Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
Bagi dua


__ADS_3

Mas Danang nampak berpikir dan terlihat menggelengkan kepalanya frustasi.


"Ada apa ini?" tiba tiba Muklis juga sudah muncul di belakang mas Danang dengan raut heran.


"Tanya sama istrimu.


Pusing aku." sahut mas Danang ketus dan berjalan menuju kamar ibunya. Entah apa yang akan terjadi saat ini. Paling juga akan bikin drama lagi, huuft siap siap saja untuk drama selanjutnya dari sang ibu mertua.


"Ada ada saja.


San tolong buatkan mas kopi.


Kamu gak usah terlalu mikirin omongan ibuku, dari dulu kan memang seperti itu sifatnya. Kalau kamu gak nyaman, lebih baik dirumah saja jaga toko. Aku gak mau nanti kandungan kamu ada apa apa. Aku sudah menantikan lama anak itu." Muklis nampak bicara dengan santainya pada Santi.


Meskipun wajahnya terlihat dingin, Muklis suami yang baik, buktinya dia bisa memahami keadaan istrinya dan tidak memojokkan seperti yang dilakukan mas Danang padaku selama ini.


"Iya, mas. Tunggu sebentar." Santi langsung beranjak dari duduknya dan berlalu ke dapur membuatkan apa yang diminta suaminya.


Sedangkan aku memilih masuk ke dalam kamar saja, sambil berkemas, meskipun hanya cuma sedikit barang, setidaknya aku juga harus menyiapkannya.


"Na, dimana kamu?" teriak mas Danang memekakkan telinga.


"Ada apa sih, mas? Teriak teriak kayak di hutan saja, malu di denger tetangga." terdengar suara Muklis menegur kakaknya.


"Kamu lihat Diana gak?


Dia sudah keterlaluan, berani beraninya nyakiti ibu." terdengar suara mas Danang kesal diluar sana.


"Nyakiti gimana?


Wong, yang ngerawat ibu selama ini kan mbak Diana, gak usah ngarang kamu, mas. Ada aja kalau mau bikin masalah, heran aku." Muklis kembali menimpali ucapan mas Danang.


"Na, keluar kamu!" bentak mas Danang yang terdengar menggebrak pintu kamarku.


"Ada apa sih, mas?


Kenapa kamu marah marah tak jelas, salahku apa?" tanyaku memberanikan diri setelah membuka pintu kamar yang tadi aku kunci dari dalam.


"Masih nanya lagi.


Kamu kan yang sudah nyakiti hati ibu?


Kamu keberatan ngerawat ibuku dan milih pulang buat ngerawat ibumu sendiri.


Dasar egois kamu, na!


Gak punya perasaan sama sekali.


Aku gak mau tau ya, kamu harus tetap disini, merawat ibuku sampai dia sembuh. Itu permintaan ibu bukan aku. Jadi jangan ke ge er dulu kamu." sahut mas Danang dengan tak tau malunya, apa dia anggap aku ini bodoh, bisa bisanya dia memintaku bertahan untuk merawat ibunya, dasar laki laki gak punya perasaan. Runtuk ku dalam hati.


"Sudah ngomongnya?


Yasudah aku mau beres beres, biar lusa bisa langsung berangkat. Jangan pikir aku sudi kamu perlakuan sehina ini, cari saja pembantu untuk ngerawat ibumu, uangmu kan banyak." sahutku yang sudah hilang hormat pada makhluk di hadapanku itu.

__ADS_1


"Emangnya siapa yang ngijinin kamu keluar dari rumah ini, hah?


Kamu akan tetap di sini, dan harus merawat ibuku. Paham?" bentaknya dengan wajah menyebalkan.


"Kamu pikir, kamu siapa mas?


Kita juga sudah lama gak cocok.


Aku dirumah ini juga jadi babu gratisan yang kamu suruh untuk merawat ibumu yang lumpuh dan juga membereskan rumah ini. Selebihnya apa?


Aku dihargai saja tidak, kan?


Jadi jangan coba coba menghalangi niatku untuk pulang dan menggugat cerai kamu. Atau aku akan bawa masalah ini ke kepala desa, melaporkan semua keburukan kamu, buat saja seluruh kampung tau, seperti apa kamu dan keluargamu memperlakukan aku selama ini." ucapku panjang lebar, membuat mas Danang melotot tak percaya, sedangkan Santi nampak senyum senyum sambil membawa secangkir kopi lewat di depanku.


"Makanya, mas.


Punya istri itu disayang, di jaga dan di buat bahagia.


Bukannya diselingkuhin dan di suruh ngurus rumah saja, ya pasti ogah lah.


Aku saja kalau diperlakukan mas Muklis begitu juga gak bakalan mau, enak saja." Santi ikut menimpali, dan semakin membuat mas Danang kesal.


"Oke, jangan kamu kira aku akan menahan kamu.


Pergi saja, dan jangan harap aku akan kasih uang lagi, sepeser pun gak bakalan aku mau kasih." sambung mas Danang, yang menatapku benci.


"Terserah kamu saja lah, mas.


Lagian aku juga gak butuh kok, tenang saja.


"Aaargh sialan kamu Diana!" teriak mas Danang murka sambil menggebrak pintu, bodoh amat. Lebih baik aku tidur, sekali kali aku juga butuh waktu untuk santai.


"Klis, suruh istrimu ngurus ibu hari ini.


Gak mungkin aku atau kamu kan?" terdengar Danang berbicara pada adiknya.


"Bukannya aku gak mau ya, mas.


Tadi ibu sendiri yang ngusir aku, dan nyuruh aku gak usah pegang pegang dia lagi. Jadi ya, lebih baik mas Danang cari tuh orang yang mau ngurus ibu." sahut Santi dengan tegas menolak keinginan mas Danang.


"Kamu bisa didik istrimu buat bicara sopan gak sih, klis?


Menyebalkan!" sungut mas Danang terdengar kesal dengan penolakan Santi.


"Kenapa sih, mas.


Emang ibu sendiri kok yang mulai, yasudah cari orang buat urusin ibu. Gitu saja kok repot sih." sahut Muklis yang membela istrinya.


"Tapi nanti kita bagi dua biaya buat urusin ibu.


Enak saja, selama ini kamu sedikitpun tak mau tau soal keperluan ibu juga." kembali mas Danang bersuara yang mengeluarkan uneg unegnya itu.


"Oke. Nanti bilang saja, berapa yang harus aku keluarkan buat biaya ibu.

__ADS_1


Yuk, San!


Kita pulang!" terdengar Muklis menimpali ucapan mas Danang dengan nada sumbang.


"Siapkan dua juta sebulan, kebutuhan ibu itu banyak, belum lagi bayar buat orang ngurusin ibu." sahut mas Danang dengan nada meremehkan.


"Oke, atur saja." terdengar Muklis menjawab tanpa banyak mendebat, lalu terdengar suara motor pergi meninggalkan halaman.


"Ini semua gara gara Diana sialan itu, kurang ajar!" terdengar mas Danang mengumpat menyalahkan aku, tapi biarkan saja, biar dia pusing sendiri. Aku cukup menyiapkan diriku untuk menuju kehidupanku selanjutnya setelah ini. Bismillah!


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2