
"Alisha." Panggil Tama setengah berteriak.
Alisha menatap Tama, begitupun Eldar. Kedua tangannya langsung mengeratkan genggamannya seraya memegangi perut buncitnya.
Eldar melangkah maju. Berusaha menghalangi Tama yang tengah berjalan mendekat. Eldar tidak ingin mulut busuk Tama melukai perasaan Alisha yang sejak kehamilannya menjadi sangat sensitif dari sebelumnya.
"Berhenti di situ!!!" Suara buruk Eldar sontak membuat Tama berhenti." Mau apalagi!!!" Tanyanya geram.
"Maafkan aku Alisha." Jawab Tama seraya menatap sendu ke arah Alisha yang juga melihatnya.
"Aku sudah memaafkan mu Mas. Bukankah dulu aku berkata itu. Tapi aku mohon, jangan menggangu hidupku lagi. Aku tidak mau bertemu denganmu."
"Kau dengar!! Cepat pergi!!" Pinta Eldar menggenggam erat jemari tangan Alisha. Selama ini dia sangat menjaga perasaan Alisha dan tidak ingin Tama datang untuk menghancurkannya.
"Mama meninggal, karena dosaku." Tama menepuk-nepuk dadanya sendiri. Raut wajah penyesalan terpatri jelas dengan di iringi suara isakan tangis.
"Mama.. Mama Rita?" Tanya Alisha terbata dengan mata mulai berkaca-kaca. Seburuk apapun kelakuan Mama Rita padanya. Alisha tidak pernah menaruh dendam apalagi Mama Rita sudah di anggap sebagai orang tua keduanya dulu.
"Iya Mama sudah meninggal Alisha. Ini semua kesalahanku." Eldar tidak bergeming jika itu menyangkut seorang Ibu. Dia pernah ada di posisi Tama yang tentu merasa terpukul dengan kepergian Ibunya.
"Ya Tuhan, Mama." Eldar menoleh ke Alisha. Mengusap perutnya seraya menyeka air matanya yang hampir jatuh.
"Ingat si kecil. Jangan terbawa perasaan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya hanya karena berita sialan dari orang itu." Ucap Eldar mengingatkan Alisha untuk mengendalikan kesedihannya.
"Antar aku melayat Mas." Pinta Alisha lirih.
"Untuk apa?" Tentu saja Eldar tidak setuju. Kecemburuannya tergambar jelas pada wajahnya meski nyatanya Tama tidak sepadan dengannya.
"Untuk penghormatan terakhir Mas. Dia tetap saja orang tua." Eldar melirik ke arah Tama yang masih tidak bergeming dari tempatnya.
"Aku cemburu Babe." Bisik Eldar mengutarakan kekhawatirannya.
"Hanya melayat lalu pulang."
"Aku akan memberikan uang santunan dan tidak perlu datang ke sana."
"Tidak baik begitu Mas. Yah. Ayolah Mas, aku hanya mencintaimu." Rajuk Alisha semakin membuat penyesalan Tama bertambah berat.
Dia pernah di berikan Tuhan berada di posisi itu. Suara rengekan Alisha, sikap ketergantungannya, seharusnya bisa di terimanya dengan baik. Namun nasi sudah menjadi bubur. Tama cukup senang sudah pernah merasakannya dan benar-benar tidak ingin lagi mengusik hubungan Alisha bersama Eldar.
"Oke Babe. Hanya untukmu tapi jika ku dengar dia membuatmu kesal. Jangan salahkan aku jika nanti rumahnya ku obrak-abrik." Alisha tersenyum lalu menjinjit dan mencium pipi Eldar sejenak sehingga Tama memalingkan wajahnya.
"Terimakasih Mas." Alisha beralih menatap Tama." Apa di rumah ada Wina Mas?" Tanyanya lirih.
__ADS_1
"Ada."
"Ya sudah. Mas Tama berangkat kerja saja biar aku ke rumahmu."
"Aku akan membolos hari ini, untuk menyambut kunjungan mu dan Suamimu." Tama masih merasakan sakit saat bibirnya berkata demikian.
"Hm ya sudah Mas. Kamu duluan saja soalnya aku mau berganti baju dulu."
"Baik Alisha. Terimakasih, em siapa namamu."
"Dia Mas Eldar."
"Terimakasih Eldar. Aku tunggu kedatangan kalian di rumah."
"Hm." Jawab Eldar ketus. Tama tersenyum seraya mengangguk sejenak kemudian pergi.
.
.
Wina menangis terisak di hadapan Alisha sementara Tama hanya mampu terdiam menunduk. Dia hanya bisa mendengar tanpa banyak berkomentar karena apa yang di katakan Wina benar adanya.
"Nasi sudah menjadi bubur. Sebaiknya jangan saling menyalahkan." Jawab Alisha angkat bicara.
"Itu karma!!" Sahut Eldar ketus. Alisha, Wina dan Tama menatap Eldar bersama-sama.
"Seharusnya Kak Tama saja. Tapi semua kena imbasnya." Alisha menghela nafas dalam, kembali mengingat perbuatan Mama Rita dan Wina yang selalu saja bungkam saat Tama tidak memiliki waktu untuknya. Keduanya seolah menjadi pelopor dan membenarkan perbuatan Tama untuk senang tiasa mengabaikan Istrinya sendiri.
"Tuhan tidak akan pernah salah menghukum seseorang!!" Jawab Eldar lagi. Alisha meraih lengannya dan mengusapnya lembut.
"Mas.." Sahut Alisha memberikan isyarat Eldar untuk diam saja.
"Cepat berikan lalu pulang. Aku sesak nafas mendengar ucapan mereka. Ku tunggu di mobil." Eldar beranjak meninggalkan tempat daripada dia harus mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar.
"Maaf. Dia memang seperti itu." Ucap Alisha merasa tidak enak." Aku hanya bisa berkata ikut berbelasungkawa atas kematian Mama dan ini ada sedikit uang yang mungkin bisa kalian pakai untuk membelikan suguhan saat 40 harinya Mama." Alisha menggeser amplop coklat cukup tebal ke hadapan Wina.
"Tidak perlu Mbak." Wina akan mengembalikan amplop tersebut tapi Alisha mencegahnya.
"Itu uang pribadiku." Jawab Alisha cepat." Aku juga memberikan itu untuk Mama bukan kalian. Em pergunakan untuk acara tahlilan 40 harinya nanti. Aku mohon terima ya Win. Aku tidak ingin menghina atau merendahkan. Aku sudah menganggap Mama sebagai orang tuaku sendiri. Jadi sudah selayaknya aku ikut memberikan uang untuk tahlilan 40 harinya kelak." Tama tertunduk bahkan sudah menangis. Dia terlambat menyadari jika wanita yang dulunya di sia-siakan olehnya adalah wanita yang sangat menyanyangi Ibunya.
Aku memang bodoh! Sangat bodoh!! Umpatnya dalam hati. Tama beranjak lalu masuk begitu saja karena merasa malu dengan air mata yang keluar begitu saja.
"Aku tidak bisa berlama-lama. Suamiku sangat pemarah." Canda Alisha membuat Wina tersenyum.
__ADS_1
"Dia tampan sekali Mbak." Puji Wina tersenyum.
"Bukan tampannya Win yang di cari, tapi hatinya." Alisha meraih tas kecilnya lalu berdiri perlahan.
"Terimakasih ya Mbak. Aku terima uang nya." Wina ikut berdiri dan memegang erat lengan Alisha untuk membantunya berjalan.
"Sama-sama."
"Sering-sering main Mbak. Aku pasti senang." Alisha tersenyum seraya mulai melangkah perlahan.
"Ini terakhir kali aku ke sini. Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan masa lalu. Apalagi Suamiku pencemburu. Aku tidak ingin tejadi masalah pada rumah tanggaku lagi." Wina mengangguk-angguk dengan rasa sesal yang terbesit.
"Aku mengerti Mbak."
"Jaga diri baik-baik. Akan ada pelangi setelah badai. Jangan menoleh ke belakang agar yang di depan bisa terlihat jelas." Pelukan hangat Alisha suguhkan untuk salam perpisahan.
"Iya Mbak terimakasih. Aku doakan lahirannya lancar."
"Amin. Terimakasih Win. Aku pulang dulu." Alisha tersenyum kemudian melangkah menuju mobil Eldar yang terparkir tidak jauh dari sana.
Wina membalas lambaian tangan Alisha kemudian bergegas masuk untuk melihat berapa jumlah uang yang di berikan Alisha.
"Tidak mungkin jika seratusan tapi setebal ini." Wina melongok melihat tiga bandel uang masing-masing 20 juta berada di dalamnya." E enam puluh juta.. Kak!!! Kak Tama!!!" Teriak Wina panik.
"Apa?" Tama juga ikut melongok. Dia tidak memikirkan jika isi di dalam amplop pemberian Alisha tidak sebanyak itu.
"Sebanyak ini Kak."
"Apa benar isinya 20 juta satu bandel?"
"Ish norak! Ini dari bank bukan hitungan tangan jadi sudah pasti sama isinya."
Dulu aku sering berdebat masalah uang dengannya tapi ternyata itu memang kesalahanku. Aku tidak becus memberikannya nafkah tapi malah menyalahkannya atas itu. Aku sudah ikhlas Alisha. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Aku turut bahagia atas hidupmu sekarang. Semoga Tuhan memberikan kelancaran untuk persalinanmu kelak.
🌹🌹
Aku tamatin sampai di sini saja ya🙏🙏
Jika banyak permintaan aku akan lanjut season ke dua😁
Terimakasih yang sudah dukung🌹🙏
Maaf jika masih banyak kesalahan.
__ADS_1