
"Terserah apa yang kamu katakan, mas.
Aku sudah memutuskan, lebih baik kita berpisah baik baik, karena kita sudah tidak lagi sejalan.
Aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan.
Untuk Joni, kamu tenang saja, insyaallah aku bisa menghidupi dan menyekolahkan nya. Meskipun tidak luas, ibuku masih punya sawah yang bisa digarap. Dan aku juga akan buka warung bekas ibu jualan. Insyaallah hidupku dan anak anakku akan baik baik saja, seperti mbak Ningsih dan Shanum." sahutku panjang lebar dengan sikap tenang. Nampak mas Danang langsung tersentak saat aku menyebut nama anak dan mantan istri pertamanya.
Bibirnya terkatup rapat, nampak matanya sudah berkaca kaca, mungkin dia teringat bagaimana perlakuan nya pada mbak Ningsih dan Shanum, sehingga ada perasaan bersalah saat mendengar nama mereka disebut.
"Kenapa kamu jadi bawa bawa Ningsih dan Shanum dalam masalah kita?
Mereka tidak ada urusannya sama sekali dengan kita!" bentaknya tak terima, matanya merah menatapku nyalang. Aku mengatur debar dalam dada yang sebenarnya sudah terpancing emosi, namun aku berusaha untuk bisa mengendalikannya.
"Aku tau, mereka memang tidak ada urusannya dengan permasalahan kita saat ini.
Tapi mungkin ini adalah akibat dosa yang aku perbuat di masa lalu. Aku dulu dengan angkuhnya merebut kamu dari wanita sebaik mbak Ningsih, aku yang dengan bangganya mencaci dan menghina kekalahan mbak Ningsih, karena kamu lebih memilihku, dan aku dengan tanpa tau malu dan tidak merasa bersalah sedikitpun sudah mengambil hak Shanum darimu, aku yang menguasai uangmu tanpa mau berbagi dengan mereka. Ya, aku salah dan aku sangat menyesal karena sudah melakukan itu." Dadaku sesak sehingga tak mampu melanjutkan ucapanku, air mata ini sudah deras mengalir, teringat wajah sendu milik mbak Ningsih yang kala itu memohon pada mas Danang untuk membiayai pengobatan Shanum yang masuk rumah sakit karena sakit tipes, tapi aku justru menolak dan tak memberikan uang itu, astagfirullah, sangat kejam aku waktu itu.
"Dan kamu tau, mas?
Aku sudah menerima karma dari perbuatan ku itu, kamu menikahi Ambar dan dia juga memperlakukan aku demikian. Sakit hatiku, belum lagi perlakuan kamu yang begitu merendahkan harga diriku sebagai seorang istri dihadapan gundikmu itu." teriakku emosi, aku meluapkan semua rasa sesak yang ada di hati ini, setelah sekian lama aku pendam.
"Hatiku sudah mati untuk mencintaimu lagi.
Maka dari itu, lepaskan aku. Kita berpisah baik baik. Aku yakin, Joni itu anak yang tangguh, dia akan mengerti keadaan ini." kembali aku berusaha mengatur emosi ini, dengan dada yang semakin sesak, meluapkan segala beban yang selama ini aku tanggung. Kini tak ada lagi yang perlu aku pertahankan apalagi khawatirkan, aku percaya dengan kuasa Tuhan.
"Terserah, lakukan apa yang mau kamu lakukan, aku tidak perduli sama sekali!
Aku sudah memberikan kesempatan untuk kita memperbaiki hubungan ini, tapi kamu dengan sombongnya menolakku, jangan salahkan aku, jika aku melepas mu dan Joni begitu saja!" mas Danang menatapku nyalang, dengan wajah mengeras, laki laki itu sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan sedikitpun tidak tersentuh hatinya dengan begitu panjangnya kalimat yang aku utarakan, sungguh hatinya benar-benar sudah mati. Astagfirullah.
"Aku sudah memikirkan konsekuensinya sebelum aku memutuskan pilihanku.
Jadi kamu jangan khawatir, cukup jangan mempersulit jalannya sidang. Biar perceraian kita tidak berjalan rumit." jawabku santai, aku sudah mampu mengendalikan perasaan ini, setelah meluapkan perasaan yang selama ini tersimpan, hati ini terasa sedikit lega.
__ADS_1
"Jangan menyesal dan jangan menuntut apapun dari ku, karena aku tak sudi berbagi apa yang aku punya padamu, kita lihat saja, perempuan jelek seperti mu, apakah masih ada yang mau melirik. Sombong!" hinanya, dengan senyuman miring ia tunjukkan padaku.
"Jangan khawatir sekali lagi, aku tidak akan pernah mengemis padamu untuk nafkah anakku, tapi kamu juga harus siap, jika suatu saat kamu membutuhkan anakmu, dia tak lagi Sudi mengenalmu, hanya itu yang ingin aku ingatkan padamu, mas Danang. Jangan menyesal jika saat tiba." sahut ku dengan mengukir senyuman tipis ke arahnya.
"Itu tidak akan terjadi, aku punya pekerjaan dan penghasilan yang cukup, aku masih bisa menikahi perempuan yang aku mau dengan mudah. Jadi simpan omong kosong mu itu!" teriaknya murka, lalu pergi meninggalkan aku sendiri di dalam dapur ini. Entahlah, hatiku tak lagi merasakan sakit dengan ucapan pedasnya itu.
Tanpa lagi aku mau memikirkan perdebatan dan pertengkaran yang terjadi, dengan santainya aku kembali meneruskan pekerjaanku.
Memasak rawon sesuai yang dia inginkan.
Anggap saja, aku mengabdikan diri pada suamiku disaat detik-detik terakhirku sebelum aku pergi membawa semua duka ini.
Tak butuh waktu lama, rawon daging sapi sudah siap di meja makan, lengkap dengan sambel dan kerupuk udang. Lalu aku membuatkan bubur untuk ibu mertua dan pergi ke kamarnya untuk menyuapi wanita malang itu. Saat sakit, anak lelakinya justru sama sekali tak pernah menengoknya meskipun mereka tinggal dalam satu rumah. Miris!
"Bu, makan dulu, habis itu diminum obatnya." aku duduk di tepi ranjang ibu dan bersiap untuk menyuapi nya, namun ibu nampak berkaca kaca dan bibirnya terlihat bergetar, astaga ibu menangis, apakah tadi ibu mendengarkan pertengkaran kami, ya Tuhan kenapa aku tidak memikirkan itu.
"Kenapa, Bu?
"Apa kamu akan ninggalin ibu, Na?
Kamu akan cerai dengan Danang?" tanyanya dengan suara bergetar. Ternyata benar dugaanku, ibu mendengar pertengkaran kami. Ada perasaan bersalah, karena bisa jadi ini membebani pikirannya. Namun, apa boleh buat, aku juga tak mungkin bertahan dalam kisah rumah tangga yang membuatku semakin terluka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
__ADS_1
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1