
" Oh anda ya orang tuanya," ucap salah satu ibu itu dengan nada ketus.
" Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu menuding tanganmu ke wajah anakku?" tanya Isabela sambil menahan amarah sekaligus hatinya ingin menjerit tapi berusaha untuk di tahan.
" Anak kembar mu memukul putraku makanya aku menuding tanganku ke wajahnya," ucap wanita tersebut dengan nada ketus.
" Juga memukul putraku sampai babak belur seperti ini," sambung ibu - ibu itu sambil berkacak pinggang.
Isabela berlutut dan menatap ke empat anak kembarnya secara bergantian walau dalam hatinya ingin sekali mematahkan tangan wanita itu karena menuding tangannya ke wajah anaknya tapi dirinya berusaha bersabar karena dirinya tidak ingin ke empat anak kembarnya melihat contoh yang tidak baik.
" Apa benar kalian memukul ke dua anak itu?" tanya Isabela dengan nada lembut.
" Maaf mommy, aku dan Abrisam memukulnya karena mereka berdua mendorong Anindya dan Anindita yang sedang bermain ayunan," ucap Abiyoga.
" Benar mommy, untung kak Abiyoga dan kak Abrisam menolong kami sehingga kami tidak jatuh," ucap Anindita.
" Tapi kenapa di pukul? Kan bisa di kasih tahu," ucap Isabela dengan nada masih lembut.
" Kalau bicara sama anak nakal itu yang keras tidak perlu lembut!!!" bentak ke dua ibu itu.
" Kalian bisa tidak bicara lebih pelan? Kalian orang pendidikan bukan? " tanya Isabela sambil mengangkat kepalanya dan menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam.
" Apa maksudmu? Hah!!!" bentak ke dua ibu itu dengan serempak
" Apa jangan - jangan kalian tidak pernah sekolah maka cara bicara kalian bukan seperti orang pendidikan," ucap Isabela tidak memperdulikan pertanyaan ke dua ibu itu.
" Ada apa ini?" tanya segerombolan ibu - ibu mengerubungi Isabela.
" Oh ini empat anak haram yang tidak mempunyai ayah," hina salah satu ibu tersebut yang baru datang.
" Masa sih bu?" tanya ke dua ibu tersebut.
" Iya benar tadi kami bertemu dan dia mengisi formulir tapi tidak ada nama ayahnya berarti kan anak haram," ucap ibu tersebut dengan wajah sinis.
" Cantik - cantik kok jadi pelakor," celetuk salah satu ibu tersebut.
" Kami punya daddy," ucap ke empatnya dengan serempak.
" Kalau punya mana daddy kalian!!!" teriak mereka serempak
" Cukup!!! Kalian boleh menghinaku tapi jangan pernah menghina ke empat anakku," bentak Isabela dengan mata memerah menahan marah dan sekaligus sedih memikirkan ke empat anaknya.
" Kita usir mereka dari sekolah ini menjadi sial," usul salah satu dari mereka tanpa ada rasa empati sedikitpun.
" Mommy hiks... hiks .... hiks..." ucap ke empat anak kembar tersebut serempak sambil terisak dan sekaligus ketakutan karena bagaimanapun mereka masih anak kecil.
__ADS_1
Isabela memeluk tubuh ke empat putra kembarnya untuk di jadikan tameng agar tidak ada yang menyentuh ke empat anaknya.
" Berhenti!!!!" teriak 3 pria tampan secara serempak dengan suara yang menggelegar.
xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx
" Patrick, kakak masih penasaran coba kamu putar arah siapa tahu kita ketemu mereka," ucap Paulus setelah mereka melewati rel kereta api menuju ke sekolah milik keluarganya.
" Baik kak," jawab Patrick patuh.
Patrick pun memutar arah kemudian mengelilingi jalan raya namun belum juga menemukannya membuat mommy Paulina menyuruhnya untuk langsung ke sekolah milik mereka dan dengan patuh Patrick menuju ke arah sekolah namun baru saja mobil hendak parkir daddy Paulinus dan Paulus melihat ada kerumunan.
" Patrick hentikan mobil daddy mau turun," perintah daddy Paulinus
" Baik dad," jawab Patrick patuh.
Daddy Paulinus membuka pintu mobil dan berjalan dengan langkah cepat di susul Paulus, Paskalis dan mommy Paulina menuju ke arah kerumunan tersebut sedangkan Patrick melajukan mobilnya menuju ke tempat parkiran mobil. Mata mereka membulat sempurna melihat ke empat anak kembar menangis dan seorang wanita memeluk ke empat anak kembarnya untuk dijadikan tamengnya.
" Daddy itu Isabela dan ke empat anakku," ucap Paulus sambil berlari ke arah kerumunan tersebut.
Daddy Paulinus, mommy Paulina dan Paskalis ikut berlari menyusul Paulus dengan menahan amarahnya hingga ke tiga pria tersebut berteriak
xxxxxx Flash Back Off xxxxxxx
" Daddy.... huhuhuhu..." ucap ke empat anak kecil tersebut serempak sambil menangis dan melepaskan pelukannya dan berlari ke arah Paulus
Paulus langsung berlutut dan memeluk ke empat anak kembarnya kemudian mengecupnya secara bergantian kemudian perlahan melepaskan pelukannya.
" Sayang, kalian ikut oma dan paman Paskalis," ucap Paulus sambil berdiri.
" Huhuhu... daddy jangan pergi," ucap ke empat anak kembar tersebut sambil masih menangis.
" Daddy tidak pergi, daddy akan temani mommy kalian bersama opa," ucap Paulus dengan nada lembut.
" Cucu - cucu oma, kalian sama oma dan paman Paskalis ya nanti daddy kalian menyusul kita," bujuk mommy Paulina.
" Baik oma," jawab mereka patuh.
" Daddy, mereka sangat jahat sama mommy dan kami," adu Anindya
" Mereka mengatakan kalau kami anak haram," sambung Anindita.
" Mommy, Paskalis dan Patrick tolong bawa ke empat anakku," ucap Paulus sambil menahan amarahnya.
Tanpa menjawab mommy Paulina menggendong Anindita, Paskalis menggendong Anindya dan Abrisam sedangkan Patrick menggendong Abiyoga, mereka bertiga tahu kalau daddy Paulinus dan Paulus sangat marah ketika mendengar ucapan anak kembarnya begitu pula dengan mereka.
__ADS_1
Paulus berjalan ke arah Isabela dan menariknya agar berdiri kemudian memeluknya. Isabela yang sejak tadi menahan amarah dan kesedihan secara bersamaan tanpa sadar membalas pelukan Paulus dan tidak berapa lama dirinya terisak.
" Hiks... Hiks... Hiks...." isak Isabela
" Sstttttt... jangan menangis karena sudah ada kami yang akan membantumu," ucap Paulus
Paulus mengusap punggung Isabela sedangkan daddy Paulinus mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang setelah beberapa saat kemudian wakil pemilik sekolah datang sambil menundukkan hormat dengan wajah pucat.
" Selamat pagi tuan," sapa wakil pemilik sekolah.
" Mereka yang berada di lapangan ini di larang keras untuk sekolah di sini baik yang mendaftar maupun yang sudah sekolah di sini," perintah daddy Paulinus.
" Baik tuan," jawab wakil pemilik perusahaan dengan patuh.
" Tuan tidak berhak melarang anak - anak kami bersekolah di tempat ini," ucap salah satu wanita yang menggunakan perhiasan seperti toko mas.
" Iya benar," jawab mereka serempak.
Daddy Paulinus dan Paulus menatap wanita itu dengan tajam begitu pula dengan yang lainnya sambil menahan amarahnya.
" Berikan padaku alamat pekerjaan suami mereka, sekarang!!!" perintah daddy Paulinus dengan nada satu oktaf tanpa memperdulikan ucapan mereka.
" Baik tuan," jawab wakil pemilik sekolah.
Wakil pemilik sekolah langsung menghubungi bagian ke tata usaha untuk meminta semua data para siswa baik yang sudah daftar maupun yang sudah masuk sekolah setelah selesai wakil pemilik sekolah tersebut mematikan sambungan komunikasi secara sepihak.
" Tidak perlu menyuruh bagian Tata Usaha untuk mengetahui pekerjaan suamiku, aku akan mengatakan aku Bela dan suamiku Alex berkerja di perusahaan Taylor sebagai manager HRD," ucap Bela
" Oh suamimu kerja di perusahaan Taylor," ucap Isabela sambil tersenyum sinis tanpa melepaskan pelukan Paulus.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
🌹
Terima kasih sudah mampir di ceritaku.
Sambil menunggu lanjutannya, ini ada karya teman ku di jamin pasti ok punya.... bisa mampir dan nikmati untuk para pembaca novel setiaku dengan judul :
Deva Ghazanvar, seorang pria dewasa berusia 30 tahun. Seorang Mafia berdarah dingin, harus membalaskan dendam pada keluarga Darian Emery. Hingga pembantaian pun terjadi, dan hanya menyisakan Putri semata wayang dari keluarga Emery, Davina Emery.
Demi pembalasan dan kepuasannya sendiri, Deva menikahi Davina, membuat wanita itu mati secara perlahan di tangannya.
Bagaimanakah cara Deva, menekan istrinya secara perlahan menuju jurang kematian?
__ADS_1