Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
penyesalan


__ADS_3

"Astagfirullah." lirih Santi yang mendengar ucapan kakak iparnya itu. Sedang Muklis memilih diam karena sudah terlalu muak dengan tingkah kakaknya.


"Sabar, mas!


Semoga kakakmu itu segera mendapatkan hidayah dari Gusti Alloh." lirih Santi yang mengusap punggung suaminya.


Danang sama sekali tidak menunjukkan raut sedih kehilangan ibunya, benar benar tidak ada empati sedikitpun pada orangtuanya sendiri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Setelah tujuh hari meninggalnya Bu Yuyun, Muklis dan Santi, kembali pulang kerumahnya sendiri.


Tersisa hanya Danang yang menempati rumah sang ibu.


"Sudah mau sore kayak gini, mas mu belum juga bangun, mas?" Santi bertanya pada suaminya yang tengah bersiap untuk pulang.


"Biarkan saja, dek.


Dia sudah tua, sudah tau apa yang harus dilakukan.Yang penting kita sudah mengurus ibu dengan semampu yang kita bisa. Soal mas Danang acuhkan saja, maunya begitu, mau gimana lagi." sahut Muklis dengan santainya, laku mengajak sang istri untuk segera pulang kerumahnya sendiri.


"Tutup saja pintunya, nungguin mas Danang pulang pun juga percuma. Dia pasti akan acuh juga." kembali Muklis membuka suara dan meminta sang istri menutup pintu dan bergegas pulang sebelum magrib tiba.


Sedangkan di dalam kamar, Danang sebenarnya sudah bangun sejak tadi pagi, tapi dia tengah menahan sakit di sekujur tubuhnya.


Dan area miliknya juga terasa gatal dan mengeluarkan bau tak sedap.


Mau keluar dan meminta tolong pada adiknya gengsi.


"Akhirnya mereka pergi juga. Aku akan lekas pergi ke dokter untuk memeriksakan penyakit ku ini. Sudah dari seminggu rasanya aneh begini, dan sekarang justru makin parah. Huh menjijikkan." gerutu Danang yang berusaha bangun dari tempat tidurnya dengan tertatih. Danang berusaha berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri dan meringis menahan perih dikenakannya.


"Aarrgh sialan!


Kenapa sakit begini sih?" erang Danang yang menahan rasa sakit di daerah senjata miliknya.


"Apa ini gara gara aku suka Gonta ganti pasangan tidur?


Apa penyakitku ini berbahaya?


Duh, kalau begini bisa gawat, belum lagi aku tidak punya istri, siapa yang mau merawat kalau aku sakit." Danang masih berbicara sendiri, sambil menunggu taksi online yang tadi dia pesan.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya taksi itu sampai juga, Danang segera naik dan menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Saya sakit apa, dok?" Danang menatap pada dokter yang mungkin usianya sekitar lima puluhan itu dengan cemas.


"Mohon maaf sebelumnya, apa bapak suka berganti pasangan main?" tanya dokter tersebut tanpa menjawab dulu pertanyaan Danang.


"Em, iya.


Apa sakit saya ini tidak bisa disembuhkan?" sahut Danang sedikit malu.


"Insyaallah masih bisa, asal bapak berhenti jajan. Dan mulai hidup sehat dan rutin minum obatnya.


Saya akan resep kan obatnya, bapak bisa tebus di apotik." sahut dokter tersebut dengan tenang.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sudah seminggu Danang sakit, wajahnya pucat dan rasa nyeri di *********** selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Dirumah hanya sendirian, tidak berani memberitahu Muklis tentang penyakitnya saat ini, pasti adiknya itu akan terus menceramahinya.


"Mungkin ini kesalahanku dan juga disaku pada anak dan istriku dulunya.


Aku sudah menelantarkan Shanum dan juga Joni.


Sekarang saat aku sakit aku sendirian tanpa ada yang bisa aku lakukan." Danang memejamkan matanya mengingat semua dosa dosanya terdahulu pada anak dan istrinya.


"Semoga aku bisa sembuh, akan aku perbaiki cara hidupku. Dan aku akan menemui Joni dan Diana untuk meminta maaf pada mereka. Aku juga akan mencari Shanum dan Ningsih."


Danang mengambil ponselnya dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening Diana untuk mengganti nafkah yang sempat ditundanya. Semoga dengan merubah cara hidup dan sifatnya, Danang bisa pulih kembali dan menjalani hidup lebih baik lagi.


"Aku menyesal, maafkan ayah Shanum, Joni.


Maafkan mas, Ningsih, Diana. Maaf!" lirih Danang yang berdiri di dekat jendela kamarnya dengan terisak. Hidupnya benar benar hampa dan menderita oleh penyakit yang kini di derita.


Penyesalan memang selalu datang terlambat, saat semua sudah berubah bencana. Itulah yang kini dirasakan dan dialami Danang.


Dia yang paling suka mendzolimi istri dan anaknya.


Sedangkan yang terdzalimi kini semua hidup bahagia dengan kehidupan barunya masing masing.


End.....


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.

__ADS_1


Novel baru :


#Ayah Aku Juga Anakmu


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


#Ternyata aku yang kedua


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2