
Tidak berapa lama pintu ruang operasi terbuka tampak dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya sedangkan keluarga besar daddy Alvonso dan daddy Paulinus berjalan ke arah dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan istri dan ke empat anakku dok?" tanya Paulus dengan nada kuatir
" Kondisi nyonya kritis dan mengalami koma karena tubuhnya dijadikan sebagai tameng untuk ke empat anaknya dan akan dipindahkan ke ruang ICU sedangkan ke empat anak tuan mengalami memar pada tubuhnya dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter tersebut.
Tubuh Paulus melemah ketika mengetahui istri yang sangat di cintai nya dalam kondisi kritis dan mengalami koma untunglah daddy Paulinus berada di belakangnya dan menahannya agar tidak terjatuh.
" Terima kasih dok atas informasinya," jawab mommy Paulina.
" Sama - sama nyonya dan maaf saya ingin mengecek kondisi pasien lainnya," ucap dokter tersebut.
" Silahkan dok," jawab mereka serempak
Dokter itu pun menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan mereka dan tidak berapa lama pintu ruang operasi terbuka dua perawat masing - masing mendorong brangkar, brangkar pertama menuju ke ruang ICU dan brangkar ke dua, ke tiga dan ke empat menuju ke ruang perawatan.
Paulus, mommy Paulina dan beberapa anggota besar menuju ke ruang ICU dan mereka bergantian melihat kondisi Isabela yang masih setia memejamkan ke dua matanya sedangkan yang lainnya menuju ke ruang perawatan.
Separuh hati Paulus seperti hilang karena melihat istri yang sangat dicintainya seluruh tubuhnya di balut dengan perban hanya menyisakan mulut dan sepasang mata dan alat pendukung lainnya agar Isabela bertahan untuk hidup di tambah banyaknya selang yang menempel di tubuh dan ke dua tangan Isabela.
Paulus yang tidak tega menyentuh tangan Isabela karena di kiri selang untuk infus dan tangan kanan Isabela selang untuk darah.
Paulus hanya bisa berdiri dengan tubuh bergetar sambil mengatupkan ke dua tangannya di dadanya dengan deraian air matanya dirinya tidak perduli dikatakan cengeng oleh orang lain sedangkan mommy Paulina duduk di kursi samping ranjang Isabela.
" Sayang, maafkan aku seandainya saja aku libur satu hari hal ini tidak akan terjadi," ucap Paulus dengan nada lirih penuh rasa bersalah.
" Ini bukan salahmu, ini sudah takdir dan kita tidak bisa melawan takdir," ucap mommy Paulina sambil mengusap bahu putranya yang tubuhnya terguncang dengan hebat.
" Mommy, aku tidak sanggup kehilangan Isabela hidupku akan hancur jika Isabela pergi dari hidupku," ucap Paulus sambil menatap mata istrinya yang masih terpejam.
" Doakan saja agar Isabela segera sadar dan bisa berkumpul kembali dengan kita," ucap mommy Paulina.
" Sekarang kamu tengoklah ke empat anak kalian," sambung mommy Paulina.
" Tapi mom..." ucapan Paulus terpotong oleh mommy Paulina
" Biar mommy yang menjaga Isabela, kamu tengoklah ke empat anak kalian," ucap mommy Paulina
" Baik mom," jawab Paulus patuh karena bagaimanapun dirinya juga kuatir dengan ke empat buah hatinya.
Paulus berjalan ke luar dari ruangan ICU kemudian berjalan ke arah ruang perawatan yang jaraknya tidak begitu jauh. Paulus melihat keluarga istrinya, daddy Paulinus dan ke dua adik kembarnya sedang menunggu ke empat anak kembarnya masih berbaring dan memejamkan matanya.
" Ke empat anakku belum sadar?" tanya Paulus
" Belum," jawab daddy Paulinus.
Selesai Paulus berbicara bersamaan jari - jari mungil milik Abiyoga, Abrisam, Anindya dan Anindita mulai bergerak dan berlanjut perlahan membuka matanya kemudian menatap ke sekeliling ruangan.
" Daddy," panggil ke empat anak kembarnya dengan nada lirih
" Iya sayang, apakah ada yang sakit?" tanya Paulus sambil membelai wajah Abiyoga karena ke tiga anak kembarnya bersama keluarganya
" Badanku sakit dad," ucap Abiyoga dengan nada lirih.
" Maafkan daddy sayang karena tidak bisa menjaga kalian semuanya," ucap Paulus merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi keluarganya.
" Tidak apa - apa dad, mommy mana dad?' tanya Abiyoga sambil melihat ke arah sekeliling.
__ADS_1
" Mommy ada di ruangan lain bersama oma," jawab Paulus
" Daddy," panggil Abrisam, Anindya dan Anindita serempak
" Ada apa sayang," jawab Paulus sambil berjalan ke arah samping sambil mengusap Abrisam kemudian berlanjut ke Anindya dan Anindita.
" Daddy, kami ingin melihat mommy," ucap Abrisam, Anindya dan Anindita serempak
" Mommy.." ucap Paulus menggantungkan kalimatnya kemudian menatap ke arah mertuanya untuk meminta bantuan
" Mommy lagi tidur sayang nanti kalau mommy bangun baru bisa menengok kalian," ucap mami Elisabeth.
" Sekarang kalian tidurlah biar cepat sembuh," sambung Paulus
" Baik daddy," jawab ke empatnya dengan serempak.
" Daddy temani kami tidur ya," mohon Anindita
" Iya dad," jawab ke tiga anak kembar lainnya.
" Baik daddy akan menemani kalian semuanya," jawab Paulus.
Satu persatu pergi meninggalkan ruangan tersebut agar ke empat anak kembar Paulus dan Isabela bisa tertidur dengan pulas begitu pula dengan ke dua mertuanya, mereka akan pergi untuk melihat kondisi anak / ponakan / cucu yang bernama Isabela.
Paulus memasangkan selimut untuk ke empat anak kembarnya secara bergantian kemudian duduk di tengah - tengah antara Anindya dan Anindita karena ranjang Abiyoga dan Abrisam berada di ujung tembok kanan dan kiri.
Tidak membutuhkan waktu lama ke empat anak kembarnya sudah tertidur dengan pulas nya sedangkan Paulus menatap satu persatu ke empat anak kembarnya sambil berjanji dalam hatinya untuk lebih memilih keluarga dari pada pekerjaan karena harta bisa di cari lagi tapi keluarga tidak bisa di cari lagi terlebih ketika sudah merasa nyaman bersama keluarganya.
( " Sayang, maaf aku tidak bisa menjagamu dan ke empat anak kita... Aku berjanji untuk lebih menomor satukan kalian dan semoga sayang cepat sadar agar kita dapat berkumpul kembali," ucap Paulus dalam hati ).
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Selamat membaca ...
****************
Deva yang melihat lelehan bening di pelupuk mata Davina, langsung tersenyum smirk, dan semakin mendekatkan dirinya, pada wanita yang meringsut ke pojok pintu mobil.
“Apa yang akan kau lakukan! Cepat lepaskan aku! Aku tidak tahu apapun!” bentak Davin yang berusaha untuk berontak dan mendorong tubuh kekar milik Deva.
Plakk!
Deva menampar pipi mulus milik Davina dengan sangat kasar, hingga wanita itu meringis sambil memegangi pipi dan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Ahss! Desis Davina sambil menatap tajam ke arah Deva.
“Kau tidak pantas menatapku seperti itu. Sebaiknya layani aku secepatnya,” geram Deva pada Davina, yang berani menatap tajam ke arah dirinya.
Srekk! Srekk!
Deva merobek pakaian atas milik Davina, membuat wanita ketakutan dan menyilangkan kedua tangannya, menutupi gunung himalaya yang hampir longsor di terjang topan.
“Hentikan! Aku mohon hentikan!” teriak Davina histeris, ia tidak ingin lebih hancur lagi saat pria yang ada di hadapannya menghancurkan hidupnya.
“Aku Deva, tidak akan pernah melepaskan mangsaku dengan mudah,” desis Deva sambil terus menjamah tubuh Davina.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama lagi, Deva akhirnya dapat menjelajahi gunung himalaya indah tersebut tanpa hambatan, meskipun terkadang banyak rintangan, tetapi Deva bisa menyingkirkannya dengan sangat mudah. Tak hanya gunung himalaya, tapi juga hutan belantara yang terdapat danau yang dalam, sedalam Palung Mariana.
Deva yang bergerak cepat, sudah bercucur keringat kepuasan. Dengan tersenyum penuh kemenangan ia layangkan pada seorang wanita yang berada dalam kungkunngannya.
Deva menatap Davina dengan tatapan mengejek. Wanita itu hanya meringis kesakitan. Tak ada nikmat yang Davina rasakan, karena Deva melakukannya dengan sangat kasar dan juga kekerasan. Davina tak lagi memikirkan hidupnya yang sudah hancur, oleh pria yang merupakan kakak dari temannya sendiri.
Davina hanya ingin hal ini cepat berlalu dan ingin segera menyelesaikannya. Davina sungguh muak melihat wajah Deva yang terlihat begitu menjijikan, bahkan pria itu sangat menikmati permainannya, sampai mengeluarkan suara yang membuat Davina benci pada tubuhnya sendiri.
“Kau sangat nikmat,” ucap Deva yang terus mengayunkan pinggulnya dengan cepat, sambil mengeluarkan suara yang terdengar sangat menjijikan di telinga Davina. Namun, mendengar hal itu, membuat Davina memalingkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Kini bukan hanya hati Davina yang hancur, tapi tubuhnya juga sudah ternodai oleh pria yang tak punya hati seperti Deva.
‘Aku bersumpah pada diriku sendiri, akan membalaskan rasa sakit ini padamu, Dev. Aku bersumpah tidak akan terjatuh lebih dalam pada pria iblis seperti dirimu, Deva,’ batin Davina sambil memejamkan matanya. Kini ia benar-benar merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, cara Deva yang kasar, membuat Davina merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
“Kau sangat sempit,” ucap Deva yang kini mulai mengayunkan pinggulnya secara perlahan. Dapat dilihat dari raut wajah Deva, yang sangat menikmati permainan itu.
"Sakit, tolong lepaskan aku. Aku mohon lepaskan,” ringis Davina sambil terisak saat Deva memulai dengan kasar kembali.
Plakk! Plakk!
Deva memukul balon raksasa yang di belakang hutang belantara itu dengan sangat keras, membuat Davina meringis sakit dan langsung diam karena ketakutan.
“Jika kau masih banyak bicara, aku tidak akan segan melakukannya dengan lebih kasar daripada ini,” ucap Deva memperingati tanpa menghentikan ayunannya.
Deva sudah sampai pada puncak titik kenikmatannya, dan mengeluarkan bisa ular cobra miliknya di dalam sana.
“Cih! ternyata kau masih gadis. Tapi bagus juga, karena aku tidak memakai bekas orang lain,” ucap Deva berdecih. Pria itu langsung memakai kembali pakaiannya, kecuali jaket hitam miliknya.
Davina bangkit duduk dan memakai kembali segitiga bermuda nya, tapi ia tidak bisa menutupi kacamata yang terpampang jelas di depan sana. Apalagi isi dari dalam kacamata itu hampir menyembul keluar karena besar dan sintal. Melihat hal itu saja, membuat Deva ingin kembali menyerang wanita itu.
Namun, Deva segera melemparkan jaket hitam yang ia pegang. Hari ini ia harus segera membereskan kekacauan yang telah ia lakukan, sebelum polisi mencium jejak dari perbuatannya pada keluarga Emery.
“Pakai jaket ini, karena aku tidak ingin melihat tubuhmu yang sangat menjijikan itu,” ucap Deva sambil melirik Davina dengan tatapan dinginnya. Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya Davina segera memakai jaket milik Deva, untuk menutupi tubuhnya.
Tak berselang lama, Galen sang asisten datang dan memasuki mobil. Seolah pria itu tahu, bahwa permainan Deva sudah selesai.
“Apa kau sudah selesai dengan tugasmu?” tanya Deva dengan dingin. Rasanya suasana itu terasa mencekam.
“Sudah Bos, saya sudah membereskan semua mayat keluarga Emery dan para pembantunya,” jawab Galen tegas.
Mendengar hal itu, membuat Davina menggelengkan kepala seolah tak percaya, dengan apa yang ia dengan saat ini. Keluarga yang sangat ia sayangi telah tiada semuanya. Hingga lelehan bening mengalir deras tak bisa ia bendung. Menggeleng dan terisak, kini Davina mulai berontak sambil teriak histeris.
“Dev, apa yang kalian lakukan pada keluargaku! Apa! Cepat katakan padaku, di mana letak kesalahanku, hingga kau membunuh orang yang tak bersalah! Cepat katakan padaku!” teriak Davina histeris, sambil menggoyangkan tubuh Deva dengan kasar, bahkan wanita itu memukuli Deva secara membuta, meskipun hal itu tak berarti apa-apa bagi Deva.
Deva yang sudah tak tahan dengan sikap Davina, langsung mencekik wanita itu hinggan wajahnya memerah.
“Kau adalah wanita yang tidak tahu malu, bahkan kau mempertanyakan apa kesalahan mu. Baiklah, akan aku beritahu, apa kesalahan mu. Kau adalah penyebab kematian Erika, kau sudah mengambil kehidupanku. Sekarang, aku sudah membalaskan dendam ku, yaitu mengambil seluruh kehidupanmu,” ucap Deva menatap Davina dengan tatapan tajam, sambil menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Davina yang mendengar hal itu sangat terkejut, sambil berusaha menggelengkan kepalanya tanda ia mengelak. Bahkan, ia juga merasa terkejut dengan kematian temannya, Erika. Apalagi wanita itu menyangkutkan dirinya sebagai penyebab rasa sakitnya.
Sungguh, Davina tidak tahu apapun tentang hal ini. Ingin ia mengelak semua ucapan Deva, tapi ia tidak bisa melakukannya. Tangan kekar milik Deva, yang melingkar di lehernya, semakin kencang dan membuat ia sulit untuk bernapas.
‘Erika, sekarang rasa sakit mu akan kakak bayarkan. Kakak akan melakukan apapun, untuk membalaskan semua derita yang selama ini kamu rasakan,’ batin Deva yang kembali merasakan sakit saat kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
Ya, Deva dan Erika adalah anak yatim piatu. Mereka terlahir dari keluarga miskin, hingga sampai saat kedua orang tuanya sakit karena tidak bisa berobat, membuat Deva semakin bertekad untuk mendapatkan uang dengan cara apapun.
Deva, berjanji akan menjaga dan melakukan apapun untuk adiknya, Erika. Bahkan ia sampai rela memasuki dunia bawah dan membangun organisasi mafia terkuat sindikat obat terlarang dan juga senjata ilegal.
__ADS_1
****************
Terima kasih.