Wanita Kesayangan Presdir.

Wanita Kesayangan Presdir.
Daddy


__ADS_3

" Pikir saja sendiri," ucap Abiyoga dengan nada ketus.


" Sayang, tidak sopan bicara dengan orang yang lebih tua." ucap Katarina dengan nada lembut.


" Habis tante kami sangat kesal dengan orang yang tidak mengakui kami sebagai anak kandungnya," jawab Abiyoga dengan wajah di tekuk.


" Kenapa kalian yakin kalau paman itu daddy kalian?" tanya Katarina.


" Kami yakin kalau paman itu daddy kami," jawab Abrisam dengan nada yakin.


" Tante kita pulang saja, daddy tidak sayang sama kita," ucap Anindita sambil menatap tajam ke arah Paulus.


Paulus menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan entah kenapa hatinya kembali sakit mendengar percakapan ke tiga anak imut tersebut.


" Maafkan daddy, bolehkah daddy memeluk kalian?" tanya Paulus akhirnya sambil berlutut dan merentangkan ke dua tangannya dengan tatapan sendu.


" Tante turun," ucap Anindita


Katarina menurunkan Anindita, Anindita langsung berlari menghampiri Paulus begitu pula Abiyoga dan Abrisam kemudian memeluk Paulus membuat Katarina menepuk keningnya dengan sifat keras kepala ke tiga ponakannya.


Grep


" Hiks... Hiks... daddy... Anindita kangen sama daddy," ucap Anindita sambil terisak.


" Aku juga dad," jawab Abiyoga dan Abrisam.

__ADS_1


" Daddy juga kangen dengan kalian," jawab Paulus tanpa sadar dan membalas pelukan ke tiga anak kecil tersebut dan entah kenapa hatinya menghangat ketika memeluk mereka.


" Daddy, kita pulang yuk, pasti Anindya senang daddy datang," Ucap Abiyoga sambil melepaskan pelukannya begitu pula dengan mereka termasuk Paulus.


" Anindya?" tanya Paulus mengulangi perkataan Abiyoga sambil berdiri.


" Iya dad, kak Anindya," jawab Anindita.


" Maaf sayang, daddy masih bingung dengan nama dan anak yang ke berapa," ucap Paulus


" Daddy, aku anak pertama dan namaku Abiyoga," ucap Abiyoga memperkenalkan dirinya.


" Aku anak ke dua dan namaku Abrisam," sambung Abrisam memperkenalkan dirinya.


" Nomer tiga kak Anindya dan nomer empat aku, namaku Anindita," sambung Anindita memperkenalkan diri.


" Oh ya kenapa kalian merasa yakin kalau kak Paulus adalah daddy kalian?" tanya Paskalis penasaran.


" Hubungan darah antara ayah dan anak tidak dapat dipisahkan karena itulah ikatan batin kami dengan daddy sangat kuat," jawab Abiyoga.


" Bukankah wajah kami sama?" tanya Patrick.


" Memang benar tapi kami merasakan kalau paman berdua adalah paman kami bukan daddy kami," ucap Abrisam.


" Kalian makan apa sih?" tanya Katarina dengan nada bingung.

__ADS_1


" Maksud tante?" tanya ke tiganya serempak.


" Cara kalian bicara mirip orang tua tidak seperti anak kecil pada umumnya," ucap Katarina.


" Kemungkinan besar kami menuruni dari daddy," jawab Abrisam.


" Kok daddy?" tanya Paulus dengan nada bingung.


" Daddy pikir saja sendiri," ucap Anindita.


" Cara bicara Anindita mirip kak Paulus," celetuk Patrick sambil menahan tawa.


" Benar katamu dek," ucap Paskalis yang ikut menahan tawa.


Paulus dan Anindita serempak menatap tajam ke arah Paskalis dan Patrick membuat mereka berdua menelan salivanya karena baru kali ini ada anak kecil berani menatapnya dengan tatapan tajam.


" Maaf, kami pulang dulu karena ibunya menunggu mereka bertiga," ucap Katarina.


" Aku ingin mengatar kalian," ucap Paulus yang tidak rela.


" Maaf sekarang belum bisa," tolak Katarina dengan nada halus untuk menolaknya.


" Kenapa tidak bisa?" tanya Paulus dengan nada kecewa.


" Karena..." ucapan Katarina terpotong oleh Anindita

__ADS_1


" Tante aku ikut daddy dan ke tiga paman ya?" pinta Anindita sambil menampilkan puppy eyesnya begitu pula dengan ke dua kakaknya yang bernama Abiyoga dan Abrisam.


__ADS_2