
Sebelum pergi, aku putuskan untuk menelpon Santi. Aku gak mau disalahkan kalau ada apa apa dengan ibu mertua karena aku pergi diam diam dan meninggalkan wanita tua itu dirumah sendirian, selain kurang etis kesannya aku juga tidak tau cara menghargai.
Semarah dan sebenci apapun aku dengan keluarga ini, setidaknya aku harus pergi dengan cara baik baik.
"Hallo, Asalamualaikum, Santi.
San, kamu lagi sibuk?"
"Waalaikumsallm, mbak.
Enggak kok, ini lagi duduk santai sama mas Muklis sambil jaga toko." sahut Santi diujung sana.
"San, aku pergi sekarang.
Jujur aku benar benar gak kuat menghadapi situasi ini, tolong ya kalau bisa kamu kesini, karena dirumah sedang tidak ada orang sama sekali.
Nanti takutnya aku disalahkan kalau terjadi apa apa sama ibu." sahut ku jujur apa adanya.
"Loh, katanya masih dua hari lagi mbk. Kok jadi dadakan kayak gini, ada apa?
Apa mas Danang bikin ulah lagi?" sahut Santi dengan nada sedikit keras.
"Iya, San.
Aku gak mau lama lama lagi dirumah ini, lebih baik pergi secepatnya saja biar hati dan pikiranku akan dari rasa sakit.
Tadi mas Danang bawa perempuan kerumah ini, bahkan melarang Joni ambil makanan yang ada di dapur sampai dia nangis. Jadi mending aku pulang saja hari ini. Itu jauh lebih baik untuk kesehatan mental anakku juga." sahutku panjang lebar, berharap Santi mengerti apa yang aku rasakan.
"Yasudah, aku kesana sekarang ya." sahut Santi dan obrolan kami berhenti sampai disini.
Sambil menunggu kedatangan Santi, aku menghitung jumlah uang yang tadi sempat kuambil dari ranjang mas Danang.
Lumayan, dua juta tiga ratus belum nanti hasil penjualan emasnya. Bisa buat modal jualan buka warung. Anggap saja itu nafkah anak yang kuambil lebih dulu. Lagian aku masih sah istrinya, mengambil uang suami pelit tidak akan berdosa.
"Beneran mbak, kamu pulang sekarang?" kembali Santi mengulangi pertanyaannya saat tadi di telepon.
"Yakin banget, tuh semua sudah siap.
Tidak nggak nunggu pak Waris datang buat nganterin kami ke stasiun." sahutku santai.
"Joni di mana mbak?" Muklis yang biasanya gak mau bicara denganku tiba tiba saja membuka suaranya menanyakan keberadaan Joni.
__ADS_1
"Beli nasi bungkus di warung buat bekal di jalan." sahutku jujur apa adanya.
"Mbak ini ada sedikit cemilan buat Joni nanti di kereta, sama ini amplop dari mas Muklis buat Joni.
Hati hati ya mbak di jalan, kalau sudah sampai nanti kabari aku." Santi menyerahkan kantong kresek berisi berbagai cemilan dan amplop untuk Joni.
"Makasih ya San, harusnya jangan repot repot gini.
Dan aku mau minta tolong juga sama kamu, tolong nanti ambilin raportnya Joni ya, terus kirim lewat kurir saja ke alamat rumahku disana. Maaf kalau sudah repotin kamu."
'Ita mbk, gak papa.
Insyaallah gak kerasa direpotkan." sahut Santi dengan senyuman hangat, sedangkan Muklis nampak diam saja, acuh tak acuh duduk di sofa ruang tamu.
"Ma, ini nasinya!" Joni datang membawa tiga bungkus nasi rames.
"Makasih ya, nak.
Kita pamit dulu sana nenek, karena habis ini pak waris sudah mau sampai."
"Iya, ma! Ayo!" sahut Joni bersemangat.
"Bu, aku dan Joni pamit, mau pulang ke kampung.
"Pergilah, tidak usah banyak bicara.
Dan ingat, jangan pernah lagi kamu kembali kerumah ini. Tak Sudi aku lihat wajah munafik kamu itu lagi." sahut ibu mertua dengan membuang muka, sedikitpun tak mau menatap ke arahku dan Joni. Nampak anakku terlihat menatapku dengan wajah sedih.
"Ayo, ma. Kita keluar saja, nenek gak mau lihat kita." ajak Joni yang langsung keluar dari kamar ibu mertua. Ku hembuskan nafas ini kasar, tak habis pikir dengan cara berpikir ibunya mas Danang ini. Yasudah, yang penting aku sudah berniat baik untuk tetap menghargainya dengan tidak pergi begitu saja tanpa pamitan.
"Yang sabar ya, mbak." Santi terlihat menatapku kasihan, dia melihat bagaimana sikap mertua tadi saat aku berpamitan. Sungguh tidak mengenakan sekali.
"Iya, San.
Biarlah, itu sudah maunya ibu, ya apa mau dikata.
Aku pamit ya, Asalamualaikum." akupun pergi ke becak motor milik pak Waris, sedangkan tas baju baju sudah di angkatin Muklis dinaikkan ke atas becak.
Bismillah, semoga setelah ini Alloh mudahkan langkahku untuk menempuh hidup lebih baik lagi, Aamiin.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️