
"Terserah kamu saja lah, mas.
Aku sudah ingetin kamu. Kalau ada apa apa tanggung saja sendiri." sahut Muklis yang mulai bosan mengingatkan kakaknya itu.
Nanti kalau sudah kena imbasnya baru nyesel dan kalau saat itu tiba, Muklis sudah gak mau perduli lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas, mas Muklis! mas!" suara mbak Alipah membangunkan Muklis yang tertidur di kursi ruang tamu.
"Iya, mbak. Ada apa?" sahut Muklis sambil mengucek matanya.
"Ibu sampean, mulutnya dari tadi keluar iler terus, gak mau makan sama sekali dan sudah dingin semuanya, dari tangan sampai kakinya. Kok aku takut ya, mas. Apa ibu sampean sudah waktunya?"
Ucapan mbak Alipah membuat Muklis langsung mendongak menatap perempuan setengah baya yang sudah merawat ibunya beberapa bulan ini.
"Maksudnya, mbak Alipah?" Muklis mencoba mencerna kata kata tetangganya itu, ada nyeri di ulu hatinya. Dia langsung bangkit dan berlari menuju kamar ibunya.
"Bu!" Lirih Muklis dengan dada yang sudah berdetak kencang, rasa takut kehilangan ibunya membuat tubuhku bergetar.
"Apa kita bawa kerumah sakit saja, mas?" terdengar mbak Alipah memberikan usulannya, sedangkan Muklis masih terpaku menatap sang ibu yang sudah terlihat sangat pucat dan lemah.
"Mbak, tadi Santi pamit pergi kemana, aku lupa?" Muklis baru teringat kalau istrinya tadi pamit keluar membeli sesuatu, karena terlalu memikirkan sikap kakaknya, Muklis jadi tidak begitu fokus dengan ucapan istrinya.
"Mbak Santi tadi mau beli bubur buat ibu di rumahnya Mak Kasri, mas.
Habisnya ibu gak mau makan apapun, kita jadi khawatir ibu makin drop." sahut mbak Alipah dengan wajah terlihat cemas.
"Bu, Muklis akan bawa ibu kerumah sakit ya?
Nanti disana alat dan obat obatnya lengkap, insyaallah ibu akan lebih baik." Muklis mendekati ibunya, menatapnya nanar pada tubuh tua sang ibu.
Bu Yuyun terlihat menggeleng lemah. "Tidak usah, ibu sudah gak kuat lagi, ibu mau mati dirimu saja.
Bantu ibu, nak." sahut Bu Yuyun lirih hampir tidak terdengar kalau tidak mendekat ke wajahnya.
"Tapi, Bu!
Ibu harus dapat perawatan yang lebih, ibu sudah lemes begini. Nunggu Santi sebentar, nanti kita langsung kerumah sakit saja." sahut Muklis tang semakin cemas dengan keadaan ibunya yang semakin menurun.
"Ibu dirumah saja, panggilkan kakakmu, Le.
Ibu pingin lihat wajah kakakmu sebelum pergi." lirih Bu Yuyun dengan mata setengah terpejam, ada tetes bening yang mengalir disudut mata tuanya.
"Iya Bu, Muklis akan telpon mas Danang dulu. Dia masih di tempat kerjanya." jawab Muklis memberikan alasan kemana kakaknya, agar ibunya yang sakit tak lagi begitu terbebani dengan kelakuan bejatnya sang anak yang tidak mau berubah.
Berulangkali Muklis menghubungi nomor ponselnya Danang, namun tidak diangkat sama sekali. Mengirimkan pesan berulangkali juga belum terbaca. Membuat Muklis frustasi sendiri dengan ulah kakaknya itu.
"Mungkin mas Danang masih sibuk, Bu.
Tapi Muklis sudah mengirimkan pesan kepada mas Danang kok, kalau dia baca pasti akan langsung pulang." Muklis berusaha memberikan alasan lada ibunya yang terlihat semakin melemah.
"Mas!
__ADS_1
Ibu kenapa?
Ini buburnya, biar Santi coba suapin ke ibu." Santi muncul dengan membawa semangkok bubur di tangannya yang masih panas.
"Badan ibu kok dingin banget, mas.
Bu! Ibu makan dulu yuk, Santi sudah beli bubur buat ibu, masih panas. Bu! Ibu!" Santi terlihat panik, karena Bu Yuyun tak lagi mau membuka matanya, sedangkan Muklis bergeming dengan perasaan yang sudah campur aduk.
"Mas, ibu." Santi memegang pergelangan tangannya ibu mertuanya dan meletakkan telinga ke dada Bu Yuyun, seketika tangisnya pecah. Ibu yang memang tidak dia sukai itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu Yuyun meninggal sebelum bertemu dengan anak sulungnya.
"Bu Yuyun kenapa Mbak Santi?" mbak Alipah juga ikut terlihat panik melihat Santi yang tiba tiba menangis, dan Muklis juga terisak tanpa suara di samping ibunya.
"Ibu sudah gak ada, mbak." lirih Santi dengan suara bergetar.
"Innalilahi, kalau begitu biar saya yang kasih tau warga, biar diumumkan di mushola juga." mbak Alipah langsung bergegas memberitahu warga kalau Bu Yuyun sudah meninggal.
Tak butuh waktu lama, sudah banyak tetangga yang datang untuk melayat dan membantu proses pemakaman.
"Mas, gimana, mas Danang sudah bisa dihubungi?
Ibu sudah selesai dimandikan loh ini." Santi juga terlihat kesal dengan kelakuan Danang, sudah dihubungi sedari tadi tapi tidak bisa juga. Danang sengaja tidak mau mengangkat ponselnya.
"Biarkan saja, nanti juga akan menyesal sendiri.
Kita saja yang urus jenasah ibu, banyak warga yang ikut membantu juga. Mas Danang sudah tidak mungkin bisa di harapkan pulang malam ini." sahut Muklis dingin, kebenciannya pada sang kakak telah membuatnya menjadi tak mau perduli dengan Danang lagi.
"Mas Muklis, jenasah akan dikuburkan jam berapa?
"Kalau semua sudah beres, lebih baik sekarang saja, pak. Mas Danang tidak akan pulang malam ini juga. Kasihan ibu." sahut Muklis datar, hatinya memendam kesal dengan sang kakak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Danang mengerjapkan matanya, semalam dia menginap di hotel dengan Pipit kekasihnya, ponselnya sengaja dia matikan nada dering nya biar tidak mengganggu aktifitasnya bersama perempuan yang dia sukai.
Saat terbangun, Pipit sudah tidak ada disampingnya. Tangan Danang meraba raba sisi ranjang sudah kosong tidak ada orang.
"Kemana sih Pipit, masak sudah main pergi begitu saja. Padahal aku masih belum puas bermain dengannya, pagi pagi begini pasti lebih enak. Sialan!" gerutunya yang membenarkan posisi tidurnya dengan menyender. Matanya menatap ponsel miliknya yang tergeletak diatas nakas tak jauh darinya.
"Ada apa Muklis menghubungiku sebanyak ini?" Danang mengernyitkan keningnya, menatap begitu banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari adiknya. Danang langsung membuka ponselnya dan membaca pesan dari adiknya. Tubuhnya langsung membeku dengan berita meninggalnya sang ibu.
"Ibu meninggal?
Kenapa aku sampai tidak tahu, aaah sebaiknya aku cepat pulang, dari pada jadi masalah." Danang langsung membersihkan diri di kamar mandi dan dengan cepat menganti pakaiannya. Saat dia memegang dompetnya, isinya sudah tidak ada, Pipit sudah mengambil semuanya.
"Sialan memang itu perempuan, pergi diam diam ternyata mencuri semua uangku." geram Danang, yang terlihat kesal tapi tak mau ambil pusing, karena masih ada ATM yang isinya lumayan banyak.
"Pulang juga kamu, mas?" sambut Muklis dengan tatapan tak suka saat Danang memarkirkan motornya di halaman rumah.
"Aku tidak tau karena tidak buka hape. Tidak usah banyak bicara yang penting semua sudah teratasi, kan?
Lagian juga banyak tetangga yang sudah membantumu mengurus jenasah ibu. Aku capek, mau tidur dulu." sahut Danang tanpa merasa bersalah lalu berlalu begitu saja menuju kamarnya.
__ADS_1
"Astagfirullah." lirih Santi yang mendengar ucapan kakak iparnya itu. Sedang Muklis memilih diam karena sudah terlalu muak dengan tingkah kakaknya.
"Sabar, mas!
Semoga kakakmu itu segera mendapatkan hidayah dari Gusti Alloh." lirih Santi yang mengusap punggung suaminya.
Danang sama sekali tidak menunjukkan raut sedih kehilangan ibunya, benar benar tidak ada empati sedikitpun pada orangtuanya sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1