Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
ibu yang egois


__ADS_3

"Apa ibu lupa, uang yang diberikan mas Danang hanya cukup untuk memenuhi keperluan ibu dan juga kebutuhan rumah ini?


Bukankah ibu tau sendiri, berapa uang yang dikasih anak ibu padaku selama ini, dua juta satu bulan, dan itu harus cukup untuk kebutuhan semua orang, belum untuk bayar listrik dan SPP nya Joni.


Lalu, kenapa ibu bisa berpikir dan menuduhku demikian?" sahutku tenang, dengan menahan gejolak amarah yang menggebu di dalam dada ini.


Sungguh hari ini emosiku benar benar di uji oleh ibu dan anak yang sama sama tak memiliki nurani. Kejam!


Ibu terlihat membuang mukanya, tidak menjawab lagi ucapanku. Dan akupun memilih meninggalkannya, aku sudah berbaik hati tatap merawatnya dengan baik, membuatkan bubur agar bisa segera meminum obatnya. Tapi apa, justru ibu tak menghendakinya dan malah mencaci ku.


"Mbak!" tiba tiba Santi sudah ada di depanku saat aku keluar dari kamar ibu.


"San, baru datang?" sapaku yang berusaha bersikap baik baik saja.


"Aku dengar semuanya, mbak!


Lakukan apa yang membuatmu nyaman dan carilah kebahagiaan kamu, mbak. Aku mengerti posisimu dan aku juga bisa merasakan apa yang mbak rasakan saat ini." Santi, satu satunya yang mau mengerti keadaanku saat ini, dia memang pendiam, namun akhir akhir ini dia terlihat sangat perduli padaku.


"Terimakasih, San!" sahutku lemah, entah kenapa air mataku bisa lolos begitu saja saat berhadapan dengan Santi. Aku menumpahkan rasa sesak yang terasa menghantam dada ini.


"Ayo, mbak.


Kita bicara di dalam kamarmu saja, takutnya ibu dengar kalau disini." bisiknya dan menggandeng tangan ini agar menjauh dari kamar ibu mertua.


"Menangis lah mbak, kalau itu bisa buat hatimu sedikit lega. Aku akan mendukung apapun keputusan yang mbak Diana ambil. Sebagai perempuan, aku juga tidak akan sanggup jika diperlakukan sepertimu, mbak.


Meskipun kita pernah melakukan kesalahan, namun masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik." Santi menggenggam tangan ini, matanya nampak mengembun dan ada satu tetes bening yang terjatuh di pipinya.


"Aku mendengar apa yang ibu katakan, mbak yang kuat ya.


Semoga setelah ini, mbak Diana menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Seperti mbak Ningsih dan Shanum." sambung Santi dengan seulas senyum tipis.


"Mbak Ningsih?


Kamu pernah ketemu dengannya, San?


Dimana?" ku tatap wajah Santi dengan seksama, berharap mendapatkan petunjuk tentang mbak Ningsih dari Santi. Aku ingin meminta maaf padanya, karena itu sangat penting bagiku.


"Tidak, mbak.


Aku tidak pernah ketemu sama mbak Ningsih, tapi aku dapat informasi dari salah tau temanku yang dulu satu perumahan dengannya.


Mbak ningsih sudah menikah lagi dengan seorang pengusaha, suaminya yang sekarang sangat baik dan menyayangi mbak Ningsih.


Mbak Ningsih diperlakukan seperti ratu. Aku ikut senang mendengar kabar kebahagiaannya." Sahut Santi yang menatapku dengan tatapan iba.


"Apa kamu gak tanya alamatnya yang sekarang sama temen kamu itu, San?

__ADS_1


Jujur, aku ingin minta maaf sebelum aku pulang kampung. Agar hati ini juga bisa tenang tanpa ada beban rasa bersalah yang terus menghantuiku." sahutku jujur, karena memang itulah yang aku rasakan.


"Temenku gak mau kasih tau, mbak.


Karena sudah janji sama mbak Ningsih juga.


Mbak Ningsih memang sepertinya ingin menjauhi keluarga kita, terutama mas Danang. Aku sih paham kenapa mbak Ningsih bersikap seperti itu." sahut Santi yang terlihat membuang nafasnya kasar.


"Dia lebih menderita dariku, dulu aku sudah begitu keterlaluan. Dan aku sudah mendapatkan balasan dari perbuatan ku itu. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk bertemu dengannya." lirihku dengan dada berdebar. Tiap kali mengingat masa lalu ku yang kejam, perasaan ini berubah gelisah dan dada berdetak cepat.


Saat aku dan Santi larut dalam obrolan kami, terdengar suara piring jatuh dari kamar ibu.


Kami pun langsung lari untuk melihat apa yang terjadi di dengsm ibu mertua.


"Ya, Alloh, Bu!


Ibu kenapa tidak minta tolong?


Mbak tolong bantuin buat angkat ibu keranjangnya lagi." Santi terlihat sangat panik melihat ibu mertua terjatuh dan piring berisi bubur yang tadi aku buat, ikut jatuh dan pecah berserakan di lantai.


Ibu hanya diam membisu.


"San, kamu saja yang bersihin badan ibu.


Ibu gak sudi disentuh sama Diana lagi.


Astagfirullah, aku hanya mampu beristigfar di dalam hati.


"Istighfar, Bu!


Ibu gak boleh begitu sama mbak Diana.


Bagaimanapun, mbak Diana yang merawat ibu selama ini.


Lihat anak anak ibu, mana ada yang mau menyentuh ibu?" jawab Santi dengan nada tegasnya. Santi memang begitu, meskipun dia pendiam, tapi kalau bicara dia tidak pernah mau basa basi. Salah ya salah, dan benar ya benar.


"Apa kamu setuju dengan wanita itu, San?


Dia akan minta cerai dari Danang dan pulang kampung, padahal tau keadaanku yang seperti ini. Dia justru lebih mementingkan ibunya saja." sungut ibu mertua dengan wajah kesal.


"Ya, Alloh Bu.


Mbak Diana gak salah mau merawat ibunya, wong dia yang melahirkan mbak Diana. Surga mbak Diana ada di telapak kaki ibunya. Gak salah kalau seorang anak ingin berbakti pada orang tuanya. Ibu saja yang egois. Kenapa ibu gak minta, mas Danang atau mas Muklis untuk merawat ibu juga?" sahut Santi dengan santainya, membuat ibu mertua melotot kesal.


"Kamu itu, jadi menantu kok gak ada sopan santunnya bicara sama mertua.


Apa begitu didikan orang tuamu, hah?" ibu mertua melotot dengan wajah bersungut sungut.

__ADS_1


Santi nampak mengerutkan wajahnya tak suka, sepertinya dia tersinggung karena ibu mertua membawa nama orang tuanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2