Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 43


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Lilis mengeluarkan isi lemari dan tidak mendapatkan barang berharga apapun. Tatapan tajamnya beralih pada Tama yang tengah duduk memperhatikan.


"Benar-benar habis?" Tanya kasar.


"Bukankah kau yang menghabiskannya. Jadi itu salahmu!"


"Gajimu saja yang terlalu sedikit!!! Sialan!!!" Aku minta saja sama Damar.. Lilis meraih tas kecilnya dan akan melangkah keluar.


"Mau kemana?" Perdebatan kerapkali terjadi dan semakin memanas akhir-akhir ini. Itu terjadi karena uang yang di dapatkan Lilis dari Toni sudah habis sehingga kebiasaannya untuk berbelanja harus terhenti secara paksa.


"Mencari Suami baru! Dasar tidak berguna!!" Lilis melanjutkan langkahnya. Tama sengaja membiarkannya pergi agar dia bisa membututinya.


Tama ingin tahu siapa lelaki yang di incar Lilis sekarang dan berniat memberikannya peringatan. Namun pemandangan di hadapannya membuatnya tercengang.


Dengan jelas dia melihat Lilis menemui Damar. Keduanya bahkan masuk ke dalam hotel dengan mesrah.


"Ti tidak mungkin." Gumamnya terbata. Tama duduk lemah di atas motornya seraya terus melihat ke arah hotel tersebut." Jika Wina tahu bagaimana? Dia bisa menyalahkan ku karena membawa Lilis di kehidupan keluarga kami." Tama sudah bisa membayangkan apa yang di lakukan Lilis di dalam sana bersama Damar. Aku harus merahasiakan ini agar Wina tidak menyalahkan ku. Aku yakin Lilis hanya sedang bermain-main! Ya aku yakin itu.


Tama kembali menghidupkan mesin motor lalu melaju menuju ke rumah Mama Rita untuk sekedar menengoknya dan tentu saja meminta makan.


"Sudah kamu selidiki Kak." Tanya Wina menyerbu. Damar semakin sering tidak pulang dan melontarkan alasan-alasan yang tidak masuk akal.


"Sudah." Jawab Tama mengunyah makanannya pelan.


"Lalu bagaimana?" Tanya Wina berbisik ketika melihat Mama Rita baru pulang dari arisan.


"Dia hanya ke Plaza dan berbelanja."


"Lalu parfum itu.." Ucapan Wina tertahan sebab Mama Rita sudah berjalan ke arah mereka. Kenapa aku tidak lega mendengar jawaban dari Kak Tama. Apa benar ini kekhawatiran ku saja.


Maafkan aku. Aku menyesal sudah membawa Lilis di tengah keluarga kita.


❤️💙


Dengan wajah sumringah dan penuh semangat Alisha menyajikan masakan di atas meja. Sudah hampir tiga Minggu Alisha belajar memasak. Namun rasa masakannya tetap saja ada yang kurang.


"Resep baru lagi?" Tanya Eldar merasa tidak yakin. Aku mirip di jadikan kelinci percobaan untuk Istriku sendiri. Tapi... Asal dia bahagia. Ini tidak masalah.


"Iya Mas. Nanti kalau enak aku buatkan lagi."


"Beri aku ciuman singkat." Pinta Eldar menunjuk pipi.


"Aku sedang berantakan."


"Kamu cantik sekali dan masih sangat wangi." Setiap hari Eldar selalu melontarkan kata-kata itu. Dia ingin Alisha tidak merasa sungkan menunjukkannya apapun keadaannya.


Alisha mendekatkan bibirnya dan mencium pipi Eldar singkat lalu kembali duduk untuk memperhatikan Eldar memakan sajiannya.


Aku terkesan Mas. Sejauh ini kamu semakin menunjukkan sikap yang semakin membuatku jatuh hati.


Eldar mulai menyendok dan memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Hmmmmmm..." Gumamnya mengangguk-angguk." Ini enak Babe." Imbuh Eldar bersemangat.


"Jawabannya kenapa sama Mas. Bukankah aku sudah bilang jika tidak sedap ya bilang tidak, agar aku tahu letak kesalahannya." Protes Alisha merasa tidak puas dengan jawaban sama yang di lontarkan Eldar.


"Tapi ini memang benar-benar enak." Puji Eldar melahap dengan cepat makanan di hadapannya.


Pembantu yang berkerja di rumah Eldar mengundurkan diri dan lebih memilih merawat anaknya yang sakit. Sehingga Alisha bisa memegang kendali penuh urusan dapur.


Eldar sempat akan mencari pembantu baru, namun Alisha menolak karena tidak ada kegiatan di rumah.


"Serius Mas? Bukan untuk membuatku senang?"


"Untuk kali ini aku tidak bercanda Babe. Ini enak sekali. Apa yang kamu tambahkan?"


"Aku tadi keluar sebentar Mas untuk berbelanja di tukang sayur." Eldar mendengus seraya menatap lemah ke Alisha.


"Kenapa tidak menungguku?"


"Hanya di depan gang Mas. Sebentar, ceritaku jangan di sela."


"Oke lanjutkan." Eldar selalu tidak rela jika Alisha berkeliaran sendiri tanpa pengawasannya.


"Terus aku beli bumbu halus Mas. Tapi ada Ibu-ibu yang berkomentar."


Flash back


"Banyak sekali beli bumbunya Nak." Alisha tersenyum seraya menoleh ke arah Ibu-ibu yang tengah membawa beberapa kantung belanjaan.


"Maklum Bu saya tidak pandai memasak jadi beli bumbu halus saja."


"Bumbu buatan saya malah tidak enak Bu." Jawab Alisha pelan.


"Kok bisa tidak enak?"


"Saya juga tidak mengerti Bu. Padahal bumbunya sama kok tapi rasanya tidak sedap."


"Kalau memasak pakai blender?" Tanyanya lagi.


"Iya Bu. Memangnya ada pengaruhnya Bu?"


"Sebenarnya tidak masalah jika memakai blender. Tapi sebelum di tambah minyak lebih baik bumbunya di sangrai dulu agar kandungan airnya hilang. Kalau langsung kamu masukkan minyak nanti tumisan bumbunya tidak maksimal karena tercampur air." Alisha mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan dari Ibu-ibu yang ternyata memiliki warung makan cukup ramai.


Flashback off


"Lalu kamu praktekkan?" Tanya Eldar antusias mendengarkan cerita dari Istrinya.


"Iya Mas. Biasanya aku memang asal masak saja dan ternyata harus ada trik nya."


"Syukurlah Babe. Ini enak sekali. Jadi besok di larang mengeluh ya. Tolong ambilkan lagi." Eldar menggeser piringnya yang kosong. Alisha segera berdiri untuk mengambilkan makanannya lagi.


"Mas habis ini kita belanja ya." Ucap Alisha mulai terbiasa merepotkan Eldar tanpa merasa sungkan.


"Apalagi yang habis?" Tanya Eldar terkekeh dalam hati sebab Istrinya selalu ada alasan untuk menyeretnya keluar.

__ADS_1


"Aku masih kepikiran baju kemarin Mas."


"Kenapa tidak di ambil saja kemarin."


"Terlalu mahal Mas sebenarnya, tapi aku kepikiran terus."


Dia sudah melakukan itu beberapa kali. Jika di suruh membeli tidak mau tapi sampai rumah langsung kepikiran..


"Ya sudah nanti kita beli."


"Tapi kalau Mas lelah ya kapan-kapan saja."


"Aku tidak lelah Babe, asalkan aku di beri upah nanti malam." Alisha tersenyum dengan wajah memerah.


"Tanpa di minta pun akan ku berikan Mas."


"Hm makan yang banyak." Agar kamu cepat hamil.. Eldar hanya mampu mengucapkan doa itu dalam hati. Dia takut menyinggung perasaan Alisha yang menganggap dirinya mandul." Kamu sudah makan atau belum?" Alisha tersenyum aneh mendengar itu sebab dia memang belum menyentuh masakannya sendiri. Itu sudah terjadi beberapa hari hingga Eldar hafal dengan senyuman aneh yang Alisha tunjukkan." Beri aku makanan lagi." Eldar kembali menggeser piringnya.


"Mas pasti sudah kenyang." Tolak Alisha tahu maksud dari permintaan Eldar.


"Belum. Aku lapar sekali."


"Mas membohongiku?" Tanya Alisha lirih.


"Abaikan jika kamu tidak mencintaiku." Cepat-cepat Alisha mengambil piringnya lagi dan menambahkan nasi juga lauk.


"Mas mulai mengancam terus." Alisha meletakkan piringnya di hadapan Eldar.


"Itu ancaman yang manis karena aku menyanyangimu. Bantu aku menghabiskannya."


"Tuh kan. Bohong lagi." Protes Alisha mengurungkan niatnya untuk duduk.


"Kamu lebih kurus dan itu terlihat kurang seksi." Rayuan andalan Eldar di lontarkan. Dia beranggapan jika mungkin Alisha tengah berdiet agar tidak gemuk. Padahal Alisha memang kehilangan selera makan beberapa hari ini.


"Ini sudah ideal Mas. Kurang seksi bagaimana? Apa harus seperti buntalan karung baru terlihat seksi di matamu." Eldar terkekeh menatap bibir Alisha yang mencuat ke depan.


"Aku tahu kamu sedang berdiet."


"Tidak Mas. Aku tidak pernah melakukan itu."


"Kamu terlihat lebih kurus Babe. Aku tidak suka melihatnya. Ayolah, makan ini dan kita pergi berbelanja."


"Aku sudah makan." Jawab Alisha pelan.


"Belum makan dari tanganku." Eldar berdiri lalu menggiring Alisha untuk duduk di samping nya." Manja sekali sih. Ayo mengaku. Kamu ingin ku suapi kan." Imbuh Eldar menggoda.


"Apaan sih Mas."


"Sayang aku kan?" Alisha mengangguk seraya tersenyum." Makan ya. Aku suapi." Alisha tidak kuasa menolak meski dia tidak berselera.


Ini sudah telat selama empat hari. Apa mungkin aku? Tidak. Jangan gegabah dulu. Aku takut ini kejadian sama yang pernah ku alami dulu. Tapi, aku malas makan dan sering pusing. Ya Tuhan.. Aku ingin ini benar-benar terjadi. Berilah keajaiban agar engkau bisa menghadirkan janin di dalam rahimku..


💙❤️

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2