
"Siapkan dua juta sebulan, kebutuhan ibu itu banyak, belum lagi bayar buat orang ngurusin ibu." sahut mas Danang dengan nada meremehkan.
"Oke, atur saja." terdengar Muklis menjawab tanpa banyak mendebat, lalu terdengar suara motor pergi meninggalkan halaman.
"Ini semua gara gara Diana sialan itu, kurang ajar!" terdengar mas Danang mengumpat menyalahkan aku, tapi biarkan saja, biar dia pusing sendiri. Aku cukup menyiapkan diriku untuk menuju kehidupanku selanjutnya setelah ini. Bismillah."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Entah sejak jam berapa aku ketiduran, rasanya tubuh ini begitu ringan setelah sekian lama tak merasakan bagaimana nikmatnya tidur siang.
Suara Joni terdengar memanggil dan terlihat anak itu sudah memakai baju biasa. Itu berarti dia sudah pulang dari sekolah.
"Loh, Joni sudah pulang nak?" kulihat anakku itu menundukkan wajahnya lesu. Air matanya jatuh dengan Isak tangis tertahan.
"Kok nangis, ada apa?" kembali aku melontarkan pertanyaan, bingung dengan tangisan Joni, karena anak itu hampur tidak pernah menangis, meskipun dia terjatuh dan ada yang berdarah sekalipun.
"Joni lapar, ma.
Sama ayah dan nenek, Joni gak boleh ambil makanan dirumah ini." sahutnya dengan bibir bergetar. Astagfirullah, keterlaluan sekali mereka, bisa bisanya memperlakukan anak sekecil Joni setega ini. Dasar manusia manusia tak punya hati.
"Joni mau makan?
Sebentar ya, mama cuci muka dulu.
Habis itu kita beli makan di warungnya Mak Yati." sahutku kemudian, lalu bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri dulu.
Sesampainya di dapur, terlihat mas Danang tengah makan dengan lahap berhleaka seorang perempuan muda dengan sayur rawon tang tadi aku masak.
"Wah, enak banget kamu, mas!
Makan dengan lahap bersama perempuan asing, tapi anak sendiri tidak boleh makan, bener bener gak punya perasaan kamu." sungutku tak terima, entah kenapa emosi ini langsung naik setelah melihat tingkahnya yang menjijikkan itu.
Bisa bisanya melarang anak sendiri makan, tapi dia dengan seenaknya dia membawa orang lain untuk di ajaknya makan, dengan masakan aku pula.
"Urusanku, gak usah ikut campur.
Ini rumahku dan daging nya juga aku yang beli, jago aku mau apa ya terserah aku. Lebih baik kamu urus iltuh anakmu biar gak kelaparan, sok sok an mau cerai segala. Kere aja kok bertingkah!" sahutnya dengan wajah mengejek, benar benar menguras emosi, oke aku akan lakukan sesuatu.
"Oke, lakukan apa yang ingin kamu lakukan.
Silahkan saja makan sepuas kalian, kamu kan yang beli dagingnya?
Tapi maaf, tanganku yang mengolahnya, jadi nih silahkan punguti dagingnya." panci yang berisi rawon aku tuang ke wastafel tapi sebelumnya aku kasih saringan untuk menaruh dagingnya.
Lalu sambel dalam mangkok juga kubuang ke tempat sampah. Biarin saja, biar dia olah sendiri dagingnya itu, suruh siapa sama anak sendiri perhitungan.
"Apa apaan kamu, Diana!
Dasar wanita gila!
__ADS_1
Kurang ajar kamu!" teriaknya murka, namun aku cuek saja, pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Niat awal mau pergi dua hari lagi, tapi sepertinya aku harus pergi hari ini juga dari rumah ini.
Dari pada lama lama bikin sakit hati dengan ulah orang orang dirumah ini.
"Kurang ajar sekali sih, istri kamu itu, mas.
Pantesan kamu benci dan nyari yang lain. Ih amit amit banget kelakuannya." terdengar perempuan yang bersama mas Danang berkomentar, iedes juga bicaranya.
"Dia itu gila, sudah jelek tapi banyak tingkah. Jijik aku itu sama dia, makanya aku cerain dia. Mending sama kamu, sudah cantik, baik lagi." sahut mas Danang dengan tanpa hati. Awas saja kamu, mas.
"Tanpa kamu cerain, bukannya aku yang minta cerai, mas?
Jadi gak usah sok deh.
Oh iya, mbak. Kalau kamu tertarik sama mas Danang, tuh ambil saja, dan siaoujndiri baik baik ya, buat disuruh ngerawat ibunya yang lumpuh." sahutku dengan senyum mengejek, terlihat wanita itu melotot dengan mulut menganga.
"Mas, bener ibumu lumpuh?
Aku gak mau ya, kalau harus aku yang kamu suruh ngerawat, jijik aku tuh.
Masak aku harus bersihin kotoran orang sakit, ogah banget deh. Hih bayangin Daha sudah mau muntah aku." terdengar wanita itu protes dan keberatan merawat ibu. Emang enak, mas. Hihihii aku terkikik geli membayangkan raut kesal mas Danang. Syukurin.
"Jon, kamu ganti baju gih.
Nanti biar mama minta tolong sama Tante Santi buat ambil raport kamu dan dikirim lewat kurir saja.
Kamu mau kan, pindah hari ini?"
"Iya, ma.
Joni juga sudah gak betah tinggal dirumah ini.
Joni ikut apa kata mama saja." sahut anakku patuh dan langsung bergegas melakukan perintahku.
Akupun menghubungi pak Waris untuk mengantarkan kami ke stasiun kereta.
Uang di dompet hanya sisa sekitar sejuta enam ratus ribu saja. Semoga cukup untuk beberapa hari ke depan.
Tapi, bukannya mas Danang punya simpanan perhiasan milik Ambar yang dia minta kembali waktu itu dan masih di tempat yang sama.
Ah lebih baik aku ambil dan menjualnya saja. Dia kan pelupa.
Pucuk di cinta ulampun tiba. Mas Danang terdengar keluar bersama wanita itu menaiki motornya. Akupun tak ingin membuang waktu, langsung berlari ke tempat dimana perhiasan itu disimpan.
Alhamdulillah, dapat lengkap dengan surat suratnya juga.
Dan, ah biasanya mas Danang suka sekali menyembunyikan uangnya di bawah kasur sampai dia lupa, coba aku cek barangkali ada.
__ADS_1
Dan Alhamdulillah, mataku melebar tak percaya, uang lembaran merah, biru dan hijau berceceran di bawah kasur, sepertinya dia asal naruh Tania menghitungnya, rejeki anak Sholeh, dan akupun mengambilnya beberapa saja tanpa kuhitung.
Insyaallah cukup. Rasain kamu, mas. Siapa suruh pelit sama istri dan anak sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1