Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
histeris


__ADS_3

"Lakukan sekarang, pak!


Robohkan hingga rata!" perintah mas Danang dan langsung di iyakan oleh seseorang yang ada di balik kemudi.


"Hentikan!


Apa yang kalian lakukan, hah!


Hentikan!" teriak Bu Wati yang terlihat dibonceng sama anak laki lakinya yang baru berumur belasan tahun. Sedangkan Ambar dan selingkuhannya juga sudah datang, mereka berboncengan menggunakan motor lelaki itu.


"Kurang ajar!"


Bugh! bugh! Lelaki itu turun dari motor langsung memukul mas Danang, karena tidak siap, mas Danang pun terjungkal dan itu membuat Muklis murka melihat kakaknya dipukuli. Muklis membalas menyerang laki laki itu dengan wajah merah padam.


"Kenapa kamu pukuli, mas Danang, hah?


Siapa kamu, berani beraninya ikut campur!" geram Muklis yang masih terbakar amarah.


"Kalian yang kurang ajar, kenapa berani berani nya mengusik rumah calon istriku!


Kalau sakit hati ya sakit hati saja, tidak usah merusak rumah ini. Ini rumah milik istriku, paham?" teriak lelaki itu murka.


"Yang pasti, cuma tanahnya saja!


Sedangkan rumah ini, dibangun dengan uangku. Jadi aku berhak menghancurkan kembali bangunan yang aku bangun dengan uangku, paham?


Kalau mau punya rumah, bangun saja dengan uang kalian sendiri!" sahut mas Danang meremehkan.


"Gila kamu, mas!


Aku bisa melaporkan kamu pada pihak berwajib!


Hentikan perbuatan gilamu itu!" Ambar ikut bersuara, mukanya sudah memerah karena marah.


"Laporkan saja, maka aku juga bisa melaporkan kamu dengan tuduhan perzinaan, gimana?" sahut mas Danang dengan senyuman sini.


"Lanjutkan, pak!


Robohkan hingga rata seperti dulu!" teriak mas Danang pada pria di balik kemudi alat berat, dan aksi merobohkan rumah pun kembali dilakukan.


Bu Wati histeris, teriak penuh kemarahan, mencaci maki semua orang dengan kata kata kasarnya.


Sedangkan Ambar nangis sesenggukan dalam pelukan lelaki itu.


Tidak butuh waktu lama, rumah yang bagus dan terlihat mewah itu sudah kembali rata.


Mas Danang tersenyum puas, sedangkan Bu Wati dan keluarganya terkulai lemas.

__ADS_1


"Mas Danang, boleh gak ini bata batanya aku bawa pulang, buat tambah tambah bangun dapur." pak Rebo menghampiri mas Danang dan meminta ijin membawa bata yang sudah banyak yang tidak utuh, tapi masih bisa digunakan.


"Bawa saja, pak.


Buat yang lain yang membutuhkan juga boleh ambil. Itu saya yang beli, jadi mereka tidak berhak melarangnya. Ambil saja, saya lebih rela di pake kalian, dari pada buat orang orang munafik seperti Mereka. Ambar, selamat hidup miskin lagi, ya!" Mas Danang tersenyum puas, lalu berjalan menghampiri pemilik alat berat dan memberikan upah pada orang itu, lalu pergi meninggalkan tempat bersama Muklis.


Sedangkan para tetangga berebut mengambil bata dan genteng yang masih bisa dipergunakan.


"Heh kalian, berhenti mengambil semua bata batanya. Itu masih di pakai, karena aku akan membangun rumah ini lagi." teriak Ambar marah, namun satupun tidak ada yang perduli. Mereka masih terus mengambil apa yang mereka mau.


"Budhek ya kalian!


Berhenti mengambil bata dan gentengnya!" lelaki itu ikut berteriak.


"Halah, gayanya. Tidak ikut punya aja kok sok melarang. Mas Danang yang beli saja nyuruh kami mengambilnya. Kasihan ya kalian, gak bisa sombong lagi dong, miskin lagi sih!" hahahaaaa salah satu ibu ibuk berceloteh menghina Ambar dan disambut tawa riuh dari yang lain.


"Akhirnya tanpa harus susah payah, Ambar tersingkirkan juga karena ulahnya sendiri dan ternyata lebih parah dari yang aku duga. Dalam sekejap, mas Danang mengambil semuanya kembali.


"Heh, senang kamu?


Pasti kamu yang sudah melaporkan aku sama warga ya?


Kurang ajar!" teriak Ambar yang menyadari keberadaanku.


Akupun menoleh dan memberikan senyum manis pada perempuan itu.


"Kenapa sih suka sekali cari kambing hitam untuk menutupi kesalahan kamu sendiri, ck!" sahutku santai dan beberapa ibuk ibuk sudah ada di belakangku.


"Lawan mbak Diana!


Kasih tuh pelajaran sama pelakor!" teriak Bu Sarmi semangat.


"Iya betul, lawan saja, dasar gak tau malu memangnya. Sudah ketahuan zina, eeh bisa bisanya nyalahin istri sah!" sahut Bu Dini berapi api.


"Perempuan gatel yang sok kecantikan, suka banget ganggu suami orang, eh sekarang kena karma, miskin lagi deh!" seru Bu Wiji sambil tertawa ngakak.


Sepertinya ibu ibu disini memang tidak menyukai sosok Ambar.


"Diam kalian!


Tidak usah ikut campur.


Bilang saja kalian itu iri padaku, karena aku itu cantik, wajar kalau suami kalian pada ngelirik aku, ah kalian saja kucel dan sama sekali gak menarik, cih!" sahut Ambar dengan tak tau malunya.


"Dasar pelacur murahan, mulutnya itu loh, mbok Yo di jaga, sudah kena karma kok gak ada sadarnya!" celetuk ibu ibu yang aku tidak tau namanya, karena aku memang jarang keluar jadi tidak semua aku kenal.


"Sudah, sudah. Tidak usah ladeni mereka, sebaiknya kita balik kerumah kamu saja, lapar aku!" lelaki itu menarik kasar tangannya Ambar dan menyeretnya ke dalam rumah orang tuanya Ambar.

__ADS_1


"Keluar kalian, ini semua gara gara kamu!


Sekarang Ambar diceraikan suaminya, memang kamu bisa mencukupi kebutuhan kami semua, hah?


Keluaaar!" teriak Bu Wati dengan suara melengking, aku dan ibu ibu saling beradu tatap dengan menahan tawa oleh drama keluarganya Ambar yang mulai frustasi, karena ATM berjalannya memilih pergi. "Syukurin!"


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2