Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
Takdir


__ADS_3

"Selamat datang, om!


Ini agar agar, aku loh yang buat sendiri. Dimakan ya!" anakku terlihat begitu akrab dan senang dengan kehadiran Hans.


"Wah pasti ini enak banget. Makasih ya cantik.


Miskin besar makin pintar ya, kayak bundanya!" sahut Hans dengan mata melirik ke arahku. Sedangkan Shanum terlihat terkikik geli.


Aku memilih diam, membiarkan anakku meraih bahagianya. Perhatian dan kasih sayang yang harusnya diberikan oleh seorang ayah, nyatanya justru lelaki asing yang bisa merebut hati putriku karena sikap tulusnya.


"Shanum mau belajar dulu, ya om!


Besok ada ulangan soalnya. Bicara saja sama bunda!" anakku itu terlihat tengah mengedipkan matanya, dan disambut tawa hangat dari seorang Hans dengan sangat renyah. Tak kusangka kalau mereka sudah sedekat itu.


Setelah Shanum benar benar menghilang dari pandangan. Hans kembali menatapku dengan tatapan yang aku sendiri tak bisa mengartikan.


"Aku sudah berpisah dengan Rumina, Ning!


Dia sudah selingkuh dengan teman SMA nya dulu.


Bahkan Bima bukan darah dagingku!" aku langsung tersentak dengan pengakuan Hans, tak kusangka kisahnya begitu mirip denganku.


"Apa aku tidak salah dengar, Hans?


Bagaimana bisa?" sahutku ragu, mencari kebenaran dari kedua mata elangnya.


"Untuk apa aku berbohong, semua sudah berjalan satu tahun ini. Perpindahan tugasku waktu itu, mengungkapkan semua kebohongan yang istriku lakukan selama ini.


Kepergian ku menjadikan mereka bebas bertemu dan berbuat diluar batas.


Mungkin, Tuhan sedang menunjukkan kuasanya, hingga malam itu, aku disuguhkan kenyataan yang membuatku tak bisa berkata kata.


Aku memang hampir tak pernah menyentuh istriku, tapi bukan berarti dia bebas melakukan perbuatan nista.


Kami berpisah baik baik, karena memang tidak ada rasa sakit dengan penghianatan nya, tak pernah ada cinta di hatiku untuknya.


Sehingga aku bisa melewati dengan mudah, bahkan ada perasaan lega saat berpisah darinya.


Bima dibawa Rumina dan mereka akhirnya menikah, meskipun ditentang keluarga dan penuh hujatan.


Rumina juga sempat marah padaku, katanya aku yang salah hingga dia bisa berbuat nekad seperti itu." tuturnya panjang lebar, namun sedikitpun tak kulihat kesedihan di wajahnya. Hans bercerita dengan sangat tenang, tanpa beban apa lagi luka hati penghianatan.


"Menyalahkan kamu, apa kamu juga berselingkuh, Hans?" sahutku mencari kebenaran, namun justru dia menatapku dengan wajah mengerut heran.


"Kenapa kamu punya pikiran aku selingkuh, Ning?


Bukankah kamu sudah mengerti alur rumah tangga yang kujalani selama ini. Tanpa cinta dan kenyamanan.


Rumina marah, karena tak pernah mendapatkan hatiku, dia kecewa karena aku bersikap dingin padanya. Dia butuh kehangatan dan kasih sayang yang tidak pernah aku berikan. Sehingga dia mencarinya pada laki laki lain, yang kebetulan dia temukan pada mantan kekasihnya waktu SMU dulu." jelasnya panjang lebar tanpa ada yang terbebani sama sekali. Terlihat bagaiman sorot mata itu masih nampak teduh dengan senyuman hangat terukir di wajah tampannya.

__ADS_1


"Lalu?


Bagaimana sekarang kehidupan kamu, sudah menemukan perempuan yang membuatmu nyaman?" tanyaku dengan jantung berdebar, menggigit bibir untuk menetralkan perasaan yang sedari tadi sulit terkontrol.


"Sudah!


Tapi aku tidak tau, apakah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ku?


Dia sulit sekali dijangkau, acuh dan terkesan dingin!" sahutnya yang diiringi tawa renyahnya.


"Oh iya?


Mungkin, kamu yang belum mengutarakan hatimu padanya. Cobalah dekati dan sentuh hatinya dengan ketulusan, karena perempuan itu makhluk sensitif, dia begitu peka dengan perasaannya." sahutku yang berusaha untuk bersikap biasa saja, meskipun hati ini sudah tak karuan sejak tadi.


"Kamu benar!


Sudah seharusnya aku jujur pada dia!


Dan sekarang waktunya!" sahutnya sambil menatap ke arahku dengan senyuman yang begitu manis.


"Maksudnya, Hans?" tanyaku bingung, sulit mencerna apa yang baru saja dia lontarkan.


"Wanita itu sekarang ada di hadapanku, dia adalah kamu, Ning!


Apa kamu tidak bisa merasakan, jika perasaan ini masih sama saat kita masih sering bertemu dulu?


Aku selalu menyempatkan doa penuh harapan, agar kita suatu saat bisa bersama!


"Maukah kamu jadi istriku?


Kita akan melewati semuanya dengan perasaan bahagia, penuh tawa dan saling mencintai.


Kita sudah sama sama ditakdirkan berpisah dengan pasangan kita masing masing, bahkan dengan cara yang tak beda jauh. Mereka berselingkuh dan memiliki anak dari selingkuhannya. Bukankah ini bagian dari takdir, untuk menyatukan kita?" sambungnya dengan mata yang masih menatap diri ini penuh dengan harapan.


"Apa kamu serius, Hans?" jawabku lirih, entah perasaan apa yang kini kurasakan.


"Serius, sangat serius!


Aku sengaja pulang, untuk mengatakan ini padamu. Setelah aku mendengar kabar perpisahan kamu dengan suamimu, aku berusaha untuk berbenah, dan meyakinkan orang tuaku. Alhamdulillah, mereka sekarang sudah setuju dan menunggu kesanggupan darimu saja.


Aku berharap, kamu masih menyimpan perasaan itu untukku, Ning!" Hans masih berusaha untuk meyakinkanku, dan aku melihat kesungguhan dari kedua matanya yang teduh.


"Aku masih sama, Hans!


Masih menyimpan rapi rasa itu, tapi apakah kamu yakin, aku sudah punya anak gadis. Sedangkan kamu masih sendirian." sahutku ragu. Karena bagaimanapun ini juga perlu disampaikan. Aku tidak mau, status ini nanti jadi masalah kebelakang nya.


"Kamu bahkan tau, Ning!


Aku sangat menyayangi Shanum seperti anakku sendiri.

__ADS_1


Meskipun aku tidak memiliki anak, tapi umurku lebih tua satu tahun darimu. Makanya, menikahlah denganku, dan berikan aku anak. Gimana?


Shanum pasti senang kalau punya adik lagi!" sahutnya dengan senyuman yang tertahan, sikapnya ini berhasil mencairkan suasana yang sempat canggung.


"Terimakasih, sudah sangat menyayangi Shanum.


Aku terima, asal kamu tidak pernah mencurangi aku dengan wanita lain. Karena aku tidak sanggu jika harus berbagi, aku belum sekuat itu." sahutku malu malu, namun aku juga tak mau kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan perasaan yang sudah lama terpendam.


"Alhamdulillah, akhirnya!


Makasih, Ning!


Aku janji, akan menjaga hati kamu dan menyayangi Shanum dengan sepenuh hatiku.


Aku akan bilang sama orang tuaku, untuk segera melamar kamu! Alhamdulillah, sekali lagi terimakasih! Jujur, aku sangat bahagia!" sahutnya antusias bahkan terlihat senyum terus mengembang di wajah tampannya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2