
" Habis dari rumah paman Max dan tante Dennisa, kamu mau kemana?" tanya papi Dennis.
" Mau ketemu sahabat lama pi, di kafe dekat sekolahku dulu pi," jawab Isabela.
" Kamu sudah mendingan?" tanya papi Dennis..
" Sudah pi, Isabela nitip empat cucu papi ya," pinta Isabela.
" Kamu tenang saja apalagi ke empat cucu papi anteng dan bermain dengan para sepupunya," jawab papi Dennis..
" Terima kasih pi, oh ya papi kenal dengan perusahaan PT. Elang Perkasa?" tanya Isabela.
" PT. Elang Perkasa .... ( menjeda kalimatnya ) ..... oh perusahaan itu sebentar lagi bangkrut," jawab papi Dennis.
" Papi aku bisa minta tolong tidak?" tanya Isabela penuh harap.
" Minta tolong apa?" tanya papi Dennis.
" Tolong beli perusahaan PT. Elang Perkasa dan usahakan semua pegawainya tidak di pecat," pinta Isabela.
" Tidak masalah, asalkan kamu yang memimpin perusahaan," jawab papi Dennis..
" Kalau aku yang memimpin nanti sahabatku tahu siapa aku sebenarnya," ucap Isabela yang enggan identitasnya di ketahui oleh seseorang.
" Sampai kapan kamu sembunyikan identitas mu?" tanya papi Dennis.
__ADS_1
" Suatu saat aku akan mengatakan ke mereka tapi saat ini tidak dulu," jawab Isabela.
" Baiklah, tapi perusahaan itu tetap milikmu dan papi akan cari orang kepercayaan untuk mengurus perusahaan barumu.
" Terima kasih Pi, Isabela berangkat dulu." ucap Isabela.
" Kamu hati - hati di jalan," ucap papi Dennis.
" Iya pi," jawab Isabela.
Isabela mencium tangan papi Dennis, mami Elisabeth. Mikael dan Katarina secara bergantian, Isabela duduk di kursi pengemudi dengan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah kafe.
Singkat cerita kini Isabela sudah sampai di kafe dan bertemu dengan para sahabatnya yang terdiri dari Elisa, Rebecca dan Vincent. Seperti biasa para wanita cipika cipiki sedangkan dengan Vincent hanya berjabat tangan.
" Apa yang terjadi?" tanya Isabela dengan nada terkejut.
" Dua tahun yang lalu Laura berserta keluarganya mengalami kecelakaan waktu menuju ke kota, kami ingin mengabari dirimu tapi ponselmu tidak pernah aktif," jawab Elisa.
" Tapi kenapa sekarang kamu bisa menghubungi Isabela dan mengajak ketemuan?" tanya Vincent
" Habis menelepon Rebecca aku iseng menelepon Isabela dan ternyata nyambung, aku ajak ketemuan saja di tempat biasa," jawab Elisa.
" Oh," jawab Vincent membentuk huruf O
Elisa melambaikan tangannya ke arah pelayan kafe kemudian memesan makanan untuk dirinya dan juga ke tiga sahabatnya.
__ADS_1
" Isabela, kamu tambah cantik," puji Vincent.
" Terima kasih, kak Vincent sudah menikah?" tanya Isabela basa basi.
" Aku kan mau menikah sama kamu saja tidak mau sama wanita lain," jawab Vincent.
" Maafkan aku kak, lupakanlah aku dan carilah wanita yang lebih baik dariku," pinta Isabela.
" Isabela apa maksudmu?" tanya Vincent dengan nada bingung.
" Aku ingin kak Vincent melupakanku dan mencari wanita yang lebih baik dariku," ucap Isabela mengulangi perkataannya.
" Apakah kamu tahu? Aku bertahun - tahun menunggu kabarmu dan dengan sabar aku menantimu tapi apa balasan yang aku dapatkan?" tanya Vincent dengan wajah penuh kecewa.
" Maaf kak aku tidak bisa," jawab Isabela merasa bersalah.
" Apakah kamu sudah menemukan pengganti ku?" tanya Vincent sambil menatap ke arah wajah cantik Isabela.
" Be...." ucapan Isabela terpotong oleh seseorang.
" Sudah dan orang itu adalah aku," jawab pemuda tampan tersebut.
Entah dari mana datangnya pemuda yang sangat tampan tersebut datang dan duduk di sebelah Isabela sambil memeluknya dari arah samping membuat Isabela sangat terkejut begitu pula dengan ke tiga sahabatnya.
" Kamu???" tanya Elisa dan Rebecca serempak menunjuk ke arah pemuda tampan tersebut.
__ADS_1