Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
masa lalu


__ADS_3

Entahlah, kenapa hatiku mendadak perih saat mendengar namanya disebut putriku. Perasaan yang dulu hinggap sampai kini masih melekat di sanubari. Padahal nyata nyata Hans masih milik wanita lain.


"Ibuk kok ngelamun, inget om Hans ya?


Om Hans itu baik ya, buk?


Enggak kayak ayah, jahat dan kasar." celoteh Shanum dengan wajah yang berubah mendung.


Aku mengenal Hans dua tahun yang lalu.


Kami waktu itu sama sama ada di acara pernikahan sahabat kami. Aku bersahabat dengan pengantin wanita, sedangkan Hans teman dari pengantin pria. Hans yang waktu itu terjebak tidak bisa pulang, karena mobilnya parkir di tempat yang sudah tertutup banyak kendaraan di belakangnya, pun demikian juga denganku.


Kamu sama sama terdiam waktu, sampai akhirnya dia membuka obrolan basi basi menanyakan alamat tempat tinggal ku.


Entah bagaimana awalnya, kami menjadi dekat lewat obrolan di WA, dan sesekali bertemu hanya sekedar minum kopi.


Kami memiliki kisah yang hampir sama, aku yang sudah di abaikan suamiku karena dia menikah lagi. Sedangkan Hans, harus bertahan dengan perjodohan bersama perempuan yang tidak dicintai. Terlihat wajah tertekan dan hampir tanpa senyuman. Namun saat bersamaku dia akan begitu berbeda, sering tertawa dan bisa bicara apapun tentang dirinya dan juga perasaannya.


Perasaan itu muncul, rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan dengan kata kata. Kami menyadari jika ini salah, karena masih sama sama terikat dengan pasangan masing masing.


Akhirnya kami mencoba untuk menjaga jarak.


Dan dia pun sedang dipindah tugaskan di luar kota.


Sejak itu, kaki sudah jarang berkomunikasi, namun Hans tetap menjalin hubungan baik dengan Shanum, mereka sering mengobrol lewat telpon dan tak jarang Vidio call. Hingga gadisku itu merasa menemukan perhatian dari seorang ayah dalam diri Hans.


"Ibuk kok ngelamun, sih! Dari tadi diem terus!


Shanum ngomong gak di denger!" anakku itu memasang wajah masam, karena merasa di acuhkan.


"Eh, maafin ibuk ya!


Ibuk cuma kaget saja. Tapi Shanum gak yang minta om Hans untuk kesini kan?" ku tatap wajah cantik putriku yang langsung terlihat manyun.


"Ih, ibuk!


Masak gak percaya sama anak sendiri.


Shanum itu tau, om Hans itu baik dan juga perhatian.


Tapi Shanum juga ngerti batasan. Tadi, om Hans sendiri kok yang bilang mau kesini. Katanya ada yang mau di obrolin sama ibuk.


Om Hans, terlihat makin ganteng loh, buk!


Cocok jadi ayah barunya Shanum!" anakku itu terkikik dengan memainkan matanya naik turun menggodaku.


"Hust!

__ADS_1


Gak boleh bilang begitu. Kalau ada yang dengar, ibuk nanti dikira jadi pelakor. Amit amit!" sahutku sambil mendelik ke arah anak perempuanku yang semakin tergelak.


"Tenang saja, buk!


Om Hans itu masih single. Jadi ibuk bukan pelakor! sahut Shanum yang semakin tergelak, entah apa yang dia tertawakan, anakku itu kadang kadang bikin heboh dengan sikapnya yang konyol.


"Shanum mau bikin puding dulu. Nanti kalau om Hans kesini, biar bisa buat cemilan. Ibuk mandi sana, biar seger, biar om Hans makin ehem ehem sama ibuk! hahahaaa" ya ampun anakku, kesambet dari mana, kok bisa bersikaplah ngawur begini.


"Hust, ketawanya itu loh. Anak perempuan kok ketawanya lebar banget.


Dan jangan suka bilang begitu, kasihan istrinya om Hans, nanti salah paham. Dosa, kita gak boleh merusak hubungan orang lain sekalipun itu berniat cuma bercanda saja. Pamali!" aku memberi peringatan pada anakku yang kini sudah semakin dewasa saja, sejak pindah dan tak lagi mendapatkan gangguan dari mas Danang, dia semakin terlihat ceria dan sumringah.


"Iya, iya!


Maafin Shanum, habisnya Shanum selalu bermimpi punya ayah kayak om Hans. Baik, perhatian, sopan, lembut dan satu lagi, sayang sama Shanum tanpa diminta.


Semoga ibuk bisa membuka hati dan menerima om Hans. Setelah nanti bertemu, ibuk akan tau kebenaran hidup Hans yang sekarang." celoteh putriku panjang lebar. Sungguh aku tidak paham maksud ucapannya.


"Maksudmu apa, nak!


Kok kamu bicara begitu tentang om Hans?" sahutku penasaran, namun Shanum hanya membalasnya dengan senyuman lebar dan mata yang di naik turunkan.


"Ah sudahlah, kamu ini!


Ibuk mau bersih bersih dulu. Kamu kalau capek, istirahat saja dulu. Rumah susah di sapu sama mbak Yuni tadi." aku berlalu meninggalkan putriku yang tengah mengaduk agar agar di panci.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul empat sore, terdengar suara mobil berhenti di halaman depan rumah. Mobil warna putih keluaran terbaru terparkir begitu gagahnya di depan pagar, terlihat pria tampan dengan tubuh proporsional turun. "Hans." lirihku tak percaya.


Dia tersenyum begitu manisnya, kaca mata hitam bertengger diwajahnya. Dada terasa berdetak kencang, namun berubah perih saat teringat dia milik wanita lain.


"Asalamualaikum!" sapanya ramah.


"Waalaikumsallm, silahkan masuk, Hans!" sambut ku dengan dada berdetak kencang.


"Kamu sudah lama pindah disini, Ning?


Ini tak jauh dari rumah orang tuaku loh!


Makanya pas waktu Shanum cerita aku sempat kaget." sambungnya dengan sikap tenangnya, mata itu terus menatapku hingga membuatku jadi salah tingkah.


"Lumayan, setahunan aku disini.


Sejak resmi berpisah dengan suamiku. Aku memutuskan untuk pindah rumah, demi menghindari gangguannya yang bikin kepalaku pusing!" sahutku tanpa sadar mengutarakan apa yang menjadi kecemasan ku.


"Alhamdulillah, akhirnya, kamu pisah juga dengan laki laki toxis itu, Ning!

__ADS_1


Kamu berhak bahagia, dan mendapatkan laki laki yang bisa menjaga dan mencintaimu secara tulus!" sahutnya dengan senyuman yang membuat jantungku tidak baik baik saja, aah tampannya, suaminya orang! huuuuuh, ya ampun apa yang aku pikirkan, sadar Ning sadar.


Shanum terlihat membawa baki berisi minuman dan agar agar hasil buatan nya. Senyum mengembang di wajah putriku.


"Selamat datang, om!


Ini agar agar, aku loh yang buat sendiri. Dimakan ya!" anakku terlihat begitu akrab dan senang dengan kehadiran Hans.


"Wah pasti ini enak banget. Makasih ya cantik.


Miskin besar makin pintar ya, kayak bundanya!" sahut Hans dengan mata melirik ke arahku. Sedangkan Shanum terlihat terkikik geli.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2