
Happy reading 🥰🥰
Sudah satu bulan berlalu. Sikap Alisha pada Eldar tidak juga berubah dan malah menjadi-jadi. Hatinya tidak lagi setipis tisu tapi sudah tidak ada penghalang sehingga satu kesalahan ucapan, sanggup meledakkan bom nuklir yang ada di dalam hatinya.
"Mas perutku tidak enak. Rasanya kembung sekali." Alisha duduk di samping Eldar seraya bersandar pada pundaknya.
Itu karena dia terlalu banyak makan buah dan nasi. Bagaimana caranya aku memberitahu agar dia tidak salah faham..
"Biar ku oles minyak kayu putih."
"Sudah Mas El." Apa ini benar? Sampai sekarang aku tidak juga datang bulan. Aku ingin memberitahu Mas El tapi takut jika tebakanku salah dan membuatnya kecewa.
"Periksa ke dokter ya. Takutnya sakit serius Babe."
"Tidak Mas." Jika periksa ke dokter lalu dokter berkata aku hanya masuk angin bagaimana? Aku yang akan kecewa Tuhan. Aku akan menahannya sedikit lagi sampai menginjak 3 bulan..
"Wajahmu juga kelihatan pucat sekali." Eldar sampai tidak datang ke perusahaan sama sekali karena khawatir dengan kondisi Alisha.
"Aku hanya kurang tidur Mas." Alisha duduk tegak dan bersiap akan berdiri.
"Mau kemana? Katanya kurang tidur."
"Ku masakan sesuatu untuk mu dan setelah itu aku tidur." Eldar begitu terkesan dengan perhatian Alisha. Sejak masakannya terasa sedap. Dia selalu memasakkan makanan untuk Eldar meskipun kondisi tubuhnya tidak stabil.
"Baik aku bantu ya."
"Tidak perlu Mas."
"Aku tidak tega Babe." Eldar mematikan televisi dan mengiring Alisha menuju ke dapur.
Sebaiknya masak yang singkat saja. Alisha membuka kulkas untuk mengambil bumbu dapur dan ikan segar yang sudah di potong.
Tap!
Kotak di buka, sehingga aroma khas bumbu dapur bercampur aduk menyeruak di rongga hidungnya. Seketika tubuh Alisha melemas namun berusaha di tahan.
Ahh apa yang terjadi.. Aku tidak tega melihatnya..
Gleg!
Dengan tangan bergetar Alisha meraih bawang putih dan merah yang sudah terkupas. Gerakkan terlihat kaku dan Eldar menyadari itu sehingga dia memutuskan berdiri untuk memastikan.
"Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja kan Babe." Alisha tersenyum seraya mengangguk. Mencoba menahan perutnya yang terasa di aduk-aduk akibat bau bumbu dapur yang bercampur.
"Iya Mas. Tunggu di sana." Jawabnya dengan wajah berkeringat.
__ADS_1
"Jika sakit tidak perlu memasak."
"Aku baik-baik saja." Seolah jijik. Alisha mengambil bumbu dan meletakkannya pada gelas blender." Tunggu di sana Mas." Pinta Alisha tidak ingin Eldar menyadari wajah tidak baiknya.
"Jika sakit berhenti ya."
"Iya Mas."
Tap!!
Gelas blender terpasang dan dengan perlahan Alisha menombol mesinnya. Perutnya semakin terasa di aduk-aduk, melihat warna bumbu kuning yang berputar di hadapannya.
Och!! Kenapa aku ini..
Alisha masih menahannya hingga dia menyiapkan penggorengan untuk menyangrai bumbu tersebut. Bumbu halus di tumpahkan pada penggorengan. Matanya menatap fokus ke arah bumbu meski dia ingin berpaling dari sana.
Tahan.. Tahan.. Jangan di lihat.. Hanya sebentar Alisha berpaling namun kembali menatap bumbu kuning dengan bau khasnya yang menyeruak masuk.
"Emmmm..." Alisha menutup mulutnya karena rasa mual yang tidak tertahan. Dia lupa belum mencuci tangan sehingga rasa mual semakin bertambah." Hoooooeeeek.." Alisha berjalan menuju wastafel. Eldar dengan sigap mematikan kompor lalu berjalan menghampiri Alisha.
"Astaga Babe. Sudah ku katakan jangan memasak dulu."
"Emmm Mas. Bau sekali.." Tanpa mematikan keran. Alisha setengah berlari keluar dari dapur seraya menutup mulut dan hidungnya.
"Apa yang bau? Ini sedap sekali." Bibir Eldar tersungging dan menyadari sesuatu." Apa Istriku hamil." Segera saja Eldar menyusul Alisha untuk mempertanyakan tebakannya.
Setibanya di kamar, Alisha duduk seraya membungkam hidungnya. Matanya terlihat berair karena menahan mual yang masih mengaduk-aduk perutnya.
"Aku baru sadar jika pembalut itu masih utuh Babe." Tanya Eldar bersemangat.
"Hm iya." Alisha mengusap wajahnya yang terlihat berantakan.
"Sejak kapan? Kenapa kamu tidak bilang agar kita bisa memeriksakannya."
"Belum tentu iya Mas."
Bukan tanpa alasan Alisha berkata demikian. Sebab dia pernah mengalami telat datang bulan selama dua Minggu. Kala itu, Alisha terlanjur senang karena dia fikir sedang hamil. Namun saat dia membeli testpack. Garis satu masih bertengger di sana.
"Belum tentu bagaimana Babe. Ayo kita periksakan."
"Tunggu tiga bulan Mas. Aku takut kecewa." Tolak Alisha lemah. Tubuhnya di baringkan dengan kedua kaki bertumpu pada paha Eldar.
"Jika di periksa nanti dokter bisa memberikan vitamin. Kamu terlihat kurus Babe." Eldar memijat kaki Alisha lembut.
"Jika tidak kan aku malu Mas."
"Malu kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa hamil. Bukankah Mas sudah tahu sejak awal kalau aku tidak bisa hamil."
"Memangnya kamu Tuhan Babe?" Jawab Eldar lembut.
"Jangan terlalu berharap, aku takut mengecewakanmu."
"Aku tidak akan kecewa dengan apa yang di gariskan untukmu. Aku menerimamu apa adanya Babe. Jika mungkin kamu tidak bisa hamil kita mengadopsi anak saja. Tapi aku mohon, kita periksakan dulu."
Alisha terdiam seraya menatap wajah Eldar dari samping. Ada rasa iba terbesit. Sebab mungkin dia tidak akan bisa menjadi Istri yang sempurna untuknya. Namun tidak dapat di pungkiri, jika hidup bersama lelaki di hadapannya terasa sangat damai. Bukan dari segi materi, tapi sikapnya yang begitu baik memperlakukannya.
"Ke dokter umum Mas. Jangan dokter kandungan." Jawab Alisha lirih.
"Oke Babe. Yang terpenting kita periksakan dulu." Eldar menggeser kaki Alisha lembut kemudian berdiri. Dia mengambil sweater dan sisir lalu kembali duduk di hadapan Alisha." Pakai ini dulu Babe." Pintanya membantu Alisha duduk dan memakaikan sweater.
"Jika negatif Mas." Eldar menarik nafas panjang.
"Bukankah ke dokter umum Babe. Tidak perlu membahas negatif atau positif. Kita periksa dulu agar tahu kamu sakit apa." Meskipun Eldar merasa yakin. Tapi sebisa mungkin dia akan membuat Alisha nyaman tanpa terbebani.
🌹🌹🌹
Raut wajah Tama begitu bahagia saat Lilis menunjukkan hasil pemeriksaan yang menyatakan jika dirinya hamil.
"Kamu hamil?" Tanya Tama akan memeluk Lilis namun Lilis menghindar dengan wajah masam.
"Ya aku hamil tapi bukan anakmu!!" Tama melebarkan matanya mendengar itu." Aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan mu. Bagaimana bisa aku hamil anakmu!!" Imbuhnya tersenyum sinis.
"Te terus ini anak siapa?" Ucap Tama terbata. Dia sudah bisa menebak itu anak siapa sehingga suaranya terdengar bergetar.
"Anak Damar! Adik Ipar mu." Raut wajah Tama berubah aneh. Dia ingin menutupi itu namun nyatanya Lilis sendiri yang mengaku." Kenapa kau tidak kaget? Apa kau sudah tahu Tam?" Imbuh Lilis bertanya.
"Jangan bicarakan ini pada Wina. Biar aku yang bertanggung jawab atas kehamilanmu." Terpaksa sekali Tama berkata demikian. Dia tidak kuasa marah karena lebih memikirkan bagaimana perasaan Wina, Adiknya.
"Kau yang bertanggung jawab?" Lilis tertawa renyah seraya menatap Tama rendah." Tujuanku berkata jujur bukan itu." Imbuhnya pelan.
"La lalu bagaimana Lis?"
"Suruh Damar menemuiku dan bertanggung jawab jika tidak ingin aku membongkar aib ini di hadapan Adik juga Mamamu!!" Tubuh Tama langsung melemas mendengar ancaman besar itu.
"Jangan Lis. Ku mohon jangan berkata seperti itu. Aku akan bertanggung jawab atas anak itu tapi aku mohon kamu jangan membeberkan kebenaran ini." Rajuk Tama dengan wajah memelas.
"Aku tidak mau kamu yang bertanggung jawab. Aku mau Damar! Hanya ingin dia!!" Tama menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar." Aku berjanji akan pergi diam-diam jika Damar mau bertanggung jawab dan meninggalkan Wina! Ku berikan waktu tiga hari. Jika Damar tidak juga menemuiku. Aku akan membeberkan ini semua di hadapan Mama dan Adik kesayanganmu." Lilis menepuk pundak Tama lembut kemudian masuk ke kamarnya.
"Ya Tuhan bagaimana ini. Kenapa semua jadi berantakan seperti ini. Bagaimana mungkin aku menyuruh Damar menceraikan Wina sementara aku tahu jika Wina begitu mencintai Suaminya." Tama duduk dengan wajah gelisah. Memikirkan ancaman Lilis yang berputar-putar di otaknya. Keluarganya terancam berantakan, karena kebodohannya sudah memasukkan wanita tidak baik seperti Lilis.
Sebaiknya aku bicara pelan-pelan dengan Damar. Lebih baik Wina sakit hati karena di tinggalkan daripada harus menerima kenyataan buruk ini.
Tama tidak mengerti jika masalah hidupnya tidak segampang itu terpecahkan. Seolah Alisha kemarin sudah membawa keberuntungan untuknya sehingga saat Alisha pergi dari hidupnya, kesialan demi kesialan datang menghantamnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Terimakasih dukungannya 🥰🥰