
"Sayang, besok aku harus keluar kota!
Kamu gak papakan aku tinggal dirumah sama anak anak?" mas Hans memeluk tubuhku dari belakang, sudah jadi kebiasaannya saat aku tengah berkutat di dapur, lelaki itu selaku saja memeluk tubuh ini dan mengikuti kemanapun kakiku melangkah.
"Ada pekerjaan, mas?
Berapa hari?" sahutku santai, sambil tangan ini terus bergerak mencuci piring piring kotor yang ada di wastafel.
"Dua hari saja, insyaallah.
Mau ngajakin kamu, kepikiran sama Varo, dia masih terlalu kecil untuk diajak bepergian jauh!" sahutnya dengan janggut di tempelkan di bahu ini.
"Gak papa mas, tenang saja, biar anak anak dirumah sama aku. Lagian kan sekarang sudah ada Atik yang bantu beres beres dirumah ini." sahutku masih dengan nada santai.
"Iya sih, tapi rasanya berat ninggalin kamu dirumah sendirian." sahutnya yang terlihat menghembuskan nafasnya kasar.
"Jangan gitu ah, kan perginya cuma dua hari saja.
Mau disiapin apa saja, mas? Biar aku siapkan!" aku membalikkan tubuh dan kamipun berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa inci saja.
"Gak usah di siapin apa apa, cukup minta ces saja, biar nanti gak lowbat disana, karena harus menanggung rindu dua hari gak melihat istriku." sahutnya genit, dan akupun tertawa mendengar celoteh mesum suamiku.
"Kok ketawa sih, serius aku!" sahutnya dongkol, makin membuatku gemas saja.
"Iya, iya, nanti di bantu ngecas ya, pak Hans yang rupawan dan baik hati!" sahutku terkekeh, membuat suamiku ikut tergelak mendengar ucapanku.
"Aku mau lihat anak anak dulu ya, mas!
Tadi Varo sama Shanum ada dikamar." sahutku yang langsung meninggalkan suamiku dengan senyuman hangatnya.
"Adek tidur, nak?" tanyaku pada anak gadis yang terlihat memeluk sayang adiknya di atas kasur besar miliknya.
"Iya, buk!
Sudah dari tadi tidurnya, habis minum susu terus tidur!" sahut Shanum dengan wajah yang sudah mengantuk.
"Shanum mau tidur?
Biar adek, ibu pindahin ke kamarnya ibuk!
__ADS_1
Shanum istirahat gih, besok harus ke sekolah." aku menatap bangga pada putriku , di usianya yang mulai beranjak dewasa, dia begitu perhatian dan perduli pada orang orang disekitarnya. Bahkan tidak pernah segan membantuku membersihkan rumah.
"Adek biar tidur disini saja sama Shanum, ibuk siapin saja susunya, biar nanti Shanum tinggal kasihkan ke adek pas dia kebangun!" sahut anak gadisku, aku pun mengerutkan wajah, tak percaya kalau Shanum mau menjaga adiknya semalaman.
"Repot loh sayang, kamu nanti tidurnya gak bisa nyenyak, besok kan sekolah. Ibuk gak mau , Shanum di kelas ngantuk!" sahutku memberi pengertian, gak tega kalau harus membiarkan Varo tidur dengan kakaknya, karena kebiasaan Varo yang sering bangun di tengah malam, membuatku gak tega pada anak perempuan ku itu.
"Yasudah, tapi nanti kalau Shanum libur sekolahnya, boleh kan, adek tidur sama kakak?" sahutnya dengan ekspresi kecewa.
"Iya, boleh!
Tapi sekarang biar adek sama ibuk dulu tidurnya.
Shanum tidur gih, biar besok pagi fresh dan belajarnya jadi semangat." sahutku dengan mengusap lembut rambut putriku.
"Sudah tidur?" tiba tiba mas Hans muncul di depan pintu saat aku keluar dari kamar Shanum.
"Iya, Shanum yang nidurin!" sahutku apa adanya sambil membawa Abian dalam gendongan menuju kamar pribadi kami dan mas Hans mengikuti langkahku di belakang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Kamu berangkat sama siapa, mas?" tanyaku saat mengantar suamiku berangkat kerja di depan rumah.
Ada apa?" sahutnya dengan senyuman mengembang, wajahnya terlihat sangat tampan, bahkan rambutnya masih basah sehabis keramas tadi.
"Oh kirain, sama sekertaris kamu yang ganjen itu?" sahutku dengan memperlihatkan wajah tak sukaku.
"Enggaklah, aku justru takut pergi sama dia. Makanya aku ajak Roni buat menemani. Lagian, Roni lebih bisa diandalkan.
Dan aku juga berencana mau mengganti posisi sekertaris dengan karyawan laki laki saja. Agar istriku tidak cemas karena cemburu." sahutnya sambil terkekeh. Inilah yang aku suka dari suamiku, dia selalu bisa memahami perasaan tidak nyamanku.
"Alhamdulillah, aku senang dengernya, semoga cepat diganti. Biar gak meresahkan!" sahutku ketus. Membuat mas Hans kembali terkekeh.
Semoga saja, rumah tanggaku selalu dilindungi dari perempuan perempuan perusak yang hanya ingin memanfaatkan harta suamiku saja. Kegagalan rumah tanggaku dengan mas Danang, cukup untuk aku jadikan pelajaran dan lebih hati hati. Berharap hubunganku dengan mas Hans bisa bertahan hingga kami sama sama menua.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
__ADS_1
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1