Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
Rencana


__ADS_3

"Injih Bu RT, tadi nonton Doraemon, gak taunya ketiduran." sahut Shanum polos, wajahnya masih terlihat khas orang bangun tidur.


Setelah berbincang sejenak, para tetangga pamitan pulang, bahkan mereka memberikan sangu pada Shanum, katanya amplop lebaran, anak gadisku terlihat ceria.


Rejeki, kita tidak pernah tau dari mana arahnya.


Alloh maha tau dan maha melihat. Itulah kenapa kita diwajibkan untuk selalu berprasangka baik dengan apa yang telah di tetapkanNYA.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Satu minggu setelah kejadian waktu itu, aku memutuskan untuk membeli motor matic baru sesuai keinginan Shanum. Sedangkan motor lawas milikku, aku pinjamkan pada tetangga sebelah rumahku, kasihan, biar buat Wira wiri, Pak lek Sanu, beliau tinggal hanya berdua dengan ibunya yang terkena stroke. Sehingga tidak bisa pergi bekerja diluar, mereka hanya mengandalkan uang pensiun yang tak seberapa dari almarhum bapaknya pak lek Sanu.


"Buk! Nanti Shanum boleh belajar naik motor baru ya?" tanya putriku dengan wajah berbinar menatap motor yang dia impikan.


"Iya, nak!


Tapi gak boleh pergi jauh jauh sendirian ya. Kalau cuma muter deket deket saja ibu gak keberatan.


Karena Shanum anak gadis, rawan bahaya di luaran sana. Apalagi anak ibu terlihat cantik sekali." sahutku serius sambil menatap putriku dalam. Terlihat Shanum tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tanda dia tidak keberatan dengan apa yang aku katakan.


"Ibuk tenang saja, Shanum pasti akan selalu ingat pesan ibuk. Shanum tau kok, ibuk itu sayang banget sama Shanum, itu kenapa ibuk selalu khawatir dengan Shanum kalau pergi sendirian." sahut anakku cerdasku, dia tau apa yang menjadi pikiran diri ini. Alhamdulillah, anakku sama sekali tidak keberatan dan memahami kecemasan seorang ibu terhadap anak perempuannya.


"Nak! Ini ada uang sepuluh ribuan, kamu bagikan sama anak anak disekitar rumah saja ya, biar berkah!" aku memberikan uang dua ratus ribu dalam bentuk uang pecahan sepuluh ribuan.


Tanpa banyak tanya, Shanum menerima uang itu dan pergi membagikannya pada anak anak yang suka bermain di lapangan tak jauh dari rumah.


Aku berniat akan pergi pergi ke Surabaya untuk menemui atasan mas Danang. Semakin cepat semakin baik. Dan hari ini aku juga sudah memasukkan gugatan cerai ke pengadilan, semoga prosesnya tidak ribet seperti yang aku bayangkan.


"Apa aku minta tolong saja sama mbak Anis, buat titip Shanum sehari saja. Aku akan ke Surabaya besok pagi, setelah urusan selesai akan langsung balik lagi ke Kediri." gumamku lirih, lalu memencet nomor ponsel mbak Anis.


"Asalamualaikum, mbak Anis.


Mbak Anis sudah dirumah?" sapaku mengawali obrolan.


"Waalaikumsallm, bund!


Sudah nih, ada apa ya bunda?" sahut suara lembut wanita cantik di seberang sana.

__ADS_1


"Aku tak kerumah sampeyan saja, mbak.


Gak enak kalau ngomong di hape. Gak papakan, mbak, aku main kerumah mbak Anis?" sahutku sungkan, takut kalau kedatanganku mengganggu jam istirahatnya.


"Gak papa, bund!


Kesini saja, lagian aku dirumah sendirian.


Mas Riko juga belum pulang kerja, anak anak masih di tempat les." sahut mbak Anis terdengar santai.


Aku pun memutuskan untuk mengakhiri obrolan di telpon, lalu menutup pintu dan langsung menuju kerumah mbak Anis.


"Masuk bund, sini!" sambut mbak Anis setelah menjawab salamku.


"Tumben nih, ada apa?


Pasti ada sesuatu yang penting!" tebak mbak Anis, saat aku sudah duduk di sofa empuk miliknya.


"Iya, mbak. Duh jadi gak enak ngomongnya!" sahutku yang mendadak merasa sungkan karena mau merepotkan tetanggaku itu.


"Bilang saja bund, barangkali aku bisa bantu!"


"Owalah gitu. Yasudah gak papa mbak. Shanum juga sudah besar saja, dia itu anaknya juga nurut kalau dibilangin.


Memangnya, bunda Ningsih mau berangkat jam berapa besok?" sahut mbak Anis tanpa ragu.


"Rencananya pagi, setelah mengantar Shanum ke sekolah.


Paling sore sudah kembali lagi kerumah kok, mbak!" sahutku merasa tak enak, tapi mau gimana lagi, gak mungkin aku meninggalkan Shanum tanpa pengawasan dan tak mungkin juga aku mengajaknya ikut ke Surabaya, aku tidak mau, Shanum mendengar apa yang terjadi diantara ibu dan ayahnya.


Setelah urusan Shanum selesai, mbak anis yang tidak keberatan untuk menjaganya.


Aku pergi untuk mencetak foto dan juga percakapan mas Danang denganku. Semua bukti aku kumpulkan untuk menjatuhkan nama suamiku di mata atasannya, biarlah kalau mau hancur, biar hancur sekalian.


"Tunggu saja kehancuran kamu, mas!


Aku yakin, gundikmu itu akan pergi meninggalkan kamu setelah kamu tak punya apa apa. NIkmati saja hidupmu setelah ini dengan baik." batinku puas dengan segala rencana yang sudah tertata di otak ini. Bukannya aku jahat, aku hanya ingin mencari keadilan atas sikap semena mena mereka padaku selama ini. Aku diam bukannya aku menerima semua perlakuan buruk itu, tapi karena aku masih berpikir tentang nasib dan hati putriku. Tapi kini, sudah tidak ada lagi yang aku khawatirkan, Shanum akan hidup aman dan bahagia meski hanya denganku saja.

__ADS_1


Aku akan menjamin kebahagiaan anakku dengan cinta dan uang yang kini aku punya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2