
"Kau mau jadi temanku?" Tanya Eldar tidak juga menyerah.
"Tidak." Jawab Alisha lirih.
"Jadi istri?" Canda Eldar sangat berharap Alisha menerimanya meski hanya sekedar teman.
"Jadi teman saja tidak! Apalagi istri!" Eldar terkekeh hingga seisi kantin berhenti makan bahkan berhenti bernafas. Tentu saja itu aneh karena selama ini Eldar selalu saja memasang wajah datar." Bukankah sebaiknya kau pulang dan belajar daripada harus mengangguku di sini." Imbuh Alisha sempat tersenyum tipis.
"Apa yang membuatmu merasa terganggu dengan kehadiranku? Aku hanya ingin berteman saja. Apa itu salah?"
Memang tidak salah. Sebab yang bersalah hanya aku..
"Yang bersalah memang selalu aku." Alisha menurunkan kakinya kemudian berdiri dan pergi untuk membantu Mbak Sarah membereskan bangku meski ada beberapa mahasiswa yang masih makan.
Eldar kembali mengekor, bahkan membantu Alisha membereskan beberapa bangku.
"Aku tidak mengatakan kau bersalah." Alisha tidak bergeming. Dia mencoba mengacuhkan Eldar meski ada sedikit ketertarikan yang mulai tumbuh." Kita makan bersama setelah ini." Eldar masih sangat ingin menemani Alisha, paling tidak sampai wajahnya terlihat lebih baik.
"Ayahku bisa marah jika aku tidak pulang tepat waktu."
Bukan Ayah Alisha, tapi Suamimu...
"Hm aku akan menemui Ayahmu untuk meminta izin." Alisha meletakkan bangku seraya menoleh.
"Aku tidak mau." Jawab Alisha panik.
"Jika tidak ingin aku berbuat itu. Makan bersamaku setelah ini."
"Kau kenapa sih?" Tanya Alisha dengan suara meninggi.
"Aku masih ingin bersamamu dan aku tidak suka di tolak." Kamu harus makan Babe..
"Memaksa sekali!!" Umpat Alisha.
"Aku suka memaksa sebab aku benci di paksa. Makan bersama agar kau bisa pulang dengan tenang." Alisha terdiam sejenak. Memutar tubuhnya menatap ke arah Eldar yang juga menatapnya.
Tampan.. Tampan sekali.. Alisha menggelengkan kepalanya seraya menunduk. Aku berdosa sudah berkata itu!! Astaga Tuhan!! Ini situasi apa!!
"Babe..."
Deg!!!
Mata Alisha membulat, hatinya tersentuh bahkan bergetar saat Eldar mengucapakan panggilan manis untuknya.
"Kita bahkan tidak berteman! Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu!!"
"Terserah saja, ini mulutku." Hehehehe aku gila.. Raut wajahnya membuatku gemas...
"Ya memang mulutmu."
"Jawablah, makan bersama lalu pulang."
"Iya iya iya. Apa ada jawaban lain selain iya!" Eldar kembali terkekeh. Alisha berjalan melaluinya begitu saja dengan sebuah senyuman simpul masuk ke dalam dapur untuk mengambil tas dan berpamitan dengan Mbak Sarah.
*****************
"Jadi hari ini kamu tidak bisa menginap Tam." Tanya Lilis mulai memasangkan belenggu pada leher Tama.
"Ya tidak bisa setiap hari lah Lis. Takut Alisha curiga nanti."
__ADS_1
"Bilang saja takut sama Alisha." Ledek Lilis.
"Tidak. Mana ada aku begitu. Aku hanya menuruti apa kata Mama. Jika dia mengadu lagi bagaimana?"
"Ya cerai saja! Menikah denganku." Tama menoleh dan cukup kaget dengan perkataan Lilis.
"Tidak Lis. Bukankah kamu memiliki suami dan aku memiliki istri." Sudah bisa di pastikan jika Tama belum berfikir sejauh itu. Dia hanya ingin main-main dan mencari kesenangan saja.
"Kalau sama-sama tidak nyaman! Untuk apa di pertahankan Tam. Kau juga tidak puas kan bercinta dengannya?"
Lilis membuatku tahan lama dan puas saat berada di ranjang tapi.. Aku masih mencintai Alisha..
Tama tidak tahu, jika percintaan yang terasa memuaskan semalam efek dari obat kuat yang sudah di campurkan Lilis pada minumannya.
"Aku belum berfikir sejauh itu."
"Hm oke. Lama-lama kau akan sadar jika aku lebih baik daripada istrimu itu." Tama mengangguk-angguk seraya memakan sajian di hadapannya.
"Setelah ini aku antar pulang ya. Aku mau ke rumah Mama dulu."
Dari kemarin membahas Mamanya terus!
"Iya Tam. Jadi besok kita ke hotel lagi?"
"Kita lihat saja besok." Lilis mengangguk-angguk seolah mengerti dengan posisi Tama sekarang. Padahal kenyataannya, dia tengah memikirkan cara bagaimana bisa memiliki Tama seutuhnya.
***************
Eldar menguyah makanannya pelan, memperhatikan Alisha yang hanya mengaduk-aduk sajian di hadapannya.
"Kau yang memilih tempatnya sendiri tapi kenapa tidak berselera." Tanya Eldar angkat bicara.
"Bukan seperti itu aturannya Babe. Kau makan, aku makan terus pulang. Jika kau tidak makan, aku akan datang ke rumahmu."
"Untuk apa datang ke rumahku?"
"Untuk melamar mu." Alisha menganggap Eldar asal bicara karena ingin mengancamnya sehingga dia meraih sendok dan mulai memasukkan sedikit makanan pada mulutnya." Will you marry me, Babe?" Alisha pura-pura tidak mendengar, memaksa Eldar menunjukkan senyum simpul." Kau menganggap aku bercanda padahal aku serius." Imbuhnya membuat Alisha merasa terpancing untuk bicara.
"Aku tidak sedang ingin mengenal siapapun."
"Aku juga tidak ingin siapapun. Only you." Getaran semakin hebat terjadi di dalam hati Alisha. Dia mempercepat kunyahan nya karena ingin segera pulang. Alisha takut perasaannya tidak akan mampu menolak jika nyatanya Eldar menghujani dia dengan kata-kata manis yang sudah tidak di dapatkannya dari Tama.
Paling tidak kamu mau makan..
"Bersemangat sekali."
"Aku ingin cepat pulang." Jawab Alisha seraya mengunyah.
"Melihatmu makan, sudah cukup membuatku merasa senang."
"Bukankah sebaiknya kau diam saja daripada terus merayu seperti itu. Kau bahkan masih sekolah dan tidak memiliki perkerjaan. Bagaimana bisa kau membahas masalah menikah, melamar, jika nyatanya kau hanya memakai uang kedua orang tuamu!" Ah aku bicara apa sih? Kenapa aku malah terbawa emosi karena ingat Mas Tama yang seorang anak Mama..
"Kamu sudah berfikir sejauh itu Babe. Emm.. Aku hanya butuh sebuah ucapan sederhana saja masalah lainnya biar ku urus."
"Apa maksudmu?"
"Balas perasaanku dan dapatkan kebahagian setelah itu terjadi." Alisha meletakkan sendoknya sedikit kasar lalu mencoba menatap wajah tampan Eldar dengan maniknya.
"Aku paling benci dengan gombalan!!!" Jawab Alisha setengah berteriak hingga memicu pembeli lain melihat ke arahnya." Jangan bicara omong kosong!! Kita habiskan makanan dan pulang!!" Imbuhnya kembali makan. Masalah yang menghantam kehidupannya membuatnya mudah tersinggung.
__ADS_1
"His!! Selalu saja." Eldar melipat kedua tangannya lalu bersandar pada kursi resto. Dia memperhatikan Alisha yang tengah mempercepat makannya.
Ah dia menatapku lagi! Sebenarnya dia sedang apa? Meskipun suka, apa harus di tatap hingga seperti itu? Batin Alisha bergejolak. Bukan merasa tidak nyaman, tapi dia tidak sanggup menahan jantung yang semakin berdetak tidak beraturan.
"Waktumu akan terbuang sia-sia jika kau menyukaiku." Ucap Alisha lirih. Tujuannya agar Eldar bergerak dan tidak menatapnya hingga mematung.
"Katakan kenapa?"
"Bukankah alasannya jelas."
"Hm sangat jelas." Eldar mengangguk sehingga Alisha mengira jika Eldar mengerti posisinya." Mungkin aku sedikit berlebihan dalam memaksa sebab ini kali pertama untukku. Aku tidak mengerti cara merayu atau mendekati seorang wanita seperti apa. Jadi, maaf jika memang ini sedikit membuatmu tidak nyaman." Alisha terkekeh mendengar jawaban Eldar. Tentu dia tidak percaya sebab Eldar terlihat sudah lihai dalam merayu. Padahal kenyataannya, lelaki yang duduk di hadapannya adalah bongkahan es yang baru saja mencair.
Eldar tersenyum, memperhatikan gelak tawa indah di hadapannya. Walaupun dia sudah mengetahui status pernikahan Alisha, nyatanya tidak ada sedikitpun niat untuk mundur.
Aku yakin ada rahasia besar yang tersimpan dari maksud pertemuanku dengannya..
"Kamu bahkan terlihat sangat pintar merayu. Bagaimana mungkin kamu berkata demikian? Aku sudah berpengalaman jadi jangan bodohi aku dengan alasanmu itu."
"Aku tidak memintamu untuk percaya."
"Memang tidak percaya." Alisha menggeser piringnya yang sudah kosong dan beralih pada es jeruk di hadapannya.
Wajahnya terlihat lebih baik setelah makan.. Syukurlah..
Padahal aku tidak berselera makan tapi nyatanya aku menghabiskan nasi itu dalam sekejap..
"Jangan sampai lupa makan agar wajahmu tidak pucat." Bersamaan itu datanglah dua orang wanita muda dan duduk tepat di sebelah.
Mata Alisha sempat melirik sebentar tanpa perduli dengan ucapan Eldar. Kembali mengingat kebersamaannya bersama Tama yang selalu berakhir percekcokan, karena mata nakal Tama yang tidak bisa berhenti menjelajah.
Mereka cantik sekali tapi... Alisha menghindari manik Eldar yang fokus ke arahnya. Dia masih saja begitu padahal ada yang lebih indah di samping. Tidak seperti Mas Tama yang... Ah! Kenapa aku malah membanding-bandingkan? Tapi Mas Tama memang keterlaluan... Tiba-tiba terlintas suatu niat untuk mematahkan persepsi fikiran Alisha yang menganggap dirinya sudah tidak menarik.
"Mereka cantik sekali ya." Bisik Alisha.
"Siapa?"
"Mereka." Alisha menunjuk dengan isyarat mata. Eldar menoleh sebentar lalu kembali ke posisi yang sama." Bagaimana menurutmu?" Imbuh Alisha merasa penasaran.
"Aku tidak melihat siapapun."
"Bagaimana bisa?"
"Sudah selesai?" Tanya Eldar malah mengalihkan pembicaraan sebab dia merasa itu tidak penting.
"Hm sudah."
"Tunggu. Aku bayar dulu." Eldar beranjak dari tempat duduknya, sementara Alisha mulai memperhatikan ekspresi Eldar yang tidak sedang bercanda.
Dia lebih bisa menghargai orang yang ada di sampingnya.. Itu sesuatu yang sederhana tapi Mas Tama selalu keberatan melakukannya..
~Bersambung..
Aku sudah menemukan visual yang cocok untuk Eldar 😁😁
Mirip kek Eun Wo 🤤🤤
Semoga suka ❤️
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 😁😁