Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 21


__ADS_3

Sejak awal Alisha memasuki area perusahaan, sepasang mata memperhatikan kedatangannya dari lantai lima bangunan tersebut. Sebuah teropong kecil, memudahkannya untuk melihat gerak gerik langkah Alisha yang berjalan mendekat.


"Itu benar dia." Gumam Eldar tersenyum.


"Bukankah sebaiknya langsung kau jerat dengan pernikahan El?" Sahut Dean menimpali.


"Aku tidak ingin jika bukan atas persetujuannya."


Tok...Tok...Tok...


"Masuk." Abraham keluar dari balik pintu dengan membawa amplop coklat besar yang berisi sebuah kontrak kerja gila.


"Ini perjanjian yang Tuan minta." Eldar mengambilnya dan mengeluarkan kertas dari sana untuk mempelajarinya.


"Hm pastikan dia menandatanganinya dulu lalu kau bawa dia ke hadapanku."


"Baik Tuan." Abraham tersenyum lalu berjalan keluar untuk melakukan permintaan gila Tuannya.


Dia tidak ingin kehilangan lagi. Mengingat Alisha menghilang secara tiba-tiba tanpa kabar. Anak buah Eldar hanya bisa memantau aktifitas Tama bersama Lilis tanpa tahu posisi Alisha berada di mana.


Rasanya luar biasa frustasi, hingga semua staf perusahaan menerima umpatan darinya. Namun ketidaksengajaan terjadi hingga dia menemukan surat lamaran Alisha yang berceceran di lantai akibat ulahnya yang telah menabrak bagian penerimaan karyawan.


Kirimkan surat pemanggilan kerja untuknya...


Permintaan Eldar di lakukan tanpa berprotes dan apa yang di tunggu-tunggu terjadi. Dia ingin menjerat Alisha dengan perjanjian kerja gila yang pasti akan merepotkan namun terasa manis.


.


.


Sepuluh menit menunggu, Alisha di giring seseorang untuk memasuki sebuah ruangan. Dia sempat melirik ke arah para pelamar lain.


Aku datang paling akhir, kenapa malah aku yang di panggil dulu..


Abraham tersenyum hangat menyambut kedatangan Alisha sementara Alisha memasang wajah gugup.


"Sesiap apa anda berkerja Nona?" Tanya Abraham basa-basi.


"Siap sekali Pak."


"Baca dulu dan pelajari." Abraham menyodorkan kertas perjanjian.


Isi perjanjian kontrak kerja.


1)Harus menaati apapun perintah Bos.


2)Senantiasa berdekatan dan mampu melakukannya dengan durasi lama.


Perjanjian macam apa ini? Alisha sudah merasa aneh padahal masih belum membaca seluruhnya.


"Maaf Pak. Maksudnya dengan durasi lama itu apa?" Abraham tertawa renyah. Dia juga merasa gila menulis perjanjian tersebut.


"Jangan salah sangka Nona. Maksudnya, durasi untuk waktu berkerja berdua." Alisha mengerutkan keningnya sebab merasa bingung.

__ADS_1


"Memangnya hanya berdua saja Pak? Tidak ada tukang cleaning servis yang lain."


"Em Nona di tempatkan sebagai sekertaris." Alisha melongok mendengar sesuatu yang di rasa mustahil.


"Sebentar Pak. Mungkin Bapak salah orang. Saya itu melamar sebagai cleaning servis bukan sekertaris. Ijazah saya saja SMA Pak, bagaimana bisa menjadi sekertaris."


"Fikirkan lagi Nona. Gaji cleaning servis itu begitu kecil."


"Tidak apa Pak."


"Hanya lima ratus ribu satu bulan."


"Hah! Apa!!" Tentu Alisha kaget setengah mati. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar ini memberi gaji begitu minim?


"Jika Nona menjadi sekertaris. Gajinya 50 juta, dengan fasilitas. Uang transportasi, makan bahkan tempat berteduh." Alisha tersenyum aneh. Dia mencubit pahanya sendiri.


Ahh!! Aku tidak mimpi kan..


"Itu bukan bidang saya Pak." Tolak Alisha merasa tidak mampu.


"Silahkan lanjutkan membaca dulu." Alisha mengangguk dan kembali membaca isi surat perjanjian.


3)Makan pagi, siang dan malam bersama.


4)Jika perkerjaan bisa di lakukan dengan baik, akan mendapatkan rekomendasi jabatan terbaik di perusahaan.


"Hanya itu Pak." Tanya Alisha masih dan masih merasa aneh meski dia tergiur dengan gaji besar yang di tawarkan.


"Hm iya Nona."


"Hm itu hanya masalah perkerjaan Nona. Saya jamin tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan." Alisha terdiam sejenak. Berfikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Namun kembali lagi.


Mencari perkerjaan itu susah, apalagi dengan gaji besar. Hanya menaati, berdekatan saat urusan kerja dan menemaninya makan. Kenapa Bos seperti lelaki kesepian saja..


"Kesempatan ini jarang terjadi Nona tapi jika Nona tidak berminat biar saya berikan pada pelamar selanjutnya." Gertak Abraham. Alisha cepat-cepat membubuhkan tanda tangan di kertas bermaterai tersebut, tanpa menyadari kertas yang sengaja Abraham lipat.


"Eh.. Saya setuju Pak." Segera saja Alisha mengembalikan kertas itu lagi." Sudah Pak." Abraham tersenyum kemudian memasukkan kertas ke dalam amplop coklat besar.


"Mari ikut saya Nona." Alisha berdiri, berjalan mengikuti langkah Abraham. Dia kembali melihat keanehan. Semua pelamar masuk ke sebuah ruangan lain.


Apa ini perasaanku saja atau penerimaan karyawan untuk sekertaris baru memang beda ruangan.


Jantung berdegup tidak beraturan. Alisha merasa khawatir jika mungkin terjadi sesuatu padanya. Apalagi perusahaan tersebut begitu besar dan sudah bisa di pastikan jika Bos perusahaan memiliki kekuasaan kuat.


Abraham berhenti di sebuah ruangan dengan pintu kokoh. Tidak ada tulisan apapun, tentang apa nama dari ruangan tersebut. Padahal sepanjang perjalanan Alisha melihat semua ruangan memiliki tulisan sesuai dengan jabatan.


"Silahkan Nona. Bos sudah menunggu." Wajah Alisha berubah pucat pasi.


Apa masuk akal jika ini adalah kamar pribadi Bos? Ya Tuhan kenapa aku jadi takut begini..


"Nona.." Lelaki paruh baya tersebut membaca ketegangan pada wajah Alisha.


"Saya mundur saja Pak. Lebih baik saya berkerja di tempat lain saja." Abrahan tersenyum, dia tahu jika ini akan terjadi. Itu sebabnya dia mengetik peraturan terakhir yang sengaja di lipat olehnya.

__ADS_1


"Tidak bisa Nona. Bukankah Nona sudah menandatangani kontrak kerja tadi."


"Iya Pak tapi saya sepertinya tidak sanggup jika..."


"Bertemu dengan Bos dulu. Saya tidak ingin beliau marah karena saya tidak mengantarkan pesanannya."


"Pe pesanannya? Apa Bapak bilang?" Abraham mengangguk seraya tersenyum." Memangnya saya barang di sebut pesanan. Saya pulang saja." Alisha melangkah pergi.


"Pulang berarti membayar denda 5 milyar." Abraham mengambil lagi kontrak perjanjian.


"Apa Pak? 5 milyar?"


"Hm.."


"Bapak mengancam saya?"


"Bukan Nona. Isi perjanjiannya memang seperti itu." Abraham meluruskan kertas yang terlipat. Dari jarak 2 meter tulisan dengan huruf besar dan tinta tebal terlihat jelas.


PIHAK BERSANGKUTAN HARUS MEMBAYAR DENDA SEBANYAK 5 MILYAR JIKA TIDAK BISA MELAKUKAN ISI PERJANJIAN DI ATAS.


Apa dia sengaja melipatnya? Aku tidak melihat tulisan itu tadi. Bagaimana ini? Kenapa aku jadi mirip di tumbalkan?


Raut wajah Alisha semakin terlihat aneh, dia berjalan mendekat dan tiba-tiba duduk bersimpuh di depan Abraham.


"Tolong saya Pak. Saya hanya orang miskin. Jika mungkin saya memiliki uang sebanyak itu, mana mungkin saya mencari kerja. Saya itu hanya hidup sebatang kara, kedua orang tua saya meninggal dan tidak memiliki siapapun di sini. Bebaskan saya Pak. Saya mohon." Abraham meraih lengan Alisha dan memaksanya untuk berdiri.


"Lakukan tugasmu, hanya itu jalan satu-satunya agar kamu tidak perlu membayar denda."


"Saya wanita baik-baik. Saya takut jika kerjanya aneh-aneh." Jawab Alisha polos.


"Sudah saya katakan, tidak akan terjadi sesuatu. Mari Nona, Bos sudah menunggu. Saya hanya pesuruh, jika Nona ingin membatalkan perjanjian. Nona bicara langsung pada Bos." Alisha mengangguk sebab dia tidak bisa mundur.


Uang sebanyak itu tidak bisa terjangkau oleh fikirannya bahkan jika dia menjual rumahnya sekalipun.


Abraham mengetuk pintu. Setelah mendapatkan jawaban dia meraih gagang pintu dan memutar kenop.


Alisha di giring masuk, ke ruangan yang tidak mencurigakan. Di sana hanya terdapat meja kerja dan sofa. Seorang lelaki membelakanginya tengah berdiri menatap keluar jendela ruangan tersebut.


"Nona sudah datang Tuan." Abraham berjalan mundur dan keluar meninggalkan Alisha di sana sendirian.


"Eh Pak jangan... Tinggalkan..." Abraham sudah lebih dulu menutup pintu sebelum Alisha menyelesaikan protesannya.


Tidak ada ranjang, tidak ada ranjang jadi semua aman dan memang sebatas perkerjaan...


Kepala Alisha tertunduk, melirik ke arah sepatu berkilap yang mulai melangkah mendekatinya.


Apa maksudnya? Dia tidak berkata namun mendekati langsung seperti ini.


Tepat di hadapan Alisha, langkah sepatu tersebut berhenti. Tarikan nafas berat berhembus seiring dengan detak jantung yang berpacu tidak teratur.


"Apa kabar Babe. Aku mencarimu selama ini."


Babe... Alisha menegakkan kepalanya dan menatap Eldar berdiri di hadapannya. El Eldar...

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2