
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepatnya, sesuai apa yang dikatakan Isabela kalau hari ini Isabela dan ke empat anak kembarnya akan kembali ke negaranya. Mereka berpamitan dengan istrinya Louis dan anggota keluarganya kemudian mereka pergi dengan di antar oleh Louis menuju ke bandara dengan mengendarai mobil.
" Rumah opa sepi tidak ada kalian," ucap Louis dengan wajah sendu.
Walau Louis dulu seorang psychophat tapi jiwa psychophat nya sudah lama mati berkat istri, ke dua anaknya dan keluarga besar daddy Alvonso.
" Opa, kalau mommy tidak sibuk kami akan main ke sini bertemu dengan opa, oma, paman dan bibi," ucap Abrisam putra kembar ke dua.
" Iya opa, kami akan bermain ke sini," ucap Anindita putri kembar ke empat.
" Benar ya kalian datang ke sini?" tanya Louis yang sayang dengan ke empat bocah lucu dan imut.
" Iya opa jadi opa jangan sedih ya?" ucap Abiyoga putra kembar pertama
" Opa kalau sedih, aku ada permen," ucap Anindya polos putri kembar ke dua
Louis hanya tersenyum walau dalam hatinya ingin tertawa melihat kepolosan Anindya begitu pula dengan Isabela hingga tidak terasa mereka sudah sampai di bandara.
Tiga jam kemudian mereka sudah sampai di negara asal Isabela dan mereka sedang menunggu kedatangan Mikael kakak kembarnya bersama istrinya yang akan menjemput mereka.
" Sayang, sambil menunggu paman dan tante kita makan ke restoran dulu ya," ucap Isabela
" Memang kenapa mom?" tanya Abiyoga.
" Kata paman jalanan nya macet jadi kita makan dulu," jawab Isabela.
" Baik mom," jawab mereka serempak.
" Mommy, aku ingin pi pis" ucap Anindita tiba - tiba.
" Tapi aku ingin makan es krim," ucap Anindya
" Ya sudah gini saja kalian bertiga mommy antar ke restoran sekalian pesan makanan setelah itu mommy akan antar Anindita," ucap Isabela.
" Baik mom," jawab mereka serempak.
Mereka pun pergi ke restoran dan duduk dekat pojok jendela sehingga bisa melihat jalan raya namun sayang ketika Isabela ingin memesan makanan ternyata antriannya lumayan panjang membuat Isabela menatap ke empat anak kembarnya.
__ADS_1
" Sayang, yang antri panjang apa kita pindah ke restoran?" tanya Isabela.
" Tidak mau mom, kita makan di sini saja," jawab mereka serempak.
" Tapi Anindya bagaimana?" tanya Isabela.
" Kami bertiga tunggu di sini saja mom sambil menunggu mommy dan Anindya," ucap Abiyoga.
" Mommy, pengen pi pis," ucap Anindya
" Kita antar Anindya ke kamar mandi yuk? Setelah itu kita ke sini lagi," bujuk Isabela.
" Tidak mau mommy Anindita ingin duduk di sini, tidak mau ke kamar mandi bau," ucap Anindita yang suka kebersihan seperti daddy Paulus ayah kandung mereka berempat.
" Kamar mandinya ngga bau sayang," bujuk Isabela.
" Pokoknya tidak mau," jawab Anindita karena dirinya pernah pergi ke toilet umum ternyata tercium bau aroma tidak sedap.
Isabela menghembuskan nafasnya dengan perlahan dirinya sungguh di lema antara di tinggal takut ke tiga anak kembarnya di culik tapi jika tetap di situ kasihan Anindya yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil.
" Iya mom," jawab ke tiganya dengan serempak
Isabela menggendong Anindya kemudian dengan langkah cepat menuju ke arah toilet agar lekas selesai dan menemui ke tiga anak kembarnya bersamaan kedatangan ke tiga pemuda tampan masuk ke dalam restoran tersebut.
Manager restoran yang melihat kedatangan ke tiga pemuda tampan langsung menyambut kedatangan mereka siapa lagi kalau bukan Paulus, Paskalis dan Patrick.
Manager memberikan kode ke arah pelayan untuk menyuruh orang - orang yang sudah selesai makan namun masih betah duduk sambil mengobrol di suruh keluar dari restoran tersebut.
Hal itu membuat mereka bersungut - sungut dalam hati tanpa berani membantah karena mereka takut perusahaan mereka hanya akan tinggal nama.
Setelah mereka pergi para pelayan membersihkan bekas sisa makanan mereka dan membawa piring dan gelas ke cucian piring hingga meja menjadi bersih.
" Tuan - tuan silahkan duduk dan kami akan menyiapkan pesanan tuan," ucap manager tersebut.
" Baik paman dan tolong siapkan es krim ukuran jumbo untuk kakakku," ucap Patrick yang tahu kesukaan kakaknya.
" Baik, kami akan menyiapkannya," ucap manager tersebut.
__ADS_1
Paulus, Paskalis dan Patrick menatap ke sekeliling restoran untuk mencari tempat duduk hingga mata Paskalis membulat dengan sempurna karena ada anak kecil perempuan sangat mirip dengan mereka dan dua anak kecil yang sangat mirip dengan Isabela.
" Kak, wajah anak perempuan kecil itu kok mirip dengan kita dan dua anak kecil laki - laki mirip kak Isabela?" tanya Paskalis sambil menunjuk ke tiga anak kecil tersebut membuat Paulus menatap ke arah mereka.
" Di dunia ini banyak yang mirip, aku lapar kak kita cari tempat duduk saja," ucap Patrick yang tidak perduli dengan sekelilingnya.
Karena Patrick sering melihat banyak orang kembar tapi belum tentu ada hubungan saudara.
" Kita duduk di sana saja," ucap Paulus sambil menunjuk ke arah meja yang dekat dengan ke tiga anak kecil tersebut entah kenapa hatinya ingin dekat dengan ke tiga anak kembar yang lucu dan imut.
" Orang tuanya kemana sih tega banget ninggalin mereka," Omel Paulus sambil berjalan ke arah meja dengan diikuti oleh ke dua adiknya.
Paulus belum menyadari kalau pertemuan dengan ke tiga anak kecil itu adalah anak kandungnya walau dalam hatinya ingin sekali memeluk ke tiga anak kecil tersebut tapi berusaha untuk ditepisnya.
Hingga mereka duduk di kursi yang tidak begitu jauh dari ke tiga anak kecil tersebut dan entah kenapa Paulus duduk berhadapan dengan Anindita sambil saling menatap satu sama lain.
" Kakak, kok wajah paman mirip aku ya?" tanya Anindita.
" Di dunia ini banyak yang mirip," ucap Abiyoga.
" Mommy kok lama, akukan pengen makan es krim," ucap Anindita dengan wajah di tekuk.
" Sabar ya dek, kan kamar mandinya jauh," ucap Abrisam.
Tidak berapa lama sepasang suami istri mendekati ke tiga anak kecil sambil membawa berbagai cemilan seperti permen, es krim, donat dan cemilan yang lainnya.
" Hallo sayang," panggil wanita itu.
" Nyonya siapa?" tanya Abiyoga sambil menatap sepasang suami istri dari atas hingga ke bawah dengan penuh curiga.
" Kok nyonya, panggil tante," jawab wanita itu sambil duduk di sebelah Anindita.
" Sayang, mau es krim tidak?" tanya wanita itu sambil mengeluarkan es krim.
" Tidak," jawab Anindita walau sebenarnya dirinya ingin sekali menerimanya namun pesan Isabela membuat Anindita menahannya.
" Maaf paman dan tante lebih baik paman dan tante pergi dari sini," usir Abiyoga yang merasa sepasang suami istri itu adalah penculik anak.
__ADS_1