Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
permintaan Danang


__ADS_3

"Iya, ma!


Joni mau kok, kasihan juga sama mas Didin." sahut anakku dengan senyum lebar. Alhamdulillah, akhirnya kecemasan yang aku takutkan tidak terjadi, Joni baik baik saja dan bahkan langsung menerima tanpa banyak drama.


Sekarang, aku akan benar benar pergi dari kehidupanmu, mas. Semoga kamu bisa merubah sikapmu itu. Agar tidak ada lagi perempuan yang harus kamu sakiti.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sejak kejadian waktu itu, Ambar sudah tidak lagi muncul, bagaimana kabarnya sekarang aku juga tidak tau, aku ingin fokus membenahi hati dan juga diriku, karena kurang hitungan hari saja, aku dan Joni akan meninggalkan semuanya di kampung ini.


Meskipun akhir akhir ini, sikap mas Danang sedikit berubah, dia sudah mau perduli dengan Joni, bahkan saat sekolah mas Danang yang antar jemput Joni, padahal biasanya Joni akan jalan kaki atau dibarengi sama tetangga sebelah.


Dan mas Joni juga mau memberikan uang lebih padaku, katanya untuk keperluan ibunya dan dapur. Aku tak banyak bicara, hanya bicara secukupnya, itupun kalau dia sedang bertanya. Hatiku benar benar sudah mati rasa terhadapnya. Mungkin inilah perasaan Ningsih dulu. Semakin terluka akan semakin tegar dan hilang rasa.


"Na, aku beli daging sapi. Tolong kamu buatkan rawon ya, aku lagi pingin makan rawon." mas Danang meletakkan bungkusan kresek yang berisi daging segar di atas meja dapur.


"Iya, mas!" sahutku singkat, tanpa banyak bertanya dan tanpa menatap ke arahnya, aku tengah sibuk mencuci piring di wastafel.


"Na!


Aku minta maaf!" sambungnya, aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lelaki yang masih bergelar suamiku itu dengan tatapan ragu, apakah yang aku dengar barusan itu nyata, seorang mas Danang meminta maaf.


"Aku tau, sikapku sudah keterlaluan kepada kamu dan Joni. Aku minta maaf!" katanya sekali lagi.


"Iya, mas. Aku sudah memaafkan." sahutku singkat tanpa mau banyak bicara, entahlah hati ini memang sudah benar benar beku.


"Kamu masih belum iklas memaafkan aku, na?


Tapi jujur, aku menyesal dan ingin kita memperbaiki semuanya, aku ingin kita seperti dulu. Mari kita buka lembaran baru dan memperbaiki semuanya. Demi anak anak." sambungnya dengan nada yang terdengar biasa saja. Aku hanya bisa menghembuskan nafas ini kasar. Selingkuh adalah sifat, bisa jadi saat ini dia tengah menyesal karena merasa dikhianati oleh Ambar, tapi jika nanti dia kembali ketemu dengan yang lebih cantik, tidak menutup kemungkinan dia akan mengulangi lagi perselingkuhannya.


"Maafkan aku, mas!

__ADS_1


Aku sudah memutuskan untuk kembali ke kampung, aku mau merawat ibuku yang sakit, dan Didin juga kasihan disana, dia masih kecil, tidak bisa memenuhi keperluan dia sendiri.


Nanti setelah Joni terima raport kenaikan kelas, aku akan membawanya pulang ke kampung.


Kamu, bisa menikah lagi dengan perempuan lain yang lebih muda dan cantik disini. Aku sudah peyot, buluk, dan bau. Kasihan kamu, malu punya istri jelek kayak aku." sahutku panjang lebar, dan mas Danang menatapku tak percaya. Mungkin dia pikir aku akan luluh dengan ajakan nya itu, tapi rasa sakit dan luka ini sudah terlalu dalam, mundur dan pergi adalah keputusan yang terbaik agar hati ini kembali baik baik saja.


"Apa kamu menolakku, Na?


Kamu akan kasih makan dengan apa Joni kalau ikut kamu pulang kampung, hah?


Jangan egois kamu, pikirkan nasib anakmu, jangan cuma mikir sakit hatimu itu." sungut mas Danang dengan wajah merah padam.


Astagfirullah, belum juga kembali, dia sudah menunjukkan sikap kasarnya lagi, ini semakin membuatku yakin dengan keputusan yang aku ambil. Mas Danang tidak akan pernah berubah. Bukannya sadar akan kesalahannya, tapi justru memojokkan aku, seolah aku yang harus memahaminya. Benar benar lelaki egois.


"Terserah apa yang kamu katakan, mas.


Aku sudah memutuskan, lebih baik kita berpisah baik baik, karena kita sudah tidak lagi sejalan.


Aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan.


Bibirnya terkatup rapat, nampak matanya sudah berkaca kaca, mungkin dia teringat bagaimana perlakuan nya pada mbak Ningsih dan Shanum, sehingga ada perasaan bersalah saat mendengar nama mereka disebut.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :

__ADS_1


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2