
"Kalau saja, aku dulu tidak tergoda dengan perempuan sialan itu, mungkin saat ini aku sudah bahagia dengan Ningsih dan Shanum!
Apa lagi, Ningsih punya harta warisan dari bapaknya. Pasti sekarang dia hidup dengan enak dan nyaman. Sedangkan aku, semakin kere dan menderita! Aaargh sialan, semua gara gara Diana sialan itu!" rutuk Danang yang meremas rambutnya frustasi, kini hidupnya memang benar benar kacau.
Saat tengah bergelut dengan pikirannya, ponsel milik Danang berdering. Panggilan dari kakak perempuannya membuyarkan lamunannya.
"Hallo, ada apa mbak?" sapa Danang tanpa salam lebih dulu.
"Kamu sekarang ada dimana, Nang?
Cepet kamu pulang ke rumah ibuk, Diana ngamuk disana, bawa keluarganya juga!" suara Rokayah terdengar panik, pun dengan Danang yang langsung menegakkan tubuhnya. Diana benar benar membuatnya tak tenang.
"Yasudah, aku segera pulang. Mbak tenang saja!
Diana perlu diberi pelajaran biar tidak terus kurang ajar!" sahut Danang geram dan langsung mematikan sambungan telepon dari kakaknya.
Danang menyambar jaket yang tergantung di dinding dan mengambil kunci motornya.
Dengan kesetanan Danang melajukan kendaraannya sangat kencang.
Satu jam perjalanan, akhirnya Danang sampai dirumah orang tuanya. Terdengar raungan Diana dengan segala sumpah serapahnya. Sedangkan terlihat budhe dan pamannya Diana juga ikut serta disana. Di depan rumah sudah banyak tetangga yang penasaran melihat keributan yang terjadi.
Bu Yuyun yang tengah sakit hanya bisa menangis , sedangkan Muklis hanya diam tanpa ekspresi.
"Ada apa ini?
Kamu mau bikin malu dan ulah disini, Diana?" Danang langsung menerobos masuk dan mencekal lengan Diana dengan kasar.
"Akhirnya kamu muncul juga, laki laki brengsek!" sahut Diana tanpa rasa takut.
Matanya menatap tajam dengan dada naik turun karena sangking emosinya.
"Jaga mulutmu, ******!
Kenapa kamu bikin ulah dengan mendatangi rumah orang tuaku, hah?
Apa otakmu sudah geser, sudah tau ibuku sedang sakit. Masih saja kamu cari gara gara!
Dasar perempuan murahan tak tau malu!" herdik Danang emosi.
"Danang! Jaga ucapan kamu!
Bagaimanapun, Diana itu masih istri kamu!
Kamu masih harus bertanggung jawab dengan anak dan istrimu. Bukannya malah ngilang dan membiarkan anak istrimu kelaparan!" sahut pak Jono, pamannya Diana.
"Dia sendiri yang sudah pergi meninggalkan aku. Jadi tanggung saja akibatnya. Lagian, aku juga sudah tidak lagi mau tau dengan wanita murahan sepertinya. Gara gara keponakan anda, hidupku berantakan. Dia sudah menghabiskan uangku tanpa sisa. Dasar keluarga gila!" maki Danang dengan amarah yang meledak.
__ADS_1
Pak Jono tak lagi banyak bicara, karena selama ini, dirinya juga ikut menikmati uangnya Danang. Setiap bulan, Diana pasti akan memberikan jatah satu juta buat pak Jono yang kerjaannya cuma nganggur di rumah.
"Dan kamu, Diana!
Berhenti mencariku. Karena aku sudah tidak Sudi melihatmu. Setelah urusanku selesai, aku akan mengurus surat cerai di pengadilan. Kamu yang pergi meninggalkan aku, jadi terima saja apa yang sudah aku putuskan." sambung Danang dengan wajah mengeras.
"Apa, mas?
Kamu benar mau menceraikan aku?
Bagaimana dengan anak kita?
Dia butuh ayahnya, kamu jangan egois!" sungut Diana tidak terima, selain itu dia juga tidak tau harus bagaimana lagi, tidak ada pendapatan sama sekali, perhiasannya sudah habis terjual. Dikampung, ibunya juga tidak bekerja. Diana benar benar buntu. Makanya dia memutuskan untuk kembali mencari Danang dan minta pertanggung jawaban agar mau menafkahi anaknya.
"Kenapa kamu tanya begitu?
Bukankah dulu, saat Ningsih minta nafkah kamu yang melarangnya, dan kamu bilang tidak perlu karena dia sudah tidak lagi merawat ku.
Jadi apa bedanya dengan kamu sekarang. Kita sudah gak bersama lagi, kan?
Jadi bersikaplah seperti Ningsih, yang tak lagi menuntut nafkah dariku." sahut Danang dengan bibir dinaikkan ke atas. Diana yang tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu, langsung saja terkesiap dengan jantung berdetak kencang. Danang benar benar tidak punya perasaan.
"Kenapa?
Gak terima?
Mereka masih sah anak dan istriku. Tapi kamu, selalu menguasai gajiku sendiri tanpa mau memberikan hak mereka. Apaan untuk ditabung buat masa depan. Apa buktinya, yang habis tanpa sisa entak kamu buat apa. Perempuan serakah dan licik sepertimu memang pantas diberi pelajaran." sambung Danang yang meluapkan kekesalannya, Diana hanya diam dan terlihat pias. Apa yang dikatakan Danang semua benar adanya dan kini itu kembali padanya.
"Tapi, mas!
Aku tidak lagi kerja. Bagaimana dengan anak anak?
Mereka butuh makan dan susu!" lirih Diana menahan perasaan kecewanya.
"Ya kamu usaha dong, gimana caranya. Lihat tuh Ningsih, dia tidak pernah aku nafkahi tapi tetap bisa hidup dan merawat Shanum dengan baik. Masa kamu kalah dengan perempuan yang selalu kamu hina, malu lah seharusnya!" Danang terus berusaha untuk memojokkan Diana. Sengaja menjatuhkan mental perempuan itu agar tak lagi bikin masalah dengan sikap bar barnya.
"Kamu tega ya, mas!
Kamu jahat!
Dimana hati nurani kamu sebagai seorang ayah?
Bisa bisanya kamu lepas tanggung jawab, lihat anak kita, dia masih kecil dia butuh kamu dan butuh minum susu. Jangan egois kamu!" teriak Diana yang masih tak terima dengan ucapan Danang.
"Danang!
Dulu kamu memilih Diana dan meninggalkan istri kampungan kamu itu. Tapi kenapa sekarang kamu seolah olah ingin membuang Diana dan menelantarkan anak kamu?
__ADS_1
Jangan jadi laki laki tidak bertanggung jawab kamu. Bagaimanapun Diana itu masih istri sah kamu. wajib bagimu menafkahi dia dan anaknya. Apa kamu mau dilaporkan?
Sekalian biar sama sama hancur!" tekan budhenya Diana dengan wajah merah padam, menahan geram sedari tadi karena sikap masa bodohnya Danang.
"Baiklah, kamu akan tetap jadi istriku.
Tapi ada syaratnya!" sahut Danang dengan menyeringai jahat.
"Kamu harus mau tinggal dirumah ini, merawat ibuku dengan baik. Mengurus semua keperluannya. Dan satu lagi, aku gak mau anak kamu itu ikut disini. Biar dia tinggal sama bapaknya saja. Aku gak Sudi mengeluarkan uang untuk anak laki laki lain." sahut Danang dengan sikap dinginnya. Membuat Diana shock lantaran syarat yang diberikan Danang terasa berat baginya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1