alisha menarik tangannya kasar.
"Aku tidak suka kau menyentuhku sembarangan!" Umpatan Alisha, kembali menyadarkan Eldar akan kewarasannya.
__ADS_1
Eldar melepaskan pegangan tangannya dengan cepat. Dengusan terdengar sebab sebenarnya dia tidak tahu dengan apa yang di lakukannya sekarang.
"Aku tidak bermaksud menyentuh mu."
"Lalu apa? Kau bahkan menatapku rendah." Alisha mendongak, membalas tatapan manik Eldar yang mengingatkannya pada kejadian malam itu.
Mata yang sama, tinggi yang sama namun dia tidak yakin jika Eldar lelaki itu.
"Aku hanya merasa bingung." Alisha menunduk, mengalihkan pandangannya seraya memundurkan tubuhnya sedikit.
"Aku harus berkerja dan menemui Mbak Sarah. Aku harap kau tidak bertele-tele. Kirimkan alamatnya ke nomerku agar aku bisa ke sana sendiri." Dengan tertunduk, Alisha melangkah pergi.
Kaki Eldar kembali mengikuti langkah kaki kecil itu bahkan berjalan beriringan di sampingnya.
"Aku antarkan sepulang kerja." Ucap Eldar menatap lurus ke depan. Dia tidak ingin membuat Alisha kembali salah faham.
"Kau kenapa sih?"
"Maksudmu apa?" Tanya Eldar ketus.
"Kenapa kau mengikutiku."
"Suruh saja kakiku berhenti. Aku tidak tahu." Alisha menoleh dan menatap Eldar penuh tanya.
Aneh sekali lelaki ini! Kenapa mengikutiku dan kenapa bisa kebetulan dia kuliah di sini.
*********************
"Wow masakanmu enak sekali Lis." Puji Tama melahap bekal yang di bawakan Lilis.
"Wah wah, serius Tam. Kau baru merasakan masakanku kan." Haha.. Padahal aku tadi membelinya di restoran!
Lilis tersenyum, menatap wajah tampan Tama dari samping. Sejak awal pertemuan, Lilis langsung jatuh hati pada Tama meskipun dia sudah memiliki Suami.
Meskipun memang Tama tidak bermaksud untuk berselingkuh tapi, perbuatannya sangat tidak pantas di lihat. Saling bersentuhan bahkan berdekatan kerapkali mereka lakukan. Itu menjadi sorotan sekitar. Hubungan keduanya lebih pantas di sebut sebagai pasangan kekasih, bukan teman.
"Ini sedap sekali." Puji Tama lagi. Tangannya terangkat dan menyentuh sebentar pipi Lilis.
Andai Tama jadi suamiku. Pasti aku bahagia sekali.
Lilis dan Alisha memang memiliki karakter yang berlainan arah bahkan penampilan keduanya pun terlihat berbeda. Alisha dominan dengan kepolosan wajah meski dari segi tubuh sangat tidak sesuai.
Sementara Lilis, berwajah full makeup dengan tubuh tidak kalah aduhai tapi di jual dengan harga murah. Siapapun lelaki bisa mencoleknya dengan bebas termasuk Tama.
"Besok akan ku bawakan lagi."
"Jadi merepotkan Lis."
"Tidak apa Tam. Emm.. Nanti malam jalan yuk." Ajak Lilis tanpa rasa malu.
"Ke mana?"
"Ya makan malam saja."
"Alisha akan semakin mengomel. Aku bertambah pusing nanti." Lilis tersenyum tipis.
"Bilang saja ke Mamamu. Kau itu butuh hiburan Tam." Rajuk Lilis.
"Ya mungkin. Alisha mulai membosankan, kalau tidak mengomel, ya berprotes terus menangis. Begitu terus kerjaannya." Tama kembali menjelekkan nama Alisha di hadapan Lilis. Itu membuat Lilis semakin bersemangat dan ingin segera mengantikan posisi Alisha.
"Duh kasihan sekali kamu Tam. Terus bagaimana? Mau tidak? Kalau mau nanti jemput aku di rumah." Tanya Lilis sedikit memaksa.
"Lihat nanti saja ya Lis." Wajah Lilis berubah kesal di sertai dengan dengusan yang terbuang kasar.
__ADS_1
"Suami-suami takut istri kamu Tam." Ejek Lilis berusaha tersenyum meski hatinya merasa sakit karena Tama menolak keinginannya.
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
"Ya sudah oke." Daripada aku di sebut suami-suami takut istri!! Di mana harga diriku ini!!
Dengan mudahnya Tama mengiyakan ajakan Lilis. Hanya agar dirinya tidak di sebut macam-macam tanpa memikirkan bagaimana perasaan Alisha jika sampai mengetahui semuanya.
*********************
Alisha merasa senang, karena mendapatkan perkerjaan meski dengan gajinya kecil. Paling tidak, dia bisa membiayai dirinya sendiri tanpa meminta pada Tama lagi.
Syukurlah Tuhan.. Batin Alisha melupakan Eldar yang sejak tadi menunggunya.
"Jadi sekarang aku boleh pulang Mbak?"
"Iya. Besok mulai berkerja ya. Dari jam delapan sampai jam empat."
"Oke mbak siap. Aku pulang dulu terimakasih."
"Sama-sama Al." Alisha tersenyum sejenak kemudian melangkah pergi melewati Eldar begitu saja.
"Aku menunggumu tapi kau meninggalkan aku." Protes Eldar dengan cepat mensejajarkan langkahnya.
"Sudah ku bilang aku tidak mau di antar. Biar aku pergi sendiri." Alisha yang masih menjaga kesucian pernikahan, tidak ingin menerima bantuan dari lelaki lain apalagi sampai berboncengan.
"Pergi saja agar motormu hilang!" Jawab Eldar menatap wajah Alisha dari samping.
"Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan itu." Eldar menatap sekitar, menyadari jika wanita di sampingnya jadi pusat perhatian. Membuatnya merasa tidak rela hingga harus menanggalkan jaket yang sekarang dia pakai lalu mengenakannya sembarangan pada bahu Alisha." Apa ini?" Pekik Alisha memegang jaket Eldar dengan tangan kecilnya.
"Bukankah sudah jelas. Agar tubuhmu tidak terlihat!!"
Kenapa harus lelaki lain yang menegurku..
Alisha menarik nafas panjang ketika teringat sikap Tama yang semakin menjadi. Ingin rasanya Tama menegurnya seperti dulu. Saat pertama mereka saling mengenal. Mengatur cara berpakaiannya namun harapan itu sepertinya harus di kubur dalam-dalam karena Tama tidak pernah melihat ke arahnya.
"Aku sudah memakai jaket." Tolak Alisha memberikan lagi jaket milik Eldar.
"Mana jaket! Itu minim sekali!" Alisha tersenyum untuk pertama kalinya. Membutakan padangan Eldar, mendorong perasaannya kuat untuk segera mengungkapkan rasa yang sungguh sangat mengusik.
"Kenapa kau perduli sih? Aku sudah terbiasa di tatap seperti itu." Jawab Alisha lembut.
"Bukankah sudah jelas jika aku menyukaimu."
Deg!
Alisha kembali menoleh dengan langkah terhenti. Menatap lelaki di hadapannya dengan detak jantung tidak beraturan.
Ada yang salah! Sungguh ada yang salah!! Kenapa hatiku meresponnya? Apa karena dia tampan!
"Mulai hari ini kamu milikku."
~Bersambung..
Gag bisa move on dari Cha Eun Wo 😭
Aku malah mbayangin kalau Eldar itu Cha Eun Wo 😭😭
Apa visualnya di buat sama saja🤣🤣Soalnya aku ngefans banget sama si Eun Wo itu😭😭😭
Kalau pakai foto aktor lain malah nggak ngena di hati teman-teman 😭😭
__ADS_1