Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
tak pernah bisa berubah


__ADS_3

"Kenapa kamu nuduh aku, mas?


Apa buktinya kalau aku nyuri?


Emang kapan hilangnya perhiasan kamu itu, apa kamu lupa, mas?


Kalau aku sudah meninggalkan rumah kamu lama, sebulan lebih loh, kalau perhiasan itu hilang bukannya dari dulu ya, kenapa baru sekarang dan kamu tiba tiba nuduh aku yang ambil, sedangkan aku gak ada di rumahmu. Aku gak terima ya kalau kamu nuduh aku kayak gini, aku bisa melaporkan kamu dengan perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik, mau kamu mas?" jawabku panjang lebar, dalam hati mau tertawa saja, pasti mas Danang bingung mau ngomong apa, karena memang dia tidak punya bukti aku yang mengambilnya. Kasihan kamu, mas!


Hening. Tidak ada jawaban di ujung sana, mungkin mas Danang bingung mau jawab apa. Setidaknya aku tidak meninggalkan jejak. Lagi pula, uangnya juga buat mencukupi kebutuhan sehari hari kami.


"Kalau bukan kamu, siapa lagi?


Aku yakin kamu yang mengambil perhiasan itu. Kembalikan atau aku akan kesana dan meminta paksa darimu, Diana. Kamu tau kan aku kalau sudah benci dengan seseorang, apapun bisa aku lakukan." sahutnya di ujung sana memberi penekanan.


"Kamu mengancam ku, mas?


Datang saja, aku juga tidak takut. Karena memang bukan aku yang mengambil. Jadi silahkan saja. Pesanku, jangan pernah kamu sembarang nuduh orang kalau tidak punya bukti, bisa bisa kamu sendiri yang akan kena imbasnya." sahutku tanpa rasa takut sedikitpun, lagian memang tidak ada bukti yang mengarah padaku. Dan mas Danang juga baru menyadari kalau perhiasan itu hilang setelah sebulan lebih.


Untungnya waktu itu aku berpikir panjang sebelum mengambil perhiasan itu, aku menggunakan sarung tangan karet sisa dari mengaduk kue, kalaupun dia melapor pasti tidak ada bukti akurat yang mengarah padaku.


"Sialan kamu Diana. Bisa bisanya kamu menyangkal, nyata nyata kamu yang mengambil." kembali mas Danang meluapkan amarahnya, dia masih kekeuh menuduhku jika aku yang mengambil perhiasan itu. Benar sih, tapi sayangnya kamu tidak memiliki bukti, mas.


"Terserah kamu saja lah, mas.


Yang penting bukan aku yang ambil. Jangan cuma nuduh tapi buktikan kalau memang tuduhan kamu itu benar. Aku sibuk, banyak yang harus di kerjakan, jadi maaf aku tidak bisa banyak meladeni omong kosong kamu. Asalamualaikum." aku tak ingin lagi banyak bicara dengan mas Danang, yang penting posisiku aman karena dia memang tidak ada bukti.


Biar saja dia sakit hati dengan kemarahannya sendiri. Mungkin aku jahat, tapi aku merasa berhak mendapatkan apa yang seharusnya mas Danang berikan untukku dan juga anaknya. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya terhadap anak dan istrinya. Selebihnya biarkan Tuhan yang menentukan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di lain tempat, Danang benar benar pusing memikirkan perhiasan yang hilang. Padahal dia berniat mau memberikannya pada kekasih barunya. Pikirannya mulai kacau, karena Diana tidak mau mengakui dan dia juga tak memiliki bukti apapun.


"Ah sialan!

__ADS_1


Kenapa aku bisa lupa tidak mengecek ulang perhiasan itu saat Diana meninggalkan rumah ini.


Tapi, kalau memang bukan Diana yang ngambil, terus siapa lagi?


Masak ada pencuri masuk rumah ini?


Aarrgh sudahlah aku pusing gara gara mikirin masalah sepele ini.


Lagian uangku juga banyak, aku bisa beli lagi untuk kasih hadiah sama Pipit, biar dia semakin lengket lagi denganku." Danang masih juga belum berubah, sering gonta ganti pasangan, dan Pipit adalah wanita malam yang sering dia kencani. Tapi Danang tak lagi mau ambil pusing, asal cantik dan bisa membuatnya puas, Danang tak mau memikirkan akibat dari perbuatannya itu.


Pipit sudah banyak melayani banyak pria, tapi Danang tidak perduli itu semua.


"Lebih baik aku hubungi Pipit dan mengajaknya langsung ke toko, agar dia bisa memilih sendiri sesuai yang dia inginkan." Danang tersenyum puas karena bisa mendapatkan apapun yang dia mau dengan uangnya.


"Mau kemana lagi kamu, mas?


Ibu lagi drop loh, tapi kamu keluyuran saja sih kerjaannya.


Apalagi suka jalan sama Pipit, dia itu bukan perempuan baik baik, awas kalau mas kena penyakit kelamin, baru nyesel nanti." Muklis menegur Danang, karena sudah muak dengan kelakuan kakaknya itu. Ibunya tengah sakit dan sudah parah, tapi Danang justru semakin berulah diluar sana.


"Terserah kamu saja lah, mas.


Aku sudah ingetin kamu. Kalau ada apa apa tanggung saja sendiri." sahut Muklis yang mulai bosan mengingatkan kakaknya itu.


Nanti kalau sudah kena imbasnya baru nyesel dan kalau saat itu tiba, Muklis sudah gak mau perduli lagi.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua

__ADS_1


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2