Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 47


__ADS_3

Dengan wajah cemas, Alisha menunggu hasil pemeriksaan urine. Eldar menenangkan hatinya dengan genggaman tangan seraya sesekali membelai rambut panjang Alisha.


"Jangan tegang seperti itu Babe." Pinta Eldar lirih.


"Katanya pemeriksaan biasa tapi kenapa harus memberikan urine dan menunggu seperti ini." Eldar terkekeh dalam hati. Dengan cepat dia merencanakan semuanya.


Eldar sengaja menyuruh Abrahan menyiapkan semua ini agar Alisha mau di periksa oleh dokter kandungan yang duduk di ruangan dokter umum.


"Aku tidak tahu Babe. Bukan aku yang bilang tapi dokter umum tadi."


"Mas pasti berbohong kan." Lirik Alisha menyadari Eldar tengah menahan tawa." Mas El ish!!! Apa kamu menggerjaiku!!" Alisha memukul-mukul pundaknya lembut.


"Tidak. Mana mungkin aku mengerjai Istriku sendiri."


"Aku tahu Mas El mau menertawakan ku kan." Bersamaan dengan itu, keluarlah dokter Ira dari sebuah ruangan kecil yang ada di sana." Mas.." Ucap Alisha tertahan sebab Eldar mengisyaratkannya untuk diam. Dia mendekatkan bibirnya dan berbisik.


"Meskipun hasilnya negatif, aku tetap mencintaimu." Satu kecupan singkat mendarat pada pipi Alisha sebelum Dokter Ira duduk di hadapan keduanya.


"Kenapa baru di periksakan Nona."


"Saya sakit apa Dok?" Tanya Alisha terbata.


"Bukan sakit. Anda positif hamil dan sekarang sudah menginjak Minggu ke 10." Senyum mengembang langsung tergambar jelas dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


"Serius Dok. Saya hamil? Benar-benar hamil?" Tanya Alisha memastikan.


"Ini sudah akurat Nona. Sudah terlihat janin kecil pada rahim saat pemeriksaan USG tadi."


"Hiks hiks hiks terimakasih Tuhan." Alisha terisak namun tersenyum. Kebahagiaan yang di dengar, tidak sanggup di ungkapkan dengan kata-kata.


Sejak lama dia menantikannya. Setelah keguguran yang terjadi beberapa tahun silam. Kenyataan sekarang mematahkan persepsi tentang sebuah karma yang menimpa karena ketidaksengajaan menghilangkan janinnya sendiri.


"Saya fikir saya tidak akan di berikan kesempatan ini lagi hiks hiks hiks." Dokter Ira tersenyum aneh melihat sikap berlebihan Alisha sekarang.


"Kenapa begitu Nona?"


"Saya sudah menghilangkan janin saya sendiri tapi saya benar-benar tidak sengaja Dok."


"Itu hanya masa lalu Nona. Nyatanya anda bisa hamil. Ingat untuk tidak stres dan lupakan semua masa lalu yang bisa menambah beban di hati." Jawab dokter Ira seraya menuliskan resep.


Aku yakin kamu tidak mandul Babe. Lelaki sialan itu yang tidak pandai menembak.


"Selamat ya Babe." Eldar mengulurkan tangannya dan mengusap lembut sudut pipi Alisha.


"Aku senang sekali Mas." Alisha meraih jemari Eldar lalu menciumnya penuh cinta.


"Aku juga senang sekali." Dari awal aku tahu jika kamu adalah wanita yang sempurna untuk ku.


"Ini buku panduan Ibu hamil. Harus di baca dan di pelajari terus ini resep obat yang harus di tebus." Eldar mengambil buku juga resep obatnya.


"Terimakasih Dok."


"Sama-sama. Satu bulan lagi jangan lupa datang untuk pemeriksaan rutin."


"Baik Dok Mari." Dokter Ira mengangguk seraya tersenyum. Eldar mengiring Alisha berjalan keluar.

__ADS_1


Aku akan menjaganya dengan baik. Alisha memelankan langkahnya seraya memegang perutnya.


"Apa perutmu sakit?" Tanya Eldar memelankan langkahnya.


"Tidak Mas. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Jalannya pelan-pelan saja Mas."


"Dia anakku jadi pasti kuat. Em duduk di sini. Aku akan menebus obat." Alisha duduk di salah satu tempat duduk yang ada di depan apotik rumah sakit, sementara Eldar berdiri mengantri untuk menebus obat.


Bibir Alisha tersungging, memperhatikan banyaknya Ibu hamil yang ada di sana.


Perutku juga akan seperti itu nanti. Ya Tuhan aku bahagia sekali.


"Melihat apa? Bahagia sekali."


"Perut mereka Mas." Alisha meraih lengan Eldar kemudian berdiri.


"Kamu akan mendapatkannya nanti." Alisha tersenyum dan berusaha berjalan dengan sangat hati-hati. Trauma akan keguguran dulu menjadi momok baginya dan masih menghantui fikirannya.


.


.


Setibanya di rumah. Keduanya pun turun dan di kejutkan dengan kedatangan Monik yang perutnya sudah terlihat membesar.


"Monik." Teriak Alisha begitu heboh namun dengan gerakan melambat.


"Kenapa cara berjalan mu begitu." Tanya Monik seraya memeluk erat tubuh sahabatnya itu.


"Kamu benar. Aku menyusul mu sekarang." Tangis Alisha pecah bukan karena bersedih melainkan sangat bahagia.


"Iya aku hamil."


"Astaga.. Selamat ya Beb." Monik mencium pipi Alisha seraya mengusap air mata haru yang keluar dari sudut matanya.


"Iya terimakasih. Kamu ada perlu ke sini." Monik duduk di samping Alan sementara Alisha di samping Eldar.


"Aku kangen. Kapan bisa jalan-jalan berdua lagi."


"Aku juga Mon. Tapi sepertinya sudah tidak bisa." Monik tersenyum seraya mengangguk.


"Jaga baik-baik dia ya Mas Eldar." Wajah Monik berubah sendu.


"Tentu saja." Jawab Eldar dengan wajah datar.


"Kenapa wajahmu?" Monik tersenyum aneh seolah kesulitan mengatakan sesuatu yang akan di lontarkan." Apa sih Mon. Jangan menakutiku." Alisha berdiri dan duduk di samping Monik.


"Mas Alan di pindah tugaskan selama dua tahun di Jakarta. Aku harus ikut ke sana dan itu berarti kita tidak bisa bertemu hiks hiks hiks." Alan menarik nafas panjang sebab dia sudah memberikan penyelesaian dengan berkunjung satu bulan sekali dengan transportasi pesawat.


"Hiks hiks apa benar begitu?" Eldar dan Alan saling melihat kemudian tersenyum tipis seraya memperhatikan Istri mereka yang tengah menangis hanya karena masalah sepele.


"Iya Al. Padahal aku ingin terus bertemu denganmu agar kecantikanmu menular padanya." Monik mengusap perutnya dan berharap jika anaknya bisa secantik Alisha.


"Kau bicara apa Mon. Tega sekali berkata itu." Alisha menyeka kasar sudut matanya yang basah.


"Tidak perlu menangis. Kita bisa berkunjung satu bulan sekali." Sahut Alan.

__ADS_1


"Ibu hamil tidak boleh sering berpergian Mas." Jawab Monik lirih.


"Hm iya Mas jadi sebaiknya jangan di lakukan. Tunggu sampai anaknya lahir." Alisha mengusap lembut perut Monik." Kehilangan itu sangat menyakitkan Mas. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan lebih baik di jaga dengan baik." Imbuh Alisha menyarankan." Kita saling mendoakan dari jauh. Jika si jabang bayi sudah di luar. Jangan lupa kunjungi aku." Monik kembali memeluk tubuh Alisha.


"Kau juga. Jangan minum sembarangan. Minum air putih saja. Aku akan berkunjung jika sudah melahirkan tapi kamu tidak boleh berkunjung saat aku melahirkan." Monik melepaskan pelukannya dan beralih mengusap pada perut Alisha yang masih rata." Ini anak emas. Jaga baik-baik." Pinta Monik tersenyum.


"Akan ku jaga Mon." Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu..


🌹🌹🌹🌹


"Itu bukan anakku Kak. Istrimu itu sudah berhubungan dengan banyak lelaki. Kenapa harus aku yang bertanggung jawab?" Damar menolak mentah-mentah keinginan Tama agar Damar mau bertanggung jawab atas kehamilan Lilis.


"Dia bilang itu anakmu!" Ujar Tama menekan kata-katanya." Aku minta kau menceraikan Wina lalu kau menikahi Lilis untuk bertanggung jawab atas perbuatanmu." Damar tertawa renyah seraya menatap tajam ke Tama.


"Akan ku ceraikan Wina tapi aku tidak mau tanggung jawab!!" Jawab Damar geram.


"Apa maksud mu Damar!! Lilis akan membeberkan semuanya jika kau tidak menemuinya!!"


"Terserah!! Itu bukan urusanku. Aku hanya bermain-main dengan Istrimu. Sebenarnya aku tidak ingin menceraikan Wina tapi karena kau memaksa." Menunjuk kasar ke Tama." Akan ku lakukan dengan senang hati!!" Damar beranjak pergi. Tama mencoba menghalangi tapi tangan kekar Damar mendorongnya.


"Damar!!! Berhenti!!!" Teriak Tama tidak di dengar sebab Damar sudah melajukan motornya menuju rumah.


Damar bergegas masuk ke dalam rumah. Dia sudah bisa menebak jika Tama akan mengikutinya.


"Loh Mas kok sudah pulang." Tanya Wina dengan wajah sumringah.


"Hari ini aku menjatuhkan talak padamu Wina. Mulai hari ini kau bukan Istriku lagi!!" Mama Rita menoleh cepat sementara Wina tercengang mendengar itu.


"Mas apa ini." Tanya Wina terbata.


"Kamu bilang apa Damar." Sahut Mama Rita tentu merasa terkejut.


"Akan ku urus surat perceraian kita." Damar melewati Wina begitu saja.


"Kalian bertengkar?" Tanya Mama Rita panik.


"Tidak Ma, hiks hiks hiks." Wina mengikuti Damar masuk ke dalam kamarnya." Mas kenapa kamu berkata itu?" Damar tersenyum miring seraya mengemasi baju-bajunya.


"Tanya pada Kakak mu. Dia menyuruhku menceraikan mu." Haha kebetulan yang bagus. Di saat aku mau lari dari Lilis. Si Tama malah menawarkan itu padaku.


"Tidak mungkin begitu."


"Damar cabut kata-kata mu." Pinta Tama yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu kamar.


"Itu keinginanmu dan aku melakukannya." Damar akan melangkah pergi. Tama berusaha memberikannya sebuah pukulan namun dengan cepat Damar membalas pukulan itu hingga Tama terkapar di lantai." Aku bukan Adik ipar mu lagi!!" Imbuhnya melanjutkan langkahnya berjalan keluar.


"Mas Tama!! Apa maksudnya?" Tama bungkam. Dia tidak mungkin membicarakan kebenaran karena sudah pasti Wina dan Mama Rita akan marah padanya.


"Apalagi ini Tam." Sahut Mama Rita terduduk lemah seraya menangis terisak.


Maafkan aku.. Maafkan aku...


🌹🌹🌹🌹


Terimakasih dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2