
"Apa itu benar, Ning?
Warisan kamu banyak dari bapakmu yang sudah mati itu?" Mas Danang menatapku dengan binar bahagia.
"Ada apa, mas?
Apa urusan kamu kok menanyakan apa yang bukan jadi urusanmu?" sahutku santai bahkan muak melihat wajahnya yang terlihat sumringah.
"Apa saja yang ditinggalkan bapakmu, Ning?
Sawah?
Tanah?
Rumah?
Uang?
Benar, neng? Kamu jangan lupa sama aku, kita ini suami istri, harta istri juga hartanya suami. Aku berhak mendapatkan bagian warisan Bapakmu loh, Ning! Gak usah banyak banyak, tiga ratus juta saja cukup! Wah kalau tau begini, aku tidak perlu marah-marah tadi, kamu sih gak mau ngomong kalau sekarang uangmu banyak. Jangan durhaka kamu, Ning! Sama suami harus ingat dan saling berbagi, kamu masih hafal nomor rekening ku kan?" Mas Danang bicara panjang lebar tanpa tau malu sama sekali. Ya ampun terbuat dari apa otak laki laki itu, giliran warisan saja dia bersikap ramah, tapi dimintai nafkah ngamuk gak karuan. Amit amit!
"Memangnya siapa kamu?
Berani beraninya minta warisan Ningsih?
Memalukan!" sahut mbak Safitri terlihat jengah dengan kelakuan mas Danang.
"Aku ini suaminya, wajar dong aku minta bagianku. Harta istri ya hartanya suami. Masak gitu aja gak ngerti!" sungut mas Danang dengan wajah tak berdosanya itu.
"Sejak kapan, harta istri jadi harta suami?
Sekolah di mana kamu?
Jangan harap, Ningsih mau memberikan uangnya pada laki laki tak tau malu sepertimu!
Enak saja mau minta warisan adikku untuk menghidupi gundikmu itu, sebagai kakaknya aku tidak akan biarkan itu terjadi." mbak Safitri menatap tajam ke arah mas Danang yang terlihat tersenyum miring menanggapi kekesalan kakak tiriku itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu ikut campur, warisan warisan istriku. Jangan jangan kamu sendiri yang mau minta bagian, bilang saja kamu itu iri padaku!" sahut mas Danang memasang wajah tak suka. Mulutnya sudah mirip perempuan, nyerocos tanpa rem.
"Yoweslah, terserah kamu. Mimpi saja sana. Berkhayal setinggi langit, biar jatuh sekalian patah. Hahahaa!" balas mbak Fitri dengan tertawa lebar, akupun tak kuasa menahan ikut tertawa juga.
"Cepat berikan bagianku, Ning!
Aku harus pergi, karena ibuku sudah menunggu untuk mengambil jatah uang belanjanya.
Jangan kurang dari jumlah yang aku sebutkan tadi, tiga ratus juta." mas Danang masih saja meminta apa yang bukan haknya. Memalukan.
"Apa mas? Tiga ratus juta?
Uang siapa yang kamu minta itu?
Aku mana punya uang sebanyak itu, jangan gila kamu ya!" sahutku santai, membuat mas Danang melotot kesal padaku.
"Gak usah bohong kamu!
Baru dapat warisan, mana mungkin kamu gak punya uang. Jangan serakah jadi istri, dosa kamu sampai tidak mau membagikan hakku dari warisan itu." sungut mas Danang dengan nada tinggi.
"Aku memang dapat warisan, tapi warisan itu masih atas nama bapakku, jadi ya gitu, aku masih belum berhak menjual apalagi memilikinya, sebelum ada perubahan balik nama aset atas namaku. Dan saat itu tiba, kamu sudah bukan lagi suamiku! Gimana dong?" sahutku dengan wajah kubuat senyebalkan mungkin.
Aku butuh uang itu buat modal buka usaha, apa kamu gak mau punya suami sukses, hah?" mas Danang menatapku murka, wajahnya terlihat mengeras. Namun tak sedikitpun aku perduli.
Terlihat mbak Safitri dan Bayu menahan tawanya melihat kelakuan ajaib suamiku itu. Aku saja malu dengan pikirannya yang gila itu.
"Buka usaha ya buka usaha saja, kenapa harus pakai uangku?
Mau kamu sukses, mau kamu miskin bukan jadi urusanku lagi. Memangnya selama ini kamu mencukupi kebutuhanku dan anakku, enggak kan? Jadi gak usah bawa bawa aku dalam urusan kamu itu.
Lagian sebentar lagi, surat cerai juga turun. Jadi ya, silahkan urus hidupmu sendiri. Tidak usah merecoki hidupku dengan kelakuan kamu yang tak tau malu itu." sahutku tegas dengan wajah meremehkan, biarkan saja, sekalian aku buat mas Danang tak berarti apa-apa buatku dan Shanum.
"Aku tidak akan menyetujui perceraian itu, masih ada waktu untuk kita memperbaiki rumah tangga ini. Aku janji akan meninggalkan Diana, asal kamu mau memberikan bagianku dari warisan orang tua kamu. Gimana?" sahut mas Danang memberikan penawaran. Benar benar edan itu laki laki. Sungguh menyesal diri ini, kenapa dulu bisa jatuh dengan bujuk rayunya.
"Simpan saja keinginan kamu itu, sampai kapanpun aku tidak akan Sudi kembali padamu.
__ADS_1
Perasaan ku sudah mati sejak kamu tidak lagi perduli dengan nasibnya Shanum, apalagi kamu dengan bangganya menunjukkan pelacur itu sebagai istri siri mu. Haram bagiku untuk menerima laki laki tak punya hati kayak kamu. Tekadku sudah bulat, berpisah darimu adalah keputusan yang tepat!" sahutku dengan nada setenang mungkin, namun penuh dengan penekanan dan menjatuhkan harga diri laki laki itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️