
Tama dan Mama Rita saling melihat satu sama lain, memperhatikan sajian yang ada di atas meja. Wina memutuskan untuk makan di luar bersama Suaminya daripada harus memakan sajian yang di siapkan Lilis.
"Silahkan Ma." Tawar Lilis dengan keadaan berantakan. Make up-nya luntur dan memperlihatkan pori-pori besarnya.
Ahh Tuhan!! Kenapa wajah Lilis jadi seperti itu?
Eluh Tama malah fokus pada wajah Lilis yang terlihat berminyak.
Apa selama ini make up yang membuatnya secantik itu?
Lagi lagi, keburukan Lilis terbongkar. Tama baru sadar, jika Alisha lebih cantik karena wajah polosnya itu. Dia tidak pernah memakai make up berlebihan sehingga saat dia memasak pun wajahnya tidak seburuk yang Lilis perlihatkan sekarang.
Kenapa dia terlihat lebih tua..
Tama menyendok makanan yang Lilis siapkan namun langsung memuntahkannya.
"Apa ini hoeeeek!!!" Teriak Tama seraya berdiri.
Mama Rita menyendok sedikit makanan lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Raut wajahnya berubah aneh seraya meletakkan sendoknya kasar.
"Kau bisa memasak tidak!!" Umpat Tama untuk kesekian kali.
"Ini terasa seperti masakan anak SD." Imbuh Mama Rita menimpali.
"Sudah ku katakan hari ini aku lelah jadi tidak bisa memasak dengan benar." Jawab Lilis beralasan.
"Bagaimana nanti kamu mengurus keluarga jika memasak saja menunggu suasana hati baik. Apa jika kamu sedang tidak enak hati selama seminggu, lalu keluargamu harus tidak makan selama seminggu juga!!" Lilis tertunduk bingung untuk memikirkan jawaban yang tepat.
"Kan bisa membeli Ma." Ucap Lilis pelan.
"Jika Suamimu mampu mungkin tidak masalah tapi jika tidak. Apa kau akan berhutang?" Mama Rita beranjak dari tempat duduknya." Ajari Istri barumu sopan santun. Mama tidak suka dengan nada bicaranya." Pinta Mama Rita beranjak pergi karena nafsu makannya menghilang.
"Agh!!" Eluh Lilis duduk lemah, menatap makanannya tidak tersentuh sedikitpun.
"Jujur padaku! Kau bisa memasak tidak!!" Jawab Tama kasar.
"Aku lelah Tam jadi masakanku tidak seperti biasanya."
"Ini buruk sekali Lilis!!"
Tak!!!
Tama menyingkirkan panci hingga kuah di dalamnya tumpah membasahi meja.
"Aaaaaa!! Panas Tam!!" Segera saja Lilis berdiri untuk menghindari kuah sayur yang mengalir ke arahnya. Tama hanya membalas umpatan Lilis dengan tatapan tajam dan berlalu pergi." Ish!!! Kenapa begini sih." Celetuk Lilis kesal. Dia terpaksa membereskan semua makanan yang ada di meja lalu membuangnya.
**********************
Di ruang tengah, Eldar dan Alisha tengah duduk berjajar menikmati televisi di temani beberapa cemilan yang ada di atas meja.
Sejak tadi Alisha ingin pulang namun jam kerjanya akan habis setelah makan malam.
Perkerjaan macam apa seperti ini.. Apa benar dia tidak akan merasa bosan jika ku tolak terus? Apa dia hanya sedang membual seperti apa yang di katakan Mas Tama dulu.. Apa aku harus menunjukkan sifat terburukku agar Eldar bisa kesal padaku?? Ah ya?! Itu ide yang bagus..
"Setidaknya, katakan sesuatu Babe." Protes Eldar yang sejak tadi di diamkan oleh Alisha.
"Katakan apa! Aku sedang malas." Eldar menoleh dengan nada suara Alisha yang tidak biasa.
"Uch.. Apa ini? Kau masih kesal karena masalah tadi."
"Hm ya."
"Berapa lama waktu yang di butuhkan untuk melupakan kekesalan mu itu." Alisha tersenyum tipis dan mulai memainkan peran sebagai artis untuk menguji kesabaran Eldar.
"Tidak tahu."
"Kok tidak tahu?"
"Tidak pantas ku beritahu." Eldar memutar tubuhnya menghadap ke Alisha.
"Kamu terlihat lain dengan nada suara mu yang begitu manja."
Manja?!! Bukannya itu ketus ya..
"Sudahlah Mas El. Jangan terus saja menggombal. Sebaiknya kita makan malam lalu pulang. Aku ingin beristirahat." Eldar melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore.
"Waktu berjalan terlalu cepat." Eldar berdiri seraya meraih kunci mobilnya." Kita makan malam lalu pulang. Aku ingin tahu bentuk kontrakan yang sangat kamu rindukan itu." Ledek Eldar sejak tadi sudah menyuruh Alisha beristirahat tapi tentu saja Alisha menolak.
"Hm ayo." Alisha berjalan tanpa alas kaki sementara sepatu heels nya di tenteng bersama tas kecilnya.
"Kakimu bisa kotor."
"Aku tidak nyaman memakai sepatu haq tinggi."
"Jika tidak nyaman jangan di pakai." Alisha melirik malas seraya menddesah lembut.
__ADS_1
"Aku berniat kerja jadi aku memakainya."
"Dan sekarang kau tahu perkerjaannya seperti apa jadi besok pakai sandal yang membuatmu nyaman."
"Aku hanya nyaman memakai sandal jepit." Jawab Alisha asal.
"Ya pakai itu saja. Asal kamu nyaman."
"Serius?" Tanya Alisha tersenyum.
"Serius Babe." Alisha mengangguk-angguk.
Akan ku pakai besok agar kau merasa malu saat berjalan bersamaku...
.
.
.
"Ini kontrakan mu?" Tanya Eldar berhenti di sebuah gang kecil yang hanya bisa di lalui motor.
"Masuk ke sini. Kamu hanya bisa mengantarkan sampai sini. Mobil tidak bisa masuk." Jawab Alisha seraya menggalungkan tas kecilnya.
"Ku antarkan." Tanpa basa-basi, Eldar turun lalu membuka pintu untuk Alisha seraya membawa belanjaan yang di sebutnya sebagai seragam.
"Tidak perlu. Sampai sini saja. Aku tidak ingin ada pembicaraan tidak sedap karena semua tetangga kontrakan tahu aku singel parents."
"Melelahkan sekali jika kau terus memikirkan pendapat orang lain. Kalaupun mereka berkata macam-macam, aku akan menunduh mu sebagai tersangka." Eldar berjalan mendahului seraya tersenyum tipis. Dia tahu jika Alisha pasti akan mengikutinya karena merasa tidak terima dengan ucapannya.
"Hei.. Apa yang di maksud sebagai tersangka di sini?" Celetuk Alisha kesal.
"Aku sudah mengajakmu menikah tapi kau tidak mau. Jadi, biarkan saja orang berkata macam-macam. Aku tidak masalah." Alisha melirik malas ke arah Eldar yang tengah memperhatikan situasi sekitar.
Tarikan nafas beberapa kali berhembus, ketika keduanya melewati warung-warung kecil dan sangat banyak pemuda juga bapak-bapak yang menongkrong, seolah para pemuda itu tengah menunggu kedatangan Alisha.
Mereka berbisik, karena sapaan nya tertahan saat mereka melihat Alisha tengah bersama seseorang.
"Aku akan menggusur semua warung yang ada di sini!!" Gumam Eldar penuh penekanan. Rasa cemburu tidak jelas langsung menjalar melihat suasana gang.
"Kenapa?" Tanya Alisha lirih. Dia sudah menebak tapi merasa tidak yakin.
"Kau suka sekali jadi tontonan." Alisha tersenyum sebab tebakannya benar." Apa mereka melakukan itu setiap hari?" Tanyanya mendengus melihat senyuman yang diperlihatkan Alisha.
"Mereka hanya sekedar menyapa."
"Tentu saja. Selama masih sopan pasti aku jawab."
"Masih jauh tempatnya."
"Itu." Alisha menunjuk ke sebuah rumah kecil dengan halaman yang bersih.
Eldar mempercepat langkahnya dan duduk di teras depan rumah.
"Lelah?" Tanya Alisha berdiri di hadapan Eldar." Sebaiknya kamu pulang langsung Mas. Aku takut terjadi fitnah, ini sudah malam." Pinta Alisha tentu tidak di dengar.
"Pulang dan meninggalkan mu di sarang para lelaki?!!"
Alisha tersenyum sejenak, dia menyukai cara Eldar cemburu padanya. Sudah sejak lama dia tidak mendapatkan perlakuan itu dari Tama. Ingin sekali dia di perhatikan, di larang ini itu dan segala sesuatu yang di lakukan Tama saat awal bertemu.
"Apa dia akan selamanya begitu?" Gumam Alisha tidak sengaja mengucapkannya.
"Siapa dia?"
"Sebaiknya kamu pulang Mas. Aku juga mau beristirahat." Dengusan semakin jelas terdengar, di iringi tatapan tajam mata Eldar yang menusuk.
"Aku tunggu di sini."
"Menunggu apa? Bukankah jam kerjaku sudah selesai? Katamu sampai makan malam."
"Cepat berkemas, kita pergi ke tempat yang minim lelaki."
"Aku sudah mengontraknya selama satu tahun."
"Ah Babe. Serius kamu membicarakan itu padaku?" Eldar tertunduk seraya meremas kepalanya sendiri.
"Itu kenyataannya."
"Akan ku ganti uangmu itu. Cepat kemasi barangmu."
"Aku tidak mau. Aku sudah nyaman tinggal di sini."
"Hm baik. Aku juga akan tinggal."
"Tidak boleh Mas. Sebaiknya kamu pulang. Besok pagi kita akan bertemu lagi."
__ADS_1
"Mana bisa keputusan ku di ganggu gugat. Aku tinggal di sini sekarang."
"Aku lelah dan ingin istirahat."
"Hm cepat buka pintu agar kita bisa beristirahat."
"Tidak bisa. Mana mungkin begitu. Bisa-bisa kita di tuduh macam-macam."
"Itu yang ku mau. Di tuduh dan kita menikah." Alisha duduk di samping Eldar seraya menddesah lembut.
"Memulai itu sangat sulit jika kita sudah pernah tersakiti. Aku harap kamu paham dengan itu Mas. Ayolah jangan seperti anak kecil." Rajuk Alisha ingin melunakkan hati Eldar agar dia mau pergi dari sana.
"Aku paham Babe. Tapi, pahami juga tentang aku."
"Aku sudah malas memahami." Eldar menarik nafas panjang. Membaca keputusasaan dari mimik wajah Alisha.
"Biar aku yang memahami." Alisha tersenyum tipis seolah tengah menertawakan lelaki yang duduk di sampingnya." Tapi tolong. Terima kebaikan ku. Kamu tidak aman tinggal di sini." Ternyata Eldar tidak juga mau mengalah jika itu menyangkut sebuah kecemburuan.
"Aku sudah tinggal tiga bulan di sini dan tidak pernah terjadi apa-apa."
"Bukan tidak tapi belum." Sahut Eldar menyela." Aku tidak akan pergi tanpa mu." Imbuhnya bersikukuh.
"Aku malas berkemas. Besok pagi saja."
"Hm." Eldar berdiri dan meraih pergelangan tangan Alisha lalu memaksanya pergi.
"Maksudku besok pagi saja." Ucap Alisha mencoba melepaskan tangan kekar Eldar yang menggenggamnya.
"Besok kita kembali setelah kamu beristirahat."
"Bukan itu maksudku." Karena pemaksaan yang di lakukan Eldar, memicu para fans fanatik Alisha yang memang memperhatikannya diam-diam.
"Hei apa ini?" Ucap salah satu pemuda, di ikuti oleh para bapak-bapak dan pemuda lain.
Kenapa jadi mirip sinetron... Batin Alisha mengeluh di dalam hati.
"Tolong lepaskan Mas. Mbak Alisha tidak mau kenapa harus di paksa." Celetuknya tidak terima meskipun Alisha sudah menolak perasaan pemuda itu berkali-kali.
"Iya Mas. Meskipun Mbak Alisha pendatang baru tapi dia sudah masuk warga sini." Sahut lainnya menimpali.
"Dia milikku." Jawab Eldar menahan emosi yang meletup-letup.
"Mas El, biar aku yang bicara." Bisik Alisha tidak di dengarkan.
Beberapa dari mereka tertawa renyah. Mereka tahu jika Alisha bukan wanita yang mudah di miliki oleh siapapun. Hingga mereka memutuskan untuk mengagumi dari jauh.
"Jika milikmu mana mungkin terlihat di paksa."
Bagaimana aku tidak bingung memilih jika sifat mereka sama-sama kaku..
"Dia memang milikku. Beri jalan jangan seperti ini."
"Lepaskan dulu Mbak Alisha baru kau bisa pergi." Eldar melangkah tapi dengan cepat Alisha menghalangi. Dia tidak ingin kejadian di taman terulang lagi.
"Em maaf. Dia memang." Aku tidak percaya bicara ini sekarang. "Pacar saya." Imbuhnya lirih.
Raut wajah para pemuda dan bapak-bapak berubah masam. Mereka sama halnya dengan Eldar yang tengah merasakan kecemburuan tidak jelas.
"Masih pacar kan Mbak. Sebaiknya suruh pulang saja. Ini sudah malam." Celetuknya kasar.
"Kenapa kau mengatur hidupnya!!!" Eldar dengan cepat meraih kerah baju pemuda tersebut.
"Itu aturan di sini Mas. Jangan pakai kekerasan." Alisha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas jangan seperti ini, lepaskan. Oke kita pergi." Ucap Alisha seraya meraih lengan Eldar yang perlahan melepaskan kerah baju pemuda yang menatapnya tidak terima.
"Jangan mau Mbak. Hati-hati banyak orang modus."
"Ti... Tidak ada... Mas stop." Pinta Alisha kembali menghalangi tangan Eldar yang terlihat akan memukul.
"Pergi. Kalau tidak ingin aku merontokkan gigi mereka semua." Ancam Eldar menatap mereka satu persatu.
"Maaf beri kami jalan." Alisha memegang erat kedua jemari Eldar dan mengiringnya melewati sekumpulan pemuda dan bapak-bapak.
"Hatiku patah huaaaaaaa.." Para pemuda dan bapak-bapak saling melihat dengan raut wajah kecewa. Mereka menganggap akan kehilangan primadona kampung yang tiga bulan ini menghangatkan suasana.
β€οΈβ€οΈπβ€οΈβ€οΈ
π€§π€§π€§π€§π€§
Janda selalu di depanππ€£π€£
Apalagi jandanya kek Alisha π
Semoga aku tetap bisa up yaπ₯³ππ
__ADS_1
Soalnya lagi nggak bersemangat hihihi...
Terimakasih yang sudah dukung π₯°π₯°