
"Baiklah, kamu akan tetap jadi istriku.
Tapi ada syaratnya!" sahut Danang dengan menyeringai jahat.
"Kamu harus mau tinggal dirumah ini, merawat ibuku dengan baik. Mengurus semua keperluannya. Dan satu lagi, aku gak mau anak kamu itu ikut disini. Biar dia tinggal sama bapaknya saja. Aku gak Sudi mengeluarkan uang untuk anak laki laki lain." sahut Danang dengan sikap dinginnya. Membuat Diana shock lantaran syarat yang diberikan Danang terasa berat baginya.
"Tapi, mas!
Kamu kan tau sendiri, mantan suamiku sudah tidak mau lagi perduli dengan Didin, masak kamu tega sama dia. Padahal Didin sudah anggap kamu itu ayahnya loh!" sahut Diana, berusaha membuat Danang luluh dan menerimanya lagi dan anaknya seperti dulu.
"Aku gak perduli, itu syarat dariku. Kalau kamu keberatan yasudah, kamu kembali saja kerumah orang tuamu." balas Danang santai, tak lagi mau tunduk dengan istri yang dulu begitu dia gilai, sampai sampai tega mengabaikan Ningsih dan Shanum.
"Baiklah, aku akan turuti kemauan kamu.
Tapi tolong ijinkan aku untuk sering sering jenguk Didin nantinya!" sahut Diana pasrah. Pikir Diana, meskipun Didin ikut ibunya dikampung, nanti bisa dia jenguk dan kirimi uang untuk kebutuhannya. Diam yakin, kalau Danang akan kembali memberikan uang belanja yang cukup seperti dulu.
"Bagus!
Dan ingat, kamu harus mengurus ibuku dengan baik dirumah ini. Semua pekerjaan rumah kamu yang lakukan. Karena Muklis, akan pulang kerumah istrinya lagi, tidak mungkin dia tetap disini." sahut Danang dengan santainya.
"Ma! aku harus tinggal sama nenek ya?
Gak boleh ikut mama lagi?" Didin menatap sendu ke arah Diana.
"Iya, nak!
Kamu sekolah disana ya, nurut sama nenek. Nanti mama akan sering jenguk Didin kok!
Lagian, kita bisa telpon setiap hari. Didin sudah besar, ngerti ya nak?" sahut Diana menahan sesak di dadanya.
"Iya, ma!
Gak papa kok. Didin ngerti!
Nanti Didin akan pulang bareng uti sama Kakung." balas Didin yang berusaha bersikap tegar, di tatapnya paman sama budhenya Diana dengan perasaan sedih.
"Makasih ya sayang!" Diana memeluk anak sulungnya sedih, merasa tak bisa jadi ibu yang baik untuknya. Tapi keadaan memaksanya harus seperti ini.
"Mas!
Tadi dicari pak Mahmud. Katanya dia mau beli tegalan yang kemarin kamu tawarkan, sesuai dengan harga." Muklis menghampiri Danang, sambil menghisap rokok yang ada ditangannya.
"Iya, nanti aku tak kerumahnya.
Semoga saja deal beneran. Biar cepat buka usaha." sahut Danang senang.
"Wah, uangmu banyak dong, Nang!
Bisa hutang buat modal juga!" pamannya Diana ikut menimpali.
__ADS_1
"Maaf, aku sendiri juga sedang butuh uangnya untuk usaha. Itu saja masih kurang!
Jadi tidak usah berharap banyak!" sahut Danang ketus, tidak seperti biasanya, Danang selalu memberi apapun yang keluarganya Diana minta.
Diana menatap Danang nanar, laki laki yang masih sah suaminya itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Paman sama budhe mau balik kapan, hari ini apa besok?" Diana mencoba mengalihkan pembicaraan, sebelum pamannya banyak bicara dan akhirnya ada adu mulut diantara suami dan pamannya itu.
"Mau pulang sekarang saja.
Sepertinya suami kamu juga tidak menyukai kita ada disini!" sahut budhenya Diana ketus.
"Syukurlah kalau sudah kada tau diri!" Danang menatap dingin dan sangat tidak sopan, rasa hormatnya pada keluarganya Diana hilang sudah.
"Mas, kok ngomong gitu sama budhe dan pamanku?" Diana tidak terima dengan sikap kasarnya Danang, tapi Danang tidak perduli sama sekali.
"Tuh suami kamu, gak ada sopan sopannya sama kami. Yasudah kita pulang saja sekarang.
Din, ayo pulang!" sungut budhe Juwariyah kesal.
"Na, minta uang buat naik bis. Dan uang buat anakmu. Dia juga butuh beli jajan kan meskipun tinggal sama ibu kamu!" sambung budhe Juwariyah.
"Mas!
Aku minta uangnya, buat ngasih sangu Didin dan buat beli karcis bis." Diana menghampiri Danang yang justru bersikap acuh, tak menghiraukan sama sekali ucapan istrinya yang meminta uang padanya.
"Mas!" Diana sedikit membentak, membuat Danang langsung menatapnya tajam. Kebenciannya pada wanita di hadapannya itu semakin dalam.
Jangan pernah membentak ku, kamu!
Mereka keluarga dan anakmu, bukan urusanku!
Paham?
Tidak Sudi aku, memberikan uang pada mereka lagi, aku tidak punya urusan dengan mereka!" bentak Danang yang membuat Diana terpaku dengan mulut menganga.
"Mas, kamu ..!" lirih Diana tak percaya.
"Terserah!
Aku tidak mau lagi dimanfaatkan oleh kalian. Dasar benalu!" herdik Danang yang langsung pergi meninggalkan rumah dengan Muklis.
"Terus ini bagaimana, Na?
Kami gak punya uang untuk ongkos pulang!
Kamu sendiri yang bilang, kalau kita bakalan dapat uang dari Danang. Tapi apa?
Suami kamu itu benar benar sudah gila!" sungut budhe Juwariyah kesal.
__ADS_1
"Diana cuma punya uang segini, budhe!
Cukup buat ongkos saja.
Dan ini, buat Didin. Simpan baik baik ya nak, buat uang jajanmu. Nanti mama akan kirim lagi, satu Minggu lagi." Diana mengangsurkan yang dia ratus ribu pada budhenya, dan dua ratus ribu lagi di kasih ke anaknya.
"Dua ratus ribu, Na?
Ya ampun dapat apa uang segini itu?
Tau begini, budhe gak mau kamu ajak jauh jauh kesini, bikin repot saja!" budhe Juwariyah terus saja mengomel.
"Sudahlah budhe!
Diana hanya punya uang segitu. Nanti kalau Diana sudah dikasih uang belanja sama mas Danang lagi, Diana akan transfer ke budhe kok, kayak biasanya!" sahut Diana percaya diri. Sedangkan ibunya Danang cuma diam saja, hanya mendengarkan percakapan menantu dan saudara saudaranya itu, meskipun dalam hati terus mengumpat tak suka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️