Wanita Kesayangan Presdir.

Wanita Kesayangan Presdir.
Paskalis dan Elisa


__ADS_3

Mereka pun berjalan di mana Elisa sedang berbaring sedangkan Paulus dengan cepat memakai pakaian selain dingin dirinya juga bertanggung jawab atas keselamatan ke dua sahabat Isabela.


" Tubuhnya sangat dingin," ucap Isabela


" Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rebecca


" Coba kita peluk Elisa sambil menggosok - gosok tangan dan kakinya," usul Isabela sambil mengangkat tubuh Elisa dan dipeluknya sambil menggosok tangan  Elisa sedangkan Rebecca menggosok kaki Elisa.


" Ada apa?" tanya Paulus


" Elisa tidak sadarkan diri dan tubuhnya sangat dingin," jawab Isabela


" Hanya satu cara tapi..." ucap Paulus menggantungkan kalimatnya


" Tapi apa kak?" tanya Isabela dan Rebecca serempak


" Melakukan hubungan suami istri karena jika tidak melakukan hal itu nyawa Rebecca bisa terancam," jawab Paulus


" Apakah tidak ada cara lain?" tanya Isabela


" Bisa, jika ada kayu bakar kita buat api unggun agar udara di ruangan ini menjadi hangat," jawab Paulus


" Siapa yang mau melakukannya? tidak mungkin kak Paulus melakukan itu," ucap Isabela dengan nada cemburu.


" Jika kalian berdua setuju, kakak akan tanyakan ke dua adik kembarku siapa yang mau melakukannya," ucap Paulus sambil membalikkan badannya dan keluar dari ruangan tersebut menuju ke arah kamar sebelahnya.


" Kalau Elisa marah, bagaimana?" tanya Rebecca


" Habis bagaimana lagi nyawa Elisa terancam," ucap Isabela


" Memang benar sih, apalagi udaranya sangat dingin tubuhku terasa membeku," ucap Rebecca


" Sama, makanya setelah ini aku ingin menghangatkan tubuhku bersama suamiku," ucap Isabela


" Aish kamu enak sudah menikah sedangkan aku?" ucap Rebecca


" Kan ada satunya lagi adik ipar ku coba saja dekati apa lagi ke dua adik ipar ku selama ini tidak pernah dekat dengan wanita lain," ucap Isabela

__ADS_1


" Memang kenapa tidak pernah dekat dengan wanita lain?" tanya Rebecca kepo


" Aku tidak tahu," jawab Isabela


" Paskalis dan Patrick, Elisa tidak sadarkan diri dan jalan satu - satunya melakukan hubungan suami istri, apakah di antara kalian bersedia melakukannya?" tanya Paulus


" Maaf kak, kenapa harus melakukan itu?' tanya Paskalis yang merasa keberatan


" Udaranya sangat dingin dan tidak ada waktu untuk berfikir karena nyawa Elisa berada di ujung tanduk," ucap Paulus


Paskalis dan Patrick saling menatap seakan mengatakan siapa yang melakukannya setelah beberapa saat mereka menatap ke arah Elisa yang masih setia memejamkan matanya.


" Kak Paulus, kok Elisa tidak bernafas?" tanya Isabela ketika jari telunjuknya diarahkan ke hidung Elisa


Deg        Deg           Deg            Deg             Deg


Mendengar ucapan Isabela membuat jantung mereka berlima berdetak kencang terlebih Paskalis membuat Paskalis berjalan ke arah ranjang Elisa.


" Aku akan melakukannya kak Paulus, kak Isabela, Paskalis dan Rebecca keluarlah," pinta Paskalis tiba - tiba.


" Patrick dan Rebecca kalian istirahat di kamar sebelah sedangkan kakak bersama Isabela," ucap Paulus sambil menarik tangan istrinya dalam kondisi gelap gulita.


" Kak Paulus kenapa bisa berjalan dengan gelap," tanya Isabela penasaran karena Paulus tidak meraba dinding.


" Kakak dan ke dua adik kakak sudah terbiasa jalan di tempat gelap makanya kami jalan tidak pernah menabrak benda apapun," jawab Paulus sambil masuk ke dalam kamarnya bersama Isabela.


" Kak Patrick bagaimana ini? aku tidak bisa di sini sendirian karena aku sangat takut gelap," ucap Rebecca dengan tubuh gemetar.


" Ya, sudah masuk ke kamar bersamaku," ucap Patrick yang tidak tega dengan Rebecca


" Tapi..." ucapan Rebecca terpotong oleh Patrick


" Terserah mau di sini sendirian silahkan ikut kakak silahkan," jawab Patrick cuek sambil berjalan ke arah kamarnya


Grep


" Kak, aku ikut," ucap Rebecca terpaksa dari pada dirinya ma ti ketakutan sambil memeluk Patrick dari arah samping.

__ADS_1


Patrick membalas pelukan Rebecca dan entah kenapa jantungnya berdetak kencang di tambah adik kecilnya mulai terasa tegang tapi berusaha menghilangkan pikiran mesumnya. Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan Paskalis melepaskan satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya membuat Paulus menggigil kedinginan tapi berusaha di tahannya.


Kini tubuh Paskalis polos tanpa sehelai benangpun kemudian Paskalis melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Elisa hingga kini mereka berdua sama - sama polos tanpa sehelai benangpun. Berbekal dengan menonton film adegan dewasa Paskalis melakukan apa yang ditontonnya hingga di tubuh Elisa banyak totol - totol merah hasil dari karya Paskalis.


Paskalis memasukkan pucuk himalaya ke dalam mulutnya dan tangan kanannya memainkan pucuk himalaya milik Elisa hingga terdengar suara merdu dari mulut Elisa membuat Paskalis menatap ke arah Elisa dan ternyata Elisa masih setia memejamkan matanya. Setelah lama bermain Paskalis menuntun tombak saktinya ke goa yang masih sangat sempit yang belum pernah dimasuki tombak sakti.


Di hentakkan pertama Paskalis gagal namun Paskalis tidak menyerah dan di hentakkan ke dua tombak saktinya berhasil masuk ke dalam goa yang sempit tersebut bersamaan rintihan kesakitan dari mulut Elisa hingga mengeluarkan air mata.


" Maaf, aku terpaksa melakukannya karena aku tidak bisa melihatmu meninggal," ucap Paskalis sambil mendiamkan tombak saktinya di goa milik Elis.


" Aku akan bertanggung jawab untuk menikah denganmu," sambung Paskalis sambil mulai menggoyangkan pinggulnya secara berulang - ulang.


Paskalis yang baru merasakan pertama kalinya membuat Paskalis merem melek karena enak luar biasa setelah setengah jam kemudian keluarlah lahar dari tombak saktinya dan dimasukkan ke dalam rahim Elisa setelah beberapa saat Paskalis menarik tombak saktinya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping dan selanjutnya memeluk tubuh polos Elisa.


" Pantas saja daddy dan kak Paulus suka lama di kamar ternyata melakukan ini," ucap Paskalis sambil menutupi tubuh polosnya dengan menggunakan selimutnya.


Selesai menyelimuti tubuh polos mereka berdua barulah Paskalis memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama Paskalis tidur dengan pulas nya.


Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan Rebecca duduk di ranjang sambil memeluk ke dua lututnya untuk mengurangi udara dingin tapi ke dua tangannya bulu kuduknya berdiri tanda dirinya sangat kedinginan sedangkan Patrick bersikap biasa saja karena dirinya sudah terbiasa.


" Kak Patrick tidak dingin?" tanya Rebecca


" Tidak," jawab Patrick singkat sambil berbaring di ranjang dan memejamkan ke dua matanya.


Grep


Tidak berapa lama ponsel milik Rebecca tiba - tiba ma ti membuat ruangan tersebut gelap gulita membuat Rebecca langsung berbaring di ranjang dan memeluk Patrick.


" Rebecca, jangan peluk aku, aku ini pria normal," ucap Patrick dengan agak kesal


" Aku sangat takut gelap kak apalagi peluk kak Patrick bisa mengurangi rasa dingin," ucap Rebecca yang masih memeluk Patrick.


" Rebecca, jika kamu seperti ini, kakak bisa - bisa memakan mu," ucap Patrick


" Maksud kakak?" tanya Rebecca polos


" Melakukan hubungan suami istri seperti yang di lakukan ke dua kakak kembarku," bisik Patrick berusaha menakuti Rebecca agar Rebecca tidak memeluknya mengingat dirinya pria normal.

__ADS_1


__ADS_2