Wanita Kesayangan Presdir.

Wanita Kesayangan Presdir.
Kok tidak ada nama ayahnya?


__ADS_3

" Anak - anak jangan teriak malu di lihat orang," peringat Isabela


" Maaf mom," jawab Abiyoga, Abrisam dan Anindita serempak.


Daddy Paulinus, mommy Paulina,Paulus, Paskalis dan Patrick yang mendengar 3 teriakan anak kecil memanggil sebutan daddy membuatĀ  mereka serempak memalingkan wajahnya dan matanya membulat sempurna karena melihat dua gadis kecil yang sangat mirip dengan ke empat pria tampan tersebut terlebih ke dua orang tuanya yang baru pertama kali melihatnya sangat terkejut.


" Daddy, itu anak - anakku," ucap Paulus.


Paulus berusaha menajamkan matanya untuk melihat siapa yang mengendarai mobil tersebut sedangkan Isabela yang melihat lampu berubah warna hijau langsung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar lekas sampai.


" Kejar mobilnya jangan sampai ketinggalan," ucap Paulus.


" Baik kak," jawab Patrick


Patrick juga menambah kecepatan namun sayang ketika hampir terkejar datang kereta api membuat Patrick menghentikan mobilnya membuat Paulus mengusap wajahnya dengan kasar.


" Padahal sedikit lagi ketemu," ucap Paulus.


" Mereka cucu - cucuku, sangat tampan dan cantik," ucap mommy Paulina.

__ADS_1


" Aku tidak menyangka sekarang sudah menjadi opa," ucap daddy Paulinus.


" Iya dad, mommy tidak menyangka sudah menjadi oma," sambung mommy Paulina.


" Sabar ya kak, semoga kita ketemu lagi dengan mereka," ucap Paskalis.


" Kalau sudah ketemu kakak tidak akan melepaskannya," ucap Paulus.


" Iya kak," jawab Paskalis.


" Daddy dan mommy juga membantumu," sambung daddy Paulinus yang tidak ingin kehilangan cucu kembarnya.


Setelah pintu palang kereta api terbuka Patrick kembali mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah milik mereka dan berharap mereka bertemu kembali di sekolah tersebut.


" Mommy, aku mau main ayunan," pinta Anindita.


" Aku juga mom," sambung Anindya.


" Kalau begitu Abrisam dan Abiyoga temani ke dua adikmu ya? mommy mau daftar sekolah dulu," ucap Isabela.

__ADS_1


" Baik mom," jawab Abrisam dan Abiyoga serempak


Ke empat anak kecil tersebut bermain yang disediakan di sekolah sedangkan Isabela berjalan ke ruang pendaftaran bersama ibu - ibu lainnya. Isabela mengisi empat formulir pendaftaran setelah selesai diberikan ke bagian penerimaan murid baru atau di kenal dengan Tata Usaha atau TU.


" Maaf bu, ini kok tidak ada nama ayahnya?" tanya bagian administrasi.


" Apakah bermasalah?" tanya Isabela menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


" Tidak bu, maaf kalau boleh tahu kenapa tidak di tulis? walau sudah meninggal ataupun masih hidup," ucap bagian administrasi.


" Kalau merasa keberatan saya tidak akan mendaftarkan sekolah anak saya di sini," ucap Isabela sambil menahan rasa malu dan amarah sekaligus dalam waktu bersamaan karena dirinya menjadi pusat perhatiaan orang.


" Saya tidak merasa keberatan, kenapa nada bicara ibu kurang enak di dengar ya?" tanya bagian administrasi dengan wajah sinis.


" Lebih baik tidak usah di terima bu dari pada nanti sekolah ini jadi sial," ucap salah satu ibu tersebut.


" Iya benar," jawab mereka serempak


Tanpa banyak bicara Isabela langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut dan terdengar suara - suara hinaan yang dilontarkan untuk dirinya membuat mata Isabela berkaca - kaca tapi dirinya bertahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


Isabela menyusul ke empat anak kembarnya dan matanya membulat sempurna melihat ke empat anak kembarnya memukul 4 anak kecil yang seumuran dengan mereka hingga 4 orang orang tua mereka datang dan sepertinya memaki ke empat anak kembarnya karena sambil menunjuk - nunjuk ke wajah Abrisam membuat Isabela berlari ke arah mereka.


" Ada apa ini?" tanya Isabela sambil mengatur nafas dan menarik ke empat anak kembarnya ke belakang.


__ADS_2