Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
ketahuan


__ADS_3

"Tapi, Bu!" Diana sungkan dan takut mau menerima nya.


"Gak papa, terima saja. Gunakan uang itu untuk kebutuhan kamu. Ibu tau kamu sangat membutuhkan uang buat anakmu, kan?" sahut Bu Yuyun dengan senyuman hangat. Diana kembali meneteskan air matanya. Dalam hati bersyukur, karena ibu mertuanya masih mau perduli padanya.


"Terimakasih, Bu!


Diana janji, akan merawat ibu dengan baik. Doakan Diana sehat terus ya, Bu!" lirih Diana yang tak kuasa menahan air matanya.


"Iya, nak!


Sekarang ibu sadar, mungkin apa yang saat ini kita alami adakah buah dari perbuatan kita di masa lalu. Dulu kita sudah sangat jahat pada Ningsih dan juga anaknya. Tapi apa, mereka sekarang hidup bahagia. Sedangkan kita terpuruk seperti ini.


Ibu menyesal dan berharap punya kesempatan untuk meminta maaf pada Ningsih dan Shanum!" lirih Bu Yuyun dengan mata yang sudah mengembun.


"Semua sudah terlanjur, Bu!


Kita hanya bisa bertaubat dan meminta maaf disetiap doa kita. Semoga masih diberi kesempatan untuk hidup lebih baik." sahut Diana getir.


"Oh iya, kamu ambil surat surat cincin ibu, ada di lemari bawah, ibu taruh di dompet kecil. Jangan bilang apapun pada Danang. Nanti dia pasti ambil uang hasil jual cincin itu, kamu simpan uangnya, gunakan untuk keperluan anakmu di kampung!" Bu Yuyun merasa kasihan dengan Diana, sekarang tubuhnya makin kurus dan tak terawat, namun sikapnya sudah banyak berubah. Tak lagi banyak bicara dan tidak kasar. Diana memilih diam dan mengerjakan semuanya tanpa mengeluh lagi. Sepertinya Diana sudah bisa menerima nasibnya.


"Diana akan ganti Pampers ibu dulu, biar nanti pas Diana pergi, ibu gak risih karena Pampers nya penuh!" Diana bergerak dengan cekatan, mengganti Pampers ibu mertuanya telaten. Membersihkan kasurnya dan juga mengganti baju mertuanya dengan yang lebih nyaman.


"Diana pergi dulu ya, Bu.


Kalau ada apa apa ibu langsung telpon Diana saja!" Diana menatap lekat wajah mertuanya yang nampak kurus.


Bu Yuyun memang lumpuh, tapi cuma bagian pinggang sampai bawah saja, tangannya masih bisa digerakkan, dan Bu Yuyun juga masih bisa bicara dengan lancar.


"Iya, nak!


Kamu gak usah khawatir. Lagian sebentar lagi Santi juga mau kesini. Tadi dia bilang masih bikin kolak kacang hijau, ibu nungguin ini!" kekeh Bu Yuyun yang membuat Diana sedikit lega karena kini mertuanya sudah mau bersikap baik padanya.


"Yasudah, Diana pergi dulu ya Bu. Sekalian juga mau belanja isi kulkas yang sudah kada kosong!"


"Tolong, belikan ibu buah naga ya, nduk!


Ibu lagi pingin makan itu!" sahut Bu Yuyun dengan wajah penuh harap.


"Iya, Bu!


Nanti Diana belikan!


Diana berangkat ya, asalamualaikum!" Diana melangkah keluar untuk pergi ke pasar, yang tempatnya lumayan jauh.


"Mau kemana kamu?" Danang yang tengah duduk berdua dengan Ambar terlihat menatap tajam pada Diana yang hendak keluar rumah.

__ADS_1


"Mau ke pasar, isi kulkas dan bumbu dapur sudah pada habis. Dan Pampers juga susu ibu juga habis. Tadi ibu juga minta dibelikan buah naga!" sahut Diana datar tanpa melihat ke arah Danang.


"Sudah bawa uangnya?" sahut Danang dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Belum, kan masih mau berangkat. Belum ambil uang di ATM?" sahut Diana jujur dengan menarik nafasnya dalam. Menahan gejolak amarah di dadanya.


"Kamu belanja dengan uang yang tadi aku kasih?" tanya Danang lagi, dan nampak Ambar tersenyum sinis ke arah Diana.


"Kalau gak pakai uang itu, aku harus pakai uang mana lagi, mas?


Itulah kenapa uang yang kamu beri selalu habis, bahkan kurang, karena untuk kebutuhan rumah dan keperluan ibu, aku harus membaginya.


Dan kalau ada yang bilang aku bau dan kucel, itu semua karena kamu tak memberikan nafkah yang layak, bukan?


Dan parahnya, si pencuri justru merasa bangga karena mendapatkan jatah uang lebih banyak. Memalukan sekali!" rutuk Diana dengan tenangnya, membuat Ambar langsung menatap tajam pada Diana. Sedangkan Danang, masih bergeming mencerna ucapan Diana.


Padahal untuk jatah keperluan ibunya, Danang sudah memberikannya pada Ambar untuk dikelolanya.


"Jadi, selama ini, yang belanja keperluan ibu itu kamu?" sekali lagi Danang ingin memastikan kebenaran ucapan Diana.


"Iya, kalau bukan aku siapa?


Gundikmu itu, jangan harap mas!


Aku minta dia belikan obat buat ibu saja gak mau kok. Tuh tanya orangnya, ada di sampingmu, kan?" sahut Diana dengan senyuman penuh kemenangan. Akhirnya Ambar ketahuan sifat aslinya juga.


Apa apaan kamu, hah?


Bukankah aku sudah kasih uang lebih buat kebutuhan ibuku?


Lalu kamu kemana kan uang itu, kalau Diana yang mencukupi kebutuhan ibu dengan uangnya?" bentak Danang murka, membuat Ambar yang tadinya santai kini nampak pucat pasi.


Tidak pernah terpikirkan kalau kelakuannya akan diketahui oleh suaminya dari mulut Diana.


"Itu cuma akal-akalan Diana saja, mas!


Wong aku yang selama ini membeli kebutuhan ibu, kamu itu jangan mau loh, kena omongannya dia. Dia itu cemburu sama aku, makanya dia fitnah aku seperti ini!" sahut Ambar menutupi perbuatannya. Dan justru berbalik memfitnah Diana. Namun Diana tetap tenang dan santai menanggapi kepanikan Ambar.


"Halah, gak usah melempar kesalahanmu pada orang lain. Aku saksinya, kalau selama ini, mbak Diana yang membeli kebutuhannya ibu, bahkan kalau uang mbak Diana gak cukup, dia sering kok minta aku yang belikan. Makanya, mas Danang itu jangan mudah percaya gitu saja, istri gak beres kok makin disayang, nglunjak kan?


Harusnya mas Danang itu mikir, Ambar itu beneran cinta gak sih sama mas?


Coba deh ingat ingat, pernah gak dia mau jenguk ibu di kamarnya?


Dan pernah gak dia itu mau masakin mas Danang dan menyiapkan kebutuhan kamu, mas?

__ADS_1


Bisanya cuma minta uang, kan?


Hati hati mas, jangan jangan dia punya selingkuhan dan mas Danang gak tau, hii ngeri!" tiba tiba Santi muncul dan langsung ngomong panjang lebar tentang Ambar. Rasa gak sukanya langsung dia keluarkan, agar Danang sadar seperti apa istri sirinya itu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2