
"Dua ratus ribu, Na?
Ya ampun dapat apa uang segini itu?
Tau begini, budhe gak mau kamu ajak jauh jauh kesini, bikin repot saja!" budhe Juwariyah terus saja mengomel.
"Sudahlah budhe!
Diana hanya punya uang segitu. Nanti kalau Diana sudah dikasih uang belanja sama mas Danang lagi, Diana akan transfer ke budhe kok, kayak biasanya!" sahut Diana percaya diri. Sedangkan ibunya Danang cuma diam saja, hanya mendengarkan percakapan menantu dan saudara saudaranya itu, meskipun dalam hati terus mengumpat tak suka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Satu tahun kemudian, kehidupan Ningsih dan Hans begitu bahagia, rasa nyaman atas perlakuan Hans yang begitu besar pada Ningsih. Dan menyayangi Shanum tulus seperti anaknya sendiri.
Ningsih yang tengah hamil muda terus saja muntah dan gak enak makan.
Shanum dan Hans begitu perhatian dan selalu siaga untuk menjaga Ningsih.
Hidupnya benar benar sempurna, kebahagiaan yang selalu di impikannya sudah terwujud dan menyempurnakan seluruh harapannya.
"Mau di pijit sayang, sini, mas pijet punggungnya!" Hans begitu sabar menghadapi Ningsih, baginya kebahagiaan istrinya adalah yang utama.
"Gak usah, mas!
Aku cuma mau tidur saja sebentar, kepalaku pusing." sahut Ningsih lembut.
"Yasudah, kamu tidur saja dulu.
Kalau butuh apa apa, panggil mas ya!" sahut Hans yang terlihat khawatir dengan kesehatan istrinya.
"Iya, mas!
Mas, hari ini gak pergi kerja lagi?" Ningsih menatap sendu ke arah suaminya. Laki laki yang begitu memuliakannya. Ningsih merasa sangat beruntung dipertemukan dengan laki laki sebaik Hans.
"Mas akan kerjakan dari rumah, sudah kamu istirahat, jangan memikirkan apapun ya!" Hans mengusap lembut pipi sang istri. Ditatapnya penuh dengan binar cinta. Ningsih meskipun tanpa makeup, terlihat cantik dan nampak teduh dengan senyumannya.
"Maaf, ya mas! aku buat kamu selalu khawatir kayak gini!" Ningsih menggenggam tangan suaminya, raut bersalah terlihat jelas dari wajahnya.
"Wajar, mas khawatir. Kamu itu istriku, belahan jiwaku. Apalagi kamu tengah mengandung anakku, aku punya kewajiban untuk memastikan kalian baik baik saja. Sudah ya, jangan mikir macam macam. Aku itu sayang banget sama kalian!" Hans menatap lembut pada manik hitam istrinya.
"Makasih, mas!" sahut Ningsih lemah, lalu mulai memejamkan matanya, kepalanya benar benar pusing.
"Sehat sehat sayang, love you bidadari ku!" bisik Hans dengan mengecup lembut kening Istrinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, kehidupan Danang masih begitu begitu saja. Sikapnya semakin kasar terhadap istrinya. Tak perduli dengan tangisan dan wajah sendu Diana.
__ADS_1
Danang tak lagi memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Bahkan, Danang sudah menikah siri lagi dengan salah satu gadis di kampungnya.
"Mas, aku mau jenguk ibuku dan anakku!
Kamu bisa kan ngantar aku pulang?" Diana mendatangi Danang yang tengah merokok di teras depan rumahnya.
"Kalau kamu pergi, siapa yang merawat ibuku?
Gak usah terlalu banyak permintaan kamu!
Cukup kirimkan uang pada ibumu itu, pasti dia sudah senang. Keluarga kamu kan cuma butuh uang saja, jadi tidak perlu kamu pulang!" sahut Danang dengan tatapan tajam.
"Tapi aku kangen Didin, mas!
Sudah lama aku tidak menemuinya." Diana masih terus mempertahankan keinginannya pulang.
"Telpon saja, Vidio call, Kan sama saja!" Danang masih kekeh dengan pendapatnya.
"Mas, kenapa kamu seperti ini sama aku?
Padahal aku sudah tidak masalah kamu nikah lagi. Tolong, ijinkan aku pulang untuk menemui ibuku dan juga Didin." Diana masih betah mengiba, berharap Danang mengerti posisinya.
"Terserah kamu, tapi aku pastikan.
Saat kamu kembali, posisi kamu dirumah ini sudah digantikan dengan Ambar!" sahut Danang dingin, menatap remeh pada Diana yang langsung terlihat tertegun mendengar ucapannya.
Kamu kok tega, aku ini masih istri sah kamu loh!
Kenapa kamu perlakuan aku seperti ini?
Diantara kita sudah ada Joni, apa kamu gak mikirin nasibnya?" Diana meradang, hatinya benar benar sakit dengan sikap Danang yang semakin keterlaluan.
"Aku sayang sama Joni kok, dia anakku!
Dia akan tetap disini bersamaku, aku akan memenuhi semua kebutuhannya. Ambar juga mau menggantikan posisi kamu untuk merawat Joni.
Jadi, gak usah bawa bawa nama Joni untuk menekan ku!" gertak Danang dengan wajah mengeras.
"Jahat kamu, mas!" Diana lari ke kamarnya, menangisi nasib yang kini menimpanya. Danang yang tak lagi mau perduli, dan Danang yang tak mau tau tentang perasaannya. Bahkan Diana diperlakukan seperti pembantu, hanya disuruh merawat ibunya yang sakit, diberi uang ala kadarnya yang cukup untuk makan saja.
Sedangkan Danang, memilih hidup nyaman dengan istri sirinya yang masih muda. Membangun rumah di tanah warisan istri mudanya. Bahkan Danang, sudah tidak pernah mau menyentuh Diana.
"Apakah ini karma, Tuhan?
Dulu aku bersikap jahat pada Ningsih tanpa mau perduli perasaannya.
Aku merampas semua yang seharusnya jadi haknya. Dan kini, itu menimpaku. Bahkan aku tak bisa sekuat Ningsih waktu itu.
__ADS_1
Aku hanya bisa pasrah dan memendam rasa sakit ini, karena tak memiliki pekerjaan dan penghasilan.
Sedangkan Ningsih, dia sanggup bertahan dan bangkit dengan kehormatannya yang tidak pernah Sudi merendahkan dirinya untuk meminta belas kasihan mas Danang. Ya Alloh ampuni aku, sungguh aku menyesal!" isak Diana yang menangis pilu karena dosa dosa yang dulu dia lakukan. Hidupnya benar benar terpuruk saat ini.
"Mbak!
Jangan hanya menangis, tapi lawanlah!
Ambar bukan perempuan baik baik, masak kamu diam saja dia merebut semua milikmu. Bangkit mbak, lawan!" tiba tiba Santi, istrinya Muklis menghampiri Diana yang tengah menangis.
Santi selama ini merasa kasihan melihat nasibnya Diana, meskipun dia sebenarnya tidak suka dengan sikap Diana dimasa lalu. Tapi sebagai perempuan, Santi merasa iba melihat Diana terpuruk dan di siksa oleh kakak iparnya itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️