
"Ini, uang buat keperluan ibu!
Jangan pikir aku seperti ini karena sudah mau Nerima kamu lagi. Tidak, aku belum sanggup memaafkan perbuatan kamu. Aku hanya memberikan kewajiban untuk keperluan ibuku, itupun karena kamu yang mengurusnya." Mas Danang menatap datar ke arah ku.
Sedangkan aku sendiri sangat santai bahkan tanpa air mata, meskipun hati terasa sakit mendengar ucapan mas Danang.
"Kamu tenang saja, mas!
aku juga sudah tak lagi mengharapkan kamu kok!
Insyaallah, setelah kenaikan kelas, aku akan pulang kerumah ibuku.
Dan aku juga akan segera mengurus surat cerai kita. Tolong biarkan Joni tinggal denganku, mari kita pisah baik-baik!" Ku tatap lekat wajah laki laki yang dulu sempat aku gilai itu. Matanya nampak melotot tak percaya.
"Kamu bisa apa untuk mencukupi kebutuhan kamu dan anak anakmu?
Gak usah sok sok an kuat deh!" sahut mas Danang dengan nada ketus.
"Itu urusanku, mas!
Yang pasti, aku tidak lagi mengharapkan kamu.
Aku masih sanggup berjuang untuk hidupku sendiri dan anak anakku.
Aku ingin kita pisah baik baik!" sahutku datar, hati ini memang benar benar sudah mati rasa terhadap laki laki yang masih bergelar suamiku itu.
Masih terlihat wajah lelaki yang bergelar suamiku terlihat tak suka, entah apa yang kini dipikirkan nya.
Jujur aku sudah lelah jika terus seperti ini.
Kemarin saat aku menelpon ibuku, beliau memintaku untuk pulang ke kampung saja. Meneruskan warung lontong usaha ibuku. Aku yakin, jika aku berusaha dan memasrahkan semuanya pada yang kuasa, semua pasti akan baik baik saja. Bukankah rejeki sudah di takar sesuai kebutuhan kita, bukan apa yang menjadi kemauan kita. Untuk itulah, aku berani mengambil keputusan ini. Akan kujalani hidupku yang baru dengan membuka lembaran cerita yang baru pula.
Satu bulan lagi, Joni akan ujian kenaikan kelas, untuk itu harus mempersiapkan diri dan hatiku.
__ADS_1
Dan masih ada kesempatan untuk membuktikan kebusukan Ambar pada mas Danang. Aku ingin melihatnya menyesal sudah menikahi perempuan picik sepertinya.
"Terserah kamu, aku juga sudah tak lagi mau perduli dengan apa yang jadi keputusanmu. Kamu tenang saja, soal urusan surat cerai biar aku saja, aku tau, kamu tak punya cukup uang untuk mengurusnya. Baiklah, aku harap kamu tidak menyesali keputusan kamu ini!" sahutnya meremehkan, dia pikir, aku tak bisa hidup tanpanya. Dia salah, jika seorang wanita sudah memutuskan pasti dia punya tekad dan harapan untuk bangkit yang begitu kuat. Akan aku buktikan, mas. Kalau aku mampu bertahan hidup tanpamu.
"Terimakasih!" jawabku singkat dan memilih pergi ke dapur untuk membongkar belanjaan dan menatanya di tempat Mading masing. Seragam dan keperluan Didin sekolah, tadi langsung aku paketkan. Agar tidak kepikiran lagi. Akupun juga sudah mentransfer sejumlah uang untuk kebutuhannya melalui rekening tetanggaku yang selama ini selalu membantu ibuku.
Saat aku tengah membereskan semua belanjaanku, tiba tiba Santi muncul dengan senyuman mengembang.
"Ada apa, San?
Kamu kok kayak senang banget, senyum senyum gitu?
Ini kunci motor kamu, makasih ya!" aku menatap heran pada Santi yang terus tersenyum menatap ponselnya.
"Mbak, sini!
Nih lihat!" Santi memintaku mendekat dan menyodorkan ponselnya, astaga ternyata ada sesuatu yang membuatku ikut mengembangkan senyum.
Dia sudah ketangkap basah warga, dan tengah digiring ke desa. Sebentar lagi pasti ada drama dari suamiku itu. Ambar, belum tau, bagaimana ngerinya mas Danang kalau sedang murka.
Ternyata, karma memang tengah aku terima. Aku yang dulu sudah merebut dan menyakiti Ningsih, kini akupun juga merasakan hal sama. Justru aku sangat bodoh, yang mau maunya bertahan dalam perih demi untuk bertahan hidup. Aku terus berkecamuk di dalam hatiku memikirkan apa yang selama ini sudah terjadi dalam hidupku. Kalau saja aku tau dimana saat ini Ningsih tinggal, pasti aku akan menemuinya dan langsung meminta maaf atas semua dosa dosaku padanya. Sayangnya dia sudah menghilang tanpa aku tau kabarnya lagi. Semoga dia hidup bahagia bersama Shanum saat ini. Dia wanita kuat dan baik, aku yakin saat ini dia sedang berbahagia. " Maafkan aku, Ningsih." lirihku sendu di dalam hati ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
__ADS_1
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1