Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 35


__ADS_3

Tama gelisah sebab hingga larut malam Lilis tidak juga memperlihatkan batang hidungnya. Sementara Wina sendiri terlihat santai-santai saja. Damar kembali menipunya dengan mengatakan ada tugas kantor di luar kota sehingga dia tidak menunggu kedatangannya.


"Begini yang kamu sebut baik Mas." Kata Wina kembali menyalahkan Tama.


"Bukankah kamu tahu aku terpaksa menikahinya. Aku juga merasa ragu seperti Mama. Tapi para warga terlanjur menangkap kami." Wina membuang muka.


"Menjijikan sekali! Bukankah seharusnya jangan melakukan itu sebelum menikah." Tama hanya terdiam karena rasa bersalahnya.


Kenapa aku sudah tidak bergairah lagi seperti saat Lilis masih jadi selingkuhan ku? Ada pertanyaan terbesit tentang itu meskipun Tama tidak pernah menemukan jawabannya.


Lilis sendiri tengah asyik bercinta dengan Damar di sebuah hotel. Pinggulnya bergerak naik turun dengan bibir terbuka lebar menikmati milik Damar yang kini menjadi candunya.


Ukurannya lebih besar, lebih berisi bahkan tahan lama. Apalagi paras Damar tidak kalah tampan hingga membuat Lilis kembali jatuh cinta lagi dan lagi.


"Ah nikmat sekali Damar." Lenguh Lilis terus bergerak sementara bibir Damar bermain di gundukan miliknya.


Kedua tangan Lilis bertumpu pada samping. Nafasnya memburu, melihat nanar ke arah Damar yang tengah menghisap miliknya.


"Lebih dalam lagi." Lilis duduk tegak. Menekan-nekan kepala damar dengan gerakan pinggul yang semakin tidak terkendali.


Damar melepaskan hisapannya, saat merasakan miliknya sudah terasa membesar. Dia membantu Lilis bergerak dengan suara erangan saling bersahutan.


"Aaaaaggghhhhhhhhhhh Mbak, nikmat sekali." Lilis tersenyum seraya masih menekan pinggulnya.


"Enak mana dengan milik Istrimu?" Lilis tidak juga berhenti menekan hingga membuat Damar mengigit bibir bawahnya.


"Enak milik Mbak Lilis. Ah Mbak tegang lagi." Keduanya kembali saling melummat dan melanjutkan percintaan panasnya semalaman penuh.


🤧🤮


"Bik." Panggil Alisha setengah berteriak.


"Iya Non. Ada yang kurang?" Tanyanya sopan.


"Bibik pintar memasak ya." Eldar hanya memperhatikan seraya fokus makan.


"Ya seperti itu masakan Bibik. Maklum dari kampung Non."


"Ini enak Bik. Ajari aku." Eldar menghentikan kunyahannya.


"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak melakukan itu Babe?" Protes Eldar hanya tidak ingin membuat Alisha bersedih.


"Apa salahnya belajar Mas. Aku juga ingin memasakkan sesuatu untukmu."


"Cukup layani aku dan tidak perlu memasak."


"Iya Non. Biar Bibik saja." Alisha menahan langkah pembantunya .


"Bibik tidak ingin mengajariku." Alisha tidak perduli dengan protesan Eldar sebab dia lebih ingin menjaga keutuhan rumah tangganya.


Eldar menyerah dan mengangguk ketika pembantunya melihat ke arahnya untuk meminta izin.


"Mau Non tapi memasak itu capek. Belum lagi bau bumbu dapur nanti."


"Iya Bik. Hanya sesekali saja aku melakukannya."


"Memangnya Non tidak bisa memasak?"


"Bisa tapi tidak sedap dan aku tidak tahu sebabnya apa."


"Bibik masaknya pagi."


"Iya Bik. Besok aku bantu ya. Jam berapa Bibik mulai?"


"Jam lima Non."


"Siap Bik. Terimakasih ya."

__ADS_1


"Sama-sama Non, permisi." Alisha tersenyum dan melanjutkan makannya tidak perduli pada Eldar yang tengah menatapnya.


"Aku benar-benar tidak masalah dengan itu." Protes Eldar lirih.


"Aku ingin Mas. Di rumah juga tidak ada perkerjaan."


"Iya Babe. Tapi, jika masakannya tidak enak jangan bersedih." Alisha mengangguk-angguk seraya fokus makan.


"Aku akan berhenti jika memang tetap tidak enak nantinya."


Sebenarnya aku juga ingin merasakan masakanmu..


"Mas mau ku masakkan?" Tanya Alisha tiba-tiba.


"Tidak. Jika itu membuatmu bersedih."


"Aku akan belajar pada Bibik agar masakanku menjadi sedap. Untuk mengisi waktu luang juga Mas."


"Lakukan jika itu membuatmu senang." Eldar mengelus puncak kepala Alisha lalu melanjutkan makan malamnya." Aku minta jatah malam pertamanya Babe." Imbuh Eldar membuat Alisha menelan makanannya cepat.


Aku juga ingin lagi Mas. Bisa berkeringat seperti itu rasanya sungguh luar biasa.


"Setelah makan Mas." Jawab Alisha pelan.


"Selesaikan jika begitu."


"Hm pelan-pelan Mas."


"Aku suka yang cepat Babe." Alisha tersenyum begitupun Eldar." Kau juga suka kan? Hmm.." Eldar meletakan sendoknya dan tangannya beralih pada pipi Alisha." Sebut namaku jika meminta itu." Usapan tangannya turun. Dagu Alisha di angkat sedikit lalu melummat bibirnya lembut.


Klunting...


Alisha melepaskan sendoknya begitu saja sebab kedua tangannya beralih pada leher Eldar.


"Ah Mas jangan lepas." Pinta Alisha menginginkan permainan bibir Eldar lagi dan lagi.


"Jika tidak di lepas bagaimana bisa makan?" Jawab Eldar di sela lummatan nya.


Nafas Eldar terbuang kasar. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Alisha dan membawanya naik ke lantai dua. Tubuh Alisha langsung di tindih dengan cumbuan yang tidak terlepas.


"Emmm Mas.." Alisha mengigit bibir bawahnya sesekali terbuka lebar untuk membuang nafas berat.


Aku tidak pernah merasakan percintaan segila ini.. Kenapa aku malah terbawa suasana ketika Mas Eldar mulai menyentuhku..


Akan ku sentuh hingga kedalam agar kamu bisa hamil anakku..


Eldar hanya bertumpu pada keyakinan saat dia sadar jika selama ini selaput darah Alisha tidak tertembus sempurna.


Alisha sendiri memikirkan itu di luar nalar, sebab dia pernah satu kali keguguran bahkan sempat di kuret untuk pembersihan rahim.


Apa mungkin kembali ke bentuk semula? Batin Alisha bertanya.


Eldar menghujamkan miliknya dalam, sebelum akhirnya benih menyembur di dinding rahim Alisha.


Keduanya mengakhiri penyatuan dengan lummatan lembut seraya saling menatap.


"Bahagianya aku." Ucap Eldar menikmati wajah natural Alisha yang berkeringat.


"Aku juga Mas." Alisha membenamkan kepalanya pada dada bidang Eldar karena merasa malu dengan tatapan Eldar. Ini akan lengkap jika ada seorang bayi. Ya Tuhan, aku sangat ingin memilikinya. Tumbuhkan janin di dalam sana, agar aku merasa sempurna menjadi seorang wanita..


"Tidak membersihkan diri dulu baru tidur?" Tanya Eldar lirih.


"Sebentar Mas. Kakiku sedikit nyeri." Eldar hanya tersenyum seraya mengelus puncak kepala Alisha dan sesekali mengecupi nya.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus. Eldar mengangkat perlahan kepala Alisha untuk memeriksa.


"Tidur?" Eldar mengecup kedua kelopak mata Alisha lembut dan kembali mendekapnya." Sebaiknya aku tidur daripada nanti membangunkannya." Gumam Eldar memutuskan untuk tidur saja meski keduanya hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut saja.

__ADS_1


.


.


.


Tok...Tok...Tok....


Eldar terjaga, mendengar suara ketukan pintu tersebut. Dengan sedikit malas, dia memungut bajunya yang tergeletak di lantai lalu memakainya.


Pintu terbuka dan memperlihatkan raut wajah pembantunya yang cemas.


"Maaf Tuan menganggu." Ucapnya terbata.


"Ada apa Bik?"


"Anak Bibik sakit jadi Bibik harus pulang sekarang Tuan. Bibik coba hubungin nomer Tuan Abraham tapi tidak bisa."


"Ya sudah Bibik pulang saja. Kenapa izin segala." Jawab Eldar ketus.


"Kalau tidak izin, Bibik takut nanti Tuan nyariin Bibik."


"Iya." Eldar menutup pintu begitu saja membuat si pembantu berfikir jika Eldar tidak perduli dengan musibah yang menghampiri keluarganya.


Padahal aku sudah lama ikut Tuan, tapi kenapa aku masih saja takut untuk meminta bantuan? Biaya operasi pasti mahal. Sebaiknya aku pulang dulu terus nanti telfon Tuan Abraham untuk meminjam uang.


"Bik tunggu."


"Iya Tuan." Eldar menyodorkan amplop coklat.


"Untuk pengobatan. Jika kurang hubungi Abraham. Aku tidak punya banyak uang cash." Tanpa menunggu ucapan terimakasih, Eldar pergi dari hadapan pembantunya.


"Terimakasih Tuan." Ucapnya setengah berteriak. Dia tersenyum sejenak kemudian berjalan menuruni tangga untuk bergegas pulang ke kampung halamannya.


Saat Eldar kembali ke kamar, Alisha sudah terjaga dengan posisi duduk. Tangannya menahan selimut dari tubuhnya agar tidak jatuh.


"Darimana Mas?" Tanyanya lirih.


"Anak Bibik sakit jadi dia pulang kampung." Alisha terlihat kecewa sebab itu berarti dia tidak bisa belajar memasak.


"Berapa lama pulangnya Mas."


"Aku tidak tahu Babe. Kenapa bangun? Ini masih sangat pagi." Eldar duduk tepat di samping Alisha.


"Mau mandi Mas."


"Hm setelah mandi, penuhi janjimu kemarin malam." Eldar kembali berdiri untuk memungut dress dan memberikannya pada Alisha.


"Janji yang mana Mas?"


"Memasakkan sesuatu untukku." Alisha tersenyum aneh seraya memakai dress nya.


"Menunggu Bibik pulang saja Mas."


"Sudah terlanjur janji dan sekarang Suamimu ini ingin masakan dari tanganmu."


"Tidak akan enak Mas."


"Akan ku makan meskipun tidak enak."


"Nanti Mas akan kecewa." Alisha meraih jemari Eldar lalu berdiri perlahan.


"Tidak akan kecewa. Kita mandi bersama, aku tidak sabar Babe." Eldar menggiring Alisha berjalan ke arah kamar mandi.


Aku juga ingin tahu. Bagaimana ekspresi Mas Eldar ketika memakannya?


Suatu kehormatan bisa memakan sajian dari tanganmu Babe. Aku tidak sabar..

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2