Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
Drama selanjutnya sang mertua


__ADS_3

"Ya Alloh, Bu.


Mbak Diana gak salah mau merawat ibunya, wong dia yang melahirkan mbak Diana. Surga mbak Diana ada di telapak kaki ibunya. Gak salah kalau seorang anak ingin berbakti pada orang tuanya. Ibu saja yang egois. Kenapa ibu gak minta, mas Danang atau mas Muklis untuk merawat ibu juga?" sahut Santi dengan santainya, membuat ibu mertua melotot kesal.


"Kamu itu, jadi menantu kok gak ada sopan santunnya bicara sama mertua.


Apa begitu didikan orang tuamu, hah?" ibu mertua melotot dengan wajah bersungut sungut.


Santi nampak mengerutkan wajahnya tak suka, sepertinya dia tersinggung karena ibu mertua membawa nama orang tuanya.


"Alhamdulillah, aku dididik dengan baik sama orang tuaku, Bu.


Mereka tidak pernah bicara kasar di depanku, bahkan ibu dan ayahku juga tidak pernah mengajari anaknya untuk berbuat yang tidak baik. Kenapa ibu bawa bawa nama orangtuaku?


Selama ini aku memilih diam karena aku masih menghormati ibu sebagai orang tua suamiku. Aku juga gak segan merawat ibu sesekali, meskipun semua sudah dikerjakan sama mbak Diana.


Tapi setidaknya, aku bukanlah menantu yang dzolim pada mertua." sahut Santi dengan wajah masam, sambil mengganti baju ibu dengan gerakan sedikit kasar. Sepertinya dia benar benar tersinggung dengan ucapan ibu mertua.


"Sudah, sudah!


Kalau kamu gak iklas bantuin ibu, pergi sana.


Panggilkan Muklis atau Danang. Biar kalian tau rasa. Jadi mantu kok gak ada yang bener semua." gerutu ibu dengan bersungut sungut. Dalam keadaan tidak bisa apa apa saja, ibu masih dengan sikap angkuhnya.


Terlihat Santi menarik nafasnya dalam, lalu beranjak menjauh dari sisi ibu.


"Ayo mbak." Santi menarik tanganku untuk keluar dari kamar ibu.


"San, gimana sama ibu?


Apa ini gak jadi masalah buatmu dan suami kamu nantinya?


Kalau aku sih gak masalah, karena memang akan pisah sama mas Danang." aku menghentikan langkah dan menatap wajah Santi yang sudah memerah.


"Biarin mbak, menang ibu yang salah dan kasar. Kalau anaknya lebih membela ibunya, yasudah. Aku juga gak mau ngoyo, untuk apa juga bertahan dalam keluarga yang pikirannya gak sehat, bikin hidup tersiksa. Aku masih punya orang tua yang menyayangi aku, dan aku juga punya usaha toko kelontong buat mencukupi kehidupanku, jadi aku sih masa bodoh sama sikap ibu, biarkan dia sesuka hatinya saja.


Toh dia juga masih butuh tenaga kita, kan?" Sahut Tuti dengan wajah kesal. Dia berjalan menuju ruang tamu dan mengambil ponselnya, terdengar dia menelpon seseorang, dan ternyata itu suaminya.


"Sekarang terserah kamu, mas.


Aku sakit hati dengan ucapan ibumu.


Pulanglah dan ajak sekalian mas mu juga. Rawat ibu kalian yang sakit itu. Atau siap siap cari orang buat merawatnya. Karena, mbak Diana akan pulang kampung dan memilih pisah dengan mas Danang. Dan aku, gak mau lagi berurusan dengan ibumu yang bermulut pedas itu." dengan beraninya dan tanpa Basa basi, terdengar Santi bicara lantang dengan suaminya. Ternyata, Santi cukup tegas juga dalam menyikapi apa yang membuatnya tidak nyaman. Seharusnya aku seberani dia, tapi justru aku pasrah dan tenggelam semakin dalam oleh rasa sakit ini. Ah bodohnya.


"Kita itu harus tegas, mbak.

__ADS_1


Bukan bermaksud membangkang atau berani sama suami, tapi lebih dari membela diri dan menjaga kewarasan diri sendiri.


Kalau tidak nyaman, ya utarakan dan putuskan apa yang membuat hati tenang.


Untuk apa kita bertahan jika itu untuk merasakan penderitaan, aku sih ogah. Itu sih prinsip ku, tak perduli orang mau menilai seperti apa.


Hidup hidupku, dan aku juga yang jalani, jadi tidak perlu risau sama pandangan orang orang diluar sana." ucap Santi panjang lebar dengan gaya santainya, sepertinya dia sudah mulai sedikit tenang.


"Mungkin keputusanku terlambat, San.


Tapi setidaknya, aku juga tak mau terus di jadikan babu sama suamiku terus menerus.


Nanti, kalau aku pulang kampung, masih mau kan, kamu menjalin silaturahmi denganku, San?" aku menatap manik coklat istri adik iparku itu seksama.


Nampak dia tersenyum lebar dengan lesung di pipinya.


"Ya pastilah, mbak.


Insyaallah, aku juga gak bakalan lupa sama kamu.


Kita masih bisa berhubungan lewat ponsel juga. Semoga, mbak Diana menemukan seseorang yang mau menerima mbak apa adanya dan hidup mbak jauh lebih baik. Aamiin." sahutnya yang membuatku ikut mengaminkan semua doa doanya.


"Makasih ya, San!


Insyaallah ini yang terbaik untukku dan anak anak." sahutku dengan seulas senyum tipis.


"Ibu nangis?


Kapan?" tanya Santi yang terlihat mengerutkan wajahnya bingung.


"Halah, ternyata ini kelakuan kalian yang selalu bilang jagain ibuku. Cuma ngrumpi dan gak ngurus ibu dengan baik. Ibu barusan telpon dan nangis, katanya kalian sudah meninggalkannya begitu saja, tidak mau mengurusnya lagi. Kenapa sih, apa salah ibuku, hah?" teriak mas Danang dengan wajah mengeras. Ternyata ibu mertua mulai berulah kembali, astagfirullah.


"Jaga ucapan kamu, mas Danang.


Ibu sendiri yang meminta kami keluar dari kamarnya, dan mengusir kamu agar tidak lagi mengurusnya. Karena dia akan meminta kalian anak anaknya yang melakukan itu, paham?" Santi menjawab ucapan mas Danang dengan suara tak kalah lantangnya.


"Maksudmu?" sahut mas Danang bingung.


"Tanya sama ibumu sendiri. Itu kalau dia tidak drama lagi. Masak lupa sama sifat dan kebiasaannya dulu." jawab Santi dengan senyuman miring. Aku akui Santi memang sangat berani, dia punya karakter yang unik dan tangguh sebagai seorang wanita.


Mas Danang nampak berpikir dan terlihat menggelengkan kepalanya frustasi.


"Ada apa ini?" tiba tiba Muklis juga sudah muncul di belakang mas Danang dengan raut heran.


"Tanya sama istrimu.

__ADS_1


Pusing aku." sahut mas Danang ketus dan berjalan menuju kamar ibunya. Entah apa yang akan terjadi saat ini. Paling juga akan bikin drama lagi, huuft siap siap saja untuk drama selanjutnya dari sang ibu mertua.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2