
"Mbak!
Jangan hanya menangis, tapi lawanlah!
Ambar bukan perempuan baik baik, masak kamu diam saja dia merebut semua milikmu. Bangkit mbak, lawan!" tiba tiba Santi, istrinya Muklis menghampiri Diana yang tengah menangis.
Santi selama ini merasa kasihan melihat nasibnya Diana, meskipun dia sebenarnya tidak suka dengan sikap Diana dimasa lalu. Tapi sebagai perempuan, Santi merasa iba melihat Diana terpuruk dan di siksa oleh kakak iparnya itu.
"Santi!" lirih Diana yang menatap adik iparnya dengan raut heran. Karena Santi selama ini selalu bersikap acuh padanya. Bahkan sekedar basa basi pun tidak mau. Santi dari dulu, memang tidak suka dengan Diana yang sombong dan kasar.
"Ya!
Mungkin ini karma buatmu, mbak!
Apa yang mbak sudah lakukan terhadap mbak Ningsih dan Shanum di masa lalu, kini menimpa dirimu. Sakit, bukan?
Begitulah kehidupan, tabur tuai, apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Apa mbak Diana lupa, betapa kejam dan jahatnya kamu, dulu terhadap mbak Ningsih dan Shanum?
Lalu, kenapa saat kamu mengalami nasib yang sama, justru sangat lemah dan hanya menangis saja?
Lawan dong, seperti kamu mencaci maki mbak Ningsih yang bahkan dia tidak salah apa apa. Suaminya sudah kamu curi, tapi kamu yang justru ngamuk waktu itu!" sinis Santi, entah kenapa kalau mengingat perbuatan Diana saat itu, Santi selalu saja merasa kesal dan emosi.
"Iya, dan aku menyesal sekarang.
Aku takut, kalau mas Danang mengusirku, aku gak mau berpisah dengan Joni." lirih Diana beralasan. Padahal hal utama bukan masalah Joni, tapi uang. Diana masih membutuhkan uang dari Danang untuk bertahan hidup.
"Terserah kamu saja lah, mbak!
Aku sudah mengingatkan.
Dan lebih baik, kaku cari bukti kebusukannya Ambar. Dia sering memasukkan laki laki saat mas Danang sedang pergi kerja.
Buktikan, dengan begitu, mbak Diana mungkin bisa meraih hati mas Danang lagi." sahut Santi santai, lalu pergi meninggalkan Diana yang termenung memikirkan ucapan istri adik iparnya itu.
"Kalau benar, Ambar berkhianat!
Aku akan berusaha untuk menyelidikinya.
Semoga, aku bisa membuktikannya dihadapan mas Danang. Aku lelah diperlakukan begini sama mas Danang." gumam Diana, yang menemukan setitik harapan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Apa yang kamu lakukan disini, hah?
Lihat ibu, ganti bajunya, dia buang air besar!" sentak Danang emosi.
__ADS_1
"Iya, mas!" Diana tak lagi membantah, dengan perasaan sakit melangkah keluar dari kamarnya dengan gontai. Terlihat Ambar bergelendotan di lengannya Danang, dengan senyuman mencemooh.
Diana hanya meliriknya sekilas, senyumnya terukir tipis, ada makna yang ingin dia lukiskan untuk perempuan yang jadi madunya itu.
"Kalau sudah selesai, siapkan makanan buat kami!
Itu, Ambar bawa ayam dan tempe. Goreng dan buatkan sambel." titah Danang tanpa perasaan.
Diana juga tidak sedikitpun melawan.
Mengerjakan semua perintah Danang dengan mulut terkunci.
"Biar perut kalian sakit, siapa suruh memerintah ku seperti babu!" sungut Diana dalam hati. Sengaja membuat sambel dengan dibanyakin cabe nya, dan dikasih gula buat menyamarkan rasa keras. Tak lupa, Diana juga memberi perasaan jeruk pecel pada ulekan sambel. Kalau gak kuat, perut pasti langsung melilit.
Tanpa banyak bicara, Diana menaruh semua masakannya di atas meja. Lalu meninggalkan suaminya dengan istri mudanya.
Diana lebih memilih mencuci baju dibelakang, agar besok pekerjaannya tidak terlalu banyak. Karena berniat melakukan penyelidikan terhadap Ambar. Ingin membuktikan kebenaran ucapannya Santi.
"Mas!
Sambel bikinan istrimu lumayan enak juga. Tapi ya itu, pedes banget!" Ambar kepedasan sampai wajahnya memerah.
"Namanya juga sambel, dek!
Danang, sudah benar benar dibutakan oleh Ambar. Meskipun masih muda, Ambar begitu licik dan licin. Memanfaatkan cintanya Danang, untuk mendapatkan pundi pundi rupiah, agar bisa bersenang senang dengan pacarnya yang masih kuliah.
"Mas, perutku kok mules ya!" Ambar memegangi perutnya yang terasa gak enak setelah makan tadi.
"Kebanyakan makan sambel mungkin!" sahut Danang santai.
"Iya, tadi habisnya enak banget, sampai aku makannya nambah!
Aku mau ke belakang dulu ya, mas?" Ambar berlari kecil menuju kamar mandi.
Diana yang sadar dengan apa yang terjadi dengan madunya, hanya melirik saja dan fokus pada cuciannya.
"Duh, mas!
Aku sampai lemes gini. Antar aku periksa dong!" lirih Ambar manja, sudah berkali kali dia keluar masuk kamar mandi.
"Minum obat biasa saja, sebentar lagi juga sembuh. Sebentar aku ambilkan!" sahut Danang dengan santainya, lalu mengambil obat sakit perut yang ada di laci bufet.
"Minumlah, nanti juga berhenti mulesnya.
Makanya, jangan banyak banyak makan sambelnya." sahut Danang dengan menyodorkan air putih dan obat pada Ambar yang meringis.
__ADS_1
"Rasain!
Siapa suruh memerintah ku seenaknya!
Itu belum seberapa, ******!
Besok, aku akan mendapatkan bukti perselingkuhan kamu. Apa setelah itu, mas Danang akan tetap sayang sama kamu, atau kamu justru ditendang dan ganti dijadikan babu?" gumam Diana dengan senyum puas terukir di wajah lelahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1