Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
POV Ningsih


__ADS_3

Bertahun tahun hidup dalam derita batin. Menikah dengan laki laki tak bernurani. Kehidupan sulit yang kujalani semakin terasa sulit.


Mas Danang, dari awal pernikahan sama sekali tak membuatku merasakan bagaimana diperlakukan sebagai seorang istri. Dia hanya menjadikan aku pembantu untuk dirinya dan juga keluarganya.


Seiring waktu terus berjalan, batin kian lelah, raga pun tak sanggup lagi bertahan.


Diam diam, aku pergi meninggalkan rumah mertua, dan kembali kerumah ibuku.


Meskipun rumah ibuku kecil, setidaknya aku bisa menemukan ketenangan dan juga rasa nyaman.


Shanum sangat disayangi sama embahnya dan juga Bulik nya.


Ibu dan adikku, sangat menyayangi Shanum.


Mereka mencurahkan kasih sayangnya pada anakku tanpa pamrih dan kepura-puraan.


Kepulanganku kerumah ibuku, membuat mas Danang murka, dia mencaci makiku dihadapan ibuku sendiri, sungguh keterlaluan!


Sedikitpun, mas Danang tidak punya rasa hormat apalagi sungkan pada ibuku. Kebencian ku pada kaki kaki itu kian besar.


"Jangan harap aku akan memberikan uang nafkah untukmu lagi, gak Sudi aku, jika uangku juga dinikmati sama ibu dan adikmu!


Lihat saja, paling sebentar lagi, kamu akan mengemis padaku untuk membeli beras!


Jangan harap, aku Sudi memberikannya!" ucapnya kala itu, dengan wajah merah padam.


Sakit, ya sangat sakit. Namun tak lagi aku mau menimpali ucapan gilanya itu.


"Terserah, aku tidak perduli!


Lagian, selama ini kamu dan keluarga kamu justru yang berharap tenaga dan uangku. Lihat saja, karena itu nyata. Pergilah, kita jalani hidup masing masing!" sahutku asal, karena hati sudah terlanjur terluka.


Sejak saat itu, tak lagi aku tau kabar dari Danang.


Entahlah, bahkan aku sendiri tidak perduli lagi.


Hidupku tenang, bahagia bersama anak dan juga ibuku, meskipun serba kekurangan.


Aku yang mulai kerja kembali, seadanya, asal bisa mencukupi kebutuhan anakku dan juga makan kami sekeluarga.


Shanum di jaga oleh adik dan ibuku.


Hingga waktu terus bergulir, dan tanpa terasa anakku sudah besar dan ibuku pun menua.


Saat itu, adalah saat dimana hidupku benar benar terpuruk, dalam satu bulan aku harus kehilangan ibubdan adikku. Mereka meninggal dalam kurun waktu yang sangat dekat.


Tak lagi ada sandaran di hidupku, pelitaku telah pergi ke surganya.

__ADS_1


Dan Shanum saat itu masih berusia delapan tahun.


Aku kehilangan arah, bingung dan juga putus asa.


Tak lagi ada keluarga yang bisa kuharapkan, kemiskinan telah membuat saudara menjauh dan tak menganggap keberadaan diri ini.


Sendiri, dengan berjuta beban dan juga masalah yang kian menumpuk.


Tak mungkin, aku meninggalkan Shanum sendirian di rumah, dia masih kecil, dan juga anak perempuan. Rasa was was dan takut terjadi apa apa kian membuat dada terasa sesak.


Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk berjualan online dan menerima cucian baju kotor juga jasa setrika dari tetangga dan juga teman.


Alhamdulillah, meski tak seberapa, bisa untuk bertahan hidup dengan Shanum.


Hingga suatu hari, mas Danang datang bersama gundiknya. Dengan bangganya dia memperkenalkan perempuan itu sebagai istri mudanya. Dan yang lebih membuatku muak, dan ingin melawan adalah sikap gundiknya yang begitu angkuh dan tanpa malu.


Sampai saat kesabaran ini sudah habis, memintai cerai pun tak pernah digubrisnya. Sedangkan pada Shanum dia tak pernah sama sekali perduli.


Entah bagaimana mukjizat itu datang, tiba tiba mbak Safitri datang dan mengaku saudariku, memberikan harta peninggalan bapak. Dan dari bekal harta itulah, aku berani melawan dengan segenap keberanian pada mas Danang dan seluruh keluarganya. Aku menggugat cerai dengan semua bukti perselingkuhannya.


Lalu memilih pindah rumah, setelah aku berhasil menghancurkan hidup laki laki itu bersama gundiknya.


Mas Danang di pecat dari pekerjaannya, sedangkan gundiknya di gusur warung tempat dia cari makan.


Sedangkan Rokayah, kakaknya mas Danang, dikeluarkan dari pekerjaannya dengan alasan pengurangan karyawan, padahal itu hanya alasan saja, sesungguhnya Rokayah dikeluarkan karena adanya campur tangan dari Bayu, anak dari mbak Safitri.


Puas?


Ya, Aku merasa puas!


Tak apa kalian anggap aku jahat, aku hanya ingin melakukan apa yang harusnya dilakukan. Mereka pantas mendapatkan balasan dari semua perbuatannya.


Sampai pada kini, kebahagiaan dalam hidupku begitu sempurna, aku ditakdirkan untuk bisa berdampingan dengan laki laki yang begitu mencintai dan menghargai ku. Mas Hans Pratama, laki laki tampan dan juga mapan.


Sungguh, aku begitu beruntung menjadi istrinya, tidak sedikitpun dia membiarkan aku sedih apalagi capek. Caranya menunjukkan cinta, membuat diri ini begitu dimuliakan oleh suami.


Bahkan, dia juga menerima Shanum dengan lapang dan penuh kasih sayang yang tulus.


Sekarang, diantara kami sudah lahir bayi laki laki yang sangat tampan. Buah cinta kita, yang menyempurnakan kebahagiaan keluarga kecilku.


Cinta mas Hans, semakin bertambah sejak Varo lahir, sedikitpun laki laki itu tidak memperbolehkan aku memegang pekerjaan rumah. Cukup fokus mengasuh anaknya dan mendidik serta mengawasi Shanum dengan baik.


Mas Hans begitu memperhatikan pendidikan dan kembang tumbuh putriku itu.


Bahkan dia reka mengeluarkan uang lebih untuk mendatangkan guru ngaji khusus untuk mendidik anak gadisku agar memiliki pemahaman agama yang bagus dan agar tau bagaimana menjaga diri sebagai seorang wanita muslimah.


Tak hanya itu, bahkan mas Hans juga tak mengijinkan Shanum pulang pergi sekolah tanpa pengawasan. Dia juga memberikan sopir kusus untuk mengantar jemput Shanum kemanapun anakku itu pergi.

__ADS_1


Dan Alhamdulillah nya, anak gadisku itu tidak keberatan sama sekali, Shanum justru bersyukur dan bangga memiliki ayah seperti mas Hans meskipun sikapnya begitu tegas dan banyak aturan. Shanum menganggap itu sebagai bentuk cinta seorang ayah yang ingin menjaga putrinya dari hal hal buruk. Alhamdulillah, anakku sudah bisa bijak dalam menyikapi sesuatu.


Sungguh, kini hidupku terasa sempurna.


Jauh dan tak lagi tau kabar mantan suami begitu membuat hidup ini terasa nyaman dan tenang.


Semoga, sampai nanti, tak lagi ada keluarga mas Danang yang datang mengusik kebahagiaan kami.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say❤️

__ADS_1


__ADS_2