
Happy reading 🥰🥰🥰
Hampir semalaman Alisha terjaga. Dia tidak bisa memejamkan mata karena perasaannya yang sangat tidak baik.
Selayaknya seorang istri. Dia peka dengan perbuatan suaminya yang sudah menodai kesucian pernikahan mereka yang masih seumur jagung.
Aku harus menegur Mas Tama soal Mbak Lilis. Aku tidak mau Mas Tama sampai terjerat dengan wanita tidak baik itu..
Tepat pukul setengah enam. Motor Tama terparkir dengan penampilan berantakan.
Alisha bangun dan menyerbunya, seraya memberikan satu cangkir teh yang sudah di siapkan sejak tadi.
"Minum dulu Mas." Tama duduk dan mengambil teh hangat dari tangan Alisha lalu meneguknya habis." Mas tidak tidur semalam?" Tanya Alisha lirih. Dia masih berusaha menjaga perasaan Tama yang di anggapnya sebagai kepala rumah tangga.
"Tidur kok. Kamu bagaimana?" Tanya Tama ketus.
"Mana mungkin aku bisa tidur, sementara kamu tidak ada di rumah." Dengusan terdengar berhembus, dengan tatapan tajam menusuk ke arah Alisha.
"Itu karena kau tukang mengadu!! Aku jadi malas pulang! Seharusnya kemarin malam aku pulang, tapi karena Mama memarahiku atas ulahmu! Aku malas pulang agar kau tahu letak kesalahanmu di mana!!" Alisha menatap Tama dengan senyuman tipis yang terasa getir.
"Apa Mas? Aku yang salah?" Tanya Alisha tidak mengerti dengan jalan fikiran Tama.
"Yah!! Kecurigaan mu itu membuatku tidak betah di rumah!!" Mata Alisha mulai berkaca-kaca, dengan tarikan nafas berat yang berhembus kasar.
"Aku melihatmu, bukan hanya curiga. Bukankah kamu tahu aku membenci wanita itu Mas. Aku bisa mengerti jika kau berteman dengan siapapun, asal jangan dia. Kenapa kamu tidak percaya Mas jika Mbak Lilis itu tidak baik." Alisha menekan ucapannya serendah mungkin meski rasa cemburunya sudah meledak-ledak di otaknya.
"Lalu kau merasa baik!!!" Tunjuk Tama kasar.
"Aku tidak pernah berkata itu. Aku tahu aku tidak sempurna tapi..."
"Aku tahu bagaimana kehidupan mu saat masih singel Al. Kau suka bergonta-ganti pasangan kan. Itu kenapa aku tidak melihat darah di malam pertama kita." Alisha menatap Tama tidak percaya. Belati yang tancapkan semakin di tekan ke bawah hingga rasanya darah mengucur keluar dari sana.
Tama yang merasa terpojok, mengungkit kembali masalah yang sudah terkubur sejak lama.
"Apa maksud perkataanmu Mas?"
"Kau tidak bersegel Alisha!! Aku tidak pernah membahas itu karena aku menerimamu apa adanya. Tapi lihat!! Kau malah menuduhku Lilis macam-macam. Seolah kau tidak pernah melakukan itu pada sembarangan lelaki." Mata Alisha mulai berair, menerima kenyataan jika selama ini Tama menuduhnya tidak bersegel.
"Aku hanya melakukannya denganmu Mas dan itu pertama kalinya untukku." Jawab Alisha mulai tertunduk dengan mata berair.
"Jika pertama untukmu pasti berdarah." Beberapa kali Alisha menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Aku melihat sedikit noda darah waktu mencuci sprei."
"Aku tidak melihatnya. Aku mohon padamu ya Alisha. Jangan terlalu kaku dalam bersikap. Atur rasa cemburumu itu."
"Lalu apa hubungannya dengan hal yang kamu bahas tadi Mas.Jika memang Mas Tama tidak terima dengan itu. Kenapa harus berbicara sekarang? Bukankah sejak awal aku sudah berkata soal masa laluku.."
"Aku menerima keadaanmu apa adanya jadi kau juga harus menerima keadaanku apa adanya." Alisha berdiam sesaat. Dia masih tidak memahami ke mana arah pembicaraan Tama sekarang.
"Apa yang di maksud dengan apa adanya itu?"
"Aku menerima keadaanmu yang tidak bersegel itu jadi kau harus tahu posisiku. Aku memang harus bertemu dan bergaul dengan Lilis karena perkerjaan." Alisha tertunduk seraya menggelengkan kepalanya pelan. Tama kembali sanggup memojokkannya dengan tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.
"Jadi kau menuduhku melakukan itu dengan lelaki lain sebelum kamu menikahiku?" Tanya Alisha lirih.
"Itu bukan tuduhan tapi kenyataan. Sudah ya! Aku mau mandi dan bersiap berkerja. Awas kalau kamu mengadu sama Mama. Jika kau lakukan itu lagi, aku akan membongkar keburukan mu juga!!" Tama berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar.
"Ya Tuhan, apalagi ini.. Hiks..."
Masalah terasa bertumpuk. Sebab penyelesaian selalu tidak tercapai. Tama sangat lihai menyudutkan Alisha seperti sekarang. Menghantam perasaannya berkali kali dengan tuduhan tidak masuk akal yang di lontarkan Tama padanya.
Apa itu berarti Mbak Lilis memiliki hubungan khusus dengan Mas Tama?
Alisha tidak bergerak dari tempatnya sekarang, hingga Tama keluar kamar dengan baju seragamnya yang rapi.
Alisha tertunduk, bahkan membuang muka. Tidak ingin melihat, lebih tepatnya tidak sanggup melihat. Wajah yang seharusnya menjadi pengayom untuknya, malah berubah menjadi sebuah belati yang siap menikamnya kapan saja.
"Kau tidak memasak tadi?" Alisha tidak bergeming." Ah tentu saja! Aku berangkat." Imbuh Tama melenggang keluar.
Hati-hati Mas.. Manik Alisha melirik ke motor Tama yang sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Tangisnya pecah, tidak dapat terbendung lagi. Alisha berjalan perlahan ke arah pintu dan menutupnya.
Tubuhnya di sandarkan pada daun pintu yang tertutup. Kedua kakinya di tekuk dengan wajah tertunduk. Mencoba meredam tangisnya agar tidak terdengar keluar.
Sekarang dia menuduhku tidak suci hanya karena ingin melindungi wanita itu..
Setelah puas menangis, Alisha melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan. Cepat-cepat dia berdiri untuk bersiap berkerja.
Sebisa mungkin, dia menutupi wajah tidak baiknya dengan make up meski nyatanya itu percuma Karena wajah Alisha benar-benar kelihatan pucat.
"Maaf Mbak telat, tadi kesiangan bangun." Sapa Alisha seraya mengantungkan tasnya.
"Masih jam delapan Al. Astaga Al, kenapa wajahmu pucat sekali?" Tanya Mbak Sarah khawatir.
__ADS_1
"Hanya kurang tidur Mbak."
"Kepikiran mahasiswa kemarin ya." Alisha tersenyum tipis saat mengingat nama Eldar. Sudah sejak kemarin sore dia tidak tampak hingga sekarang.
Sudah seharusnya begitu. Mungkin dia merasa kesal padaku.. Hm ya sudah..
"Tidak Mbak. Itu, Ayah pulangnya terlambat jadi aku tidak bisa tidur." Jawab Alisha lirih.
"Ya sudah. Kamu sarapan dulu terus buatkan kopi untuk di antar ke ruang dosen Ya."
"Iya Mbak siap." Meski tubuh Alisha memang terasa lemah tapi dia tidak ingin mengecewakan Mbak Sarah dan Monik yang memberikannya perkerjaan.
Di kelas, Eldar memperhatikan Alisha dari sana. Perasaan yang sama ketika awal bertemu. Menggebu-gebu, mendorong, memaksa agar dia bisa menaklukkan hati Alisha secepatnya.
Aku masih tidak bisa berhenti menyukainya.. Kenapa Tuhan!! Kenapa aku masih sangat menginginkannya..
"Bagaimana?" Bisik Dean juga menyadari Alisha baru saja melintas dengan membawa nampan kopi.
"Sama. Tidak bergeser dan semalam aku tidak bisa tidur."
"Tikung saja El hehe."
"Ah aku gila." Dessah Eldar tidak dapat fokus pada pelajaran.
"Kau bertambah gila akibat istri orang." Bisik Dean tertawa kecil.
Apa maksud Tuhan menghadirkan perasaan ini?
Setelah mata pelajaran kuliah selesai, Eldar lebih dulu menyetorkan laporan kuliahnya untuk memberikan ruang bagi hatinya. Dia ingin berfikir sejernih mungkin karena tidak ingin salah melangkah hingga harus menghancurkan pernikahan wanita yang di sayangi nya.
"Bisakah kau ringankan hukumanku?" Pinta Eldar tertunduk meski suaranya terdengar nyaring.
"Di ringankan bagaimana Tuan?"
"Aku berjanji akan menyesuaikan skripsi dengan cepat agar segera lulus. Tapi, aku minta satu orang untuk melakukan sesuatu untukku."
"Untuk wanita itu?" Tebak Abraham mengenal bagaimana kerasnya watak Eldar. Sangat tidak mungkin jika Eldar akan menyerah tanpa perlawanan apalagi dia baru merasakan jatuh hati pada seseorang seperti sekarang.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana kehidupan rumah tangganya."
"Daripada terlibat masalah rumit. Bukankah seharusnya Tuan mencari wanita lain saja. Saya takut Tuan sakit hati jika harus menerima kenyataan soal..."
"Aku yang sakit!! Bukan kau!!" Sela Eldar dengan nada bicara kasar. Abraham mengangguk-angguk seraya tersenyum tipis. Merasakan sesuatu yang aneh yang memang sedang berkecimpung di hati Eldar.
"Kau fikir aku tidak ingin melupakan perasaan ini sejak awal!!" Dengus Eldar seraya berdiri." Aku ingin info itu secepatnya!! Jangan banyak bertanya jika kau masih menyanyangi perkerjaanmu!! Jika kau banyak mulut! Kau akan ku pecat!!" Eldar melangkah pergi, menerobos gerimis hanya agar dapat bertemu dengan Alisha.
Aku akan berpura-pura tidak tahu, agar rindu ini bisa terobati.
Setibanya di kantin. Mata Eldar merah padam saat menyadari jika wajah Alisha sangat pucat. Kecurigaannya semakin bertambah, sebab sejak awal pertemuan mimik wajah Alisha memang tidak terlihat bahagia.
"Kau sakit?" Tanya Eldar yang tiba-tiba muncul tanpa suara. Dia mencoba melembutkan suaranya. Alisha tidak menyukai lelaki kasar, itulah alasan Eldar berkata lebih lembut seperti sekarang.
"Kau?" Jawab Alisha terbata. Ku fikir dia sudah pergi.
"Hm aku. Kau sakit?" Tanya Eldar lagi.
"Tidak." Alisha berpura-pura acuh, padahal di dalam hatinya cukup senang saat mengetahui jika Eldar masih mengejarnya.
"Wajahmu terlihat.." Alisha menghindar ketika tangan Eldar akan menyentuh wajahnya." Oh maaf, dia bergerak sendiri." Imbuhnya menjelaskan.
"Hm.. Aku hanya kurang tidur." Seisi kantin berbisik-bisik. Melihat keanehan yang Eldar tunjukkan. Mereka bahkan melihat beberapa kali Eldar tersenyum sendiri dengan kedua manik yang tidak terlepas dari Alisha.
"Kamu memikirkan aku hingga kurang tidur?" Eldar duduk di samping Alisha yang tengah mengeringkan piring.
"Iya karena kau menganggu sekali."
"Aku ingin berusaha bukan menganggu." Meskipun informasi belum di dapatkan. Eldar sangat ingin menyampaikan apa yang di rasakan." Kau akan tahu aku seperti apa nantinya. Bisakah kita berteman?" Perasaan Eldar menekan kuat. Dia masih saja memandangi wajah Alisha walaupun dia sadar jika wanita di hadapannya milik orang lain.
"Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan."
"Ku ajak menikah kau tidak mau." Alisha menahan senyum mendengar itu, begitupun Mbak Sarah." Kamu cantik sekali babe." Alisha berpura-pura meletakan piring. Wajahnya terasa panas mendengar pujian yang sudah lama tidak di dengar.
Aku tidak bisa menahannya!! Dia cantik sekali!! Sungguh di luar dugaan. Alisha adalah wanita yang sanggup mencairkan gunung es yang ada di otak Eldar hingga membuatnya ingin melontarkan pujian untuk Alisha.
"Kau mau menjadi temanku?" Tanya Eldar lagi. Dia berjalan mengekor tanpa perduli dengan Mbak Sarah yang sejak tadi memperhatikan." Hanya teman babe." Eldar berhenti ketika Alisha tiba-tiba memutar tubuhnya ke arahnya.
"Tidak. Jangan mengikuti ku. Aku sedang berkerja." Alisha kembali melangkah dan duduk di depan kantin seraya memperhatikan jika mungkin ada meja yang kotor atau pesanan baru.
"Apa karena nada bicaraku yang kasar? Aku berjanji tidak akan kasar padamu." Eldar duduk tepat di samping Alisha dengan detak jantung tidak beraturan.
*Ketika rumah tanggaku sedang tidak baik. Kenapa kau hadirkan lelaki gila seperti Eldar? Apa ini cobaan atau Eldar memang... Tidak!! Ini pasti hanya cobaan dalam rumah tangga...
Aku sungguh ingin tahu apa yang sedang terjadi.. Kenapa wajahnya sepucat itu*? Eldar merasa ikut sakit, melihat keadaan Alisha sekarang. Dia tidak habis fikir dengan lelaki yang tega melukai wanita yang menurut Eldar begitu terlihat spesial.
"Kau masih memikirkan dia?" Alisha menoleh sebentar, kemudian kembali menatap lurus.
__ADS_1
"Siapa?"
"Mantanmu. Katanya kau putus kemarin." Tarikan nafas berat berhembus dan terbuang kasar. Alisha setengah mati menahan perasaannya yang bergemuruh akibat pertanyaan yang Eldar lontarkan.
"Entahlah. Aku mau ke kamar mandi jadi sebaiknya kau di sini saja." Jawab Alisha sebelum pergi.
Tangan Eldar mengepal, memukul-mukul lembut kursi kayu yang sekarang di duduki. Sementara di kamar mandi, Alisha menangis tanpa suara. Ingin melegakan perasaannya yang terasa sesak.
Drrrrrtttt... Drrrrrtttt... Drrrrrtttt..
Alisha mengelap kedua tangannya lalu mengambil ponsel yang di letakkan pada saku celemeknya.
"Ya Mon.
Jawab Alisha dengan suara parau.
"Apa yang terjadi.
Monik sangat hafal nada bicara Alisha yang pasti sedang menangis.
"Aku boleh ke rumahmu sepulang berkerja.
Alisha berusaha untuk tidak menangis meski air matanya terus saja jatuh.
"Kapan aku melarangmu ke sini?
"Aku merasa sungkan dengan Mas Alan jika dia sedang di rumah.
"Mas Alan tidak apa-apa. Kau sedang berkerja?
"Hm iya.
"Kenapa menangis?
"Hiks.. Jangan bahas itu.
Monik menddesah lembut mendengar suara parau Alisha.
"Aku ke sana saja, daripada kau menabrak lagi nantinya.
"Tidak. Jangan!
"Aku juga ingin mengunjungi Mbak Sarah.
"Di sini ada Eldar. Aku tidak ingin dia mendengarnya.
"El Eldar?
"Dia mengangguku terus menerus.
"Maksudmu Eldar di kantin itu lalu menganggumu?
"Iya.
Sangat aneh, sebab perasaan Alisha membaik ketika dia mulai bercerita tentang Eldar pada Monik.
"Wah wah! Tanda-tanda itu Al. Sudah terima saja, setidaknya dia mahasiswa. Bukan tukang somay, tukang bakso ataupun tukang..
"Jangan bicara omong kosong. Aku akan ke rumahmu sepulang bekerja.
"Iya oke.
"Bye..
"Bye Al. Sampaikan salam ku pada Eldar agar dia segera menikung.
"Ah tidak lagi Mon. Sampai jumpa nanti sore.
Alisha mengakhiri panggilannya karena merasa malu jika Monik berkata macam-macam. Dia membasuh wajahnya untuk menghilangkan jejak tangisnya meski kedua sembab di matanya tidak bisa di tutupi.
Pintu di buka namun Alisha langsung tertunduk ketika melihat Eldar berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Apa yang dia lakukan..
"Lama sekali, kau sedang apa di dalam." Tanya Eldar belum juga berhenti mengekor.
"Terserah saja. Menurutmu, apa yang ku lakukan di kamar mandi." Jawab Alisha ketus.
"Kau tidak suka aku berbicara kasar tapi kau sendiri sangat ketus menjawab pertanyaanku."
"Aku tidak pernah bilang begitu. Terserah jika kau mau bicara kasar." Alisha kembali duduk seraya membuang muka. Melihat kantin mulai sepi karena hari menjelang sore.
"Aku akan menghindari sesuatu yang tidak kau sukai meskipun kau tidak menyuruhku." Hati Alisha tersentuh, dengan kalimat sederhana yang Eldar lontarkan. Itu karena, lelaki di hadapannya mengucapkannya dengan sepenuh hati, sesuai kata hati yang menyuruhnya untuk tetap tinggal." Kau mau jadi temanku?" Imbuh Eldar kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
~Bersambung
__ADS_1