
"Aaargh!
Dasar perempuan sialan!
Pelacur murahan!" terdengar suara mas Danang berteriak penuh dengan kekesalan. Dan suara pintu juga terdengar di tendang, lalu dia keluar dengan mengendarai kendaraannya seperti orang kesetanan, aku dan Santi hanya saling tatap.
"Sepertinya, mas Danang mau kesana. Pasti ada yang sudah mengabarinya.
Apa, mbak Diana tidak mau lihat kesana?" Santi menatapku, seolah menginginkan aku untuk melihatnya langsung, tapi aku bingung, tak enak meninggalkan ibuk dirumah sendirian.
"Mbak kalau mau kesana, kesana saja!
Biar ibu aku yang jagain!
Sana, keburu selesai nanti dramanya! hahahaa." Santi justru tertawa besar dengan kejadian memalukan yang dialami kakak iparnya.
"Beneran, kamu gak papa, aku tinggal disini. Jujur, aku juga ingin lihat drama mereka!
Penasaran!" sahutku dengan perasaan yang tak menentu.
"Gak papa, aku disini saja. Sebentar lagi mas Muklis paling juga sampai. Mbak, harus menyaksikan madu mbak itu dipermalukan oleh kelakuannya sendiri. Anggap saja sebagai obat sakit hati mbak Diana selama ini atas sikapnya Ambar." Santi menatapku penuh arti, dan tanpa banyak bicara lagi, akupun segera menuju dimana Ambar sedang di sidang, dengan menaiki motor miliknya Santi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Silahkan, pak RT, pak lurah dan seluruh yang ada disini melakukan apa yang seharusnya dilakukan terhadap pasangan mesum ini.
Aku tak sudi lagi, menganggap perempuan itu istriku." teriak Danang dengan emosi menggelegar. Wajahnya merah padam, dan tangannya terkepal kuat. Dirinya begitu murka bahkan jijik melihat wajahnya Ambar. Perempuan yang dia banggakan ternyata tak lebih seorang pelacur yang berniat memanfaatkan dirinya.
"Mas, sabar. Tenangkan dirimu.
Percuma ngamuk dan teriak, karena memang dasarnya perempuan ini tak tau malu dan tak punya harga diri. Ceraikan saja, dan ambil semua yang sudah kamu berikan padanya tanpa sisa.
Jangan biarkan lelaki selingkuhannya itu ikut menikmati hasil kerja kerasmu." tiba tiba Muklis sudah muncul di sampingnya mas Danang.
"Kamu benar!
Tak usah pusing pusing mengurusi lacur ini!
Dengan kalian semua saksinya, hari ini aku jatuhkan talaq pada Ambar, mulai detik ini lepas sudah tanggung jawabku terhadapnya, dia bukan lagi istriku."
Duaaar, suara Danang seperti petir yang menyambar tubuh Ambar, lunglai dan langsung lemas tak berdaya. Bukan sedih karena perasaan putus cinta, tapi karena sudah tak punya ATM berjalan, alamat hidupnya kembali miskin.
"Tega kamu, mas!
__ADS_1
Aku terkena masalah tapi kamu justru membiarkan aku menanggung sendirian. Aku tidak terima kamu perlakuan seperti ini, aku bukan sampah yang bisa seenaknya kamu buang!" teriak Ambar tidak terima, dengan tanpa tau malunya dia meminta Danang untuk menolongnya dari penghakiman warga.
"Aku tak perduli.
Bahkan aku sudah jijik melihatmu.
Kamu bukan istriku lagi, jadi mulai saat ini, jangan pernah datang ke rumahku atau meminta uang padaku lagi. Hp dan motor yang aku berikan, maaf aku akan mengambilnya lagi." Danang tersenyum miring ditujukan pada mantan istri sirinya.
Lalu berjalan menemui pak RT dan meminta kunci motor dan hape miliknya Ambar yang dibelinya dengan uang pribadinya.
"Mas Danang yakin, mau menyerahkan kasus ini pada kami?" tanya pak RT memastikan.
"yakin banget pak, lagian Ambar sudah bukan istriku sekarang." sahut Danang pasti, dengan wajah menatap benci pada pasangan mesum itu.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya pak.
Mari semuanya, Asalamualaikum!"
Danang pergi meninggal kantor balai desa yang sudah dikerumuni warga itu.
Namun saat kakinya mau melangkah menuju parkiran motornya, matanya menangkap sosok mertuanya yang datang dengan tergopoh gopoh.
"Nak Danang!
"Ada di dalam, masuk saja.
Ambar akan dinikahkan dengan pasangan selingkuhnya.
Dan satu lagi, mulai hari ini hubunganku dengan Ambar sudah selesai, baru saja aku menjatuhkan talak pada anakmu, bu. Maaf, aku tak lagi bisa memaafkan perselingkuhan yang terjadi di depan mataku." balas Danang dengan wajah yang masih memerah.
"Apa?" teriak ibunya Ambar yang shock dengan pengakuan Danang.
"Apa gak bisa diperbaiki, nak?
Berikan kesempatan untuk Ambar sekali lagi, ibu mohon maafkan dia!" rengek ibunya Ambar dengan wajah memelas, tapi sedikitpun Danang tidak jatuh iba, melainkan muak yang ada. Ibu dan anak sama saja.
"Mas, ayo!
Cak Budi sudah standby!" Muklis yang tadi disuruh Danang melakukan sesuatu sudah kembali dan mengajak Danang agar segera mengikutinya.
"Akan aku pastikan, hidupmu kembali miskin!" gumam Danang yang melangkah pergi meninggalkan kantor balai desa, untuk mengeksekusi barang barang yang ada di rumah barunya bersama Ambar yang dibangun di atas tanah milik orang tuanya Ambar.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1